Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Di Manjakan Mama Mertua


__ADS_3

...BAB 29...


...Di Manjakan Mama Mertua...


"Bagaimana obatnya, apa sudah kamu ambil?"


"Sebentar lagi Ma... Nunggu panggilan." Silvia menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Dia jadi khawatir jika sampai Mama mertuanya melihat Cathrine ada di sekitar Rumah Sakit itu. Pertemuan mereka pasti bisa menjadi masalah besar.


"Oh ya sudah, kalau gitu kita tunggu dulu sambil duduk dan mengobrol di sana..." ajak Dini sembari memegangi lengan Silvia untuk membantunya berjalan. Silvia mengangguk lalu mereka berdua berbincang sambil menunggu antrean di kursi panjang.


Tak lama kemudian nama Silvia pun di panggil, dan Silvia bergegas mengambil obat tebusannya. Lalu kedua wanita berbeda generasi itu pergi dari Rumah Sakit dan meneruskan perjalanan mereka menuju sebuah mall. Karna seperti janjinya Dini kemarin, yang ingin membelikan gaun pesta untuk dipakai menantunya besok minggu.


Selang berapa menit kemudian, mereka telah sampai di sebuah mall terbesar di kota itu dan Silvia senang sekali bisa melihat lagi mall tempat dimana ia bekerja dulu. Di toko sepatu itu, adalah tempat pertama kalinya ia bertemu dengan Devan Alvandra. Silvia tersenyum lebar tatkala Nana disana sedang melambai-lambaikan tangan ke arahnya.


"Sill... Silviaa!!" serunya dari jarak yang tak begitu jauh.


"Dia temanmu, Silvia?" tanya Dini yang sedari tadi berjalan di sisinya, juga melihat pada seorang perempuan sebaya Silvia yang memanggil nama menantunya.


"Iya Ma, dia Nana teman baiknya Silvia. Dan toko sepatu itu sebenarnya tempat Silvia bekerja dulu. Tapi setelah menikah dengan Mas Devan, Silvia terpaksa harus berhenti bekerja karna..." Silvia menggantung ucapannya menatap sendu toko itu, yang sebenarnya Silvia memang masih betah bekerja disana. Tapi mana mungkin juga dia bekerja dengan kondisi kakinya yang masih pincang.


"Em jadi itu tempat kamu bekerja dulu? Maafkan putra Mama ya. Karena dia, kamu jadi kehilangan pekerjaanmu..." sahut Dini turut sedih yang memahami perasaan menantunya itu, lantas Silvia tersenyum lembut dan menggeleng kecil.


"Tidak apa Ma, lagi pula Silvia sudah menikah dan bersyukur karna Mas Devan juga mau bertanggungjawab sama Silvia..." ujarnya lagi. Dini pun membalas tersenyum seraya mengusap bahu menantunya dengan lembut.


Lalu tampak Nana berlari kecil menghampiri Silvia dan mereka pun saling berpelukan melepaskan segala kerinduan di dada.


Silvia lalu memperkenalkan Nana pada Mamanya Devan. Hingga mereka bertiga berbincang akrab cukup lama disana, setelahnya mereka pamitan pada Nana, karena masih ada urusan dan Nana juga harus kembali bekerja untuk melayani para pelanggan.


"Maaf ya Na, nggak bisa lama-lama..." ucap Silvia. Nana mengangguk mengerti.


"Iya nggak apa-apa. Happy fun aja sama mertuamu..." bisiknya sedikit meledek. Setelah saling mencium pipi kanan dan kiri, Nana pun berlari kecil kembali ke tokonya.


Silvia dan Dini pun meneruskan langkahnya mengitari mall tersebut. Hingga mereka berhenti di sebuah butik. Mata Dini berbinar tatkala melihat salah satu gaun cantik yang ada di sebuah butik di mall tersebut.


"Silvia, lihatlah kemari Nak!" serunya seraya memandangi takjub pada gaun yang terpajang sebagai modelan terbaru di sana.


Silvia pun tersenyum lebar melihat mertuanya yang begitu senang sekali. "Bagaimana kalau kamu coba yang ini, ini pasti cocok untuk kamu pakai..." sahut Dini lagi.


"Em, apa itu tidak berlebihan ya Ma..." Silvia mengerutkan keningnya tergugup, sejenak menatap pada bandrol harga yang tergantung di gaun itu. Harganya yang sangat fantastis membuat Silvia menelan air liurnya beberapa kali.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, sekali-kali Mama pengen belikan kamu pakaian bagus. Anggap saja ini adalah hadiah pernikahan kalian dari Mama..." ujar Dini girang.


Silvia pun tersenyum terharu menatap mertuanya yang begitu baik memperlakukannya, lantas membuat Silvia tak bisa menolak lagi keinginan Mertuanya untuk membelikannya gaun pesta.


Setelah mendapatkan gaun pesta yang tak terlalu terbuka namun terlihat cantik dan elegan, Dini pun meminta pakaian lelaki yang cocok untuk pasangan gaun yang di pakai Silvia nantinya untuk Devan pakai juga. Lalu setelah mencari yang Dini dapatkan, mereka beralih ke toko sepatu dan Dini membelikannya lagi untuk Silvia.


"Ma, apa tidak terlalu kebanyakan belanjanya?" protes Silvia yang semakin sungkan saja dengan kebaikan Mama Mertuanya tersebut. Dini malah santai menanggapinya.


"Sudah ikutin Mama saja, ini hanya baru setengahnya. Ayo sekarang kita cari-cari aksesoris lainnya." Tak puas, kini Dini mengajak lagi Silvia pergi ke tempat aksesoris cantik yang menjual tas branded dan bermacam-macam bross berlian untuk di pakai Silvia dan dirinya. Dan sebagiannya lagi rencananya akan Dini hadiahkan kepada adik-adik iparnya nanti.


Setelah lumayan lelah mendapatkan semuanya. Dini lalu mengajak Silvia ke sebuah salon besar yang menjadi langganannya. Kebetulan pemilik salon kecantikan itu adalah temannya Dini yang sudah memiliki puluhan karyawan yang bekerja di sana.


Dini pun di sambut suka cita oleh pemilik salon tersebut. Namanya Sarwendah, teman sejawat Dini sewaktu mereka di bangku kuliah. Lalu tak lupa Dini memperkenalkan Sarwendah pada Silvia.


Di salon tersebut Silvia dilayani dengan baik oleh karyawan Sarwendah, dan melakukan perawatan kulit wajah hingga rambutnya. Bahkan melakukan pijatan dan juga luluran aromaterapi. Hari itu Dini tak hanya membelikan pakaian dan sepatu yang mahal untuk Silvia, bahkan dia mengajak Silvia ke salon kecantikan yang memang sengaja ingin memanjakan menantunya tersebut.


"Bagaimana sekarang? Badanmu sudah lebih segar kan?" tanya Dini ceria, setelah mereka dalam perjalanan pulang, tak terasa mereka menghabiskan waktu hingga mau mendekati malam. Mereka berdua tak hanya shoping dan perawatan tubuh saja, tapi sengaja mampir ke restoran mahal untuk makan siang.


Silvia mengangguk tersipu malu. "Mama, sekali lagi Silvia ucapin terimakasih banyak, tapi tak seharusnya juga Mama sampai melakukan ini semua pada Silvia. Silvia jadi tak enak 'kan karena hari ini sudah ngabisin uangnya Mama..." ucap Silvia hati-hati agar tak menyinggung perasaan mertuanya tersebut.


"Silvia dengarkan Mama.. Apa Mama melakukan ini setiap hari untukmu?" tanyanya dengan menatap lekat pada menantunya tersebut. Silvia lantas menggelengkan kepalanya.


"Nanti setelah ini, kamu dan Devan bisa pergi sendiri. Jadilah istri yang bisa memikat hati seorang suami, ya... Mama harap nanti kamu bisa menggantikan posisi wanita itu di hatinya Devan..." dukungnya dengan antusias. Silvia pun sontak menatap kaget Mama mertuanya dengan mimik tak mengerti.


"Berjuanglah Silvia, bantu Mama agar Devan bisa melupakan wanita itu..." pintanya dengan raut memohon.


Dini berharap bahwa Devan putranya dapat melupakan cintanya pada Cathrine lalu berpaling pada Silvia, dan tanpa di sadari bahwa keinginan mertuanya tersebut juga sama halnya dengan keinginan Silvia sendiri.


*****


Esok malamnya, di sebuah kamar di depan cermin hias. Silvia tak berhenti tersenyum melihat penampilannya malam itu. Dini telah berhasil merubahnya seperti seorang putri raja.


"Apa kamu serius Nak, ingin memakai ini?" Dini kini menghampiri Silvia dengan membawa sehelai selendang penutup kepala yang memiliki warna yang sama dengan gaun milik Silvia.


"Selama ini aku sudah melupakan kewajibanku sebagai muslimah untuk menutupi auratku Ma... Terimakasih banyak ya Ma sudah memberikan kesadaran untuk Silvia..." ucapnya yakin.


Dini terharu mendengarnya, lalu memeluk erat Silvia dari belakang. Layaknya seorang Ibu pada putrinya. Mereka saling menyayangi. Dengan senang hati Dini pun membantu Silvia untuk memakaikan hijabnya untuk pertama kalinya, setelah tadi ia memberikan make up di wajah menantunya tersebut.


Selang waktu kemudian. Akhirnya Indra dan Devan pun bisa bernafas lega karena dua wanita yang sudah di tunggu-tunggu dari tadi, akhirnya keluar juga dari dalam kamar.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali sih Ma?" renggut Devan sambil melirik pada jam arloji di tangannya, yang sudah menunjuk angka delapan malam. Devan sudah tak sabar ingin cepat-cepat berangkat dari tadi. "Nanti kita bisa terlambat nih..." kesalnya lagi.


"Sabar dong, Mama kan harus mempersiapkan semuanya. Apalagi nanti Mama harus memperkenalkan Silvia pada saudara dan kerabatnya Papa disana, jadi Mama harus mendadani Silvia secantik mungkin..." terang Dini masih dengan mimik bahagianya.


"Lalu mana Silvianya Ma, kok belum keluar juga?" tanya Indra sambil menaikkan satu alisnya ke atas melirik pintu kamar yang setengah terbuka.


Dini mengulum senyum, lalu menoleh pada pintu kamar. "Silvia ayo sayang, kita berangkat sekarang..." panggilnya.


"Iya Ma, tunggu sebentar..." sahutnya dari dalam kamar. Silvia pun keluar dari kamar pribadi milik Dini khusus untuk berhias itu, dan membuka tirai pintunya perlahan.


Devan mendengus kesal seraya memasukkan kedua tangan di saku celananya. Lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke pintu kamar pribadi milik Mamanya, tirai pun terbuka dengan hati-hati Silvia berjalan tanpa menggunakan kruk lagi dan mengangkat sedikit gaunnya ke atas.


"Maaf sudah menunggu lama..." ucapnya tersenyum tipis seraya menatap Devan yang juga sudah menatapnya terpaku. Devan menelan pelan ludahnya sendiri. Matanya sama sekali tak berkedip melihat perubahan Silvia dari bawah kaki hingga atas kepala. Hijab dan gaun dengan hiasan payet-payet cantik berwarna silver, berhasil membuat anggun sosok Silvia di depan matanya. Sungguh, malam itu Devan di buat kagum dengan penampilan Silvia yang berbeda dari biasanya.


"Bagaimana menurutmu Devan, Silvia cantik sekali kan malam ini?!" tanya Dini meminta pendapat putranya tersebut, sontak pertanyaan Dini berhasil menyadarkan lamunannya.


Devan membuang wajahnya tergugup, wajahnya memerah malu. "Ah biasa saja tuh.." sangkalnya yang lekas berjalan kaku meninggalkan mereka duluan.


"Kau memang tidak bisa menghargai usahanya Mama..." gerutu Dini kesal dengan kelakuan putranya itu.


"Kita jadi berangkat kan? Ini sudah telat." acuhnya. Lagi Devan mengingatkan keterlambatan mereka, namun langkahnya terhenti lagi saat Mamanya menyuruhnya untuk menggandeng tangan Silvia.


Karena kali ini Silvia mencoba untuk berjalan tak memakai kruknya lagi. Jadi Devan harus siap siaga untuk menuntunnya.


"Main pergi saja, istrimu malah di tinggalin.." cerocosnya lagi.


Devan menghembus nafasnya kasar. Lalu terpaksa kembali berbalik dan menghampiri Silvia, memberikan lengannya untuk Silvia pegang dengan dada yang berdegup kencang tak biasanya.


"Terimakasih..." ucap Silvia lembut dan anggun.


"Sama-sama..." jawab Devan pelan dan dingin tanpa melihat ke arah Silvia.


Bersambung...


...****...


Yuk sambil menunggu kelanjutan ceritanya bisa mampir ke sini dulu. Cerita seru loh...


__ADS_1


__ADS_2