
...BAB 32...
...Perkataan Siapakah Yang Harus Ia Percaya...
Saat melangkah masuk, Devan terkejut matanya membulat lebar karna Silvia sudah berdiri sambil bersedekap tangan di pinggir pagar.
"Oh, jadi rupanya dua berandalan itu adalah suruhanmu?!" sinisnya dengan memincingkan tajam menatap Devan yang sudah pucat pasi.
"Sil-Silvia kenapa masih ada di luar?" tanyanya gelagapan. Silvia melangkah mendekati Devan yang semakin gugup, dan Devan pun memundurkan langkahnya ke belakang.
"Tadi aku, aku hanya ingin mencandaimu saja hehe..." Devan tertawa kikuk, seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tak ia duga jika rencana busuknya akhirnya dapat diketahui oleh Silvia.
Silvia menatap dingin dengan sorot mata yang makin dalam. Tangannya terkepal kencang di sisi tubuhnya, dengan cepat ia melayangkan tangan kanannya ke udara, ingin menampar pipinya Devan, tapi segera ia urungkan niatnya itu setelah bayangan masalalunya tiba-tiba muncul lagi di benaknya. Ketika ia pernah menampar keras pipi Andy karna ketahuan menipu dirinya. Lantas Silvia mendorong kencang dadanya Devan, hingga lelaki itu terhuyung ke belakang.
"Puas, puas kau sudah mengerjaiku hah?! Kau pikir candaanmu itu lucu?! Aku nggak ngerti sama jalan pikiranmu itu, baru saja kejadian kemarin aku di todong perampok! Kau sudah buat aku ketakutan lagi setengah mati!" sentaknya dengan mata yang sudah berkaca-kaca perih, ia tak sangka jika Devan akan tega mempermainkannya. Membiarkan dirinya di sentuh oleh lelaki lain.
Setelah mengatakan itu Silvia lekas pergi meninggalkan Devan dengan hati yang masih bergemuruh. Marah dan sakit hati pada lelaki yang diam-diam pernah ia kagumi. Menurutnya perbuatan Devan kali ini sudah sangat keterlaluan dan tak bisa lagi di maafkan.
Pak Muklis yang sejak tadi melihat kedua majikannya berseteru, hanya terbengong di tempatnya berdiri sambil mengatup dua tangannya di depan mulut. Lantas lelaki paruh baya itu menghampiri Devan yang tengah meraup wajahnya dengan kasar, merutuki semua kebodohannya.
"Ck ck ck Den-den... Lain kali Den Devan jangan macam-macam sama Non Silvia kalau tak mau di marahin..." celetuknya menggeleng-geleng kepalanya sambil menepuk-nepuk pundak majikannya yang memang sudah akrab itu.
Devan duduk membungkukkan punggungnya dengan kaki yang lunglai di pos jaga, lalu mengangguk membenarkan ucapan Pak Muklis barusan.
Sedang Silvia yang sudah masuk ke dalam rumah, berjalan tertatih-tatih menaiki anak tangga dengan perasaan yang masih kesal terhadap Devan.
"Dasar lelaki gila, tega-teganya dia jadikan istrinya sebagai mainan orang. Ya Allah, apa sebenci itukah dia padaku?" Silvia mengelus-ngelus dadanya berusaha sabar untuk menghadapi Devan yang masih kekanak-kanakkan menurutnya.
Setelah masuk kamar, Silvia bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan piyama tidur, lalu menggosok gigi dan membasuh wajahnya dengan air dingin.
__ADS_1
Dia ingin cepat-cepat tidur malam ini. Silvia berjanji tak akan menyapa Devan duluan sebelum lelaki itu benar-benar meminta maaf padanya dan menyesali atas perbuatannya.
Saat keluar dari kamar mandi Silvia terkejut sebab Devan sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan memperlihatkan wajah kacaunya. Tapi Silvia tak peduli, lantas ia melewati Devan dan lekas berbaring di atas kasur.
"Aku-aku..." ucapnya terbata-bata sembari menggaruk kepalanya salah tingkah. Rasanya sulit sekali Devan mengucap kata maaf padanya. "Em, Silvia jangan tidur dulu!" titahnya.
Namun Silvia tak menghiraukan perintahnya dan buru-buru mematikan lampu tidurnya lalu berbaring membelakangi Devan. Devan yang masih berdiri mematung pun hanya bisa menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.
"Baiklah, besok saja kita bicarakan ini lagi." desahnya pelan. Setelah tadi menyadarinya, Devan baru menyesal tak seharusnya memang ia melakukan itu, demi untuk memperlihatkan sisi buruk Silvia yang bar-bar itu di depan kedua orangtuanya.
Setelah Devan mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Kali ini dia ikut berbaring di samping Silvia, biasanya dia akan mengalah untuk tidur di sofa tunggal karena memang belum bisa menerima Silvia sebagai istrinya. Namun karena malam itu punggungnya terasa seperti remuk, dia ingin merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur empuk.
Silvia yang tahu ada pergerakan di atas kasur lantas kembali membuka matanya waspada.
Tumbenan dia ingin tidur satu kasur denganku. Awas saja ya, kalau berani dia macam-macam lagi denganku! Aku tak segan-segan memukul miliknya lagi. Salah sendiri, kenapa juga bertingkah seperti seorang penjahat! geramnya di batin, tangannya sudah terkepal kencang bersiap siaga jika Devan berbuat macam-macam lagi padanya.
Devan tersenyum sendu menatap lagi punggung Silvia. Maaf, maafkan hatiku yang belum bisa menerimamu, Silvia. Sebenarnya kau itu cantik. Hanya saja hatiku sudah milik Cathrine. Tapi, aku juga perlu tahu tentang latar belakang hidupmu dan apa tujuanmu yang sebenarnya dengan pernikahan kita ini? Firasatku mengatakan jika kau ada hubungannya dengan Cathrine. Sepertinya aku memang harus mencari tahu tentang kalian berdua. gumam Devan dengan penasaran yang besar.
Dua hari lalu, setelah kejadian perampokan di Villa. Silvia mengatakan kalau dia sudah menghubunginya beberapa kali, tetapi katanya Cathrine-lah yang mengangkat teleponnya. Devan pun bertanya pada Cathrine, tapi justru Cathrine menyangkal semuanya. Dia sama sekali tak merasa mengangkat telepon dari Silvia.
Devan di buat bingung dengan dua wanita yang kini tengah dekat dengannya. Perkataan siapakah yang harus ia percaya, Catherine ataukah Silvia? Sungguh hatinya merasakan dilema. Lantas Devan meletakkan punggung lengannya di atas kening sembari menatap kosong ke atas plavon kamarnya dengan pikiran yang tak tenang malam itu.
****
Di sebuah apartemen, Cathrine tampak mondar-mandir di depan televisi dengan perasaan berkecamuk, antara marah dan kesal karna mimpi-mimpinya selama ini seolah pergi menjauhinya. Lebur begitu saja di hadapannya. Setelah ia melihat berita pagi tentang pesta anniversary perusahaan keluarga besar Alvandra semalam tadi.
Silvia yang terlihat cantik dan bahagia di depan kamera bersama Devan dan juga kedua orangtuanya, seolah menunjukkan pada Cathrine bahwa dirinya telah memenangkan sebuah piala emas.
"Si*l dasar wanita si*lan! Dia benar-benar sudah menghancurkan impianku. Aku tak akan tinggal diam, secepatnya aku harus menyingkirkannya dari kekasihku dan semua yang seharusnya menjadi milikku." geramnya.
__ADS_1
Catherine tak hilang akal, ia lekas menghubungi Andy untuk membuat rencana selanjutnya.
****
Di meja makan semuanya terdiam, hening dan hanya suara dentingan sendok dan piring saja yang terdengar. Lantas Dini dan Indra saling lirik bertanya. Karena Devan dan Silvia tampak saling membuang mukanya masing-masing.
Saat terbangun subuh tadi, Silvia terkejut mendapati dirinya telah tidur bersama Devan yang tengah memeluknya dengan erat, dan spontan saja Silvia menendang Devan hingga ia terjatuh di atas kasur.
"Dasar wanita bar-bar!" maki Devan seraya bibirnya meringis mengusap bokongnya yang linu.
"Salahmu sendiri kenapa juga tidur sambil memelukku?" sungut Silvia. Hatinya masih belum bisa memaafkan kelakuan menyebalkan Devan padanya, semalam tadi.
"Jangan ge-er siapa juga yang ingin memelukmu, aku hanya memeluk gulingku?!" bantah Devan.
"Guling kau pikir aku ini gulingmu, heh! Lalu itu apa hah?" Silvia menunjuk sebuah guling di dekat Devan yang sudah duduk tersungkur di lantai.
Devan pun tersohok melihat gulingnya yang sudah terkapar di bawah lantai. Lalu cengengesan sendiri sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Itu gulingmu kan?" ledek Silvia lagi seraya memincingkan matanya, penuh amarah.
Dan setelah pertengkaran itu, mereka masih betah dengan kesibukannya masing-masing. Malas untuk menyapa atau pun bersitatap. Tadinya Devan berencana ingin meminta maaf soal semalam itu pada Silvia, namun sikap Silvia yang masih dingin dan cuek padanya, ia pun jadi berpikir ulang untuk berbaikan lagi dengan istrinya tersebut.
Bersambung....
...****...
Yuk mampir ke cerita temenku readersss
__ADS_1