Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Mencari Dukungan Calon Mertua


__ADS_3

...BAB 10...


...Mencari Dukungan Calon Mertua...


Devan dengan cepat memundurkan wajah dan tubuhnya dari Silvia. "A-apa yang kau lakukan?!" tanyanya tergugup, seketika pipi-pipinya menjadi merah.


"Ya, mencium suamiku lah. Memangnya melakukan apa lagi?!" tanya Silvia balik, pura-pura bodoh.


"Kau, berani sekali menciumku!" tunjuknya, dengan mata membulat protes, lekas Devan beranjak dari tempat tidur Silvia.


"Kenapa kau begitu ketakutan seperti itu, sih? Bukankah kita sudah halal menjadi suami istri, ya kan?! Toh, sepantasnya juga kita melakukannya, bahkan suami istri bisa melakukan lebih dari itu?!" timpal Silvia, dengan memamerkan giginya yang putih dan rapi sehingga terlihat jelas gigi gingsulnya membuatnya tampak cantik dan lucu.


"Iya, tapi kau itu wanita Silvia, jadi bersikaplah malu-malu padaku!" decak Devan geleng-geleng kepala seraya memijit pelipisnya dengan pelan. Tak sangka jika wanita di depannya itu sedikit agresif.


"Memangnya kenapa kalau wanita duluan? Yang penting kan aku ini istrimu. Berarti aku bukan oranglain lagi bagimu! Dari pada terus-terusan bermesraan dengan kekasih yang belum tentu jelas akan dinikahi, yang hanya akan menambah dosa. Mendingan bermesraan dengan istri sendiri, yang pastinya kita akan mendapatkan banyak pahala..." celetuk Silvia seraya menyedekapkan dua tangannya lalu mengedip-ngedipkan matanya dengan genit pada Devan. "Aku betul, kan?!" sambungnya, sontak mata Devan membulat lebar.


"Kau, dasar sok tahu! Cathrine pasti akan aku nikahi!" ketusnya. "Sudah jangan banyak bicara lagi! Lebih baik kau segera tidur, biar kakimu itu cepat sembuh kembali!" perintahnya geregetan.


Sebenarnya Devan cukup tersindir dengan celetukan Silvia barusan dan perkataannya memang benar adanya, yang lalu ia berpura-pura membenarkan lagi selimut Silvia menutupi tubuh Silvia hingga sebatas dada, tetapi ketika matanya sekilas melirik Silvia yang kembali memasang senyum manisnya sambil memperhatikan intens wajahnya. Devan hanya bisa menahan nafasnya agak salah tingkah, lantas ia pun sengaja menutupi seluruh kepala Silvia dengan selimut itu.


"Heh, jangan melihatku seperti itu lagi!" sahutnya kesal, dan dengan gemas Devan pun menggoyang-goyang kepala Silvia ke kanan-ke kiri.


"E, e ehh, apa yang kamu lakukan sih?! Kepalaku jadi pusing, hentikaaan!" teriak Silvia memberontak di dalam selimutnya. Tetapi Devan hanya tertawa puas melakukannya.


"Makanya jadi cewe tuh harusnya bersikap natural saja, jangan kecentilan seperti kamu!" Devan pun bergegas keluar dari kamar Silvia dengan sisa tawanya yang masih menggema di seluruh ruangan.


"Ahh!! Apa yang dia lakukan sih, dia pikir itu lucu?!" Silvia membuka selimut yang menutupi kepalanya lalu merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakkan karna ulah Devan. Lantas Silvia tersenyum sendiri melihat ke arah pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat.


"Ya Tuhan, aku harus benar-benar tebal muka agar dia bisa menyukaiku." gumamnya sendiri, seraya menepuk-nepuk pipinya yang sudah memerah seperti buah tomat.


****


Keesokan paginya


"Apa, Devan sudah menikah?" Dini dan Indra terbelalak terkejut setelah mendengarkan berita yang Cathrine sampaikan barusan. Mereka saling menatap dengan kerutan di dahinya masing-masing.


"Ta-tapi dengan siapa Nak Cathrine? Dan kenapa Devan juga tidak pernah cerita pada Om dan juga Tante soal ini?" tanya Indra masih tak percaya. Cathrine mengangguk dengan cepat.


"Cathrine juga tidak tahu pastinya, Om Tante. Tetapi Cathrine yakin sekali jika wanita itu sudah mengancam Devan untuk di nikahi. Karena saat itu posisi Devan yang tak sengaja menabraknya dan mau tak mau Devan juga harus menikahinya karna rasa bersalah juga ingin bertanggung jawab pada wanita itu." jelas Cathrine dengan tatapan sedih dan kecewanya, ia menceritakan semua perihal pernikahan Devan yang diselenggarakan secara diam-diam tanpa sepengetahuan mereka tiga hari lalu.

__ADS_1


Pagi itu Cathrine sengaja mengunjungi rumah kediaman keluarga besarnya Devan. Dia ingin memberitahukan tentang pernikahan Devan kepada calon mertuanya itu dan bertujuan memang ingin memanfaatkan mereka untuk mendukung keinginannya agar Devan segera mengusir dan menceraikan Silvia.


Indra mengangguk-angguk lagi tanda mengerti, sambil memainkan janggut lebatnya sendiri. "Iya, tapi Devan disini juga salah. Seharusnya dia menceritakannya pada kami selaku orangtuanya dan tak memutuskannya sendiri untuk menikah dengan sembarang wanita. Om jadi khawatir wanita itu hanya ingin menipu Devan saja." cemasnya. Mata Cathrine berbinar.


"Iya Om, Cathrine juga sempat berpikiran begitu sama dengan Om Indra. Devan harusnya berdiskusi dulu dengan kita semua." tambah Cathrine, hatinya senang sekali mendengar tanggapan Indra yang perlahan-lahan mulai mendukungnya.


"Dimana mereka tinggal Cathrine? Apa kau tahu tempatnya? Tante ingin sekali menemui wanita itu..." tanya Dini, ada rasa penasaran di hati Mama Devan ingin segera menemui wanita itu.


"Mereka tinggal di sebuah Villa, Tante. Jika Tante mau, Cathrine akan mengantarkan Tante Dini kesana." tawarnya dengan hati girang.


"Ya sudah sekarang saja kita pergi, biar Tante bersiap-siap dahulu." ucap wanita yang memakai jilbab dan gamis biru itu. Lantas beliau berdiri dan bergegas mengambil tasnya di dalam kamar.


Tak lama satu jam kemudian, Cathrine telah sampai di depan halaman Villa milik calon suaminya itu, yang sebentar lagi juga akan menjadi miliknya. Dini mengedari pandangannya ke seluruh halaman Villa tersebut.


"Anak itu, pantas saja dia jarang sekali pulang dan tidur di rumah. Ternyata diam-diam dia punya kandangnya sendiri." decak Dini pelan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya Tante, Cathrine juga baru tahu kalau Devan membangun Villa seindah dan semewah ini. Rencananya sih Villa ini akan di berikan untukku nanti setelah pernikahan kami. Tapi sayangnya, wanita itu malah lebih dulu menempatinya. Aku benar-benar kesal sekali Tante!" rajuk Cathrine dengan gemas dia adukan perbuatan Devan yang tak adil memperlakukannya.


Dini hanya menghembus nafasnya panjang, tak terlalu menanggapi ocehan Cathrine. Lantas Dini melangkah menaiki anak tangga dan menapakkan kakinya di atas teras Villa. Ketika wanita paruh baya itu hendak mengetuk pintu, Bibi Sari membuka pintu dari dalam dan terkejut melihat kedatangan Dini dan juga Cathrine sudah ada di depan pintu Villa.


"Ah Nyo-Nyonya..." serunya gelagapan. Wajahnya sontak menunduk takut.


"Ah anu Nyonya, sa-saya. Saya di suruh Den Devan katanya harus tinggal di sini untuk tem-tem_"


"Bilang saja kalau Bibi itu di suruh menemani wanita pelakor itu ya kan!" potong Cathrine dengan gemas pada ART itu, yang tak mau berkata jujur saja pada Dini. "Mau aja jadi babunya pelakor!" cebiknya pelan.


Dini mengernyitkan dahinya. "Jadi ini semua adalah perintahnya Devan?" kini Dini yang bertanya lagi.


Bibi Sari menundukkan kepala lalu mengangguk dengan pasrah. "Iya Nyonya..."


"Dimana perempuan itu? Katakan padanya jika aku ingin bertemu dengannya." perintah Dini.


"Am, eh anu Non Silvia ada di halaman belakang, Nyonya. Sedang menyiram tanaman. Silakan anda masuk dulu ke dalam. Saya akan panggilkan sekarang." gegas Bibi Sari berjalan masuk ke arah pintu belakang, setelah Dini dan Cathrine masuk ke ruang utama.


Sebelum duduk di sofa, Dini lagi-lagi berjalan mengitari ruangan ke ruangan lainnya. Menelisiki setiap penjuru isi Villa milik putra semata wayangnya tersebut.


"Bagus dan nyaman juga desain Villanya. Pantas saja Devan sangat betah tinggal di sini..." gumam Dini mengangguk lagi terpesona dengan melihat macam hiasan di setiap dinding ruangan.


"Betah sih betah Tante, tapi harusnya Cathrine lah yang tinggal di sini dengan Devan, bukan pelakor itu!" sungutnya yang lagi-lagi Cathrine mengompori Dini agar calon mertuanya juga ikut marah seperti dirinya. Dini hanya menggeleng-geleng pelan. Tak terlalu menanggapi kekesalan Cathrine pada putranya tersebut.

__ADS_1


Bibi Sari tergopoh-gopoh menghampiri Silvia yang baru saja selesai menyiram bunga-bunga di halaman belakang. "Non, Non Silvia!!" panggilnya setengah berteriak, Silvia pun menoleh ke belakang.


"Ada apa Bi?" tanyanya terkejut.


"Gawat Non, gawatt... Di ruang utama sudah ada Cathrine dan, dan_" ucapnya terbata-bata.


"Dan siapa Bi?" Dahi Silvia berkerut tanya.


"Dan Nyonya besar, Non. Itu anu Mamanya Den Devan." sahutnya yang sontak membuat Silvia menohok.


"Mamanya Devan?"


Bibi Sari mengangguk lagi dengan cepat. "Sepertinya ini adalah rencananya Nona Cathrine agar Nyonya menemui dan memarahi Nona Silvia, karna..."


"Kenapa mesti takut Bi?" potong Silvia seraya menghembus nafasnya pelan dan tenang. Bibi Sari mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Bukankah Bi Sari pernah mengatakan padaku, jika sebenarnya Mamanya Devan itu tak terlalu menyukai Cathrine, bukan?" terang Silvia mengingatkannya lagi.


Bibi Sari sedikit tersohok, yang lantas ia menggaruk belakang kepalanya gelisah sambil cengengesan sendiri. "Iya sih Non, tapi kan. Bibi juga khawatir nanti kalau Nyonya Dini juga tak menyukai si Non kan jadi berabe urusannya! Non Cathrine aja yang cantik dan modis, Nyonya Dini pernah katakan kalau dia itu seperti wanita murahan di belakangnya. Apalagi si Non kan, eh maaf maksudnya..." Bibi Sari tak melanjutkan kata-katanya lagi, dia khawatir kalau perkataannya malah akan melukai perasaannya Silvia.


Silvia menggeleng tersenyum. "Oh jadi maksudnya Bibi, kalau Silvia itu gak cantik gitu?" sewotnya bergurau.


"Ah, bu-bukan gitu Non! Eh jangan salah paham dulu, Non Silvia itu cakep kok! Udah gitu seneng bantu-bantu Bibi lagi..." pujinya meralat perkataannya yang tadi.


Silvia terkekeh-kekeh geli melihat tingkah laku ART sepuh itu yang ketakutan di tuduh, lantas Silvia menepuk-nepuk pelan punggungnya.


"Bibi... Silvia hanya bercanda kok! Sudah-sudah ayo kita ke depan!" ajaknya.


"Eh, tapi tunggu Non!" Bibi Sari kembali mencemaskannya. Namun Silvia tetap tersenyum manis, siap menghadapinya.


"Ayo sudah, gak usah cemas gitu! Sekarang Bibi siapkan saja minuman untuk kami.." titah Silvia. Bibi Sari mengangguk cepat terpaksa ia pun menuruti perintahnya Silvia.


Silvia berjalan perlahan ke ruangan utama dengan dua kruk yang menyangga di kedua ketiaknya. Agar memudahkannya untuk berjalan. Silvia pun sedikit terpana melihat sesosok wanita paruh baya yang sudah berdiri membelakanginya, yang tampak anggun sekali memakai gamis dan kerudung hijau senada, mencerminkan bahwa wanita di depannya itu adalah seorang yang agamis.


"Em, selamat pagi Bu..." sapa Silvia menundukkan kepalanya agak canggung. Dini pun terperanjat kaget lalu berbalik ke belakang. Sedangkan Catherine yang sudah duduk di sofa panjang, mencebikkan bibirnya melirik sinis pada Silvia. Dia sudah tak sabar, ingin sekali melihat reaksi calon Mama mertuanya itu menceramahi Silvia di depan matanya sendiri.


"Kamu?!" sahutnya, Dini mengerutkan dahinya setelah melihat siapa perempuan yang kini ada di depannya itu.


Bersambung....

__ADS_1


...****...


__ADS_2