Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Kecurigaan Devan Pada Istri Keduanya


__ADS_3

...BAB 52...


...Kecurigaan Devan Pada Istri Keduanya...


"Kau?!" Devan mengernyit bertanya-tanya dalam pikirannya. Bagaimana bisa ia bertemu dengan Andy di tempat apartemen istrinya?


"Kenapa kau ada disini?" tanya Devan datar, saat ini kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya, tatapannya sinis pada Andy penuh dengan sorot kebencian.


Bila mengingat lagi Dani yang terbaring terluka di Rumah Sakit, rasanya Devan ingin sekali menghajar lelaki keparat itu hingga mati sekarang juga. Namun dia juga tak ingin bertindak gegabah sebelum mengumpulkan banyak bukti. Sepertinya, Devan akan mencari lagi orang yang lebih berpengalaman untuk memata-matai Andy.


"Eh, Pak Devan!" Andy tersenyum gugup lantas sedikit membungkukkan punggungnya menghormati putra atasannya tersebut.


"S-saya_ baru saja mengunjungi apartemen teman saya Pak..." ujar Andy.


Devan lantas menoleh ke depan, pandangannya mengitari sebuah lorong gedung apartemen yang berada di lantai 12 dengan seksama, di sana hanya ada beberapa unit ruang apartemen saja. Dan salah satunya adalah ruang apartemen milik istrinya sendiri.


Keningnya semakin mengerut tanya, kamar apartemen manakah yang barusan Andy singgahi? Entah mengapa perasaannya berubah jadi tak enak, apa mungkin barusan Andy telah menemui teman wanitanya di sini? pikirnya. Seperti yang di katakan Dani padanya malam tadi, bahwa Andy sempat menemui teman wanitanya di cafe, sebelum Dani di hajar dan di jatuhkan ke dalam jurang oleh Andy.


Melihat Devan yang masih tertegun dengan pikirannya sendiri. Buru-buru Andy undur diri.


"Maaf kalau begitu saya permisi dulu pulang, Pak!" ucapnya. Devan tersenyum masam.


Andy pun bergegas pamit dan masuk ke dalam lift sebelum Devan bertanya-tanya lagi padanya. Andy khawatir jika Devan mengetahui kalau yang sebenarnya dia baru saja keluar dari apartemen istrinya.


Di dalam lift Andy menghembus nafasnya agak lega, seraya mengusap dahinya yang sudah bercucur keringat dingin.


"Nyaris saja ketahuan, untungnya aku sudah keluar..." ujarnya, seraya mengusap dadanya yang masih berdetak cepat. Sontak Andy terkejut, tiba-tiba saja ia tak melihat lagi jam di tangannya. Andy menepuk kencang keningnya dan seketika saja teringat, jika jam tangannya tertinggal di kamarnya Cathrine.


"Oh, shiiit, dasar ceroboh!" umpatnya sendiri seraya mengacak kasar rambutnya dengan gusar.


Devan bergegas masuk ke dalam apartemen istrinya yang pintunya tak terkunci, itu artinya Cathrine memang ada di apartemennya. Devan pun melangkah cepat memasuki kamar.


"Sayang... Apa kau di dalam, Cathrinee?!" teriaknya memanggil-manggil istrinya.


Devan pun tersohok setelah membuka kamar istrinya, keadaan kasur yang sudah berantakan bahkan pakaian Cathrine pun di biarkan tergeletak begitu saja di lantai kamar itu.


Devan melangkah mendekati kasur, sontak saja ia menemukan jam tangan pria di sisi bantal.


"Jam tangan siapa ini?" gumamnya seraya mengamati jam tangan pria yang kini di tangannya. Setahunya Devan tak pernah punya jam tangan seperti itu bentuknya.

__ADS_1


Tak berapa lama, Cathrine pun keluar dari kamar mandi yang baru saja selesai membersihkan dirinya dari bekas percintaan singkat bersama Andy beberapa menit lalu.


Sontak Cathrine terkejut melihat kedatangan suaminya, yang sudah ada berdiri di dekat tempat tidur apartemennya.


"Eh Mas_!" gelagapnya, tenggorokannya tercekat. Wajahnya seketika berubah pucat. "Se-sejak kapan kamu disini?" tanyanya tergugup.


Devan menoleh, lantas dahinya mengernyit heran. "Kamu habis mandi?" deliknya bertanya.


"Ah, i-iya aku kegerahan sekali, jadi aku mandi siang disini..." Cathrine tersenyum kikuk, seraya mengusap tengkuk lehernya, mendadak gelisah.


Devan mendekati istrinya lalu memperlihatkan jam tangan tadi dan bertanya lagi. "Oh ya, ini kepunyaan siapa?" tanyanya dengan sorot mata yang dingin.


Cathrine melotot melihat jam tangan milik Andy yang kini sudah berada di tangan Devan. Sejenak ia memenjam rapat matanya. Hatinya mengumpat dan membodohi Andy, bagaimana bisa lelaki itu begitu cerobohnya, meninggalkan jam tangannya di kamarnya.


"Em, i-itu punya_" Cathrine pun kebingungan untuk mencari alasan yang tepat untuk menjelaskannya pada Devan.


"Jawab Cath, jam milik siapa ini?!" tanya Devan sekali lagi, dengan suara meninggi.


Kini wajahnya benar-benar serius. Entah mengapa, sejak barusan bertemu Andy di apartemen ini perasaannya mendadak jadi tak enak dan selalu saja curiga. Devan seakan yakin jika Andy telah bertemu dengan teman wanitanya di apartemen ini. Hanya saja Devan belum tahu siapakah wanita itu?


"Em itu~" Catherine tampak berpikir-pikir bingung, namun tiba-tiba saja ia jadi teringat pada Reni.


"Oh iya, jam itu punya pacarnya Reni. Iya aku baru ingat! Tadi Reni dan pacarnya datang kemari, dia pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil, mungkin pacarnya lupa menaruhnya lagi dimana dan akhirnya tertinggal deh! Sini biar ku simpan saja, nanti kalau ketemu Reni akan ku kembalikan lagi..." sangkalnya, cepat-cepat Cathrine mengambil jam tangan Andy di tangan Devan lalu lekas menaruhnya di dalam laci nakas miliknya.


"Oh ya, sudah lama sekali aku tak melihatmu memakai kalung berlian yang kubelikan. Apakah kau sudah tak menyukainya lagi?" Devan menahan laci yang ingin di tutup Cathrine lalu mengambil kotaknya.


"Ah tidak sayang, aku hanya masih belum mau memakainya!" Cathrine merebut cepat kembali kotak perhiasan itu dan memeluknya erat.


"Kenapa tak mau memakainya? Aku hanya ingin melihat berlianmu, kenapa terus di simpan saja?" tanyanya mengerutkan keningnya curiga, seketika melihat Cathrine yang jadi salah tingkah.


"Tidak apa-apa aku hanya malas saja memakainya sayang... Nanti saja aku pakai lagi kalau ada acara penting..." kilahnya yang kembali gugup dan pucat. "Oh ya, kenapa tiba-tiba saja kamu datang kesini? Bukankah ini masih waktunya jam kerja?" Cathrine mengalihkan pembicaraan agar Devan tak menanyakan lagi tentang berliannya yang sebenarnya berlian itu sudah di ambil Andy dulu untuk memerasnya.


Devan menghela nafasnya panjang. "Aku kemari mencarimu, ingin menjelaskan tentang aku yang tak pernah tahu soal Silvia bekerja, dan juga soal mobil itu! Aku sama sekali tak pernah membelinya." ungkapnya jujur.


Cathrine mendongak. "Jadi, mobil itu benar-benar bukan kau yang membelinya?"


Devan menggeleng lagi. "Bukan, Silvia punya uang sendiri dan mungkin dia membelinya dari hasil uang warisan kedua orangtuanya yang telah meninggal dunia..." jelasnya. "Dan soal ia bekerja, itu juga aku baru tahu darimu."


Cathrine membulatkan matanya. Ia baru ingat, Silvia memang punya rumah mewah milik orangtuanya di Bogor. Tak salah jika mantan sahabatnya itu menjual harta peninggalan milik orangtuanya.

__ADS_1


Cathrine menelan cepat dan kasar salivanya. "Ooh begitu, syukurlah ku pikir itu pemberianmu. Nyaris saja aku cemburu padanya!" cebiknya menyedekapkan kedua tangannya.


Devan menggeleng tersenyum seraya mengusap pipi istri keduanya dengan lembut. "Kenapa kamu begitu cemburu padanya. Selama ini aku bahkan tak pernah membelikan apapun pada Silvia, seperti aku yang selalu royal padamu Cath...! Sudahlah sebaiknya kamu pulang. Kenapa juga ke apartemen ini lagi? Bukankah aku akan menjualnya?"


"Aku bosan di rumah terus, makanya aku main kesini dulu lagian ada barang yang masih tertinggal disini. Mobilku pun masih ada di parkiran sini!" renggut Cathrine lagi.


Lantas Cathrine memungut pakaiannya yang tadi berserakan di lantai untuk memakainya lagi. Dan itu membuatnya tak sengaja memperlihatkan tengkuk leher putihnya pada Devan, juga memperlihatkan jejak-jejak merah yang di tinggalkan oleh Andy.


Devan membulatkan matanya, dadanya tiba-tiba bergemuruh. Tentu saja ia sangat tahu jejak merah yang ada di leher itu. Karena Devan pun pernah sengaja meninggalkannya di tubuh Silvia kerap kali ia menggaulinya.


"Cath, kenapa pundak dan lehermu merah-merah?!" Devan pun menarik cepat bahu Cathrine, menarik tubuhnya ke arahnya, tatapannya tajam mengintimidasi. Seketika wajahnya berubah muram tak terima jika benar istrinya telah bermain dengan pria di belakangnya.


Cathrine terbelalak, refleks saja ia memegangi seluruh lehernya lalu menggaruknya dengan asal.


"Aaah ini kulitku gatal sekali, makanya jadi merah-merah. Mungkin habis di gigit nyamuk. Itu sebabnya aku mandi barusan, selain gerah kulitku juga gatal-gatal Mas..." sangkal Cathrine lagi. "Uh ini juga gatal sekali Mas..." Cathrine dengan cepat menggaruk semua bagian tangan dan pundaknya. Agar Devan percaya bahwa jejak merah itu akibat gigitan serangga.


Namun Devan masih belum percaya. Perasaannya kembali tak tenang. Tidak mungkin kan, jika Cathrine menghianatinya dirinya?!


****


"Mbak saya jadi beli tas yang ini ya... Harganya berapa mbak?" tanya seorang pembeli.


"Mbak, saya boleh lihat sepatu yang itu nggak?!" tanya yang lain lagi seraya menunjuk model sepatu yang berada di rak paling atas.


"Mbak, mbak aku pilih tas ini ya..." sahut yang lainnya lagi.


Silvia menghela nafasnya berat dan panjang, namun begitu dia tetap ikhlas melayani para pembeli seorang diri. Baru saja beberapa menit membuka tokonya, pembeli sudah berduyun-duyun berdatangan ke toko.


Sebenarnya bukan Silvia tak mampu untuk mencari karyawan dan menggajinya. Hanya saja Silvia belum sempat mencari karyawan yang ia percaya untuk membantunya menjaga toko.


Setiap hari pelanggannya bertambah banyak. Maka itu dia benar-benar di sibukkan hingga lupa tak memeriksa ponselnya sendiri. Hingga dia tak tahu kalau ada beberapa panggilan dan pesan dari Devan.


"Boleh kubantu?" seorang Pria tiba-tiba saja muncul di samping Silvia menawarkan diri untuk membantunya. Silvia menengok ke samping, matanya membulat terkejut.


"Rafa? Kamu?!" teriaknya kaget.


"Hai Sil, lama tak berjumpa apa kabarmu? Kulihat beberapa hari ini tokomu semakin rame ya..." ucapnya tersenyum mengembang di bibirnya, melihat keterkejutan Silvia.


Bersambung....

__ADS_1


...****...


Mohon maaf kemarin tak update, karena author ada kesibukan... 🤧🤧🤧


__ADS_2