
...BAB 65...
...Devan Pergi Keluar Kota...
Usai sarapan dan masih di meja makan, Devan dan Silvia saling lirik dan tersenyum. Lalu menatap Mama Dini dan Papa Indra yang sedang asyik menikmati makanan penutup mereka, hingga kedua orang paruh baya itu mengerutkan dahinya terheran.
"Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa dari tadi senyum-senyum terus?" tanya Dini dengan wajah gemasnya.
"Ada kejutan baik untuk Mama dan juga Papa..." ujar Devan.
Sontak Indra dan Dini pun saling menoleh. Lalu kembali menatap sang putra dengan tatapan serius.
"Kejutan?!" ulang Dini yang lekas diangguki Devan.
"Iya Mah, sebentar lagi rumah kita akan kehadiran seorang bayi... Bayi yang akan jadi penerus keluarga kita!" ungkap Devan dengan senyumannya yang semakin mengembang
Dini tersohok, mulutnya melongo lebar, lantas ia beranjak dari kursi sambil mengatup kedua tangan di mulutnya.
"Be-benarkah, benarkah itu Silvia?! Kamu hamil Nak?" tanyanya yang kini menoleh pada menantunya yang sudah tersipu malu. Silvia tersenyum sambil mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Aaaaaaa....!!!"
Dini pun berteriak kencang sehingga para pelayan di dapur terkejut dan berlarian keluar menghampiri majikannya.
"Ada apa Nyonya, ada apa?!" tanya Bibi Sari dan yang lainnya sangat panik.
"Aaaaa... Akhirnya aku akan jadi Nenek dan kamu jadi Kakek Pah... Hahaha...." teriaknya girang sambil memeluk suaminya dari samping. Indra pun hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum menanggapi sang istri.
"Aku akan jadi Nenek ingat ya!!" sahutnya lagi lalu memeluk semua asisten rumah tangganya secara bergantian.
Semua pun tertawa geli melihat tingkah Mama Dini yang bertingkah seperti anak kecil seolah mendapatkan mainan barunya.
Lalu Dini menghampiri menantunya dan memeluknya dengan erat di sampingnya.
__ADS_1
"Terimakasih ya sayang, terimakasih banyak kamu udah berikan Mama cucu..." ucapnya seraya mengecup sisi kening Silvia.
"Tidak Ma, semua ini adalah pemberian rezeki dari Allah. Silvia dan Mas Devan hanya berikhtiar saja... Mama berterimakasihlah kepada Allah, karena doa Mama akhirnya terkabulkan..." ucap Silvia tersenyum bahagia. Dini pun mengangguk membenarkan perkataan menantunya.
"Iya-iya kamu benar sayang... Terimakasih banyak ya Allah atas semua rezeki yang Engkau berikan pada kami semua..." Dini menangis haru penuh dengan rasa syukur di hatinya.
****
Devan memeluk juga mencium bibir istrinya dengan lembut dan lama. Hari itu adalah pemberangkatan Devan ke kota Bandung bersama Nori sang asisten untuk melihat kantor cabang milik Papanya disana dan menginap dalam seminggu ke depan. Karna biasanya Indra yang pergi kesana, namun Indra sudah malas untuk berpergian jauh lagi. Dia lebih baik memantau kantornya di kotanya sendiri. Tugas pentingnya sekarang semua ia serahkan pada putra satu-satunya.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu..." ucap Devan yang tak ingin melepas pelukannya dari Silvia.
"Sudah Mas, nanti kamu bisa terlambat... Nori sudah menunggumu dari tadi..." Silvia mendorong pelan dada suaminya. Menghentikan Devan yang terus betah memeluk dan mencumbunya.
"Jaga baik-baik di rumah ya sayang... Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku." ucap Devan memberi pesan.
"Iya Mas, Mas juga hati-hati di jalan ya..." balas Silvia juga.
"Dan kamu baby kecil jangan rewel. Jaga Mamamu disini oke!" celotehnya seraya mengusap dan mengecup beberapa kali perut Silvia yang masih rata, di perkirakan kandungan Silvia masih berumur empat minggu.
Kemudian Devan berangkat dengan membawa koper besar, melangkah pergi keluar dan menaiki mobil perusahaan yang di kendarai oleh supir baru pengganti Andy.
Silvia melambaikan tangannya pada suaminya yang sudah pergi dengan mobil perusahaan, di teras rumah mertuanya.
"Semoga kamu baik-baik saja di kota sana ya Mas... Jaga selalu hatimu untukku..." gumamnya tersenyum lirih.
*****
Pagi menjelang siang dan hari itu genap tujuh bulan kandungannya Cathrine, terpaksa untuk beberapa waktu yang lama ia harus cuti dulu bernyanyi di club. Untungnya pemilik club mengerti dengan kondisi Cathrine saat itu dan berbaik hati meminjamkan sejumlah uang yang banyak untuk biaya makan kesehariannya dan untuk biaya melahirkannya nanti.
Hamil tanpa seorang suami membuat hidupnya sangat sengsara. Terkadang Cathrine tak menginginkan kehamilannya itu terjadi.
"Ini semua gara-garamu Andy, tak seharusnya kau hamili aku!" umpatnya kesal. Lantas ia memukul-mukul perutnya dengan kasar.
__ADS_1
"Aakh-aakh! Kenapa kau harus hidup di dalam perutku hem? Kenapa kau tidak keguguran saja dulu! Kau hanya menyusahkanku saja tahu! Buat apa kau hidup jika Devan saja tak mengakuimu!!" makinya pada anak yang masih dalam kandungannya sendiri.
Cathrine menjambak rambutnya dengan kasar, dia benar-benar sudah frustasi dengan hidupnya, terkadang rasanya ingin menyerah saja.
"Kenapa hidupku selalu begini? Bahkan Papa tak pernah tahu bagaimana sekarang nasibku? Aku lelah... Aku lelah dengan kehidupan ini. Sejak dulu tak ada satupun yang benar-benar peduli padaku..." isaknya lirih. Air matanya berderaian dengan deras membasahi kedua pipinya.
Di tengah kesedihannya tiba-tiba saja terdengar gedoran keras di pintu dan sontak mengagetkannya. Cathrine pun terperanjat dan bergegas mengusap air matanya lalu melangkah cepat ke depan.
"Siapa?!" teriak Cathrine, mengerutkan keningnya penasaran.
"Heh, cepat keluar dari rumah ini!" terdengar teriakan seorang ibu-ibu di balik pintu sambil terus menggedor pintu dengan kencang. Catherine terbelalak dan meneguk salivanya dengan kasar.
"Dengar tidak?! Apa kau itu tuli hah?!" teriaknya lagi.
"Tunggu sebentar!" Cathrine meraih jaket hitam besar di kursi kayunya lalu cepat-cepat memakainya.
Jaket yang selama ini selalu menutupi perutnya yang buncit jika Cathrine hendak keluar dari rumah. Semenjak usia kandungannya semakin membesar. Banyak warga yang melihatnya dengan tatapan penuh curiga. Karena warga kampung itu tak ada yang benar-benar tahu tentang kehamilan Cathrine saat ini.
Cathrine khawatir akan terus di pertanyakan oleh warga di kampung itu karena sedang hamil tak bersuami.
Cathrine membuka perlahan pintu depan dengan raut cemas dan gugup. Di depan rumah kontrakannya sudah ada lima orang Ibu-ibu berdiri sambil mendelik tajam tak suka ke arahnya.
"Ada apa ya kalian semua datang kemari?!" tanya Cathrine, wajahnya jadi tegang karena tatapan-tatapan tajam dari mereka semua.
Salah satu Ibu yang gendut dengan rambut oval di atas bahu, lantas menarik tangan Cathrine dan membawanya untuk keluar dari rumah kontrakan kecil itu.
"Heh, akhir-akhir ini saya sering lihat kamu pakai jaket besar itu! Cepat buka, kami ingin tahu apa yang sebenarnya sedang kau sembunyikan selama ini?!" bentaknya mendesak Cathrine untuk membuka jaketnya.
"Apa maksud anda, saya memakai jaket ini karena saya sedang sakit Bu..." sangkal Cathrine wajahnya kian bertambah pucat.
"Alaaah bohong!! Masa sakit sampai hampir berbulan-bulan. Sakit apaan tuh?! Kami semua tahu, setiap malam kau sering keluyuran dan pergi keluar masuk bar si Juki itu. Emang kami nggak tahu kelakuan wanita tiap malam disana maenannya apa aje?!" timpal ibu yang memakai daster hijau dan agak kurus itu dengan tatapan nyalang pada Cathrine.
Cathrine semakin tergugup, wajahnya jadi memucat. Dia bertambah bingung harus bagaimana sekarang? Jika warga tahu kalau dirinya sedang hamil. Bisa-bisa Cathrine di usir dari sana.
__ADS_1
Bersambung...
...****...