Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Kecurigaan Silvia


__ADS_3

...BAB 45...


...Kecurigaan Silvia...


"Karena sekarang dalam perut Cathrine ada cucunya Mama dan Papa..." ucapnya tersendat-sendat.


Duaaaarr


Bagai ada petir yang menggelegar kencang di ruangan itu. Semua tercengang dengan pandangan mereka yang terbelalak.


"A-apa katamu?"


Dini sontak menahan dadanya yang seolah berhenti berdetak. Lalu terjatuh tak sadarkan diri.


"Maaaa! Mama!"


Semua menghampiri Dini yang sudah jatuh pingsan di lantai.


Indra bergegas meraih tubuh sang istri, perlahan memangkunya, walau sudah berumur tapi tenaga Indra tak kalah kuat dari yang muda. Itu karena dia selalu menjaga kesehatan tubuhnya setiap hari, dengan selalu berolahraga dan makan-makanan yang sehat.


Indra lekas membawa Dini masuk ke dalam kamarnya. Dan di kamar, Dini pun di baringkan di atas kasur.


"Biar aku ambilkan kayu putih, Bi... Tolong bawakan air minum juga untuk Mama.." titah Silvia pada Bi Sari.


"I-iye Non!" angguknya ikut panik.


"Yang hangat ya Bi..." tambah Silvia lagi.


Bi Sari pun mengangguk lagi, lalu berjalan tergopoh-gopoh menuju dapur mengambil air minum untuk majikannya. Sedangkan Silvia buru-buru ke ruang tengah untuk mencari kotak obat di dalam lemari yang biasanya selalu Dini simpan.


Semua menjadi cemas, termasuk Devan yang masih terpaku di samping tempat tidur sang Mama. Hanya menatap dengan pandangan yang nanar. Semakin merasa bersalah pada dirinya sendiri.


Devan lalu berjalan mendekat dan duduk di tepi kasur samping kiri Mamanya. Meraih tangan sang Mama dan mengusapinya dengan lembut.


"Ma... Bangun Ma...! Mama, tolong maafin Devan Ma..." lirihnya bergetar. Mengecup punggung Dini dan membelaikan telapak tangan kiri Dini ke pipinya. "Mama..." panggilnya lagi.

__ADS_1


Ya Tuhan aku minta ampun atas dosa-dosaku... Tolong sadarkan Mama hamba kembali... lirihnya di hati.


Tanpa ia sadari, air bening pun menetes keluar dari sudut matanya. Devan teramat sayang Dini, makanya itu ia takut sekali sampai harus kehilangannya. Tak sangka Dini akan benar-benar shock mendengar kabar yang tidak menyenangkan darinya. Devan benar-benar menyesalinya, tak seharusnya ia gegabah mengungkapkannya dulu. Tapi ia pun sudah terlanjur mengatakannya dan sebenarnya ia pun bingung untuk memutuskannya sendirian. Tanpa kedua orangtuanya yang mendukungnya dan memberikan jalan keluar untuk mengatasi masalah yang ia buat sendiri.


"Keluarlah dulu, biar Mamamu istirahat!" perintah Indra dingin tanpa sekalipun ia menatap wajah putranya. Saat ini, Indra sama sekali tak ada respek pada putranya tersebut.


"Tapi Pa..." Devan mendongak menatap sang Ayah. Ia tak ingin pergi jauh dari Mamanya, ia ingin menunggu hingga Mamanya sadar kembali dan meminta maaf padanya, karena telah mengecewakan hatinya.


"Papa bilang keluar kamu, Devan! Puas sudah buat Mamamu sakit begini, hah?! Dasar anak tidak tahu diri!" pekiknya menahan geram.


Tangannya terkepal kuat di atas pahanya. Indra berusaha sabar untuk tak marah. Lebih baik ia menyuruh putra bodohnya itu pergi saja meninggalkan kamarnya.


Melihat sang Ayah marah padanya. Akhirnya Devan mengalah, lalu beranjak pergi keluar dengan langkah yang gontai dan kepala menunduk lesu.


Sementara di ruang keluarga, Cathrine melihat sinis ke arah Silvia yang tengah sibuk mencari kotak obat, menurutnya mantan temannya itu hanya ingin mencari muka saja di depan kedua orangtuanya Devan.


Cathrine menghampiri Silvia setelah tahu ruangan itu sepi, lalu menarik kasar tangannya, hingga tubuh Silvia berbalik cepat ke arahnya.


"Heh, jangan sok cari muka kamu! Tante Dini pingsan, semua itu gara-gara kau, Silvia! Kalau saja dari awal kau tak memaksa kekasihku untuk menikahimu. Mungkin hubungan kami tidak akan serumit ini!" geramnya dengan menyorot tajam menatap saingannya selama ini.


Padahal tinggal selangkah lagi ia akan mencapai mimpi-mimpinya tersebut. Tetapi tak ia sangka dia akan bertemu lagi dengan Silvia yang menghancurkan segala-galanya.


Silvia menepis kasar tangan Cathrine, dan membalas tatapan tajam padanya.


"Jangan pernah mencari kesalahan oranglain, tanpa kau intropeksi kesalahanmu sendiri, Cath! Apa kau pikir aku tidak tahu rencana busuk apa yang sedang kau susun di belakangku bersama Andy!" sindirnya sedikit menggertak.


Silvia lantas memiringkan bibirnya dengan tatapan yang mengintimidasi. Bermaksud ingin memancing Cathrine bahwa apa yang tengah ia curigai selama ini adalah benar adanya. Jika Cathrine dan Andy masih ada hubungan di belakangnya.


Sontak Cathrine membulatkan matanya, agak terkejut dengan tuduhan Silvia yang memang benar adanya. Cathrine menelan susah ludahnya sendiri. Dalam pikirannya ia bertanya, darimana Silvia bisa tahu kalau ia masih berhubungan dengan Andy?


"Maksudmu?! Hahaha... Jangan konyol Silvia. Aku dan Andy sudah lama tidak berhubungan, bahkan aku tidak pernah bertemu dengannya lagi!" sangkalnya tertawa dengan kikuk, yang lalu memalingkan wajahnya dari Silvia untuk menutupi semua kegugupannya saat ini.


"Oh ya?" cibir Silvia tak percaya.


Lantas Silvia merogoh ponselnya di dalam saku gamisnya, membuka foto galery-nya. Lalu memperlihatkan foto Cathrine dan Andy di depan lapak penjual sate waktu itu.

__ADS_1


"Lalu... Siapa ini? Bisa kau jelaskan kenapa ada foto kalian disini?" tanyanya, yang sukses membuat Cathrine kembali membuka matanya dengan lebar. Wajahnya kini berubah pucat pasi.


Cathrine hendak merebut ponsel di tangan Silvia, tapi Silvia dengan cepat menjauhkan ponselnya, dan memundurkan langkahnya kebelakang.


"Berikan itu padaku!" pintanya dengan mengeratkan kuat gigi-giginya. Cathrine merasa hidupnya saat ini tengah terancam bahaya.


"Kenapa?! Apa kau takut rencanamu akan terbongkar, Cath?!" sindir Silvia lagi, yang semakin yakin jika Cathrine memang tengah menyembunyikan sesuatu darinya. "Jadi benar kan yang tadi ku bilang padamu. Kalau kalian masih ada hubungan?" tudingnya lagi.


Cathrine tersenyum sinis. "Kenapa harus takut?! Sudah kukatakan aku tidak menjalin hubungan dengannya lagi. Kami hanya kebetulan saja bertemu di tempat itu..." sangkalnya lagi yang kali ini mimiknya berubah sedikit tenang, agar Silvia tak lagi mencurigainya.


Namun Silvia tetap tak percaya yang Cathrine ucapkan, entah mengapa Silvia seperti melihat ada kegelisahan di raut wajahnya Cathrine.


Silvia lantas melihat pada perut Cathrine yang belum terlihat membuncit.


Merasa terus di perhatikan. Cathrine pun mendelik tak suka.


"Kenapa kau terus melihat perutku seperti itu hem? Apa kau iri padaku, karna aku sedang mengandung anaknya Devan?" pongahnya yang merasa bangga dengan kehamilannya yang tanpa status menikah itu.


"Ehm, apa kau benar-benar yakin jika kau memang sedang hamil anaknya Mas Devan? Jangan-jangan...." Silvia sengaja menggantung ucapannya seraya memicingkan matanya yang kembali menaruh curiga pada Cathrine. Sontak itu membuat Cathrine tersinggung dan menatap nyalang pada Silvia dengan wajah memerah padam.


"Tentu saja ini anak kandungnya Devan. Karena kami melakukannya dengan saling suka. Apa masih kurang jelas foto yang aku kirimkan saat itu padamu?!" sewotnya


Devan yang hendak berjalan mencari Cathrine di ruangan itu pun tak sengaja mendengar perdebatan mereka.


"Foto, foto apa?!" tanya Devan mengernyit heran, yang kini dia sudah berdiri di belakangnya Cathrine.


Sontak Cathrine pun menoleh ke belakang. Wajahnya kembali memucat.


Bersambung....


...****...


Yuk, yang penasaran, mampir ke cerita temanku nih... Di jamin seru deh


__ADS_1


__ADS_2