
...BAB 67...
...Cathrine Masuk Rumah Sakit...
"Heh, lelaki jangan karena kau ganteng terus gak mau tanggung jawab sama sekali! Habis manis sepah di buang. Kau nggak kasihan apa sama istrimu di kampung kami?! Dia sengsara nyari duit sendiri dalam keadaan hamil anakmu!" cecar salah satu ibu itu pada Devan.
"Iya tuh bener! Huuh rupa aja ganteng tapi tak punya akhlak sama sekali!" tambah ibu satunya lagi dengan bicara lantang, yang kini keduanya jadi memojokkan Devan yang sama sekali tak tahu apa-apa.
Devan yang masih berdiri terpaku pun hanya menatap mereka dengan raut yang bingung.
"Maaf bu, mungkin anda salah orang. Saya sama sekali tidak mengerti yang Ibu-ibu maksudkan kepada saya. Sekali lagi saya minta maaf dan permisi saya harus segera pergi..." ujar Devan yang bergegas membayar keripik tempenya pada pemilik toko tersebut, lalu pergi dari sana, mengacuhkan ucapan mereka padanya.
"Heh, kami tak salah orang. Jelas-jelas di foto itu adalah wajahmu!" teriak mereka lagi dari jauh, yang masih terdengar di telinganya Devan.
"Ayo jalan pak..." perintah Devan pada supirnya setelah masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan rapat.
"Baik Pak!" jawab supir.
"Ada apa Tuan?" tanya Nori, dahinya mengerut heran melihat anak atasannya tengah mencemaskan sesuatu.
"Tidak ada apa-apa Nori, hanya saja di toko tadi. Ada dua ibu-ibu yang seperti mengenaliku dan menuduhku telah menelantarkan seorang wanita hamil. Mungkinkah mereka hanya salah melihat orang..." jelas Devan seraya mengusap wajahnya.
Nori pun menoleh ke samping toko tadi melihat duo ibu itu masih terus saja menatap mobil yang mereka tumpangi. Nori menjadi sedikit penasaran dengan apa yang mereka maksudkan kepada putra atasannya itu.
Setelah mengawasi para pekerja di kantor cabang Papanya di kota itu. Malamnya Devan kembali ke hotel dan beristirahat setelah makan malam bersama Nori dan supirnya.
Sementara Nori pergi jalan-jalan, menghabiskan waktu malamnya di kota kembang itu di temani oleh sang supir.
Di balkon kamar hotelnya, Devan lekas mengambil ponsel dan ingin menghubungi istrinya lewat video call sebelum ia pergi tidur. Baru beberapa jam saja tak bertemu, perasaan rindunya mulai bertumbuh di hatinya. Ternyata disana pun sang istri belum juga tertidur.
"Kenapa belum tidur? Nunggu telepon dariku ya...?! Kamu kangen aku kan?!" sindir Devan menggoda Silvia dengan senyuman smirk di bibirnya.
Silvia yang sedang duduk di tempat tidur dengan baju tidur putih berendanya, sontak saja tersipu malu dengan kata-kata manis yang di lontarkan oleh suaminya. Jujur saja, Silvia sangat bahagia sekali dengan perubahan sikap Devan setelah mereka kembali rujuk dan setelah tahu kalau dirinya tengah hamil. Karna dulu Devan selalu saja bersikap cuek dan dingin padanya.
"Emm.. Menurutmu bagaimana?" Silvia balik bertanya dan menggodanya.
"Tuh kan, apa ku bilang. Seharusnya tadi kamu ikut saja denganku ke Bandung!" gerutu Devan yanh sekarang wajahnya berubah cemberut. Silvia pun jadi tertawa geli melihat perubahan wajah suaminya yang jadi kesal dan merajuk.
"Tetep nggak bisa ikut, kan Mama melarangku pergi jauh-jauh. Katanya kalau lagi hamil mending banyak diem aja di rumah! Lama-lama Mama jadi posesif juga ya..." celetuk Silvia yang lekas membekap mulutnya khawatir nanti terdengar oleh Mama mertuanya.
Devan tertawa mendengarnya, hatinya ikut bahagia dengan kedekatan di antara istri dan juga Mamanya. "Iya juga sih, mungkin maksud Mama ingin menjagamu dan cucunya. Ya mau bagaimana lagi, kita harus ikhlaskan saja hubungan LDR ini selama satu minggu ke depan..."
"Iya mas.. Kan cuma satu minggu aja.."
"Iya, tapi walau begitu kamu harus ingat dengan pesanku, jangan pergi ke toko dulu sebelum aku pulang ke Jakarta..." tegas Devan dengan menatap tajam sang istri.
"Kenapa sih pake larang aku segala, kan aku di toko juga sibuk bantuin Nana. Kasihan kan dia jadi kerja sendirian..." renggut Silvia tak suka sebenarnya dia harus menyerahkan semua pekerjaannya pada Nana.
"Aku nggak suka saja kalau lelaki itu sok perhatian sama kamu, deket-deketin kamu. Sudah tahu kalau kamu itu sudah menikah, harusnya dia bisa menjaga jarak denganmu?!" ketusnya.
"Rafa maksudmu?! Mas... Rafa emang dari dulu orangnya kayak gitu... Tapi Rafa sama aku memang tak ada perasaan apapun, kok! Kami hanya sahabat baik..." jelas Silvia
__ADS_1
"Dengar ya tak ada yang namanya sahabat baik antara Pria dan Wanita, pasti salah satu di antaranya ada yang memendam perasaan suka!" tegasnya lagi.
"Iya iya, aku tahu... Tapi kamu juga tak perlu berlebihan begitu kan menuduh Rafa dan aku yang bukan-bukan. Buktinya aku dan Rafa biasa aja, dia itu dulu malah paling ngebet pengen menyatukan hubungan kita berdua. Kamu ingat kan saat itu dia mengajakku ke kantormu hanya ingin menjelaskan tentang Cathrine..."
"Iya aku ingat, tapi tetap saja aku cemburu melihat kedekatanmu dengan dia..."
Silvia tersenyum lebar. "Sudah ah Mas, jangan berlebihan lagipula, Rafa sudah mau nikah. Masa mas masih cemburu aja ma dia..." ledeknya tersenyum geli.
"Ya sudah, Mas istirahat gih... Ini juga udah malem. Besok di sambung lagi. Kalau kamu udah nggak sibuk..." titah Silvia, Devan pun tersenyum sendu.
"Baiklah kamu juga istirahat ya, aku ingin kecup anak kita boleh!" pinta Devan. Silvia mengangguk lalu mendekatkan ponselnya pada perutnya dan Devan mengecup-ngecup perut Silvia di layar pipihnya.
"Muaach muaach muaach... Selamat tidur ya sayang anak Papa, cepet tumbuh besar dan lahir ke dunia ini... Papa dan Mama sudah tak sabar ingin sekali menggendongmu... " ucap Devan lembut.
Silvia tersenyum haru mendengarnya. Walau hanya kata-kata manis biasa, tapi maknanya mampu meresapi batinnya.
****
Sementara di kontrakan, Cathrine hendak pergi membeli makanan matang ke sebuah warung makan terdekat di kampung itu. Cathrine memang tak pernah memasak selama ini. Jika dia laper dan tak punya uang, Cathrine terpaksa mengutang mie instan dan telur ke warung untuk makan dirinya. Lagi pula hanya itu saja yang bisa Cathrine masak. Selama ini dia memang tak pernah bisa dan mau belajar memasak.
Setelah di warung makan sederhana dan membeli makanan yang ia mau, Cathrine tak sengaja bertemu dengan ibu-ibu tadi siang yang mengintrogasinya di kontrakannya, mereka yang juga baru pulang dari acara pengajian malam selasa.
"Eh Cathrine?!" panggil mereka.
Cathrine menoleh ke samping, menautkan alisnya menatap ibu-ibu yang baru saja keluar pagar serambi mesjid.
"Ya ada apa ya Bu?!" tanyanya sembari merapatkan lagi jaket yang selalu menutupinya.
Mau tak mau Cathrine pun mendekati mereka semua dengan rasa penasarannya, dan dia juga mencoba untuk mengakrabkan dirinya pada tetangganya itu. Karena pada siapa lagi nanti yang akan pertama kali menolong kita di saat kesusahan tak lain tetanggalah lebih dulu yang akan menolong, sebelum saudara jauh.
Lagipula Cathrine pun sudah tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Hubungannya dengan Papanya sudah putus semenjak Papanya menikah lagi.
"Oh ya, tadi siang di pasar. Kami tak sengaja bertemu dengan mantan suamimu!" ucap antusias salah satu ibu.
"Maksud Ibu mantan suamiku?!" Cathrine menganga tak percaya. "Dimana Ibu melihatnya, apa ibu tidak salah lihat kan?!"
Mereka menggeleng cepat. "Tidak, kami tidak salah lihat. Persis sekali lelaki itu dengan mantan suamimu. Kalau tak percaya kamu bisa melihatnya di hotel dekat pasar. Karena kami lihat mobilnya belok ke hotel itu!" terangnya lagi.
Mata Catherine berkaca-kaca. Dev, apa benar kau ada di kota ini juga? Aku rindu sekali padamu... lirihnya dalam hati. Hm
Setelah di ceritakan oleh ibu tadi, Cathrine pun kembali melangkahkan kakinya pulang ke kontrakannya dan ingin cepat-cepat makan malam. Karna perutnya sudah tak kuat untuk menahan lapar lagi.
Namun saat ingin membuka pintu rumah seorang di belakang membekap mulutnya, dan Catherine pun terkejut hingga menjatuhkan nasi bungkusnya dan berceceran di lantai.
Seorang lelaki hendak menyeret tubuh Cathrine masuk ke dalam mobilnya. Cathrine berusaha melepaskan diri, dan menggigit tangan si lelaki itu dengan kencang. Lelaki itu pun berteriak kesakitan.
"Sia*lan kuat juga gigitanmu!" bentaknya kesal.
Catherine melotot. "Kau kan? Kenapa kau tahu aku ada disini?!" pekiknya
Cathrine teringat pada wajah lelaki yang dulu pernah ia tolak karena memaksanya ingin menyewa tubuhnya.
__ADS_1
"Selama ini aku mencari-carimu karena kamu tak pernah kulihat menyanyi lagi di Bar. Akhirnya aku tahu juga tempat tinggalmu dimana sayang..." ujarnya senang, dengan bibir miring ke atas, dia pun berjalan mendekat. Cathrine cepat-cepat melangkahkan kakinya mundur.
"Mau apa kau mencari aku hah?! Apa kau ingin memaksaku lagi?! Sudah ku katakan padamu, aku tidak menjual tubuhku!" bentak Cathrine dengan kilatan marah di matanya, lekas dia ingin menampar lelaki itu.
Namun tangan Cathrine segera lelaki itu tangkap dan bibirnya kembali tersenyum menyeringai.
"Ayolah cantik, apa kau betah hidup melarat seperti ini terus? Lihat saja kau hanya tinggal di kontrakan yang kumuh. Jelas sekali tidak seimbang dengan wajahmu yang sangat cantik itu... Yakin, kau sama sekali tak butuh uang sepeserpun dariku?!" ledeknya dengan tertawa nyaring.
Lelaki itu terus bersikeras mendesak Cathrine untuk menjajakan tubuhnya padanya, dan dia berjanji akan menggantinya dengan harga yang Catherine mau, asalkan keinginannya di layani oleh wanita cantik seperti Cathrine.
"Ayo ikut denganku!" lagi dia memaksa Cathrine dan menarik tubuhnya untuk masuk ke dalam mobil.
Cathrine pun berteriak kencang meminta tolong dan ingin melarikan diri, tetapi lelaki itu semakin bringas lalu menarik jaket Catherine hingga tak sengaja terlepas, sontak tubuh Catherine pun jatuh tersungkur ke tanah.
Bruukk
Lelaki itu terperangah melihat Cathrine dengan perutnya yang besar. "Kau-kau sedang hamil?!"
Cathrine merintih tiba-tiba saja perutnya merasakan sakit yang luar biasa.
"Toloooonggg .. Toloonggg aku!!!" teriaknya mengerang kesakitan.
Lelaki bejat itu pun semakin tercengang, wajahnya berubah pucat ketika darah segar mengalir dari bawah rok daster yang Cathrine kenakan.
"Ada apa ini? Ada apa?!" tiba-tiba terdengar suara warga yang berlarian ke arah sana. Si lelaki tadi ikut panik dia pun lekas menaiki mobilnya lagi dan pergi dari sana. Meninggalkankan Cathrine yang tergeletak di jalanan depan rumah kontrakannya.
"Ya Tuhan, Non Cathrine!!" teriak si ibu tetangganya yang tadi, terkejut dan panik melihat Cathrine dengan darah yang sudah mengalir di jalan lahirnya. Lekas mereka semuanya menghampiri Cathrine.
"Tolong a-aku..." lirihnya.
"Iya Cathrine iya... cepat cari mobil kita bawa ke Rumah Sakit!" perintah Ibu itu.
Catherine pun lekas di larikan ke Rumah Sakit, dengan menggunakan mobil milik Pak RT. Cathrine menggenggam tangan si ibu yang sudah membantunya. Di atas brangkar.
"Bantu aku Bu, Ibu tolong hubungi nomer mantan suami saya... Saya mohon...." Cathrine lekas memberikan ponselnya di saku dasternya, dan membuka kontak nomer Devan.
"Em baiklah Cathrine!" angguknya.
"Ta-tapi nomer saya di blokir oleh dia. Saya mohon telepon dia dengan nomer anda Bu..." pintanya lagi lirih dan terbata-bata, wajahnya semakin pucat dan Cathrine pun jatuh pingsan. Melihat itu, perawat pun buru-buru membawa Cathrine ke ruang UGD. Si Ibu tadi dengan panik dia lekas menghubungi Devan sesuai perintah Cathrine.
Devan yang sudah terlelap sontak saja terbangun dengan suara deringan kencang di ponselnya. Lalu matanya menyipit melihat nomer yang tak ia kenali, Devan pun mengangkatnya ragu.
"Halloo..." jawabnya dengan suara serak, Devan mengusap wajahnya. "Dengan siapa ini?"
["Maaf bisa bicara dengan suaminya Cathrine?!"]
"Catherine?!" Devan membulatkan matanya terkejut.
["Iya Pak, saat ini dia di Rumah Sakit, tolong secepatnya anda kemari Pak...!!"]
Bersambung....
__ADS_1
...****...