Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Kepulangan Dini Dan Indra


__ADS_3

...BAB 59...


...Kepulangan Dini Dan Indra...


Devan sudah berada di ruangannya, dia buru-buru mencari berkas yang tadi sempat terlupakan. Tapi pikirannya kembali tak fokus karena terus mengingat mantan istrinya barusan.


Devan yang masih tak terima ada lelaki lain yang bersikap perhatian, bahkan menyentuh kulit Silvia sekalipun. Devan sangat marah, lantas mengacak berkas di meja kerjanya dengan kesal dan juga frustasi.


"Aaargh....Aaargh!! Kenapa? Kenapa kau memilih untuk berpisah dariku?!" teriaknya sembari mengebrak-ngebrak mejanya beberapa kali. Hingga benda-benda yang berada di atas meja pun terpental dan berjatuhan ke lantai.


Tubuh Devan pun kini melorot dan terduduk di lantai dengan satu kaki yang ia tekuk, sebagai penopang sikut tangannya menyenderkan belakang kepalanya di sisi meja. Matanya menerawang kosong ke arah jendela ruangan tersebut.


Walau kini raganya bersama Cathrine, namun hati dan pikirannya tak bisa terlepas dari sosok mantan istri pertamanya itu.


Sementara itu, Rafa tak mengajak Silvia kembali ke tokonya, namun malah berbelok membawanya pergi ke sebuah taman.


"Kenapa kamu tak mengatakan terus terang saja, Sil? Bahwa kamu sangat mengenal Cathrine? Apa kau bermaksud ingin melindungi kebusukannya dari mantan suamimu itu?" Rafa mendelik kesal pada sahabatnya yang telah duduk di kursi taman.


Silvia bergeming, tatapannya kosong pada danau buatan yang berada di depannya. Lalu menggeleng lemah, menanggapi setiap pertanyaan Rafa kepadanya.


"Aku tidak bisa Fa... Saat ini Cathrine sedang mengandung anaknya Mas Devan. Aku tidak mau jika nanti Mas Devan membenci Cathrine dan juga menceraikannya. Aku hanya kasihan dengan nasib anak mereka nantinya. Jadi, ku mohon sekali lagi padamu. Biarlah aku jalani keputusanku ini. Aku sudah ikhlas bila mereka hidup bersama. Ya biarlah begitu. Kita pura-pura saja tak tahu mengenai Cathrine..." terang Silvia, dengan hati yang yakin dan tegar.


Silvia sudah tak ingin mempermasalahkannya lagi. Silvia hanya ingin memilih kedamaian di hatinya.


Rafa membuang kasar nafasnya lantas ikut duduk di kursi taman samping sahabat baiknya itu. "Ya sudah, jika itu memang pilihanmu yang terbaik. Aku juga tak bisa memaksamu lagi..." ucapnya menyerah.


Silvia menoleh dan tersenyum manis pada Rafa. "Terimakasih ya Fa, sudah mengerti aku..."


Rafa membalas senyuman Silvia dengan terpaksa. "Ya, sama-sama..." jawabnya yang jujur, hati kecilnya masih sangat kesal dengan keputusan sahabatnya itu.


****


Waktu pun berlalu, hari minggu tepatnya. Hari dimana kepulangan Indra dan Dini di negeri Jiran. Setelah satu bulan lamanya menginap di rumah Isna adik kandungnya Indra, untuk menghadiri pesta pernikahan sang keponakan yang begitu mewah bak pernikahan Putri Raja.


Dini memang sengaja ingin berlama-lama di sana dahulu, untuk menghibur diri melupakan setiap masalah yang membebani hati dan juga pikirannya.


Namun Dini sebenarnya sangat merindukan suasana rumahnya di Jakarta termasuk merindukan menantu kesayangannya tersebut.


Mobil pribadi keluarga yang sudah menjemput kedua orangtua Devan di Bandara pun telah sampai. Setelah lumayan lama liburan di negara tetangga. Suasana hatinya berubah membaik. Dia akan mencoba melupakan dan memaafkan masalah tentang putranya yang menikah lagi.


Tapi ia berjanji, sebagai menggantikan kekecewaan di hatinya terhadap putra semata wayangnya itu. Dini akan membuat pesta resepsi pernikahan semeriah mungkin untuk Devan dan Silvia.


Dini dan Indra pun masuk ke rumah mereka setelah memberi salam lalu di sambut suka cita oleh semua para pelayan termasuk Bi Sari. Dini meminta Bi Sari dan pelayan untuk mengambil semua oleh-oleh yang ia beli di Malaysia di bagasi mobil, lalu menyuruh Bi Sari untuk membagi-bagikannya sama rata.


Bi Sari lantas melihat satu paper bag besar berwarna merah tua. "Lah, Nyonya kalau yang ini bingkisan apa ya?" tanyanya, Dini pun menoleh. Lantas baru teringat.


"Oh iya itu, sini sini kemarikan Bi... Itu khusus untuk menantuku Silvia dan Devan..." ungkap Dini tersenyum sumringah setelah paper bag itu di tangannya.


Bi Sari tercekat, begitu pun dengan kedua pelayan muda yang selalu membantu pekerjaannya itu. Mereka semua saling menatap dengan mimik wajah cemas.


"Mana Devan dan Silvia? Ini sudah pukul delapan, apakah mereka masih tidur di kamarnya?!" tanyanya terheran.


Padahal suara klakson sangat kencang, tapi masih tak terdengar oleh putra dan juga menantunya itu.


Dini yang tak tahu jika Cathrine sebenarnya tinggal disini. Masih mengira bahwa hanya ada Silvia saja yang tinggal di rumahnya itu.


"Ah Nyonya, anu-anu itu..." Bi Sari terbata-bata seraya melirik kedua pelayan yang lain dengan kode matanya. Meminta bantuan mereka untuk menjelaskan pada majikan mereka, yang sebenarnya Silvia sudah tidak ada lagi tinggal di rumah itu.

__ADS_1


"Ada apa dengan kalian? Cepat panggilkan mereka berdua untuk turun ke bawah." sela Dini.


"Ba-baik Nyonya..." angguk salah satu pelayan dan bergegas naik ke lantai atas. Memberitahukan putra majikannya tersebut bahwa orangtuanya telah pulang.


Indra pun berdiri lantas pamit pada istrinya masuk ke kamarnya. Untuk mandi dan mengganti pakaiannya dulu.


Tok


Tok


Tok


"Ya siapa...?" Cathrine menggeliatkan tubuhnya di atas kasur baru saja ia terbangun.


"Tuan, anu itu Nyonya Dini dan Tuan Indra sudah sampai rumah." sahut pelayan di balik pintu kamar.


Cathrine terperanjat kaget, jantungnya berdebar cepat. "Apa?!"


Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi pun bertanya. Melihat wajah tegang istrinya.


"Ada apa?"


"Mas orangtuamu sudah pulang..." gelagap Cathrine.


Devan melotot lantas menepuk jidatnya, lalu cepat-cepat memakai pakaiannya. "Ya Tuhan kenapa aku bisa lupa kalau hari ini Mama dan Papa pulang. Ayo cepat sayang bersiap-siaplah, kita turun ke bawah." titah Devan.


Cathrine pun mengangguk dan lekas mencuci mukanya karena tak keburu mandi, lalu memakai pakaian yang sopan.


Dini di bawah pun tak sabar menunggu, hingga beberapa menit kemudian Devan pun turun dari kamarnya. Dini yang melihatnya pun tersenyum lebar. Namun seketika senyumnya menghilang tatkala melihat wanita yang berada di belakang putranya.


Wajahnya berubah masam, karena yang ia lihat bukanlah menantu kesayangannya itu. Dini lantas berdiri dan mendekati Devan juga Cathrine.


"Dimana Silvia?" tanya Dini pada putranya. Lalu menatap sinis pada Cathrine. "Kenapa kamu bisa tinggal di rumah ini?"


"Mah, Cathrine sekarang juga istriku, menantu Mama... Jadi, dia juga berhak tinggal di sini..." jawab Devan menjelaskan.


"Lalu Silvia, kemana dia? Kenapa dia tak ikut turun bersamamu?" selidik Dini bertanya-tanya.


"Silviaa... Silvia?! Mama sudah pulang Nak..."


Dini pun berjalan melewati Devan dan Cathrine, hendak menaiki anak tangga sambil memanggil-manggil menantunya tersebut. Devan menelan kasar ludahnya, lalu ia lekas menyusul Mamanya.


"Ma, Mama..." panggilnya seraya memegang pelan lengan Mamanya.


"Lepas, Mama mau menemui menantu kesayangan Mama! Mama sudah kangen sama dia, Silviaaa!!" teriaknya lagi memanggil.


Cathrine mendengus kasar, wajahnya bertambah masam sesaat mendengar perkataan Dini yang lebih mengunggulkan Silvia di bandingkan dirinya, yang sama sekali tak pernah dianggapnya itu.


"Ma, ayo turun dulu. Devan ingin bicara sebentar dengan Mama..." ajak Devan, menarik pelan Mamanya untuk turun dan duduk dulu di sofa.


"Tapi Silvia mana Dev? Mama pengen cepat-cepat ketemu. Ayo panggilkan Silvia, Dev!" titah Dini dan lekas ia mengambil paper bag di atas meja tamu.


"Ada yang ingin Mama bicarakan sama kamu dan juga Silvia..." ujarnya senang.


"Ma... Maafin Devan Ma, Silvia sudah tak tinggal lagi di sini. Karena Devan dan Silvia sudah bercerai..." sela Devan, terpaksa mau tak mau Devan harus mengatakannya.


Bruaakk

__ADS_1


Dini terbelalak. Seketika paper bag merah di tangannya pun terjatuh ke lantai. Jantung Dini seakan berhenti berdetak.


Cathrine tersohok melihat gaun pengantin cantik dan jas tuxedo mewah itu menyembul keluar di kertas paper bag di dekat kaki mertuanya.


"Apa katamu? Coba katakan sekali lagi pada Mama?!" gelagapnya.


Devan tercekat, lidahnya tiba-tiba saja kelu sulit untuk berucap. Tak tega melihat Mamanya harus shock lagi, gara-gara kesalahannya.


"Ka-kami sudah bercerai Ma..." ucapnya lagi terbata.


Dini kembali tercengang. Tiba-tiba tubuhnya lemas hampir jatuh ke belakang namun secepat mungkin Devan segera menahan bobot tubuh Mamanya.


"Ma..."


"Sampai kapan kau akan nyakitin hati Mama Devvv?!" pekik Dini terisak, seraya menahan dadanya yang kini terasa sesak seolah di cengkram kuat-kuat.


"Maaf Ma, ini bukan keinginannya Devan. Tapi, tapi ini atas permintaan Silvia sendiri..."


"Bawa kembali Silvia, Mama tak mau tahu! Dia harus kembali lagi ke rumah ini!" teriaknya histeris. Begitu sayangnya Mama Dini pada Silvia, hingga ia pun jatuh pingsan tak sadarkan diri.


****


Cathrine sudah ada di kamarnya setelah melihat Mama mertuanya di baringkan ke kamarnya oleh Devan. Dia benar-benar kesal sekali, melihat keinginan mertuanya untuk membawa lagi Silvia ke rumah itu.


Lantas ia mengambil ponsel dan menghubungi Andy.


"Cepat lakukan sesuatu, aku tak mau tahu. Pokoknya kau harus segera singkirkan wanita itu dari hidupku! Untuk selama-lamanya..." perintahnya keras.


Cathrine mencengkram kuat ponsel di tangannya setelah selesai memerintah Andy.


"Aku tidak akan biarkan, Silvia kembali ke rumah ini dan menjadi istri suamiku lagi!" gumamnya dengan geram, bibir merahnya tersenyum, menyeringai licik.


****


Minggu sore itu Silvia dan Nana pergi hangout, dan makan di sebuah rumah makan tradisional. Khusus untuk hari minggu toko Silvia tutup dan ia gunakan sebagai hari untuk bersantai dan berlibur bersama Nana.


"Na, aku ke kamar kecil dulu ya. Ini bawa tasku ada kunci mobil di dalamnya. Kamu bisa tunggu di mobil dulu..," titah Silvia pada Nana, yang sudah tak tahan ingin membuang air kecil.


"Oke!" Nana pun pergi ke parkiran duluan dengan membawa tas cangklong milik Silvia.


Silvia bergegas masuk ke kamar kecil. Tak lama Silvia pun keluar setelah selesai menuntaskan hajatnya dan kembali menyusul Nana ke parkiran.


Suasana sore di taman hiburan itu tampak ramai sekali. Silvia pun kewalahan ingin masuk ke parkiran. Karena sangking banyaknya orang disana. Setelah sampai parkiran, Silvia tersenyum melihat Nana yang sudah menunggunya di dalam mobil sambil memoles lipstik pink nya.


"Sill... Ayuk, cepetan kita ke mall!" seru Nana sambil melambai tangannya.


Silvia tersenyum lagi, sambil mempercepat langkahnya. Namun tiba-tiba saja sebuah mobil menghalanginya jalan. Seseorang membuka pintu mobil itu dan dengan cepat ia menarik tangan Silvia untuk masuk ke dalam mobilnya.


Silvia ingin menjerit, tetapi tangan besar itu lebih dulu membekap mulutnya.


Mobil itu pun kembali melaju dan keluar dari parkiran. Melintasi jalan raya dengan kecepatan tinggi. Sontak Nana tercengang karena tak ia lihat lagi Silvia di sana.


"Sil... Silviaaa?!" teriaknya histeris


Bersambung ...


...****...

__ADS_1


Maaf ya readers bila ceritanya bertele-tele. Mungkin sebentar lagi, detik-detik kebusukan Cathrine dan Andy akan terungkap. Yuk pantengin terus bacanya dan beri dukungan yang banyak supaya othornya semangat lagi... 😘😘😘


__ADS_2