Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Suatu Kebodohan Baginya


__ADS_3

...BAB 37...


...Suatu Kebodohan Baginya...


Ketika keduanya tanpa sadar saling menatap dengan lembut dan dalam, di meja Restoran.


Tiba-tiba saja Catherine datang menghampiri mereka dengan langkah tergesa-gesa. Lalu menarik cepat tangan Devan yang ibu jarinya masih betah mengusap lembut bibir Silvia di depan matanya sendiri.


Sontak saja keduanya terkejut. Devan terbelalak kaget, seakan jantungnya berhenti berdetak melihat kekasihnya yang sudah berdiri tepat di samping meja makan mereka.


Wajah cantiknya memerah padam, memperlihatkan bahwa saat ini dirinya tengah marah di bakar oleh api cemburu.


"Cath, Cathrine?!" gelagapnya, yang lekas beranjak dari kursi. Wajah Devan mendadak tegang dan pucat, rasa sulit untuk menelan air liurnya sendiri.


Kini Cathrine pun menatap tajam pada keduanya dengan nafas yang memburu cepat. Terlihat jelas dari dadanya yang naik turun.


"Pantas saja beberapa minggu ini kau sangat jarang menghubungiku! Kau bilang akhir-akhir ini sangat sibuk. Tapi ternyata kesibukanmu selama ini tak lain hanya menghabiskan waktumu bersama wanita yang sudah merebut kekasihku ini!" berangnya dengan sindiran pedas, seraya menunjuk wajah Silvia yang masih terduduk dengan ekspresi santainya di kursi.


Rasanya Silvia ingin tertawa kencang mendengar ucapan Cathrine yang seakan dirinya tak bersalah. Seharusnya lontaran kata-kata itu lebih pantas di tunjukan oleh dirinya sendiri.


Apa kau sedang amnesia, Cath? tidak ingatkah dulu saat kau merebut Andy dariku?! sindir Silvia dalam hatinya, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya menatap jengah pada Cathrine yang sudah seperti cacing kepanasan itu.


Devan menggenggam tangan Cathrine lalu membawanya sedikit menjauh dari mejanya dan berbicara selembut mungkin agar Cathrine segera meredam emosinya. Karena mereka bertiga saat ini sedang berada di sebuah Restoran, itu artinya mereka ada di tempat umum dan tindakannya bisa saja di ketahui oleh banyak orang dan menjadi bahan tontonan mereka.


Devan sangat khawatir jika ada orang yang tidak bertanggung jawab dan merekam mereka diam-diam lalu menyebarkannya ke publik. Apalagi Cathrine adalah seorang penyanyi yang cukup terkenal sekarang ini, begitu pun dengan Devan, seorang ahli waris dari perusahaan tambang di kota besar itu.


"Bukan begitu, Cath. Akhir-akhir ini aku memang disibukkan dengan pekerjaanku. Dan yang kau lihat sekarang ini, tidak seperti yang kau pikirkan. Aku dan Silvia hanya makan siang... dan kami_"


"Dan kalian bermesraan!" Cathrine lekas menyela ucapan Devan dengan mata yang berapi-api.


Devan menarik nafasnya dalam dan menghembusnya perlahan mencoba bersabar menghadapi kekasihnya yang akhir-akhir ini selalu sering marah padanya Dan terus saja mendesaknya agar Devan cepat menikahinya. Bukan Devan tak mau menikahi Cathrine, tapi Devan membutuhkan banyak waktu untuk bisa mengambil hati kedua orangtuanya lagi. Terutama pada Mamanya sendiri.

__ADS_1


"Dengarkan aku dulu, aku belum selesai bicara. Ayo ikut denganku, akan ku jelaskan semuanya padamu, tapi tidak disini." ajak Devan hendak membawa Cathrine keluar Restoran tetapi Cathrine malah melepas tangannya gesit dari Devan dan berbalik lagi menghampiri Silvia.


Cathrine menatap sinis Silvia dengan melipatkan kedua tangan di depan dadanya.


"Aku peringatkan padamu, sebaiknya kau segera mundur saja untuk menjadi istri dari kekasihku. Asal kau tahu saja. Hubungan kami ini tidak hanya sebagai sepasang kekasih saja, tetapi hubungan kami sudah lebih dari itu!" tekannya dengan senyuman menyeringai di bibirnya yang merah menyala.


"Maksudmu?" Silvia menyipitkan matanya pada Cathrine, setelah menyeruput setengah jus alpukatnya.


Devan yang melihat Cathrine yang sedang memperingatkan Silvia buru-buru menahan lengan kekasihnya agar berhenti berbicara. Dia tidak ingin jika ada yang mendengar omongan Cathrine dan jadi bahan perbincangan oranglain di Restoran itu. "Cath, ayo kita keluar!" ajaknya lagi dengan suara tegas.


"Lepas Dev, dia harus tahu dan sadar jika kita ini saling mencintai. Katakan padanya bahwa kita sudah pernah tidur bersama!" ungkapnya dan berhasil membuat Silvia sedikit terperangah. Membulatkan matanya lebar dan matanya kini beralih menelisiki wajah Devan yang sudah memucat.


Devan yang melihat keterkejutan dari wajah Silvia lantas menelan ludahnya dengan kasar. Lalu tanpa pikir lagi, ia menarik kasar tangan Cathrine dan segera membawanya pergi keluar dari sana.


Silvia terpaku melihat kepergian sepasang kekasih itu dengan pandangan yang kosong. Jantungnya bertalu-talu tak karuan. Dia memang pernah melihat foto Devan yang di kirimkan oleh Cathrine beberapa minggu lalu, saat suaminya itu tertidur pulas dengan kemeja yang kancingnya sudah terbuka sehingga memperlihatkan otot-otot di dadanya, tidur di atas ranjang apartemen milik Cathrine.


Silvia yang percaya pada perkataan Bi Sari dan juga Mama Dini soal ketaatan dan kebaikan Devan selama ini. Tak mudah untuk mempercayai perkataan Cathrine saat itu, Silvia pikir mungkin itu hanya jebakan Cathrine saja yang bertujuan ingin memanas-manasinya.


"Kenapa tiba-tiba hatiku sakit rasanya..." lirihnya pelan, seraya menyentuh bagian sisi dadanya yang terasa menyesakkan.


Silvia menghembuskan nafasnya kencang lantas ia berdiri dan keluar dari Restoran menyusul Devan dan Cathrine, setelah ia menghabiskan makanannya dan membayarnya segera. Walau tadi Devan memang berniat ingin membayarnya sendiri. Tetapi, rasanya Silvia malas untuk menunggu lama disana sendirian dan memutuskan untuk pergi melihat kedua orang itu saja.


Silvia berjalan tertatih-tatih keluar Restoran mencari keberadaan manusia menyebalkan itu. Sekelebat ada bayangan dua manusia di sisi mobil di parkiran Restoran yang Silvia yakini adalah mereka berdua. Silvia perlahan menghampirinya dan mendengar mereka berdua tengah berdebat dengan suara isakan tangisan Cathrine di belakang mobil itu.


"Tak seharusnya kamu mengatakan itu pada Silvia? Kau tahu, jika sampai Silvia mengadukan soal ini pada orangtuaku, mereka akan membenci dan mengusirku! Kenapa kau tidak memikirkan hal itu, Cath?!" pekik Devan, rahangnya tampak mengeras, dan nafasnya memburu sangat cepat menahan emosi di dalam dadanya. Tak sangka jika Cathrine akan berani mengungkapkan kekhilafan mereka berdua pada malam itu kepada Silvia.


"Biar dia itu sadar bahwa kau hanya mencintaiku, Dev! Dan kau hanya mau berhubungan denganku saja!" tukasnya. Devan menggeleng-geleng kepalanya serta mengusap wajahnya dengan gusar.


"Cathi, tolong jangan kau besar-besarkan masalah itu lagi! Kamu harus ingat itu hanya sebuah kesalahan yang tak aku sadari. Sungguh aku benar-benar tidak menyadarinya. Tapi bukan berarti aku tidak ingin bertanggung jawab padamu... Aku hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk meminta pada orangtuaku agar mereka dapat merestui kita... Maka itu kamu harus mengerti bagaimana keadaanku saat ini..." tegas Devan dengan suara parau. Tak tahu harus melakukan apalagi agar Cathrine mengerti padanya.


Silvia kembali terhenyak mendengar perkataan Devan disana, lantas ia menekan kencang dadanya yang terus berdegup keras. Ya Tuhan... Jadi itu benar, mereka berdua sudah berzina? pekiknya dalam hati, lantas matanya memerah perih.

__ADS_1


Hatinya sungguh kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Silvia juga tak bisa menyalahkan kedua insan yang memang saling mencintai itu. Dan posisinya memanglah yang tak tepat, dia sudah terlanjur terjebak dalam pernikahannya sendiri. Mencintai Pria yang sudah memiliki kekasih adalah suatu kebodohan baginya. Saat itu Silvia pikir dia dapat menaklukkan hati Devan, ketika tahu Cathrine adalah kekasihnya Devan. Namun pada akhirnya dialah yang merasakan sakit hatinya sendiri.


Silvia berjalan gontai dan memilih untuk pulang sendiri menaiki taksi. Menatap nanar pada jendela mobil taksi, dengan wajah kuyu. Haruskah ia menyerah saja dengan pernikahan ini? Dan berhenti untuk membalaskan dendamnya pada mantan sahabatnya itu. Walau memang dia mencintai Devan. Tetapi hati kecilnya tetap tak terima jika suami yang ia cintai tidur bersama wanita lain meski wanita itu adalah kekasih suaminya sendiri.


Sungguh hati Silvia bagai diiris-iris pisau tajam, perih, sakit hati dan kecewa. Baru saja ia merasakan hangatnya kasih sayang yang Devan berikan dan baru saja ia rasakan tatapan dalam juga lembut darinya. Tapi hanya sesaat saja ia nikmati kebersamaan itu.


Sedang disana Devan menyenderkan punggungnya di sisi mobil Cathrine sambil memijat pelipisnya, frustasi. Bahunya merosot lemas. Sungguh kebingungannya saat ini membuat kepalanya menjadi sakit.


"Lalu sampai kapan kau akan menceraikan wanita itu dan menggantung hubungan kita ini terus-menerus, Dev?!" Cathrine menangis tersedu-sedu seraya memukul-mukul kencang dada Devan dengan kepalan tangannya. Namun bagi Devan, pukulan itu tak ada apa-apanya di bandingkan rasa sedih yang dialami kekasihnya. Devan memahami bahwa Cathrine pun sakit hati karna janjinya yang belum bisa ia tepati.


"Sebaiknya kamu pulang dulu, nanti kita akan bicarakan masalah ini lagi. Aku harus mengantarkan Silvia pulang. Dia sudah menungguku. Setelah hatimu tenang kembali. Hubungi aku, kita akan membicarakan lagi masalah ini dengan kepala dingin." Devan merangkul bahu Cathrine dan menuntunnya masuk ke dalam mobilnya.


"Masuklah dan pulanglah ke apartemenmu. Setelah sampai segeralah istirahat dan jangan berpikir macam-macam tentangku." titah Devan seraya mengingatkan lagi.


Cathrine mengangguk pasrah menuruti perintah Devan. Setelah Devan menutup pintu mobilnya Cathrine. Cathrine pun menjalankan mobilnya sendiri dengan pelan keluar Restoran.


Devan menghela nafasnya dalam dan panjang yang lalu ia bergegas masuk ke dalam Restoran. Menemui lagi Silvia, dan ingin menjelaskan soal perkataan Cathrine tadi agar dia tak salah paham dulu.


Namun ketika kaki panjangnya melangkah masuk. Meja yang di tempati mereka berdua tadi sudah kosong, dan tak ia temukan Silvia duduk disana.


Devan menghampiri salah satu pelayan disana dan bertanya, lalu pelayan itu katakan jika wanita yang duduk dengan Devan tadi sudah pulang barusan dengan membayar lunas semua makanan mereka.


Devan menyentak kasar nafasnya, dan ia segera berlari ke parkiran lagi, memutar tubuhnya, berdiri di tengah-tengah lapangan parkiran dengan hati yang gundah gulana. Namun tak juga ia temukan Silvia disana.


"Rupanya, sekarang kau sudah berani pergi tanpa seijin suamimu Silvia, jangan harap kau bisa lepas dariku!" ujarnya dengan tangan terkepal.


Bersambung ...


...*****...


Yuk mampir ke cerita ini readerss

__ADS_1



__ADS_2