
...BAB 21...
...Menginap Di Apartemen Kekasih...
Malam kemarin sepulang bekerja, seperti biasanya Nana selalu mampir dulu ke warung makan langganannya untuk membeli ketoprak. Kebetulan warung ketoprak itu dekat dengan penjual sate madura, dan tak sengaja Nana melihat Cathrine tengah berbicara dengan seorang Pria. Nana pun jadi teringat jika Pria itu adalah orang yang pernah menguntit Cathrine diam-diam di Mall tempat ia bekerja dua bulan lalu. Saat itu Catherine memang tengah shoping di mall.
"Apakah kedua orang itu masih berhubungan?" tanya Silvia sendiri. Mengerutkan keningnya, berpikir.
Silvia tak bisa tidur malam itu, sungguh foto-foto yang di kirimkan Nana siang tadi membuatnya penasaran.
Tiba-tiba saja tenggorokan Silvia merasa kering, botol minuman mineral persediaan di kamarnya telah habis. Terpaksa Silvia pergi ke dapur untuk mengisi lagi botol kosongnya dengan air di dispenser.
Silvia melangkah pelan-pelan menuju dapur dengan kruk di tangan. Saat ingin menuangkan air dispenser ke dalam botol. Terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga.
"Beneran tidak apa-apa? Apa mau aku antarkan ke Rumah Sakit?"
Silvia membalikkan badan setelah mendengar suara panik Devan. Lalu menengok ke ruangan depan tampak laki-laki itu sedang terburu-buru ingin pergi, mengambil kunci mobilnya dan juga sepatu coklatnya di rak sepatu. Lantas Silvia menghampiri Devan yang sedang duduk memakai sepatu sambil menelepon, ponselnya yang ia himpit dengan bahu dan telinga kirinya sambil berbicara.
"Sebentar lagi aku kesana, sabar ya..." ucapnya lagi dengan nada cemas.
Devan pun menutup sambungan teleponnya, lantas buru-buru memakai sepatunya lagi. Sontak Devan terkejut ketika ia hendak berdiri, ternyata Silvia sudah berdiri di depannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Silvia menatap wajah Devan yang sempat tergugup.
Devan menarik nafasnya dalam dan menghembusnya panjang. "Aku mau ke apartemen Cathrine." ucapnya jujur, lalu berjalan melewati Silvia ke arah pintu.
"Kau benar-benar ingin menemui wanita itu lagi?" Silvia lekas menahan tangan Devan yang ingin membuka pintu Villa mencegahnya pergi. Devan pun berbalik lagi ke arah Silvia lalu melepas kasar tangannya.
"Itu bukan urusanmu, walaupun Cathrine tak jadi aku nikahi namun dia tetap kekasihku!"
"Tapi Mama dan Papamu 'kan sudah melarangmu untuk ketemu dia. Mereka pasti akan marah kalau tahu kamu masih berhubungan dengannya!" Silvia mengingatkan Devan lagi.
"Mereka tidak akan marah kalau tidak ada yang memberitahunya. Tapi jika mereka sampai tahu, berarti itu semua darimu. Dan aku tak akan segan-segan untuk menghukummu lagi, Silvia!" ancamnya sembari menunjuk muka Silvia. Terkadang Devan sangat jengkel dengan sikap Silvia yang mulai sok mengatur hidupnya, hanya karena orangtuanya lebih membela dia di bandingkan dirinya.
"Dengar Silvia, aku sudah membebaskanmu untuk mengatur Villa ini seperti milikmu sendiri. Tetapi, jangan pernah sekalipun kau mengatur-ngatur hidupku! Pernikahanku dan Cathrine hanya ku tunda saja sampai kita benar-benar resmi bercerai, dan setelah perpisahan kita aku akan segera menikahinya." terang Devan seraya menyunggingkan senyum sinisnya, yang lalu Devan melanjutkan membuka pintunya dan pergi tanpa pamit atau mengucapkan salam pada Silvia.
Silvia bergeming, menatap nanar pada punggung Devan yang sudah pergi di balik pintu. Memandanginya lewat jendela.
__ADS_1
"Dia sepertinya serius sekali ingin menceraikanku..." gumamnya. "Cathrine ternyata tak menyerah untuk mendapatkan lagi Devan, apa aku harus bocorkan saja hubungan Cathrine dan Andy padanya?" Silvia menghembus nafasnya dengan kencang, lalu menggeleng cepat. "Tidak! Biarlah, biar dia tahu sendiri siapa Cathrine sebenarnya. Aku hanya tak ingin nantinya aku di sebut tukang fitnah olehnya..." cebik Silvia, lalu ia pun kembali ke kamarnya.
*****
Selang beberapa jam kemudian, Devan telah sampai apartemen. Lekas ia menghampiri Cathrine yang terbaring lemah di tempat tidurnya. Duduk di tepi ranjang dan menyentuh pelan kening Cathrine dengan punggung tangannya, Devan mengerutkan keningnya sesaat ia merasakan panas di sana.
"Kamu demam sayang, apa tidak kita periksa saja ke dokter?" sahut Devan.
Cathrine menggeleng tersenyum. "Tidak Beb cukup melihatmu saja, aku sudah agak baikan..." ucap Cathrine seraya menggenggam tangan satunya Devan dengan lembut.
"Tapi badanmu panas sekali, sayang!"
"Iya, makanya itu dari kemarin aku sudah suruh periksa ke dokter. Tapi dianya ngeyel nggak mau di periksain!" sahut Reni, yang sedari tadi teman sekaligus asisten Cathrine menemaninya di sana.
"Oh ya Ren, sejak kapan Cathrine sakit begini?" tanya Devan.
"Sejak kau pergi ke Paris Dev, Catherine sering ngeluh sakit kepalanya, mungkin efek kalian berdua yang nggak jadi nikah. Cathrine jadi kepikiran." jawab Reni sambil menyedekapkan kedua tangannya, berdiri di dekat meja rias milih Cathrine.
Devan menatap prihatin wajah pucat Cathrine. Seraya mengusap pipi hangatnya. "Maafkan aku sayang... Gara-gara aku, kamu jadi sakit begini..." sesal Devan, pelan ia mencium lembut kening Cathrine dan berlanjut pada punggung tangan Cathrine dengan mesra. Lalu menempelkan tangan lentik kekasihnya ke pipinya.
"Ini bukan gara-gara kamu, tapi karena wanita itu. Dia sudah merebutmu dariku. Hatiku kesal sekali Dev... Semua orang kini memojokkan ku, karna batal menikah denganmu. Semuanya jadi menganggap akulah yang ingin merusak hubungan rumah tanggamu. Padahal kita lebih dulu menjalin hubungan sebelum kamu menikahinya." sungut Cathrine seraya me-remas kencang tangan kekar Devan yang ada di genggaman tangan satunya. Devan berdecak ikut marah.
"Benarkah Beb?" sontak kedua mata Cathrine berbinar.
Devan mengangguk tersenyum. "Iya sayang, makanya itu kamu harus cepat sembuh..."
"Ekhm-ekhm!" Reni berdeham kencang menyadarkan keduanya. "Kalau gitu. Gue tinggal dulu ya Cath, sekarang kan udah ada cowok loe yang nemenin. Tapi kalau ada apa-apa nanti loe tinggal hubungi gue aja..." Reni yang tadi diam saja mendengar mereka mengobrol, seolah hanya obat nyamuk yang tak terlihat keberadaannya. Lebih baik dia memutuskan untuk pulang.
"Ok, thanks ya Ren. udah nemenin gue..." ucap Cathrine.
"Sama-sama. Ya udah gue balik dulu. Dev, tolong jagain dia ya!" pesannya lagi pada Devan.
Devan mengangguk tersenyum. "Iya, makasih banyak Ren..."
Reni pun keluar dari kamar Cathrine dan mengambil kunci mobilnya di meja tamu lalu pulang setelah pamit pada Devan di depan pintu.
Devan menutup rapat pintunya. Lalu kembali menghampiri Cathrine sambil bertanya. "Apa kamu sudah makan?"
__ADS_1
"Gak nafsu makan..." Cathrine menggeleng pelan, rasanya kepalanya sangat berat sekali. Tidak biasanya dia merasakan sakit yang luar biasa seperti itu. Apa benar yang di katakan Reni barusan, kalau sakitnya efek dari banyak pikiran. Jadwal manggung dan rekaman yang padat, juga soal tak jadi menikah dengan Devan. Membuatnya stress berat.
"Kenapa? Makanlah walaupun sedikit, lalu minum obatnya dan cepat istirahat..." titah Devan sambil mengambil semangkuk bubur di atas nakas yang sudah di belikan Reni tadi.
"Aku lagi males makan Beb, percuma aku makan nanti aku muntah dan malah kebuang lagi..." keluhnya seraya membuang muka, mengibasi sendok bubur yang ingin Devan suapi.
"Cath, jika begini terus kamu malah bertambah sakit. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa sayang... Lihatlah pukul sebelas malam aku jauh-jauh datang kemari demi ingin menjengukmu. Kamu harusnya menghargai kedatanganku. Ayo sekarang kamu harus semangat melawan sakitmu ini..." perintah Devan dengan lembut dan perhatian. Devan menyuapi lagi kekasihnya. Dia tak ingin jika wanitanya itu sakit-sakitan dan terbaring lemah.
Cathrine menghela nafasnya panjang, lantas ia mendudukkan tubuhnya dan menerima satu suapan dari Devan. Devan tersenyum mengusap lagi pipi putih dan mulusnya Cathrine. "Nah gitu dong..." sahutnya.
Cathrine tersenyum lebar lalu memeluk erat pinggang Devan seraya menyenderkan kepalanya di dada bidang Devan "Mungkin apa yang di katakan Reni tadi benar. Aku ini terlalu banyak pikiran. Selama tiga minggu ini kau tidak menghubungiku, aku jadi takut kalau kau pergi dan akan melupakanku." ujarnya.
"Maaf ya sudah membuatmu khawatir. Aku ada pekerjaan yang mengharuskanku pergi ke Paris. Dan aku memang sibuk sekali, jadi tak ada waktu untuk menghubungimu... Maaf karena keputusan Mamaku juga, hingga membuatmu jadi sakit begini..." Devan membalas pelukan Cathrine dan mengusap punggung wanitanya dengan lembut.
"Dev, malam ini kamu bermalam di sini saja yaa... Temani aku hingga aku tertidur pulas..." pintanya dengan memasang wajah melasnya.
"Akh, t-tapi..." Devan tergugup terkejut, pasalnya ia tak pernah sekalipun menginap di rumah Cathrine.
"Please Dev, aku mohon sekali ini saja. Aku ingin di temani olehmu..." rengek Cathrine seraya menggenggam tangan Devan dengan erat. Memohon agar Devan menurutinya kali ini.
"Baiklah, aku akan temani kamu malam ini saja... Tapi janji padaku, kamu juga harus paksakan makan agar cepat sembuh ya!" Devan menarik bibirnya tersenyum Catherine terlihat senang.
Catherine mengangguk cepat, lantas ia melingkarkan tangannya di leher Devan. Memeluknya dengan erat. "Aah, aku senang sekali Dev, kita masih tetap berhubungan seperti ini..." riangnya sumringah. Cathrine menyeringai puas di dalam hatinya. Ini adalah kesempatan untuknya berlama-lama dengan Devan, agar Silvia tahu jika Catherine lebih berarti bagi Devan dari pada dirinya.
Malam semakin pekat gulita, dan waktu bergulir dengan cepat. Silvia lagi-lagi tak bisa memenjamkan matanya. Walau dia memang tak pernah satu ranjang dengan Devan, tapi hatinya gelisah semenjak tahu Devan pergi menemui Cathrine malam itu.
Silvia melirik jam di ponselnya, waktu menunjukkan jam dua malam. "Kenapa dia masih saja betah di sana? Ini sudah keterlaluan, dia bahkan tak mengindahkan peringatan orangtuanya. Sebegitu besarkah cintanya pada Cathrine?" Silvia mencebik kesal.
Terkadang dia sedikit iri karena Catherine di kelilingi oleh pria yang tulus mencintainya. Ah, seandainya saja dulu Andy tak menghianatinya dan mencintai Silvia dengan tulus. Mungkin saat ini Silvia sudah merasakan hidup bahagia, dan Ayahnya masih hidup bersamanya.
Tak terasa air bening menetes di pipinya. Rasanya ingin sekali dia merasakan di cintai dengan tulus oleh seorang pria. Tapi itu hanya dalam mimpinya saja. Buktinya sudah dua kali ia jatuh cinta, dan dua kali juga ia di balas penolakan oleh pria. Bahkan di campakkan dengan cara menyakitkan. Apakah seburuk itukah wajah Silvia, hingga pria enggan menerimanya.
Bersambung....
...****...
Mari mampir ke novel ini ya
__ADS_1