
...BAB 44...
...Ketegangan Di Meja Makan...
Keesokan harinya seperti janjinya kemarin, Devan benar-benar mengajak Cathrine ke rumah orangtuanya selepas bekerja. Untuk membicarakan tentang kehamilan Cathrine akibat buah dari kesalahannya sendiri.
Kedatangan Cathrine ke rumah itu mengundang banyak pertanyaan bagi mereka karna cukup lama mereka tak bertemu lagi dengan penyanyi itu, setelah kejadian pembatalan pernikahan putranya dengan Cathrine. Kebetulan saat itu Dini dan Silvia tengah asyik menyiapkan makan malam bersama seperti biasanya.
Dini menatap keduanya dengan pandangan yang tak suka. Begitupun Silvia yang baru saja muncul dari arah dapur membawa panci sayur untuk ia letakkan di meja makan. Ikut terkejut melihat pemandangan sepasang kekasih yang datang.
Cathrine tampak menundukkan wajahnya, yang tangannya tak lepas melingkar di lengan Devan, dan seperti biasanya ia akan memasang wajah sedihnya untuk menarik simpati sang calon mertua padanya sore itu. Dia tak ingin kesempatan ini akan gagal lagi.
"Dev?!" Dini mengerutkan keningnya bertanya-tanya.
Devan meneguk ludahnya tergugup, lantas ia menyuruh Cathrine untuk bersalaman pada Mamanya. Cathrine menurut dan mencium takzim punggung tangan Dini.
"Selamat sore Tante... Bagaimana kabar Tante?" sapa Cathrine tersenyum lembut tapi terlihat garis mata Cathrine yang sembab seperti habis menangis.
Ketika Cathrine hendak mencium pipi Dini namun Dini segera menghindarinya dan tanpa menjawab pertanyaan Cathrine.
"Ada apa ini sebenarnya? Bisa kamu jelaskan pada Mama, Dev?" tanya Dini, kini beralih menatap tajam pada putranya yang terlihat tegang dan pucat.
"Mama, bisakah kita bicarakan setelah kita makan malam bersama? Ada yang ingin Devan sampaikan kepada Mama dan Papa, juga padamu Silvia..." ucapnya, yang lekas menghindari mata Silvia yang terus saja memperhatikannya terheran.
Dini dan Silvia saling menoleh. Lalu Dini pun mengangguk dan menyuruh pelayan memanggil suaminya di ruang kerja untuk makan malam bersama.
Pelayan itu menurut dan bergegas memanggil Tuannya di ruang kerja.
"Baiklah mari kita duduk dulu sambil nunggu Papa datang..." ucap Dini.
Semua mengangguk dan duduk di kursi makan. Devan lekas menarik kursi dan menyuruh Cathrine untuk duduk tanpa ia melihat Silvia sekalipun. Perhatiannya begitu fokus terhadap Cathrine.
Cemburu, tentu saja. Itu hal yang wajar bagi seorang istri yang melihat suaminya lebih peduli pada wanita lain dari pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Walau memang Silvia tahu, Devan dan Cathrine adalah sepasang kekasih yang saling mencintai sebelum kehadirannya. Tetapi Silvia berusaha untuk terlihat biasa saja di depan mereka.
Lalu dia memilih duduk di sisi kirinya Dini dan bersebrangan tepat dengan mantan sahabatnya sendiri. Sementara Devan tentunya ia duduk di samping Cathrine, posisinya kini berhadapan dengan Mamanya.
Beberapa menit pun Indra datang menghampiri mereka.
"Wah, semua sudah pada siap rupanya. Hahaha..." Indra terkekeh kencang, tetapi tawanya seketika menghilang saat melihat Cathrine yang juga ikut duduk bersama keluarganya.
"Hallo Om, selamat sore..." Cathrine lekas berdiri dan mengulurkan tangannya pada Indra seperti yang tadi ia lakukan pada Dini.
"Nak Cathrine ada apa dengan kedatanganmu kemari?" tanyanya, mengernyitkan keningnya terheran. Lalu lelaki paruh baya itu menoleh pada putranya sendiri. Meminta jawaban darinya.
"Papa, nanti akan Devan jelaskan semuanya. Tapi lebih baik kita makan bersama dulu..." alih Devan yang tak ingin keluarganya membatalkan makan malam mereka gara-gara mendengar kabar yang tak menyenangkan ini.
Indra pun mengangguk menyetujui. "Baiklah, ayo kita makan malam dulu..."
Semuanya kembali duduk di kursi makan dengan tanpa ada pembicaraan sedikitpun di antara mereka. Hanya saja sesekali terdengar suara Devan yang masih perhatian pada Cathrine.
"Makanlah ayam yang banyak... Jangan sungkan..." ucapnya tersenyum lembut pada Cathrine, sembari meletakkan ayam goreng di piring Cathrine.
Di depan kedua orangtuanya bahkan di depan Silvia sendiri. Devan benar-benar tak punya malu untuk memperlihatkan kemesraan itu. Devan memang sudah terpengaruh oleh Cathrine. Bukan hanya itu saja, selain Devan ingin memberi perhatian ia juga masih ingat pesan suster semalam, katanya Ibu hamil harus banyak makan-makanan yang berprotein agar tubuhnya tidak lemas.
Sementara Dini masih menampakkan wajah tak sukanya. Selera makan pun seolah hilang begitu saja. Devan sungguh tak menghormati kedua orangtuanya.
"Ehm!" Dini berdeham kencang lantas menuntaskan makannya sendiri, walau masih bersisa banyak. Dini mengelap cepat-cepat mulutnya dengan tissue.
"Sekarang cepat kau katakan pada kami. Jangan mengulur-ngulur waktu kami. Apa maksud kamu membawa Cathrine ke rumah ini, Dev?" tanyanya berusaha untuk sabar menghadapi putranya yang keras kepala tersebut dan masih nekad mempertahankan hubungannya dengan penyanyi itu.
Devan menghela nafasnya dalam setelah meletakkan sendoknya di piring. "Mah, Cathrine masih makan. Mama juga kan belum selesai makan. Apa tidak sebaiknya kita menunggu sampai makannya selesai saja. Tidak baik Ma, kalau menyisa-nyisakan makanan kita..." ucap Devan pada Mamanya.
Dini menghembus nafasnya beberapa kali seraya memutar matanya dengan jengah.
"Namun sayangnya Mama sudah tak berselera lagi untuk makan. Apalagi melihatmu yang begitu perhatian pada Cathrine? Apa kau tak punya etika, Dev? Di sini ada orangtuamu dan juga istrimu! Harusnya kau menghargai keberadaan kami!" sentak Dini lantas berdiri dan melempar serbetnya ke atas meja samping piringnya.
__ADS_1
Sehingga wajah-wajah mereka yang melihat kemarahan Dini ikut menegang. Lantas Dini menoleh pada Cathrine masih dengan tatapan tak sukanya.
"Ada apa sebenarnya kamu kemari Nak Cathrine? Tidakkah cukup uang yang dulu pernah kami berikan padamu?" sindirnya dengan nada ketus.
"Mama...!" Devan ikut berdiri. Jujur saja Devan pun tak suka dengan sikap Dini pada kekasihnya.
"Ma, tolong jangan Mama marahi lagi Cathrine. Cathrine kemari atas kemauan Devan. Dan Devan ingin sampaikan pada Mama dan Papa. Bahwa Devan akan menikahi Cathrine secepatnya."
Dini melotot begitupun Indra, mereka saling menoleh. "Jangan main-main Dev! Sekali tidak Mama ijinkan, Mama tetap tak ijinkan kamu untuk menikah lagi!" tegas Dini, nafasnya naik turun mencoba menahan amarahnya.
Ia tak mengerti dengan pikiran putranya yang selalu bersikeras dengan keinginannya, dan itu selalu saja bertolak belakang dengan keinginan Dini sendiri.
"Tapi mau tak mau Mama tetap harus menerima Cathrine!" timpal Devan, yang lantas ia pun menarik nafasnya dalam-dalam, matanya memerah menatap sang Mama tanpa gentar. "Karena sekarang_ dalam perut Cathrine ada cucunya Mama dan Papa..." ucapnya tersendat-sendat.
Duaaaarr
Bagai ada petir yang menggelegar kencang di ruangan itu. Semua tercengang dengan pandangan mereka yang terbelalak.
"A-apa katamu?"
Dini sontak menahan dadanya yang seolah berhenti berdetak. Lalu terjatuh tak sadarkan diri.
"Maaaa! Mama!"
Bersambung...
...***...
Haii haii haii author bawain lagi nih cerita temen author... Siapa tahu kalian tertarik... 😍😍😍
Sambil nunggu kelanjutannya si Devan yang Oon nya gak ketulungan dan si Cathrine yang bener-bener licik kayak rubah betina. Gimana nasib Silvia ya, 🤔 setelah tahu Cathrine hamil dan Devan tetap kekeh akan memperistrinya? Terus gimana dengan Dini yang pastinya shock banget tuh??
Oow tegang gak nih di episode kali ini? Boleh komentar yang banyak ya biar authorrr tambah cemungut nulisnya 😏😏😏
__ADS_1