Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Bahagianya Menjadi Orangtua


__ADS_3

...BAB 69...


...Bahagianya Menjadi Orangtua...


Sebelum kembali pulang ke Jakarta, Silvia meminta Devan untuk mengantarkannya ke sebuah pemakaman umum dahulu, sudah lama sekali Silvia juga tak berziarah ke makam kedua orangtuanya.


Sedang Cathrine di makamkan di dekat makam mendiang Mamanya yang ada di desa jauh dari perkotaan. Bi Tuti segera mencari Papanya Cathrine, yaitu Rustandi yang sekarang tinggal jauh di pelosok desa untuk mengabari bahwa putrinya Cathrine telah meninggal dunia.


Rustandi bekerja sebagai seorang buruh kerja di perkebunan kelapa sawit. Rustandi memang masih keturunan Indonesia. Sedangkan Mamanya Cathrine yaitu Clara yang memang asli dari keturunan Jerman. Maka itu wajah cantik dan bule Cathrine menurun dari Mamanya.


Dulu kedua orangtua Cathrine menikah karna sebuah keterpaksaan sebab Orangtua Clara atau mendiang Kakek dan Nenek Cathrine mempercayakan dan menginginkan Rustandi untuk menjadi suaminya Clara dan membantu untuk mengembangkan bisnis mereka. Namun Rustandi yang tak amanah sehingga perusahaan keluarga Clara seketika bangkrut setelah Rustandi menikah lagi dengan wanita janda yang haus dengan harta kekayaan. Mempengaruhi Rustandi sehingga dia dengan teganya menelantarkan sang putri semata wayangnya.


Rustandi terkejut mendapat kabar berita duka dari mantan pembantunya, ia nyaris saja pingsan setelah mendengarnya. Rasa kehilangan dan penyesalan itu pasti ada, namun menyesal pun semua sudah percuma karena sang putri telah tiada. Rustandi pun bergegas pergi ke pemakaman bersama Bi Tuti siang itu, dan hanya bisa meratapi kepergian sang putri di bawah gundukan tanah yang masih basah itu.


"Putriku... Maafkan Papa Nak, Papa memang telah jahat padamu... Papa menyesal karna sudah mengabaikanmu selama ini... Papa menyesal Naaak!!" isak kencang mengiringi tangisnya. Rustandi menangis histeris seraya memeluk erat papan nisan putrinya.


*****


Silvia memandang kuburan kedua orangtuanya dengan tatapan yang sendu. Setelah ia membuang daun-daun kering yang menutupi dua kuburan itu lalu menaburinya dengan bunga yang baru dan segar.


"Ayah Ibu... Maaf, Silvia baru datang kemari menengok kalian lagi. Sekarang Silvia datang bersama suami Silvia..." ujarnya tersenyum lirih.


"Assalamualaikum, Ayah Ibu... Restuilah selalu hidup kami. Ayah dan Ibu tak perlu khawatir lagi karena sekarang sayalah yang akan selalu menjaga dan mencintai putri kalian berdua..." ucap Devan pada makam mendiang kedua orangtua istrinya. "Dan saya berjanji tak akan meninggalkannya..." lanjutnya lagi. Silvia yang mendengar pun sontak tersenyum penuh haru.


Walau pun mereka tak mendengar perkataan Devan dan tak bisa melihatnya, namun Devan hanya ingin menyampaikan keseriusannya untuk bertanggung jawab dalam memperistri Silvia. Menyenangkan hati sang istri agar dirinya akan selalu tetap nyaman dan bahagia hidup bersamanya.


Setelah cukup lama mereka menghabiskan waktu di kota Bogor, mereka pun kembali pulang ke Jakarta.


Di rumah kediaman Alvandra, mereka di sambut baik oleh Mama Dini dan juga Papa Indra, kedua orangtua itu pun sudah tahu tentang Cathrine. Dan dengan besar hati mereka berdua menerima kehadiran bayi Putri Angela, putri yang di tinggalkan oleh Cathrine.


Dini pun lekas memangku Putri Angela yang sudah tertidur pulas dari pangkuan seorang pengasuh lalu membawanya masuk ke dalam kamar untuk di baringkan. Saat berada di gendongan Dini, Putri sedikit terusik dan menggeliat.


"Uh sayang cup cup cup... MasyaAllah cantiknya kamu kayak boneka hidup... Bobo di kamar Nenek yuk..." lirih Dini dari jauh walau samar tapi masih terdengar.


Silvia yang mendengar celoteh mertuanya hanya bisa menangis terharu. Silvia pikir Dini akan menolak kehadiran Putri. Namun justru, tak ia bayangkan sama sekali akan semudah itu Putri di terima oleh kedua mertuanya.


"Apa kau tidak ingin mengabari soal Putri pada lelaki itu?" tanya Devan setelah mereka duduk di tepi kasur berdua.


Silvia yang masih betah memandangi foto tujuh tahun lalu di galerinya. Foto kenangannya selama bersama Cathrine dan Ayahnya

__ADS_1


"Iya, nanti aku akan kirimkan surat dan juga foto Putri padanya, walau begitu dia harus tahu keberadaan putrinya sendiri. Karena dia adalah tetap Ayah biologisnya Putri, Mas..." ucap Silvia yang kini menoleh dan menatap lekat pada suaminya sambil tersenyum.


Devan mengangguk, membalas senyuman manis istrinya. Lalu merangkul dan mengusap bahu sang istri. "Kamu adalah seorang istri dan sahabat yang begitu baik sayang... Aku beruntung sekali memilikimu..." puji Devan terkagum. Lalu mengecup sisi kening Silvia dengan lembut.


"Terimakasih banyak Mas... Atas kebaikan hati Mas juga yang mau menerima Putri di keluarga ini..." ucap Silvia dengan mimik harunya.


"Iya sayang, jika kau sayang Putri. Maka Mas juga pasti akan sayang Putri. Mas janji tak akan membeda-bedakan Putri dan juga anak kita kelak..." tuturnya yang membuat Silvia semakin cinta pada suaminya itu. Lantas Silvia memeluk pinggang Devan dengan erat.


Rasanya cukup sudah kebahagiaan yang ia dapati. Silvia sangat bersyukur sekali, memiliki suami dan juga mertua yang baik rasa orangtua kandung sendiri. Bahkan Tuhan pun telah memberikan dia bonus seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan sehat.


Terimakasih banyak Ya Allah... Telah memberikan kepercayaan pada hamba untuk mengasuh dan merawat Putri Angela, serta janin yang Engkau titipkan di dalam kandungan hamba. Betapa besar anugerah yang Engkau berikan pada hamba dan suami hamba selama ini... Semoga kami selalu dilimpahkan kebahagiaan yang tak pernah terputus. Di dunia juga di akherat kelak... Aamiin Allahumma Aamiin...


*****


Empat tahun kemudian. Putri Angela telah tumbuh menjadi seorang putri kecil yang sangat cantik jelita dan menggemaskan. Begitupun juga dengan Daffa Alvandra, putra pertama dari Devan dan Silvia tampan seperti Papanya dan super aktif seperti Silvia. Usia mereka hanya terpaut selisih 8 bulan saja jadi mereka terlihat seperti anak sebaya pada umumnya.


Setiap tahun tiga kali Silvia pun tak pernah lupa selalu mengabari kepada Andy di dalam penjara dan memberikan foto-foto terbaru putrinya. Memperlihatkan tumbuh kembangnya. Di dalam penjara Andy tersedu dengan tangisan yang menyayat hati, betapa dia sangat merindukan buah hatinya.


"Mamaaa Papaaa... Mau es krimm..." teriak Daffa seraya meloncat-loncat kegirangan di atas perosotan, di sebuah taman bermain.


"Dafaaa....!! Ya Allah Nak jangan loncat-loncat disitu!" teriak Silvia panik lalu berlari menghampiri Daffa putranya.


"Kamu ini jangan bikin Mama jantungan dong. Masa loncat-loncat di atas perosotan. Nanti kalau jatuh gimana hemm?!" gerutu Silvia setelah mengambil putranya dan walau sangat marah namun Silvia tetap menciumi pipi Daffa dengan sayang dan gemas.


"Muach muaach awas ya Mama ciumin kamu terus kalau nakal!" ancamnya.


"Hahahhaa, ampun Ma.. ampuun..." Daffa tertawa geli lalu cepat-cepat turun dari gendongan sang Mama dan berlari cepat sambil memutari Devan dan Putri di dekat ayunan. Silvia menggeleng kepalanya lagi sambil tersenyum.


"Daffaa..." keluhnya lagi.


Devan pun lekas menghampiri istrinya sambil tertawa ringan. "Ayo kita cari makan siang dulu! Biar tenagamu tak terkuras habis oleh si jagoan kecil kita..." rayunya dengan senyuman manis di bibir.


Silvia menghela nafas lelah seraya menyedekapkan kedua tangannya. Lalu mengangguk setuju dengan usul suaminya tersebut.


Di Restoran, Silvia pun dengan telaten menyuapi Daffa dan Putri satu-persatu.


"Aaaamm... Enak?!" tanya Silvia pada dua anaknya. Menatap lembut kedua putra putri itu.


"Enak Mamaa...!" jawab mereka serempak.

__ADS_1


"Ma... Kapan makan es krimnya?" rengek Daffa yang sudah tak sabar ingin sekali makan es krim.


"Kalau makan siang Daffa udah abis, tapi kalau nggak abis ya.. Mama nggak jadi beliin kamu es krim dong!" ancam Silvia.


"Yaaah Mama..." Daffa merajuk dengan mengerucutkan bibir mungilnya.


"Iya makanya itu kalau pengen makan es krim, abisin dulu makanannya, oke!"


"Okee Mah..." jawab mereka.


"Putri juga, nanti kalau makannya abis, mau pesan es krim rasa apa sayang?" tanya Silvia pada Putri.


"Putri, strawberry aja Ma..." jawab Putri tersenyum lebar.


"Daffa coklaaat!!" sambung Daffa semangat.


"Kalau Papa pengennya rasa Vanilla aja..." celetuk Devan yang ikut-ikutan sambil mengunyah penuh nasi di mulutnya.


"Yeeeyy... Siapa juga yang nawarin Papa ya!" ledek Silvia pada Devan ke kedua anaknya. Bercanda. Kedua anak itu pun tertawa kencang, ikut-ikutan meledek Devan.


"Uuh... Papa kan uda gede masa makan es krim?!" cibir Daffa.


"Iya... Papa kan biasanya minum kopi pait sama kakek!" sambung Putri tertawa geli.


"Ehh eh, enak aja, Papa juga kan suka makan es krim! Emang kalian aja yang boleh makan?! Pokoknya Papa mau es krim rasa semuanya... Hahahaha... Biar nanti kalian nggak kebagian makan es krim jadi semuanya untuk Papa!" sahut Devan menanggapi candaan mereka dengan candaan lagi.


"Iiiih Papa selakahh!! Nanti gendut looh kayak badut! Hahahha!!" Daffa dan Putri pun berdiri lalu memeluk erat leher Devan di sisi kanan kirinya dan menarik-nariknya. Hingga Devan kewalahan dengan tingkah kedua bocah itu.


Silvia terkekeh geli mendengar celotehan dan juga tingkah lucu dari kedua anaknya beserta suaminya. Sungguh hatinya bahagia sekali hanya karna melihat keluarga kecilnya bisa tertawa riang seperti itu.


Lihatlah Cath.. Putrimu sangat bahagia bersama kami.. Aku janji padamu akan selalu menyayangi Putri untuk selamanya. Untukmu sahabat baikku... lirih Silvia dalam hatinya.


Kalian semua adalah lentera di hidupku ... Dan selamanya akan selalu menjadi penyemangat dan kebahagiaanku... Tetaplah kita selalu bersama seperti ini hingga akhir hayat memisahkan kita... (Silvia Lestari)


...~TAMAT~...


Bonus Visual Putri Angela dan Daffa Alvandra yaa... 😘😘😘😘😘 Terimakasih banyak sudah baca hingga Akhir Cerita ini.... I Love You All... Semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan dan kesejahteraan di hidup kita. Aamiin Allahumma Aamiin....


__ADS_1



__ADS_2