Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Keinginan Devan Yang Kuat


__ADS_3

...BAB 28...


...Keinginan Devan Yang Kuat...


Beberapa kali Silvia membasuh wajahnya dengan air dingin untuk menghilangkan kesedihan yang terpasang di wajahnya, lekas ia pun mengelapnya dengan handuk yang ia bawa tadi. Memandangi dirinya di cermin dengan getir.


"Apa yang tengah kau pikirkan Silvia? Kenapa kau malah menangis hanya karena hal sepele ini? Jangan cengeng. Kau itu wanita kuat. Kau harus bisa membuat Devan jatuh cinta padamu, dan kau harus bisa buktikan bahwa wanita yang ia cintai itu tak lebih dari manusia bermuka dua!" Silvia bermonolog sendiri di dalam kamar mandi, lantas ia menghirup dalam-dalam nafasnya lalu menghembusnya dengan perlahan. Menenangkan perasaannya agar tidak terlarut dalam kesedihan, serta menghilangkan segala kedukaan di masa lalu yang terus saja membayang dalam benaknya.


Silvia keluar dari dalam kamar mandi. Setelah merasakan hatinya kembali tenang. Sontak ia terkejut karena Devan sudah berdiri menyender di samping pintu kamar mandi. Tengah menunggunya dari tadi.


"Ku bilang kita belum selesai bicara!" Devan menahan tangan Silvia yang ingin melengos pergi. "Jadi kita akan lanjutkan lagi setelah selesai sarapan nanti!" ucapnya mengingatkan lagi. Devan bersikeras ingin melanjutkan pembicaraan mereka yang belum selesai tadi. Silvia lantas menarik tangannya lagi yang Devan pegang.


"Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Jika pada akhirnya kau akan terus menyudutkanku." acuhnya santai. Lantas Silvia mendengus pelan, sekilas matanya melirik pada kerah kemeja Devan yang telah kotor dengan banyak jejak perwarna bibir di sana. Jelas walau warna merahnya terlihat sudah memudar.


"Sebaiknya kau segera mandi dan mengganti pakaianmu yang sudah kotor itu. Atau tidak, Mamamu akan mengetahuinya kalau semalam tadi kau sudah bersenang-senang dengan kekasihmu itu..." sindirnya, dengan dagunya yang menunjuk kerah kemeja Devan.


Devan membulatkan matanya, lantas melihat kerah kemejanya sendiri, tergugup. "I-ini_" Devan gelagapan, lalu buru-buru membuka kemeja putihnya dan menyembunyikannya di belakang punggung. Silvia berdecih pelan.


"Akan bagaimana jadinya jika kedua orangtuamu sampai tahu kelakuanmu itu. Aku yakin sekali Mama pasti akan shock berat. Kasihan sekali beliau..." desahnya seraya menggeleng prihatin.


"Mama tak akan pernah shock jika kau tak banyak bicara!" sungutnya dengan kesal.


Silvia mengangkat bahunya acuh, lantas berjalan keluar kamar. Sedang Devan menghembus nafasnya dengan kencang, setelah melihat Silvia yang sudah keluar dari kamarnya. Lalu Devan pun buru-buru mandi dan berganti pakaian dan menyusul Silvia, khawatir jika istrinya itu akan berbicara yang tidak-tidak pada kedua orangtuanya.


****


"Silvia karena minggu malam nanti, kita semua akan berangkat ke pesta anniversary-nya perusahaan keluarga besar Papanya Devan. Bagaimana kalau besok sabtunya kita pergi keluar untuk memeriksa kondisi kakimu ke Dokter. Lalu setelah pulang periksa kita berdua shoping ke Mall. Mama pengen sekali belikan kamu pakaian pesta yang sangat bagus, kamu mau 'kan?" tanya Dini di sela-sela sarapan mereka. Silvia pun tersenyum dengan tatapan bahagia, lalu mengangguk mengiyakan.


"Iya boleh Ma... Terimakasih, Silvia jadi merepotkan Mama terus..." Silvia jadi sungkan karena kebaikan mertua padanya.


Dini mengusap lembut punggung tangan Silvia di depannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa sayang, Mama tidak merasa di repotkan olehmu kok. Justru Mama seneng bisa keluar jalan-jalan sama menantu Mama. Selain itu Mama juga pengen tahu kondisi kaki kamu sekarang setelah nanti di rontgen. Tapi kamu selalu rutin 'kan meminum obatnya?" tanya Dini lagi dengan tatapan lembut.


"Iya Ma, Silvia selalu rutin kok meminum obatnya..."


"Syukurlah kalau begitu. Semoga kamu cepat sembuh dan bisa berjalan lagi dengan normal ya..." ucap Dini.


"Aamiin, terimakasih banyak doanya Ma.."


Di meja makan, Devan dan Indra hanya jadi pendengar saja sambil menikmati sarapan mereka tanpa ikut bicara


Setelah selesai sarapan. Dini pun mengajak Silvia memakan cemilan sambil menonton televisi di ruang keluarga. Sedangkan Devan yang sudah di tunggu Indra di ruang kerja, bergegas menemui Papanya tersebut.


"Katakan pada Papa dengan jujur, apa benar kau masih menemui wanita itu lagi, Dev?" Indra menyimpan koran yang ia baca barusan ke atas meja. Lalu beralih menatap putranya dengan penuh selidik.


Devan menundukkan kepala. Raut wajahnya kembali sangat gelisah.


"Pa, maafkan Devan. Yang belum bisa memutuskan hubungan Devan dengan Cathrine." ucapnya berterus terang. Indra menghembus nafasnya kasar. Lalu berdecak memalingkan wajahnya.


"Tapi Pa, masalahnya bukan itu. Devan tidak mencintai Silvia dan Devan dulu sudah pernah berjanji akan menikahi Cathrine. Devan yakin sekali jika nanti Cathrine menjadi istrinya Devan, dia akan menuruti semua apa yang Devan suruh. Perlahan Cathrine pasti akan merubah penampilannya itu, Pah! Karena setelahnya Devan tak akan mengijinkannya untuk menyanyi lagi. Asalkan Papa dan Mama percaya dan mendukung sepenuhnya keinginan Devan untuk menikahi Cathrine." pintanya dengan wajah memelasnya.


Devan memohon lagi pada Indra agar Papanya itu dapat memahami keinginannya untuk mempersunting kekasihnya itu. Devan benar-benar ingin segera menghalalkan Cathrine. Agar terhindar dari perbuatan zina, yang entah mungkin dia tak sadar telah melakukannya dengan Cathrine semalam tadi. Sehingga membuatnya sangat resah dan bersalah.


Indra lagi-lagi menggeleng kepala, tak bisa lagi melarang keinginan kuat putranya tersebut. Dan diamnya Indra membuat Devan sangat yakin jika Papanya telah menyetujui niatannya itu.


"Papa tak bisa memberikan komentar apa-apa lagi terhadapmu. Jika kau bersikeras tetap akan menikahinya, Papa tak akan campur tangan lagi bila nanti ada sesuatu terjadi pada rumah tanggamu dengan Silvia. Walau bagaimana pun Silvia masih istrimu yang punya hak untuk di lindungi dan di sayangi. Mamamu sudah terlanjur menyukai Silvia, jadi jangan pernah sekalipun mengecewakan mereka berdua..." lontar Indra dan dia sudah tak lagi mau tahu urusan Devan yang menurutnya putranya itu sangat keras kepala untuk di nasehati.


"Percayalah pada Devan Pa, Devan pasti akan bersikap adil pada Silvia dan juga Cathrine..."


Devan menghela nafas sedikit lega, walaupun agak sulit untuk meyakinkan kedua orangtuanya tersebut, tetapi Devan sangat yakin jika Papanya lambat laun akan mengerti dirinya. Sekarang dia hanya tinggal meyakinkan Mamanya.


*****

__ADS_1


Pagi pun menyambut bersamaan dengan cahaya mentari yang menghangatkan bumi.


Setelah selesai sarapan bersama. Devan pun pamit untuk berangkat kerja, sementara Silvia dan Dini bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit pukul tujuh itu. Untuk memeriksakan kondisi kakinya Silvia.


Dan setelah memeriksakan kakinya, Silvia hendak menebus obat dari apotek. Sambil menunggu antrean, tiba-tiba seorang wanita tak sengaja menyenggol bahunya dari belakang.


"Oh maaf!" ucapnya sedikit menunduk, pada Silvia. Lantas mereka pun saling melihat, dan sejenak wanita di depannya itu terpaku, lalu ia tersadar dan kembali pergi melangkahkan kakinya tergesa-gesa.


Wanita itu pun terlihat memasuki ruangan poli kandungan. Silvia memandanginya dari jauh, sekilas ia melihat postur tubuhnya yang mirip sekali dengan Cathrine, walau wajahnya tertutup rapat oleh masker dan mengenakan kacamata hitam. Namun Silvia masih dapat mengenalinya.


"Cathrine? Aku yakin sekali dia itu Cathrine! Tapi untuk apa dia masuk ke ruangan itu? Kecuali kalau_?!" Silvia terperangah lantas membekap mulutnya tak percaya. "Apakah dia_?" Silvia menggeleng cepat kepalanya menepis semua pikiran buruknya.


"Apa mereka sudah sering melakukannya beberapa kali, sehingga_" Silvia tercekat tak berani meneruskan perkataannya. "Ya Tuhan... semoga dugaanku ini salah..." lirihnya pelan.


Silvia yang terus fokus mengarah pada pintu ruangan yang di masuki oleh Cathrine tadi. Sontak ia terperanjat kaget karena tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya, Dini yang baru saja selesai dari kamar mandi terheran melihat tingkah Silvia yang terbengong disana


"Silvia, ada apa Nak? Kenapa kau berdiri disini?" tanya Dini heran. Silvia menoleh tergugup.


"Eh Mama, Silvia hanya sedang memperhatikan para ibu hamil itu." cengirnya seraya menunjuk ke arah poli kandungan.


Dini melihat ke arah yang di tunjuk Silvia. Lantas ia tersenyum penuh arti pada Silvia. "Apa kau sedang berencana ingin punya anak Silvia?" tanyanya yang membuat Silvia membulatkan matanya lebar. Sontak wajahnya mendadak berubah merah.


"Em bukan Ma_ Maksudnya" Silvia menggeleng kikuk.


"Mama paham perasaanmu sayang, kamu tak perlu memendamnya lagi. Sangat wajar, bila wanita yang sudah menikah sangat menginginkan buah hatinya. Mama mengerti karna Mama pernah merasakan dulu seperti kamu. Jika memang itu keinginanmu Mama pasti akan mendukungnya. Lagian Mama juga kepengen cepet-cepet momong cucu..." celoteh Dini yang membuatnya menjadi salah paham.


Bersambung....


...****...


Yang mau mampir ke novel temenku. Boleh di tengok yuk nggak kalah serunya...

__ADS_1



__ADS_2