Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Dendam Yang Terbalaskan


__ADS_3

...BAB 49...


...Dendam Yang Terbalaskan...


Cathrine benar-benar tak bisa memenjamkan matanya sejak Devan ijin masuk ke kamar Silvia untuk mandi dan berganti pakaian. Tadinya dia ingin istirahat sejenak untuk menghilangkan rasa lelahnya setelah perjalanan pulang dari Bogor ke Jakarta. Apalagi dalam kondisinya yang sedang hamil muda, yang rentan sekali sakit akibat terlalu keletihan.


Dia membalikkan tubuhnya miring ke kiri dan ke kanan, tapi gelisahnya tak kunjung hilang.


"Ngapain sih dia lama-lama di sana?!" geramnya, karna tak sabar terus menunggu Devan yang tak kembali ke kamarnya, Cathrine pun nekad untuk melihatnya sendiri ke dalam kamar Silvia.


Setelah berdiri di depan pintu kamar Silvia, tak sengaja ia mendengar suara erangan seorang wanita yang tak lain adalah kakak madunya sendiri yaitu mantan sahabatnya yang paling ia benci.


Cathrine melotot, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang was-was, dan tanpa mengetuk atau permisi dulu, ia membuka lebar-lebar pintu kamar yang tak terkunci itu.


Braaaak


Cathrine tercengang, ketika melihat pemandangan yang tak ingin dia lihat selama ini. Devan mencium dan melu mat bibir Silvia dengan penuh gairah. Menahan tangan dan mengunci tubuh Silvia ke dinding kamar, yang hanya berbalut handuk saja. Tepat di depan matanya sendiri.


"Beeebb!!" teriaknya menjerit.


Seketika hatinya panas membara, terbakar api cemburu. Seumur-umur tak pernah sekalipun Devan melakukan itu padanya. Selama mereka pacaran, Devan selalu menjaga jarak untuk tak bersentuhan lebih dengannya. Sudah pasti Cathrine sangat marah dan cemburu. Tak hanya lelaki kaya, Devan juga memiliki wajah yang sangat tampan bahkan melebihi ketampanan Andy yang pernah ia sukai dulu, tak munafik Cathrine pun sangat mencintai Devan.


Devan dan Silvia menoleh terkejut. "Cathi..." wajah Devan yang barusan merona pun seketika hilang berganti pucat. Gugup. Lekas ia mengurai tangannya yang tadi betah memeluk tubuh Silvia.


"Apa yang kalian berdua lakukan?!" Cathrine berjalan cepat ke arah mereka, lalu menarik tangan Devan ke belakangnya dan menatap nyalang pada Silvia dengan sorot mata yang tajam.


"Berani sekali kau menggoda suamiku dengan memakai handuk saja! Kami ini baru saja menikah, seharusnya kau hargai keberadaanku disini, hah! Dasar wanita tak tahu malu!!" bentaknya dengan berang, seraya menunjuki wajah Silvia di depan Devan.


Tak hanya itu saja Cathrine pun mendorong kasar Silvia, hingga tubuh Silvia terjatuh ke atas kasur.


Devan terperangah. Matanya melotot "Cathii! Apa yang kau lakukan?!" bentaknya.


"Aku tak rela ya!! Aku benar-benar tidak sudi jadi istri keduamu! Seharusnya kalian berdua itu tidak menikah! Aaah menyebalkaan!!" jeritnya yang tak puas Cathrine pun hendak melayangkan tangannya ke arah pipi Silvia, namun segera di cegah Devan.


"Cath... Sudah-sudah hentikan kataku! Kau akan menyakiti Silvia!" Devan menahan kedua tangan istri keduanya ke atas. Karena Cathrine yang mulai berontak tak kuasa menahan kekesalannya pada mantan sahabatnya itu.


"Kenapa kau jadi bela dia, sih?! Jangan katakan kalau kau mulai mencintainya?!" pekiknya.


Devan tersentak wajahnya kembali pucat. Seketika dia bungkam tak bicara. Sungguh dia malu mengakuinya. Yang pada akhirnya dia memang telah mengkhianati cinta Cathrine.


"Jawab aku, kenapa kau jadi diam saja! Bebb!!!" desaknya yang terus memukul-mukul kencang dada Devan yang sudah terbuka. Karena beberapa kancingnya ternyata sudah terlepas.


Devan menarik nafasnya dalam, lalu mengangguk pelan dengan kepala masih tertunduk bagaikan seorang anak kecil yang sedang di marahi oleh sang ibu karena ketahuan melakukan kesalahan. Tapi bila di pikir-pikir, itu bukanlah sebuah kesalahan. Silvia adalah istri sahnya juga, dan sesuatu yang wajar jika ia pun mencintainya.


"Iya! Maafkan aku Cath, aku memang mencintai Silvia..." lirihnya pelan, namun masih jelas terdengar oleh mereka berdua.


Perlahan Devan mengangkat wajahnya menatap wajah wanita yang selalu ada di hatinya, yang mungkin hati wanitanya tengah terluka karenanya. Sebab Devan yang tak bisa penuhi akan janji setianya. Tapi Devan pun tak bisa terus membohongi dirinya sendiri, jika ia memang mencintai istri pertamanya itu.


Hatinya kini benar-benar telah terbagi menjadi dua. Untuk istri pertamanya, cinta yang tak pernah ia duga-duga sebelumnya. Dari rasa benci tiba-tiba saja berganti jadi rasa sayang yang teramat besar.


Cathrine tercengang, tatapannya getir lantas ia menggeleng tak terima.


Begitupun dengan Silvia yang lantas mendongak menatap Devan dengan tatapan tak percaya. Perlahan senyum kecil pun terukir cantik di bibirnya. Silvia lekas memalingkan wajahnya ke samping untuk menutupi pipinya yang kini sudah bersemu merah. Tersanjung.

__ADS_1


Plaaakk


Cathrine menampar keras pipi kiri Devan lantas ia berlari cepat pergi ke kamarnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sakit hatikah Cathrine?


Silvia menatap nanar kepergian Cathrine. Tak sangka ini seperti kejadian dirinya di lima tahun lalu. Ya, dimana ketika itu Andy berselingkuh bersama Cathrine, dan membela Cathrine di depan matanya sendiri.


Ada kepuasan dalam hatinya, mungkinkah Tuhan telah menunjukkan kekuasaanNya, yang tanpa Silvia sadari dendamnya telah terbalaskan dengan tunai.


"Cath, Cathii..." teriaknya memanggil. Namun panggilannya tak ia gubris. Hanya terdengar suara pintu sajalah yang tertutup dengan sangat kencang.


Blaaamm!!


Devan menghembus nafasnya kasar. Lalu menarik rambutnya frustasi.


"Mandilah dulu dan dinginkan kepalamu, biar pikiranmu kembali tenang.." titah Silvia, yang kini ia sudah berdiri di samping Devan sambil menyedekapkan kedua tangan di dadanya.


Devan menoleh lantas memincingkan matanya menatap istri pertamanya yang kini sudah tersenyum meledeknya.


"Ini semua gara-garamu!" ketusnya.


"Loh kok jadi gara-garaku sih?" Silvia melototkan matanya tak terima.


"Iya itu gara-garamu, karena.." Devan menggantung ucapannya sejenak untuk mendekati Silvia. "Karena kamu sudah berani menggodaku..." bisiknya pelan di telinga Silvia.


Silvia melotot lagi. "Aku tak menggodamu! Kau saja yang emang keganjenan!" gerutunya. Wajahnya memerah kesal.


Devan lantas terkekeh geli. Hatinya kembali menghangat hanya melihat sikap Silvia kembali seperti biasanya. Akan marah bila ia goda.


"Aku mau mandi dulu, nanti kita siapkan makan malam bersama ya..." alih Devan, seraya mengusap puncuk kepala istrinya.


"Terimakasih, karena mau bertahan tinggal di sisiku..." ucapnya lagi dengan bibir yang tak lepas dari senyuman.


Devan pun lekas ke kamar mandinya dengan membawa handuk di tangannya.


Silvia mencebik bibirnya, setelah Devan masuk dan menutup kamar mandinya. "Aku bertahan begini, itu karena kedua orangtuamu yang sudah baik padaku..." timpalnya pelan.


Selang beberapa menit kemudian, setelah mandi dan memakai piyama tidurnya. Devan pun membantu Silvia untuk menyiapkan makan malam bersama di meja makan seperti janjinya tadi.


Sebelum ia kembali ke kamar Cathrine. Devan memang sengaja tak ingin menemuinya dulu. Ada yang bilang. Bila terjadi saat badai kencang. Menjauhlah atau bersembunyilah, dan biarkan badai itu mereda dengan sendirinya. Badai memang tak bisa di hentikan bila kita memaksa menerjangnya tapi tunggulah beberapa saat hingga cuaca buruk itu kembali tenang. Begitulah juga seorang pria bila menghadapi wanita yang sedang dalam suasana hati yang buruk.


"Kenapa kau tak membawanya tinggal di Villamu?! Bukankah dulu kau katakan ingin memberikan Villa itu padanya setelah menikahinya?" tanya Silvia heran.


Devan menoleh pada istri pertamanya yang sedang menata piring bersih di meja makan.


"Cathrine sedang hamil, aku tidak bisa meninggalkannya sendirian disana... Lagipula, jarak Villa ke tempat kerjaku kan sangat jauh... Aku takut bila terjadi apa-apa dengannya..." ucap Devan.


"Tapi kamu kan bisa carikan dia pembantu untuk temani dia. Seperti aku waktu itu yang hanya di temani oleh Bi Sari saja..." ujar Silvia lagi.


"Tetap itu tidak bisa Silvia, karena_"


"Kamu begitu mengkhawatirkannya ya sampai kamu tak ingin pergi jauh darinya... Kamu bahkan dulu tega meninggalkanku sendirian Mas!" Silvia menyelanya dengan sedikit sindiran, dan itu berhasil membuat hati Devan seperti tercubit ngilu. Devan menarik nafasnya dalam.


"Maafkan aku yang dulu ya, sekarang aku berjanji tak akan meninggalkanmu..." ucap Devan yang sudah sangat menyesali sikap bodohnya dulu. Devan pun mendekat dan ingin mengecup lagi kening Silvia. Tetapi Silvia buru-buru menghindarinya.

__ADS_1


"Sudah pukul delapan malam, sebaiknya kau panggilkan istrimu untuk makan bersama kita. Aku tak mau ya, sampai dia melihat kita begini lagi, dan jadi marah-marah tak jelas padaku." cebiknya.


"Baiklah..." Devan mengangguk menuruti perkataan Silvia, lalu ia berbalik hendak ke kamar atas untuk menyusul istri keduanya. Tetapi, ternyata Cathrine sudah berdiri di depan pintu ruang makan.


Sontak Devan terkejut melihat penampilan Cathrine yang sangat menantang, dan mampu membuat goyah iman seorang pria normal. Malam itu dengan beraninya Cathrine memakai lingerie merah menerawang dengan menampakkan jelas belahan buah dadanya juga memperlihatkan kedua kaki putih dan jenjang miliknya, di depan suaminya dan juga kakak madunya sendiri yang hanya memakai piyama tidur biasa saja.


Silvia mendelik, sementara Devan beberapa kali tampak menelan ludahnya yang mata hitamnya tak lepas memandang sang istri kedua.


"Sayang... Aku lapar sekali, kenapa kau tak mengajakku makan sih?!" dengan manja Cathrine menghampiri lalu melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya seraya mengecup singkat di bibir suaminya di depan Silvia.


Devan sontak membulatkan matanya seketika. Lantas melepas pelan tangan Cathrine di lehernya, tergugup karena adegan itu juga di lihat oleh istri pertamanya.


"Em, Cath... Barusan saja aku mau menyusulmu ke atas..." Devan tersenyum kikuk, dia benar-benar bingung kenapa cepat sekali Cathrine berubah cuacanya. Devan pikir Cathrine masih marah padanya soal tadi.


"Ayo kemarilah kita duduk dan makan bersama..." Devan lekas menarik pelan tangan istri keduanya dan menuntunnya untuk duduk di kursi.


Silvia pun ikut duduk dan memilih duduk di depan mereka. Kini mereka bertiga makan bersama di meja makan yang sama. Jujur saja, tiba-tiba Devan merasakan canggung dan tegang yang tak berujung. Di satu sisi Cathrine yang begitu agresif terus menggodanya mengecup pipi dan mengusap dagu Devan di sela-sela makannya.


Sedang Silvia yang berpura-pura acuh tak memperdulikan mereka. Tetapi hati Devan seolah tak tenang melihatnya.


"Makanlah yang banyak Cath, supaya tak gampang sakit, lalu setelahnya kamu istirahat supaya besok bangunnya lebih segar..." alih Devan untuk menghilangkan kegugupannya.


"Ini belum terlalu malam, buat apa sih menyuruhku cepat tidur? Lagian ini kan malam pertama kita sayang..." Cathrine merenggut kesal. Karena Devan tak mengerti dengan kode yang sudah Cathrine perlihatkan sejak tadi.


Devan menghela nafasnya dalam. Saat ingin menjawab perkataan Cathrine, tiba-tiba saja ponselnya berdering nyaring.


Devan lekas merogoh ponselnya di saku piyamanya lalu segera mengangkat teleponnya.


"Hallo..."


["....."]


"Iya... Benar..." Devan terbelalak, lantas matanya berkaca-kaca haru. "Alhamdulillah... Terimakasih Pak..."


Devan kembali menutup ponselnya dan beranjak dari kursi. Silvia dan Cathrine pun menatap suaminya penuh tanya.


"Em, kalian berdua tidurlah duluan... Aku ada urusan penting..." ucap Devan pada dua istrinya yang melohok menatapnya.


"Mau kemana sih? Tapi kan ini malam pernikahan kita Beb..." rengek Cathrine yang ikut berdiri. Seketika wajahnya berubah cemas dan kesal jadi satu.


"Maaf Cath, tapi ini benar-benar penting sekali... Sudah ya aku tak bisa lama-lama... Aku pergi dulu..."


Devan tak ada waktu untuk meladeni Cathrine. Dia pun gesit memakai jaketnya, juga mengambil kunci mobil. Lalu bergegas pergi keluar.


Cathrine mendengus kasar. Menghentakkan kakinya dengan kesal. Karena ia pikir malam ini akan menjadi malam yang nyata buatnya, malam terindahnya untuk memadu kasih bersama suaminya.


Sementara Silvia terkikik geli, menahan tawanya. Merasa prihatin melihat Cathrine yang di acuhkan Devan padahal penampilannya sudah sangat cantik menggoda. Tapi sayang malam itu ia tak bisa di nikmati...


Bersambung....


...****...


Kira-kira telepon dari siapa ya? Devan sampai buru-buru ingin pergi?? ada yang bisa menebaknya??

__ADS_1


Yuk sambil menunggu lanjutan kisah Silvia, Devan dan Cathrine, mari mampir ke cerita teman author Alinatasya21. Siapa yang penasaran langsung cus ajaaa oke,!



__ADS_2