Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Kebaikan Dan Ketulusan Sang Istri


__ADS_3

...BAB 68...


...Kebaikan Dan Ketulusan Sang Istri...


Beberapa jam sebelumnya, Nori yang baru saja keluar dari tempat wisata kawah gunung tangkuban perahu bersama supirnya. Dia bermaksud ingin kembali ke hotel. Namun sebuah mobil melaju sangat cepat dan tak sengaja menyerempet mobil mereka. Nori kesal dan meminta supir untuk mengikutinya, namun ternyata mobil yang menyerempet mobil perusahaan tersebut menuju ke Rumah Sakit.


Nori terkejut saat seorang Bapak paruh baya dan Ibu-ibu dengan panik membopong seorang wanita hamil di dalamnya dan Nori sangat mengenali siapa wanita itu, tak lain adalah mantan istri siri dari anak atasannya sendiri.


"Bukankah dia, Nona Cathrine?!" gumamnya.


****


"Apa, Cathrine masuk Rumah Sakit, di kota ini?" gelagapnya. Devan sedikit tercengang setelah mendapat kabar tentang Cathrine.


Dia lantas menutup cepat ponselnya lagi. Tak ingin mendengarnya. Percaya atau tidak, Devan sebenarnya tak ingin peduli. Karena dirinya sudah tak ada lagi hubungan dengan mantan istrinya tersebut. Devan pun kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Namun ternyata matanya tidak bisa lagi terpejam. Devan bolak balik memiringkan tubuhnya, tengkurap, telentang tapi tetap saja tidak bisa tidur. Tiba-tiba ia merasakan hati dan pikirannya tak tenang sebab dulu, Cathrine pernah ada mengisi hidupnya.


"Aaakh!! Si-alan! Kenapa kau harus kembali ada dalam pikiranku?!" Devan lantas ingin beranjak dari tempat tidur dengan wajah memerah kesal. Namun bersamaan itu, suara ketukan terdengar keras di pintu kamar hotelnya.


"Tuan... Tuaan..." Nori bergegas ke hotel dan berniat untuk memberitahukannya pada Devan.


"Nori!" Devan pun meraih jaketnya di sofa dan berjalan cepat membuka pintu kamarnya. "Ada apa Nori?" tanyanya yang terlihat sedikit gelisah.


"Em, Tuan Devan maaf mengganggu, saya ingin mengabarkan sesuatu pada anda... Ini mengenai mantan istrinya Tuan, tadi di depan Rumah Sakit saya tak sengaja berpas-pasan melihat Nona Cathrine di bopong dan di bawa masuk ke dalam Rumah Sakit. Sepertinya dia mengalami pendarahan yang sangat serius Tuan..." terangnya.


Devan kembali tertegun, menelan ludahnya dengan cepat. Mengingat telepon barusan dan juga ibu-ibu tadi siang yang memakinya di toko oleh-oleh. "Berarti telepon tadi dan ibu tadi yang menuduhku karna menelantarkannya adalah benar. Huh Cathrine, kau memang wanita licik, apa maksudmu menyebarkan fitnah pada mereka kalau akulah yang sudah menghamilimu?" geramnya, tangannya terkepal kuat.


"Maaf Tuan, sebenarnya sih saya tidak bermaksud ingin mengingatkan anda pada mantan istri anda lagi. Tapi saya sendiri tak tega melihat kondisinya yang sangat memprihatinkan sekali..." ujar Nori yang memang selalu tak tega bila melihat ada wanita hamil yang mengalami pendarahan.


Seketika ia jadi teringat dengan mendiang istrinya sendiri, beberapa tahun lalu meninggal karena hal yang sama. Kehilangan istri sekaligus anaknya sendiri. Karena rasa kehilangan itu membuat Nori jadi trauma untuk menikah lagi.


"Ayo temani aku kesana..." perintah Devan tergesa-gesa. Nori pun mengangguk cepat.


"Baik Tuan..."


Mau tak mau Devan pun pergi ke Rumah Sakit untuk melihat kondisi Cathrine. Ya, hanya sebagai rasa kemanusiaan saja bukan lagi sebagai rasa cinta dan sayang kepadanya. Karena rasa itu telah terkikis habis dengan penghianatan dan kebohongan yang Cathrine ciptakan padanya. Devan pun hilang respek. Hanya sedikit iba saja, mengingat apa yang pernah Silvia ceritakan padanya, bahwa Cathrine sudah tak punya lagi keluarga semenjak Ayahnya pergi menikah lagi.


Selang beberapa menit kemudian. Tibalah mereka di Rumah Sakit dan Devan lekas bertanya pada recepsionis namun bersamaan seorang Dokter tergesa menghampiri Devan.


"Apakah anda adalah suami dari Nyonya Cathrine?!" tanyanya.


Devan pun mengusap wajahnya kasar. Dia bingung harus menjawab apa pada Dokter itu. Cathrine ternyata masih menganggapnya sebagai suaminya. "Em, sebenarnya kami dulu pernah menikah Dok..." dengan berat hati Devan sampaikan kebenarannya.


"Maaf Pak, kondisi Nyonya Cathrine saat ini kritis sekali. Dia mengalami pendarahan hebat dan membutuhkan banyak darah. Dan bayinya sudah kami keluarkan. Walau keadaannya prematur namun bayi anda baik-baik saja. Tolong bapak bisa mencarikan donor darah yang sama untuk Nyonya Cathrine. Jika tidak, pasien akan kehilangan nyawanya." terang Dokter bedah tersebut.


Jantung Devan sontak berdebar kencang. Kenapa perasaannya tiba-tiba jadi tak tenang.


"Bolehkah saya melihatnya Dok?!"


"Silakan Pak..."

__ADS_1


Devan bergegas masuk ke ruang rawat Cathrine. Ternyata benar, Cathrine disana sudah terbaring lemah di atas ranjang pasien dengan bantuan infus dan juga oksigen di hidungnya. Wajahnya sangat pucat sekali bagaikan mayat hidup.


"Cathrine, ada apa denganmu? Kenapa kamu bisa seperti ini?" gumam Devan mengerutkan keningnya bertambah prihatin.


Devan perlahan duduk di sampingnya mengusap wajahnya beberapa kali. "Seandainya saja kau tidak pernah mengkhianatiku dan membohongiku dulu, mungkin sekarang ini kita pasti akan hidup bahagia..." lirihnya bergetar.


"Kenapa kau lakukan ini padaku?! Ayo sadarlah Cath! Bangunlah karna anakmu membutuhkanmu sekarang. Cathrine!" sentak Devan.


Suara nyaring Devan berhasil membangunkan Cathrine. Bulu mata lentiknya bergetar, lalu melihat Devan di sampingnya. "Dev... Be-benar-kah i-tu ka-u Dev?" ucapnya terbata-bata.


"Syukurlah kau sudah bangun, sekarang berjuanglah untuk kembali sembuh. Anakmu menangis dan butuh dirimu... Aku akan menemui Dokter dan mengatakan kalau kau sudah sadar kembali." Devan hendak beranjak pergi namun segera di larang oleh Cathrine.


"Dev..." Cathrine meraih tangan Devan pelan, dengan suara lirih dan wajahnya yang sayu. "Bi-sa-kah kita_ bi-cara se-be-lum a-ku ti-dak la-gi hi-dup di du-nia i-ni..." pintanya memohon, dengan nafas yang tersengal berat Cathrine pun mengeluarkan air matanya yang sempat ia tahan sejak tadi.


Devan tersentak, sontak matanya memerah berkaca-kaca.


"A-ku ingin minta ma-af pada-mu dan ju-ga Sil-viaa..." ucapnya lagi tersendat-sendat walau pelan, suara Cathrine masih terdengar oleh Devan.


"Apa kau, ingin bicara dengan Silvia?!" tawar Devan. "Silvia tidak ada disini. Aku bisa hubungi dia sekarang kalau kau mau..."


Cathrine terenyuh lantas menggeleng kepalanya pelan. "A-ku malu pada-nya..."


"Kenapa harus malu? Bukankah dulu kalian berteman?! Sampaikan jika kau memang menyesal dan ingin meminta maaf padanya, Cath! Aku mendukungmu..." ujar Devan tersenyum tulus.


Devan merogoh ponselnya dan cepat-cepat menghubungi istrinya. Dua kali panggilan, akhirnya teleponnya tersambung.


Devan lantas menatap sendu pada wajah istrinya yang terganggu tidurnya karna panggilannya, karena hari masih larut malam. Devan sengaja menelepon dengan video call agar dua wanita itu bisa saling melihat walau dari kejauhan.


"Maaf aku ganggu kamu tidur sayang... Ada seseorang yang ingin berbicara padamu, ini sangat penting..." ujar Devan dengan mimik seriusnya.


Silvia yang belum siap membalas ucapan Devan, lantas terkejut tatkala Devan mengalihkan layar pipihnya ke arah seorang wanita yang kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


"Cath... Catherine?!" pekiknya pelan. Sontak Silvia terbelalak dan membekap mulutnya sendiri. "Ada apa denganmu?!" tanyanya.


Cathrine tersenyum samar. Menatap sendu pada wajah Silvia yang terkejut dengan melihat keadaannya. "Hai Sil-via... Bagai-mana ka-barmu...?" tanyanya.


"Aku, aku baik-baik saja. Kamu kenapa Cath?!" tanyanya lirih.


"A-ku, aku i-ngin minta ma-af pada-mu Sil-via... Maaf karena dulu... su-dah pernah merebut A-ndy dari-mu, dan maaf telah membuat Ayah-mu mening-gal du-nia. Se-belum aku pergi menyusul Mamaku dan juga mendiang Ayahmu... A-ku i-ngin me-minta se-suatu pada-mu, bolehkah sa-habatku...?!" lirihnya lagi memohon.


Silvia mengangguk dengan tatapan yang getir. "Kenapa kamu bicara begitu? Kamu pasti akan sembuh Cath, bangkitlah...!"


Cathrine menggeleng dengan senyuman tulus di bibirnya. Kali ini dia benar-benar menyesali akan perbuatannya, bahwa perbuatan buruknya telah membuat hubungan baik mereka menjadi pecah dan tercerai-berai.


"Kamu mau minta apa Cath? Katakan saja padaku..." tanya Silvia lagi membuyarkan lamunan Cathrine yang terus mengeluarkan air matanya.


"Sil-via... Aku i-ingin titip put-riku padamu..."


Silvia dan Devan tersentak bersamaan. "A-ku su-dah tidak punya siapa-siapa lagi, dan hidup-ku takkan lama lagi... Aku mohon pada kalian berdua untuk menjaga putriku dengan baik, dia adalah satu-satunya har-ta peninggalan-ku nanti. A-ku i-ngin dia memiliki ibu sam-bung se-baik diri-mu Sil-via... Dan... ju-ga Ayah sambung seperti-mu Dev..."


Silvia menggeleng pelan, dengan isakan tangis di bibirnya. Air matanya menganak sungai, rasa perih dan sakit hati pada Cathrine memang masih ada, tetapi kehilangan sahabat yang dulu pernah mengisi hari-harinya lebih sakit lagi. Sebab rasa sayang itu masih ada di hatinya untuk Cathrine.

__ADS_1


"Cath...."


"A-ku benar-benar min-ta ma-af pada-mu Sil-via, aku minta ma-af..." ucap Cathrine berkali-kali.


"Iya aku sudah maafkan kamu, aku sudah lupakan kesalahanmu padaku..." angguk Silvia dengan cepat, air matanya akhirnya luruh tak tertahankan.


Silvia menangis sesenggukan ingin sekali dia memeluk sahabatnya itu. Devan yang mendengar dan melihatnya ikut berkaca-kaca. Bila saja mereka dekat, mungkin saat ini mereka sudah saling berpelukan.


"Teri-ma ka-sih ba-nyak Sil-via dan ju-ga ka-mu Dev... Maaf-kan a-ku kar-na te-lah menge-cewakan-mu..." lirihnya lagi yang kini menatap nanar pada Devan.


"Iya Cath, aku sudah memaafkanmu..." balas Devan menganggukkan kepalanya.


Cathrine pun tersenyum lega setelah menyampaikan itu. Akhirnya dia dapat sampaikan permintaan maafnya pada dua orang yang sudah pernah ia sakiti. Perlahan ia pun menutup matanya lagi dan sunyi tak ada lagi kata yang ingin di sampaikannya pada Silvia dan Devan.


Hingga beberapa menit lamanya. Cathrine sama sekali tak kembali membuka matanya, bahkan anggota tubuhnya tak terlihat ada pergerakan lagu.


Devan dan Silvia yang masih setia menatap Cathrine di layar ponselnya. Ikut membeku.


"Mas... Mas..." Silvia memanggil pelan suaminya yang lekas Devan mengalihkan ponselnya ke arah dirinya.


"Cathrine kenapa Mas?!" tanya Silvia, kini wajahnya berubah sangat cemas. Jantungnya seakan ikut tak berdetak.


Devan pun menggeleng pelan, tak kalah cemasnya. Lantas mendekatkan sisi telunjuknya di hidung Cathrine. Devan melotot lantas meraba detak nadi di lehernya.


"Ya Allah... Innalillahi wa'innailahi rojiun..." lirih Devan, sontak Silvia yang mendengarnya pun membekap mulutnya tak percaya. Kepalanya menggeleng dengan cepat.


"Tidak Cath.. Cathrineee!!" isaknya semakin kencang. Tangisnya semakin pecah. "Kenapa kau meninggalkan aku saat hubungan kita mulai membaik. Cathrine... Sejak dulu aku selalu menyayangimu... Kau tidak tahu saja.. Aku ini selalu peduli padamu..." Tubuhnya berguncang, rasa sesak di hati kehilangan sahabat yang sudah di anggap saudaranya dulu.


*****


Pagi pun menyambut. Subuh sekali jasad Cathrine telah di bawa ke bogor dan di kebumikan di tempat kelahirannya.


Silvia menyusul Devan ke sana bersama Rafa. Ikut mengebumikan Cathrine. Bahkan Bi Tuti mantan pembantu Cathrine pun ikut hadir dan menangisi kepergian anak majikannya dulu yang sudah ia sayangi seperti putrinya sendiri.


"Semoga kamu hidup tenang di sana Cath, InshaAllah, Allah sudah mengampuni dosa-dosamu..." ucap lirih Silvia seraya menaburkan bunga di atas gundukan tanah yang belum kering itu.


Devan merangkul pundak Silvia dan mengajaknya untuk pulang. Lalu Rafa pun ikut menyusul pulang kembali ke Jakarta.


Sebelum masuk mobil suaminya, Silvia mendekati seorang ibu yang Devan sewa untuk mengasuh bayi Cathrine di samping mobil.


Lalu memangku bayi mungil dan cantik itu. Air matanya kembali luruh. Lantas Silvia mendekap dan mengecup pelan kening dan pipi bayi yang mirip sekali dengan wajah Cathrine dan Andy.


"Kamu jangan khawatir sayang... Mama Silvia berjanji, akan selalu merawatmu hingga kamu besar nanti.." ucapnya tersenyum lirih dan sendu.


Di sampingnya berdiri, Devan mengecup kening istrinya sayang dan cinta. Dia begitu bangga dengan ketulusan dan kebaikan hati istrinya. Sama sekali tak ada dendam di hatinya untuk Cathrine. Bahkan Silvia dengan tulus ingin merawat putri mereka seperti putrinya sendiri.


Bersambung....


...****...


Mungkin beberapa bab lagi ceritanya akan tamat ya readers... Tetap lanjut atau nggak nih bacanya?? Sedih ya tambah hari tambah sedikit aja yang like+koment pun nggak ada ... πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί oke tak apa... 😍😍😍 tapi author tetap berterimakasih pada kalian yang masih terus setia mengikuti kisah mereka.

__ADS_1


Bye bye.... πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


__ADS_2