
...BAB 33...
...Andy Yang Tak Menyerah...
Paginya setelah selesai sarapan, dan Devan telah pergi bekerja. Silvia sudah berjanji akan pergi ke pasar swalayan bersama Bibi Sari untuk membeli bahan-bahan makanan, seperti sayuran, telur, ikan, daging dan buah-buahan. Karena stok bahan makanan di kulkas sudah tinggal sedikit lagi. Namun saat sudah bersiap ingin pergi, Dini memanggilnya dengan langkah terburu-buru sambil membawa tas cangklongnya di bahu.
"Silvia, sayang kamu mau pergi kemana Nak?!" tanyanya dengan raut wajah yang panik.
Silvia sontak menoleh ke belakang menghentikan langkahnya yang hendak masuk ke dalam mobil pribadi milik keluarganya Devan. Silvia lupa tidak meminta ijin dahulu pada sang pemilik rumah walaupun ia adalah Ibu mertuanya.
"Maaf Ma Silvia lupa ngasih tahu, ini mau ke pasar swalayan sama Bibi..." jawabnya sambil mengusap punggung Bi Sari yang ada di sampingnya. "Memangnya ada apa ya Ma?" tanyanya mengernyit heran.
"Sayang, Mama bisa minta tolong sama kamu Silvia. Kamu mau nggak pergi ke kantornya Papa untuk berikan dokumen Papa yang ketinggalan barusan?!" titah Dini.
"Ke kantornya Papa?!" Silvia mengernyitkan kening bingung. Dini mengangguk lagi, tak enak sebenarnya karena meminta tolong pada Silvia. Karena Silvia juga belum tahu betul ruangan Indra di dalam kantor besar itu, tapi Dini pun mendadak ada urusan. Terpaksa harus meminta bantuan menantunya.
"Iya sekarang ini, Mama mau pergi takziah dulu ke rumahnya temen Mama yang ada di kampung melayu, suami temen Mama meninggal sayang. Kamu dan Bibi Sari ke pasarnya nanti saja ya, agak siangan... Nggak papa 'kan? Atau habis kamu pulang dari kantornya Papa, gimana?" saran Dini.
"Em, ya udah Mah gak papa..."
"Terimakasih ya sayang, kalau gitu ini dokumen Papa dan ini bawalah. Tadi Papa juga minta tolong sama Mama minta di bawakan ubi dan kacang rebus untuk cemilannya di kantor, tapi barusan banget Mama di telepon pembantunya temen Mama, katanya suaminya meninggal tadi pagi. Makanya Mama jadi nggak enak kan, masa Mama nggak ikut takziah ke sana, sedangkan teman-teman yang lain sudah pergi kesana dari tadi.." keluh Dini.
Silvia mengangguk lagi dan tersenyum. "Iya Mah, tidak apa-apa Ma, nanti biar Silvia saja yang anterin dokumen Papa ke kantor..." ucapnya.
"Alhamdulillah, terimakasih ya sayang. Mama bener-bener jadi ke tolong sama kamu..." ucap Dini lagi membalas senyumnya. Lalu Dini menyerahkan dokumen di dalam map merah dan sekantung cemilan rebus kesukaan suaminya itu pada Silvia
"Em tapi Ma, Silvia nanti naik apa?" tanyanya yang kini kebingungan. Karena mobil pribadi di pakai Dini.
"Jangan khawatir sebentar lagi supir Papa dateng, nanti kamu bisa di antarkan dia ke perusahaannya Papa. Kalau kamu mau, kamu bisa minta antar dia sekalian ke pasar swalayan." cerocos Dini yang sudah tahu kebingungan Silvia.
"Akh baiklah Ma..." Silvia mengangguk lagi ragu, lantas Silvia menelan ludahnya kasar ia jadi teringat dengan perkataan Devan semalam tadi, bahwa Andy adalah supir di perusahaan milik Ayah mertuanya. Perasaan Silvia pun kembali tak nyaman, karena terpaksa harus berinteraksi dengan mantan kekasihnya itu. Orang yang sama sekali tak ingin dia temui lagi di dalam hidupnya.
"Ya sudah Mama berangkat dulu ya, nggak enak sama temen Mama soalnya."
__ADS_1
"Iya Ma..."
Dini pun buru-buru masuk ke dalam mobil yang di kemudikan oleh Pak Muklis. Lalu berpamitan pergi duluan pada Silvia.
Setelah mobil yang di kendarai Pak Muklis melaju pergi, tak lama suara deru mobil perusahaan pun terdengar dan menepi di depan gerbang pagar.
Silvia mendongak dan memandang mobil yang kini sudah berada tak jauh di depan matanya.
Seorang pria pun membuka kaca jendelanya dan mengintip disana. "Sudah siap Nyonya?" Andy berseru, seraya melemparkan senyumannya seperti biasa pada Silvia di dalam mobil
Silvia hanya menatapnya datar lalu mengangguk kecil. "Bi, Silvia berangkat dulu ke kantornya Papa ya... Nanti biar Silvia minta Mas Devan saja buat nganterin ke pasar." ujarnya pada Bibi Sari
"Eh beneran nih Non, nggak mau di temenin Bibi?" tanya Bi Sari.
Silvia menggeleng tersenyum. "Tidak usah Bi. Nggak papa. Takutnya Bibi juga masih repot di rumah."
"Baiklah Non, ya udah Non Silvia hati-hati di jalannya ya..." ucap Bibi Sari di halaman rumah yang luas itu.
Silvia mengangguk lagi, lalu berjalan keluar gerbang menghampiri mobil yang di kemudikan Andy. Melihat Silvia menghampiri, Andy pun bergegas turun dari mobil. Lalu berlari kecil memutar ke depan dan membukakan pintu mobil di samping kemudi untuk Silvia.
Okey, mungkin saat ini kau masih bersikap dingin padaku, Silvia! Tapi aku yakin sekali kalau kau masih mencintaiku. Dan kau hanya berpura-pura saja menjalani pernikahan bodohmu dengan lelaki kaya itu, yang sebenarnya kau masih menyimpan dendam pada Cathrine. Aku tahu di balik sikapmu yang dingin itu menyimpan rasa sakit karena pengkhianatan yang pernah kulakukan padamu dulu, itu artinya namaku masih tersimpan di hatimu... Ah Silvia lama-lama kau manis sekali. Apalagi melihat penampilanmu yang semakin hari semakin cantik. Benar-benar membuatku semangat ingin memilikimu lagi. Andy bergumam di hatinya dengan senyuman percaya dirinya. Lantas ia menutup lagi pintunya dan masuk mengendarai mobilnya.
Di dalam perjalanan. Andy diam-diam melirik Silvia di kaca depan mobil yang masih betah tak bersuara. Lantas ia sedikit menggodanya dengan memutarkan musik yang ia sukai bersama Silvia dulu. Sengaja Andy melakukan itu agar benak Silvia kembali menyelami pada kenangan masalalunya bersama Andy.
Silvia memenjamkan rapat-rapat matanya sesaat mendengar merdunya musik yang selalu ia dendangkan bersama Andy dulu. Tentu saja ia masih ingat jelas kenangan indah bersama mantan kekasihnya itu.
Pertemuan mereka ketika Silvia tengah melakukan pratikum di lokasi pegunungan di Tomohon Sulawesi Utara, untuk sebuah penelitian. Dan kebetulan saat itu Andy juga tengah melakukan perjalanan dinas di sana.
Mereka di pertemukan saat terjebak hujan deras dan akhirnya mereka berkenalan. Tak sangka jika ternyata kedua orangtua mereka saling mengenal dan sama-sama tinggal di kota yang sama. Lalu Andy mengantar Silvia ke tempat penginapan dengan mobilnya di bawah guyuran air hujan deras. Sambil mendengarkan musik. Dan lagu yang mereka dengar sekarang adalah lagu pertama kalinya mereka dengar bersama dulu.
"Matikan musiknya!" sentaknya.
Andy tak menggubris perintah Silvia, lantas dengan sengaja lelaki itu malah menyanyikan lagunya di depan Silvia dengan santainya. Sesekali dia pun menoleh ke belakang, sembari melengkungkan senyumnya menebar pesona.
__ADS_1
Silvia yang melihatnya sangat jengah lantas ia menatap sinis pada Andy.
"Apa kau tidak dengar. Ku bilang matikan musiknya!" sentaknya lagi dengan nafas yang naik turun.
Silvia tak bisa lagi menahan emosinya. Sebenarnya apa yang diinginkan Andy kepadanya. Tiba-tiba saja dia muncul lagi di hidupnya seolah kehadirannya ingin terus mengikatnya.
Andy tak mematikan tape recordernya tapi malah mengecilkan volumenya. Lalu menepikan sejenak mobil perusahaan yang ia kemudikan. Andy lantas berbalik ke belakang.
"Kenapa, bukankah musik ini musik favorit kita? Aku selalu mendengar lagu ini setiap malam jika aku tengah merindukanmu Silvia." ucapnya yang kini wajahnya terlihat sendu. "Apa kau sama sekali tak merindukanku?" tanyanya.
Silvia lantas tertawa sinis mendengarnya lalu menyedekapkan kedua tangannya. "Merindumu?!" tanyanya balik. "Jangankan untuk merindumu. Mengingatmu saja rasanya aku ingin muntah!" umpat Silvia. "Sebenarnya apa yang kau mau dariku Andy. Kenapa tiba-tiba saja kau muncul dalam hidupku lagi? Bukankah dulu kau memintaku untuk pergi darimu!" cecar Silvia dengan mata yang sudah berkaca-kaca, merah.
Melihat Andy di depannya membuatnya kembali mengorek luka lama. Teringat akan sosok Ayahnya yang meninggal karena serangan jantung akibat ulah mantannya itu.
"Aku tahu kesalahanku begitu besar terhadapmu, sehingga tidak bisa di maafkan lagi Silvia. Namun sungguh aku menyesali semuanya. Jika saja ada kesempatan kedua, aku benar-benar ingin kembali padamu..."
Silvia menghela nafasnya dengan kencang lalu membuang mukanya ke jendela. "Berhentilah berbicara seperti itu lagi padaku. Aku sama sekali tidak akan tersentuh dengan ucapan penyesalanmu itu. Karena semuanya sudah terlambat untuk kau sesali!" jawabnya dengan ketus.
"Sebaiknya kau cepat lajukan lagi mobilnya. Karena aku sedang di tunggu oleh Ayah mertuaku! Atau tidak kau akan di pecat karena telah membuang-buang waktumu bekerja!" perintahnya dengan penuh penegasan.
Andy menyeringai dalam hatinya, lantas ia pun menginjak pedal gasnya dan melajukan lagi mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tak sangka lima tahun tak bertemu, wanita manja itu kini telah berubah menjadi sosok yang lebih mandiri dan keras kepala. Tapi walau begitu Andy tak menyerah untuk menaklukkan lagi hati Silvia. Ini akan menjadi tantangan buat Andy sendiri. Ia yakin sekali suatu saat Silvia akan kembali jatuh dalam pelukannya.
Beberapa menit kemudian mobil mereka telah sampai, Andy lekas turun dan buru-buru membukakan pintu mobil untuk Silvia. Setelah ia melihat kedatangan Devan ke kantor Ayahnya di sana. Karena akan melakukan meeting siang itu.
Devan yang sedang merapikan sedikit jasnya sontak matanya melihat ke arah mereka di parkiran gedung. Wajahnya berubah merah padam ketika Andy memegang tangan Silvia yang kesulitan ingin menuruni mobil dengan penuh perhatian.
Bersambung...
...****...
Sambil nunggu kelanjutan ceritanya yuk mampir ke cerita temanku 🥰
__ADS_1