
...BAB 6...
...Kesempatan Emas...
"Ini Non, sayuran dan daging yang Non Silvia pesan tadi..." Bibi Sari berjalan menghampiri Silvia yang tengah asyik mengupas bawang merah dan putih di dapur, dengan keranjang belanjaannya di tangan. Beliau baru saja pulang berbelanja dari toko swalayan siang itu.
"Oh makasih ya Bi, simpan saja di meja. Tolong Bibi siapkan wadahnya saja untuk aku potong-potong sayurannya nanti ya..." titah Silvia dengan lembut seraya mengulas senyumnya. Mungkin itulah bentuk rasa hormat Silvia kepada orang yang lebih tua darinya. Sebenarnya jujur dalam hati, Silvia tak tega melihat Bibi Sari melakukan pekerjaannya sendirian jika saja raga Silvia sehat, biar dia saja yang akan melakukan itu semuanya.
"Siap Non..." angguk Bibi Sari tampak sangat senang memiliki majikan yang ramah juga ringan tangan seperti Silvia. Walau kakinya masih belum sembuh total, tapi Silvia masih mau melakukan pekerjaan rumah yang baginya masih mampu di lakukan. Seharusnya pekerjaan memasak adalah tugasnya Bibi Sari. Tapi Silvia malah meminta wanita paruh baya itu tak perlu lagi melakukannya. Selain karna Silvia sudah menjadi istri sahnya Devan. Silvia juga tampak gigih dengan misinya untuk merebut hati Devan dari mantan sahabatnya, Cathrine Angela.
Ya, satu-satunya cara untuk bisa menaklukkan hati seorang suami adalah memberinya pelayanan terbaik, salah satunya seperti menyuguhkan makanan-makanan lezat untuk di nikmati oleh suami apalagi menghidangkan makanan favoritnya. Selain itu seorang istri juga harus pandai bersolek diri di depan suami setidaknya jangan sampai menampakkan wajah cemberut yang tak di sukainya. Silvia sangat yakin sekali, lambat laun Devan akan berpaling padanya dan mencampakkan Cathrine dari hidupnya.
Apalagi setelah Silvia di ceritakan oleh Bibi Sari, jika sebenarnya orangtua Devan belum sepenuhnya menyetujui hubungan Devan dengan Cathrine, dan berita itu adalah kesempatan emas bagi Silvia untuk melancarkan misinya, hingga saatnya manta sahabatnya itu jera dan menyesali akan perbuatannya pada Silvia dulu.
Ya, semoga saja wanita itu mau berubah dan mengakui kesalahannya di depan makam Ayahku... gumamnya dalam bathin.
****
Cahaya matahari perlahan mulai tenggelam, menyisakan sedikit warna orange di atas langit yang nyaris saja tertutupi selimut hitam dengan sempurna.
Devan baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Sebenarnya dia ingin sekali cepat pulang dan istirahat di Villa tempat tinggalnya, tetapi tadi pagi Cathrine memaksanya untuk menemui wanita yang sudah di nikahi Devan. Awalnya Devan sempat melarangnya karna tak mau jika Cathrine di landa cemburu atau malah jadi memarahi Silvia. Devan tahu watak Cathrine yang pecemburu. Apalagi kalau sampai tahu jika Silvia tinggal di Villa yang sebenarnya adalah hadiah pernikahan yang sudah di persiapkan oleh Devan untuk Cathrine. Devan tak sanggup memikirkannya lagi. Haruskah ia berkata jujur saja?
Namun pada akhirnya Devan selalu kalah debat, ia terpaksa harus menuruti kemauan Cathrine.
Satu jam kemudian mereka telah sampai tempat yang di tuju. Sontak mulut Cathrine menganga lebar sesaat memandangi bangunan rumah mewah dan juga kokoh di depan matanya. Halamannya yang tampak asri, dipenuhi oleh tanaman hijau dan bunga hias outdoor yang mengelilingi bangunan tersebut. Terlihat sangat fantastis bak istana megah yang ada di dalam negeri dongeng.
"Ini Villa mu, beb?" tanyanya sangat takjub, menutup mulutnya dengan satu tangan. Devan mengangguk ragu.
"Iya sayang .."
"Besar sekali! Sejak kapan kau memiliki Villa mewah ini, Beb?! Bahkan kau tak pernah memberitahukan soal ini padaku!" sungutnya sangat kesal karna Devan tak pernah menceritakan punya Villa semewah itu, seraya berjalan-jalan mengitari halaman luas itu sebelum memasuki Villanya.
__ADS_1
Devan gelagapan, sangat bingung. Entah apa yang harus ia jelaskan pada calon istrinya tersebut. Tadinya Villa itu memang hadiah kejutan untuk Cathrine. Tapi sekarang ceritanya jadi lain, jika Silvia sudah menempatinya lebih dulu.
"Iya sayang... Maafkan aku. Sebenarnya, a-aku berniat ingin memberikan Villa ini untukmu sebagai hadiah pernikahan kita nantinya, tap_"
Cathrine menoleh cepat ke arah Devan dan mengernyitkan dahinya. "Hadiah pernikahanku?!" selanya memotong perkataan Devan yang belum selesai. Devan mengangguk lagi dengan kikuk, dia sudah bisa menebaknya Cathrine pasti akan marah dan tak terima mendengar semuanya.
"I-Iya Cath, tapi karna aku ingin menyembunyikan pernikahanku dengannya darimu dan juga orangtuaku. Maka terpaksa aku membawanya untuk tinggal di sini sementara waktu. Tetapi tak sangka begitu cepat kamu mengetahui pernikahanku, maaf hadiah kejutan ini jadi tak lagi spesial untukmu..." sesalnya menatal sendu kekasihnya.
Ya, Devan sangat menyesal sekali tak seharusnya Silvia tinggal di sini dulu. Harusnya dia membawa Silvia tinggal di apartemen saja langsung. Tapi karna dulu belum ada persiapan apapun, jadi terpaksa mengajak Silvia untuk tinggal di Villanya.
Cathrine mendengus kasar nafasnya, kedua tangannya melipat ke dada. Lalu memalingkan wajahnya yang sudah memerah padam, menahan amarah yang sudah naik ke ubun-ubun
Huh sialan, beruntung sekali wanita itu! Sudah merebut calon suamiku lalu perlahan ingin menguasai hartanya yang seharusnya semua menjadi milikku. Kalau begini dia akan semakin terus mempertahankan Devan. Tidak! Ini tidak boleh terjadi, secepatnya aku harus membuat Devan menceraikannya! geramnya dalam hati sambil menggigiti kuku jarinya.
Devan melirik Cathrine yang masih bergeming, raut wajahnya memancarkan rasa kesal juga kecewa jadi satu. "Kamu tidak apa-apa 'kan sayang? Kalau belum siap untuk bertemu dengan Silvia, sebaiknya jangan dulu. Aku ingin kamu menenangkan hatimu dulu. Aku tahu kamu masih sakit hati karna keputusan sepihakku ini..." saran Devan lembut.
Cathrine terkejut sepintas mendengar nama yang tak asing di sebut Devan barusan. "Apa? siapa barusan namanya?" tanyanya sedikit gugup.
Deg
Jantung Cathrine seakan berhenti berdenyut. Sontak wajahnya berubah pucat pasi. "Sil, Silvia..." sahutnya terbata.
"Apa kamu mengenal nama itu, Cath?" tanya Devan lagi, semakin membuat Cathrine tergugup panik. Lantas Cathrine menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ah, ti-tidak aku tidak mengenalnya. Namanya hanya mirip saja dengan temanku yang sudah meninggal..." sangkalnya tertawa hambar sambil menggaruk pelipisnya dengan gelisah.
"Ooh..." Devan mengangguk-angguk. "Kalau begitu, sekarang kamu mau memutuskan untuk tetap menemui Silvia, atau pulang saja?" tanyanya lagi.
Cathrine menatap ragu pada pintu Villa, yang tiba-tiba saja pintu itu terbuka lebar, di sana tampak seorang wanita paruh baya berjalan tertatih-tatih menghampiri majikannya.
"Sore Tuan Devan. Anda sudah pulang?" sapa Bibi Sari sambil meraih tas kerja Devan yang di sodorkannya. Devan mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Em Silvia kemana Bi?" tanyanya.
"Eh. Non Silvia ada di ruang makan Tuan," ujarnya tergugup dengan kepala menunduk. Dia cukup terkejut melihat kedatangan Cathrine.
"Oke, tolong Bibi sampaikan padanya kalau ada seseorang yang ingin bertemu dengannya..." ucap Devan pada Artnya.
"Baik Tuan Devan..." angguk Bibi Sari lalu ia berjalan melenggang masuk duluan ke dalam Villa.
"Ayo kita juga masuk ke dalam, Cath .." ajak Devan seraya menarik tangan Cathrine yang di rasa agak dingin. Sekilas Devan pun merasakan ada kegugupan pada diri Cathrine. Entah kenapa calon istrinya tersebut cepat berubah. Bukankah tadi ia sempat marah, tapi sekarang ia terlihat sedang mencemaskan sesuatu.
Setelah Bibi Sari menyimpan tas kerja milik Devan di kamarnya, Bibi Sari lekas berlari kecil ke ruang makan. Menghampiri lagi Silvia yang baru saja selesai menghidangkan santapan untuk makan malamnya bersama Devan, di atas meja makan.
"Ada apa?" tanya Silvia mengerutkan dahinya terheran melihat wanita berumur itu tergopoh-gopoh seraya memanggilnya.
"Non, gawat Non. Tuan Devan mengajak Nona Cathrine kemari!" bisiknya dengan nada ketakutan.
Khawatir jika Cathrine akan mengapa-ngapain Silvia, sebab Bibi Sari cukup mengenal sosok kekasih majikannya tersebut. Selain sombong, Cathrine juga sedikit penindas. Dulu sewaktu di rumah kedua orangtuanya Devan. Bibi Sari pernah di caci maki karna salah memberinya minuman, atau membuatnya sakit perut karna katanya makanan yang Bibi Sari masak tidak bersih. Ada saja hal untuk di cari-cari kesalahannya.
"Oh ya?" Silvia sedikit tercengang, tak sangka begitu cepat sekali dia akan menemui mantan sahabatnya tersebut. Ternyata foto-foto yang di kirimkannya kepada Cathrine semalam tadi telah berhasil memancingnya untuk keluar dan datang menemuinya. Tak susah payah Silvia pun mendatanginya. Sebab si penghianat itu pasti akan datang dan berniat ingin melabraknya.
Silvia tersenyum menyungging, tak ada sama sekali rasa kekhawatiran di hatinya. Jika memang nantinya Cathrine akan marah besar kepadanya. Maka Silvia akan menguak kejahatan Cathrine lebih dulu selama ini pada Devan.
"Ekhm-ekhm..." Devan berdeham pelan.
Silvia pun perlahan mendongakkan kepalanya menatap dua orang yang kini sudah berdiri di depan meja makan. Sekilas matanya menyorot tajam ke arah Cathrine yang juga sudah menatapnya dengan gelisah. Lalu Silvia beralih menatap suaminya dengan senyuman termanisnya.
"Hallo suamiku... Maaf aku tidak menyambut kepulanganmu. Barusan aku sudah selesai menata makan malam kita..." ucapnya lembut. Lantas Silvia pun berdiri dan berjalan pincang dengan memakai kruk, menghampiri Devan lalu meraih tangan suaminya itu dan menciumnya dengan takzim.
Silvia menatap lekat wajah suaminya dengan seksama. "Apa kamu lapar? Kebetulan aku sudah siapkan makanan kesukaanmu..." ucap Silvia yang berhasil membuat hati dan pikiran wanita di samping Devan, bergejolak panas.
Bersambung...
__ADS_1
...****...