
...BAB 38...
...Mencintai Tanpa Ia Duga-Duga Kehadirannya...
Suara ponsel berdering nyaring, mengejutkan Devan yang sedang fokus menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Devan bergegas menepikan mobilnya dahulu untuk menjaga keselamatan lalu lintas. Sebab ia masih trauma dengan kecelakaan lima bulan lalu, yang menimpa Silvia karena kesalahannya sendiri, yang menelepon dalam keadaan sedang mengemudikan mobilnya.
Devan buru-buru mengambil ponsel mewahnya di dashboard mobil. Devan mengira yang meneleponnya adalah Silvia, karna sebelumnya, Devan sudah menghubunginya beberapa kali sejak tadi, tapi tak juga di angkat-angkatnya.
Setelah tahu Silvia pergi duluan tanpa bilang terlebih dulu, ia berniat untuk menyusulnya pulang ke rumah. Selain itu, belanjaan tadi siang yang mereka beli juga masih ada di dalam bagasi mobilnya. Devan menggerutu kesal dalam hatinya, pada Silvia. Kenapa dia main pergi-pergi saja, hanya karena dirinya ingin berbicara terlebih dulu dengan Cathrine.
Senyum yang tadi terbit di bibirnya berharap Silvia akan meminta maaf padanya, hilang seketika setelah tahu siapa yang menghubunginya. Ternyata yang meneleponnya bukanlah Silvia, melainkan orang suruhannya Devan untuk mencarikan informasi tentang Andy.
Devan mengernyitkan dahinya, saat melihat video rekaman Andy yang di kirimkan oleh orang suruhannya tersebut. Kejadian itu berlangsung siang tadi setelah Devan dan Silvia pergi dari kantor perusahaan milik Papanya.
Dia baru saja membuka pesan itu. Karena saat makan siang bersama Silvia tadi di Restoran. Devan meninggalkan ponselnya di dalam mobil. Dan Devan baru saja mengecek pesan itu, karna tadi sangking mencemaskan Silvia.
...~Flashback on~...
Seusai rapat siang tadi, Devan pergi bersama Silvia. Mereka hendak berbelanja ke pasar swalayan. Andy yang melihat Silvia dan Devan sudah keluar dari kantor perusahaan milik Indra, lekas berjalan menghampiri mereka dan menawari Silvia untuk di antarkannya pulang sampai rumah.
"Tidak terimakasih banyak, biar suami saya saja yang antarkan saya pulang..." jawab Silvia menolak tawaran Andy. "Yuk, Mas kita pergi..." Dengan mesranya Silvia menggandeng lengan kiri Devan. Begitupun sebaliknya dengan Devan yang tak keberatan memegang tangan istrinya yang melingkar di lengannya di depan mata Andy. Mereka seakan kompak dan bekerja sama untuk membuat Andy kesal.
"Ya ayo, mumpung masih jam istirahat..." sahut Devan tersenyum.
Lalu keduanya pun berjalan beriringan ke parkiran dan masuk ke dalam mobil. Mengacuhkan Andy yang masih berdiri membeku disana, dengan wajah yang sudah terlihat memerah padam.
Andy mendengus kasar ketika melihat Devan dengan mesranya merapikan sedikit jilbab Silvia di dalam mobil. Sebenarnya hati kecil Andy masih menyukai Silvia. Bertambah lagi wanita yang pernah ia campakkan itu berubah menjadi wanita yang cantik jelita. Rasanya ingin sekali kembali memiliki.
Hanya saja saat ini Andy lebih memberatkan pada kehidupan finansialnya yang menurun drastis. Daripada harus berjuang mengejar cinta yang membuatnya jadi sengsara, seperti dulu yang pernah terobsesi mengejar cinta Cathrine. Lebih baik dia memikirkan untuk memperbaiki masa depannya dahulu.
Mata gelap Andy tak lepas memperhatikan suami-istri itu dari jauh dan setelah mobil Devan melaju pergi. Andy buru-buru menghubungi seseorang lalu memberitahukan jika keduanya telah pergi beberapa menit yang lalu.
"Cepatlah kau susul mereka. Karna aku sudah tidak bisa pergi kemana-mana lagi." titah Andy pada seseorang yang berada di sambungan teleponnya. Karena sekarang Andy sudah terikat dengan pekerjaannya jadi tak bisa seenaknya saja pergi-pergian di waktu jam kerjanya. Khawatir atasannya akan membutuhkannya pada sewaktu-waktu.
Seorang lelaki yang Devan tugasi itu pun dengan cepat merekam semua gerak-gerik Andy yang sangat mencurigakan itu disana.
...~Flashback of~...
"Siapa yang di telepon lelaki itu?" Devan kembali bertanya seraya menautkan alisnya ketat dan dalam.
["Sepertinya, supir itu sedang menyuruh seseorang untuk membuntuti anda dan juga istri anda Tuan..."] jawab suara lelaki yang menjadi kepercayaan Devan saat ini.
__ADS_1
Devan kembali tertegun, otaknya terus berpikir keras. Penuh tanya.
"Jika itu benar, lalu apa tujuan mereka membuntutiku dan juga Silvia?" ujarnya lagi.
["Saya tidak tahu yang pastinya Tuan... Tapi kulihat dia tadi terus memperhatikan Nyonya Silvia dari jauh, Tuan...]
"Baiklah, terimakasih sudah memberitahuku. Dan ingat jangan berhenti terus memata-matainya. Hingga semua terungkap jelas jika dia memang memiliki rencana buruk untukku dan juga istriku." perintah Devan lagi, yang lalu menarik nafasnya dalam-dalam, masih bersitegang dengan pikirannya sendiri.
["Siap Tuan, anda tak perlu khawatir. Saya pasti akan terus mencari tahu tentang pria itu."] jawabnya.
"Ya baguslah, aku percayakan semua padamu!"
Devan kembali menutup sambungan teleponnya lagi. Matanya menyipit tajam ke arah depan jalan. Lalu mengingat lagi ketika Cathrine tiba-tiba saja muncul di Restoran. Sangking gugupnya tadi, Devan jadi lupa untuk bertanya, kenapa Cathrine bisa ada disana.
Devan memijat pelipisnya yang kembali merasakan sakit bagai di pukul-pukul palu, tak berhenti mengecap masalah yang tiada habisnya menghujam keras pikirannya. Mulai dari desakan Cathrine yang terus saja memintanya untuk segera di nikahi. Serta bingung harus bagaimana caranya menjelaskan pada Silvia, soal dirinya dan Cathrine yang pernah tidur bersama?
Devan menghela nafasnya berat dan panjang. Karena terus merasakan dilema yang berkepanjangan. Di sisi lain ia memang mencintai dan tak ingin mengkhianati cinta Cathrine kekasihnya. Namun dia pun tak memungkiri, saat ini separuh hatinya telah Silvia ambil tanpa ia sadari sendiri.
Wanita yang pernah terang-terangan ia tolak dan pernah ia sumpahi bahwa tak akan pernah mencintainya sampai kapanpun. Kini sumpah itu berbalik menyerangnya lagi, bagaikan bumerang yang ia lempar sejauh dan sekuat mungkin agar tak kembali namun tiba-tiba saja kembali menghadangnya saat ia belum siap untuk menangkapnya lagi.
Itulah yang menggambarkan betapa kalutnya perasaan Devan saat ini. Mencintai tanpa ia duga-duga kehadirannya. Lalu, bagaimanakah nasib Cathrine yang seharusnya ia pikirkan? Walau bagaimana pun Cathrine adalah wanita yang ia cintai untuk pertama kalinya, dan sekian kali Devan selalu berucap kata janji untuk menikahinya.
Silvia lekas menutup pintu kamarnya setelah lima menit yang lalu ia sampai di kediaman keluarga Devan. Lalu ia menghempas tubuh lelahnya di atas kasur. Lelah hati juga pikiran. Matanya terpejam rapat-rapat, hingga setetes air mata pun keluar dari kelopaknya. Membasuh bulu-bulu matanya yang lentik dan lebat.
Terlintas lagi bayangan Devan di benaknya, ketika lelaki itu tengah melakukan kewajiban di kamar mereka subuh tadi. Devan tampak khusu sekali melaksanakan sholat dua raka'atnya. Setelah wajah tampannya basah oleh air wudhu, seolah memancurkan cahaya keimanan di hati sang pemilik raga. Itulah yang membuat Silvia semakin jatuh hati pada sosok Devan. Tak hanya memiliki wajah yang tampan dan kaya raya namun Devan memiliki nilai plusnya, yakni seorang muslim yang taat beragama. Tentunya itu adalah buah dari didikan dari kedua orangtuanya.
"Sejak dari kecil, Den Devan itu anaknya baik dan pinter ngaji juga, Non. Tentu saja karena Nyonya Dini adalah putri kelimanya dari Kyai Abbas yang mempunyai pondok pesantren terkenal yang ada di kota Surabaya." ucap Bi Sari kala itu.
"Devan sebenarnya anak yang penurut. Hanya saja semenjak dia berhubungan dengan penyanyi itu. Sikapnya berubah drastis, jadi sulit di atur dan agak keras kepala." ungkap Dini waktu itu pada Silvia, yang teramat menyesali akan perubahan sikap putranya akhir-akhir ini.
"Kalau memang_ Mas Devan seorang yang taat beragama. Tidak mungkin 'kan kalau dia sampai melakukan itu?" Silvia kembali bermonolog di kamarnya yang sunyi itu, betapa ia tak percaya yang ia dengar dari mulut Devan tadi bahwa lelaki itu mengakuinya telah meniduri Cathrine. Silvia mendesah dalam. Hatinya sangat mengecewakan hal itu.
Sontak Silvia menoleh terkejut ke arah jendela kamarnya yang ia tempati bersama Devan, suara klakson mobil terdengar nyaring sampai ke lantai dua. Silvia melangkah mendekati jendela. Membuka tirai putih dan melihat Devan yang bergegas turun dari mobil mewahnya sembari mengeluarkan dua kantung besar belanjaan yang ia beli tadi.
Silvia sontak menepuk keningnya sendiri. "Ya ampun, kenapa aku bisa sampai melupakan belanjaanku sendiri sih?! Pantas saja tadi seperti ada yang terlupakan!" gerutunya sendiri.
Devan masuk ke dalam rumah seraya memanggil-manggil Bi Sari lalu menyerahkan barang belanjaan yang Silvia beli tadi bersamanya.
"Bi, apa Silvia sudah pulang?" tanyanya menampakkan raut cemas di wajah kusutnya.
"Oh Non Silvia, baru saja pulang Den! Tapi saat tadi di tanya sama Bibi. Non Silvia kayak melamun gitu, nggak fokus ngejawab. Terus katanya capek mau istirahat dulu di kamarnya." jawab Bi Sari seraya menatap heran pada anak majikannya yang tiba-tiba saja seperti khawatir terhadap Silvia.
__ADS_1
"Ya sudah Bi, kalau gitu aku naik ke atas dulu." Devan pun bergegas menaiki anak tangga sembari tangan membuka ponselnya dan menghubungi sekretarisnya yang ada di kantor.
"Untuk pertemuanku dengan dua clien sore ini. Tolong kau undurkan waktunya besok pagi. Aku masih ada urusan penting diluar." perintahnya.
Devan terpaksa tak kembali ke kantornya, demi untuk menjelaskan perkara tadi pada Silvia. Sebelum Silvia berpikir macam-macam tentangnya.
Devan membuka pintu kamarnya, dan melihat Silvia yang sudah berbaring miring dengan masih memakai pakaian tadi. Devan lekas menutup pintu dan menguncinya.
"Aku tahu kamu masih belum tidur. Ayo bangun. Jelaskan padaku kenapa tiba-tiba saja kau pergi diam-diam Silvia?" sahutnya sedikit menyentak.
Tak ada jawaban, Devan pun menarik kasar dua bahu Silvia hingga wanita itu terduduk menghadapnya di tepi kasur, sedang Devan yang sigap berjongkok di depannya. Menatap dalam-dalam pada mata bulat Silvia.
"Aduh apaan sih? Nggak lihat apa aku sedang tidur? Ngapain juga kamu pulang kemari? Bukankah kamu bilang tadi, waktu istirahatmu hanya sebentar saja?" sungut Silvia benar-benar kesal pada Devan yang selalu bersikap seenaknya.
"Aku hanya ingin jelaskan sama kamu, Silvia. Sumpah, saat malam kami tidur bersama di apartemen itu. Aku dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sungguh itu tidak seperti yang kau bayangkan. Aku, aku juga tidak merasa telah menyetubuhi Cathrine." gagapnya. "Hanya saja_ Kami memang sudah tak memakai apapun saat aku terbangun pagi itu." terangnya memelas. Terlihat ada rinai kesedihan juga kesungguhan pada wajah Devan.
Silvia lekas memalingkan wajahnya yang terus di tatapi aneh oleh Devan.
"Ke-kenapa kau begitu ingin menjelaskan itu padaku. Lagipula_ apa untungnya bagiku jika memang kau benar-benar tak melakukannya?! Bukankah kau sangat mencintai kekasihmu itu? Jadi, belum tentu juga aku percaya sepenuhnya dengan ucapanmu. Siapa tahu kamu memang melakukannya dengan sengaja?!" ketusnya.
Devan tertegun dengan perkataan Silvia, menundukkan kepalanya dan perlahan melepas bahu Silvia yang ia pegang.
"Jujur saja, walau memang aku mencintai Cathrine tapi aku selalu menolak dia yang ingin mencium bibirku dengan paksa. Aku selalu berusaha untuk menjaga kehormatannya sebelum kami benar-benar telah halal dan sah menikah. Dan aku tak tahu kalau malam itu aku sudah menodai Cathrine." lirihnya. Devan menelan kasar ludahnya, lalu kembali menatap nanar pada wajah Silvia yang masih tak ingin melihatnya.
"Silvia kau percaya pada kata-kataku 'kan...?" tanyanya lagi, berharap Silvia akan percaya dengan apa yang ia ceritakan bahwa itu adalah kenyataannya.
Silvia menggeleng kepalanya cepat seraya memenjam rapat matanya.
"Nikahi dia Mas!" titahnya pelan sontak membuat Devan terperangah.
"Aku akan mendukungmu untuk kau menikahi kekasihmu itu. Aku sadar, disini akulah yang salah karena telah memaksamu untuk menikahiku dulu. Jadi sekarang, aku yang harus mundur dengan pernikahan kita ini. Maafkan aku yang sudah banyak merepotkanmu..." Silvia menundukkan dalam wajahnya tanpa ingin melihat Devan. Air matanya luruh seketika membasahi wajah hingga berjatuhan ke atas gamis yang ia pakai.
"Maafkan aku... yang selalu menyusahkan hidupmu..." lirihnya lagi dengan bibir bergetar.
Bersambung....
...****...
Silakan yang suka ceritanya boleh mampir kemari ya
__ADS_1