
...BAB 47...
...Jalanilah Hidup Masing-Masing...
"Aaaw..."
Devan mendesis menahan rasa sakit di sudut bibirnya, luka lebam akibat pukulan kencang Indra tadi, perlahan ia tekan-tekan dengan menggunakan es batu.
Walau sudah berusia hampir memasuki kepala enam. Tapi fisik Indra masih tetap kuat dan bugar. Devan akui, Ayahnya memang jago dalam hal berolahraga tinju.
"Sini biar aku obati lukamu..." Silvia tak bisa diam saja saat melihat Devan yang mengobati lukanya sendirian. Dia mengambil alih es batu di tangan Devan dan duduk di sampingnya. Membantu mengobati luka-luka di wajah suaminya.
"Terimakasih..." ucapnya seraya menundukkan wajah merahnya, yang sebenarnya Devan masih merasa malu terhadap Silvia, setelah semua keluarganya tahu jika dirinya sudah menghamili Cathrine.
"Jadi... kau tetap akan menikahinya?" tanya Silvia, membuka pembicaraan setelah mereka lama saling terdiam.
Devan menatap Silvia sejenak, lalu menghela pelan nafasnya dan mengangguk kecil. Matanya menatap kosong ke depan.
"Iya, tentu aku akan menikahinya. Karena dia sedang hamil anakku..." ujarnya pelan, yang begitu yakin jika Cahtrine tengah mengandung anaknya.
"Apa kau benar-benar yakin jika Cathrine sedang hamil?" tanya Silvia lagi, masih meragukan akan perkataan mereka.
"Kami sudah pernah ke Rumah Sakit dan dia memang di katakan sedang hamil." ungkap Devan. Tentunya ia sangat yakin sekali, karena tidak mungkin kalau suster yang memeriksanya berkata bohong padanya.
Silvia menghentikan gerak tangannya yang mengoles sudut bibirnya Devan dengan obat luka. Tiba-tiba saja ia terpaku dan sedikit shock mendengarnya.
Berarti itu benar, Cathrine sedang hamil... gumamnya di hati. Matanya berkaca-kaca. Entah kenapa dada Silvia mendadak terasa sesak.
"Kenapa jadi diam?!" Devan mengerutkan keningnya terheran melihat Silvia yang malah jadi melamun.
Seketika Devan mengerti dengan perasaannya, ia pun perlahan meraih tangan Silvia dan menggenggamnya dengan lembut. Sontak itu membuat Silvia terkejut dan mendongak menatapnya.
"Maafkan aku, sudah mengecewakanmu... Tapi kamu tak perlu khawatir, walau nanti aku sudah menikahi Cathrine, aku akan tetap bersikap adil pada kalian berdua. Mungkin aku memang terlihat serakah. Tetapi aku benar-benar mencintai kalian berdua, Cathrine dan juga dirimu Silvia. Kau sudah masuk ke dalam relung hatiku... Percayalah, aku benar-benar tulus mencintaimu..." ucapnya dengan tatapan yang sendu dan dalam.
Silvia semakin berkaca-kaca lantas menggeleng cepat kepalanya lalu tertunduk dalam. "Tidak, maafkan aku Mas... Jujur saja aku belum bisa menerima pernikahanmu dengannya! Kenapa kau sama sekali tidak merasa ada yang aneh pada dirimu itu, Mas?! Bukankah saat itu kamu bilang, kau tak menyadari saat meniduri Cathrine?!" Silvia mengerutkan keningnya menatap tajam pada Devan, mencoba mengingatkan perkataannya itu lagi.
__ADS_1
Devan mengernyit, sejenak ia merenung dengan perkataan yang di sampaikan Silvia padanya.
"Coba Mas bayangin ya... Mana ada dalam sekali hubungan, apalagi hubungan yang tidak pernah Mas sadari sekalipun. Apa bisa ya membuat wanita itu langsung bisa hamil! Ini aneh loh Mas!" Silvia tak berhenti membantu agar lelaki bodoh di depannya itu bisa berpikir dengan jernih.
Silvia tiba-tiba saja teringat saat terakhir kalinya ia memeriksakan kakinya bersama Dini dan dia tak sengaja pernah melihat Cathrine masuk ke ruang poli kandungan, dan waktu itu belumlah lama jaraknya semenjak Devan menginap di apartemen Cathrine.
Silvia merasa yakin sekali bahwa ada yang tak beres dengan kehamilan Cathrine. Apakah mungkin Cathrine sengaja ingin menjebak Mas Devan? Banyak sekali praduga aneh yang muncul di pikirannya.
Devan menarik nafasnya lagi. "Silvia, aku tahu kamu masih tak terima dengan keputusanku ini. Sehingga kamu mencari-cari kesalahan Cathrine, dan menuduhnya berbohong dengan kehamilannya, agar aku tidak jadi menikahinya begitu 'kan maksudmu?!"
Silvia tersentak, tak sangka Devan malah balik menuduhnya. "Bu-bukan begitu Mas! Aku hanya ingin kamu berpikir dulu sebelum membuat keputusan. Kamu harus tahu pasti kebenarannya, dan jangan asal yakin dulu kalau Cathrine hamil anakmu..."
"Sudahlah Silvia! Aku yakin sekali, jika Cathrine itu mengandung anakku. Tolong jangan pengaruhi aku lagi dengan kecurigaanmu yang tak masuk akal itu. Dia adalah wanita yang paling baik dan jujur yang pernah kutemui!" sergahnya, yang tak ingin terhasut dengan ucapan Silvia.
Entah mengapa Devan tak menyukai Silvia yang menjelek-jelekkan kekasihnya. Cathrine adalah cinta pertamanya dan selamanya Devan ingin selalu mencintainya.
Silvia menelan ludahnya kasar. Lalu menghela nafasnya kencang. "Ya sudah, kalau memang begitu menurutmu, aku tidak akan mengatakan apapun lagi padamu. Terserah kamu mau melakukan apapun Mas. Aku sudah tak mau perduli lagi... Dan untuk mulai sekarang lebih baik kita jalani hidup masing-masing saja." ujarnya yang lalu Silvia berdiri hendak pergi.
Devan lekas menarik cepat tangan Silvia yang ingin pergi. "Apa maksudmu berkata begitu? Kau tidak akan berniat meminta cerai dariku lagi 'kan?!" tanyanya tiba-tiba saja hatinya jadi cemas. Silvia akan meminta bercerai padanya.
"Kamu pikirkan saja sendiri! Apakah keberadaanku ini sangat penting bagimu? Jika iya, kamu pasti akan menghargai dan memikirkan apa pendapatku!" tegasnya, yang lalu Silvia berjalan cepat mendekati tempat tidur. Memilih untuk tidur duluan untuk mendinginkan hati dan pikirannya agar terhindar dari pertengkaran bersama suami bodohnya.
Ternyata apa yang di katakan Papa Indra benar. Devan memang kelewat bodoh. Sehingga dia gampang sekali tertipu orang, dan Devan memang tak bisa membedakan mana orang yang baik dan mana yang buruk.
****
Keesokan harinya setelah ia pulang menemui Cathrine di Cafe malam. Andy bergegas menaiki motor sport nya dan meluncur pulang ke kontrakannya setelah waktu menunjukkan pukul dua belas malam.
Ketika di perjalanan pulang ia melihat ada yang aneh dari pengendara motor lain di belakangnya, dengan melihat di kaca spion motor miliknya. Karena merasa selalu di ikuti, Andy pun mempercepat laju motornya dengan kecepatan tinggi.
Tibalah di tempat yang sepi, dia menepi dan bergegas bersembunyi di balik pohon yang besar meninggalkan motornya di tepi jalan. Dan benar saja, tak lama pengendara motor tadi yang membuntutinya pun muncul, tingkahnya sangat mencurigakan. Dia ikut berhenti di sana dan kepalanya menengok kanan kiri, seperti memang tengah mencari-cari Andy.
"Siapa kau? Kenapa kau terus saja mengikutiku dari tadi?" Andy muncul dan berteriak kencang di belakangnya. Dia pun terperanjat kaget.
Tak berhenti di situ, Andy menarik kerah jaket lelaki penguntit itu ke arahnya. "Katakan padaku siapa kau dan apa maumu?" bentaknya kasar. Tepat ia bicara di depan muka si lelaki.
__ADS_1
Lelaki itu sedikit tergugup, wajahnya memucat. Sebab ia sudah ketahuan telah mengikuti Andy selama ini. Lantas ia memegang erat kameranya di dalam jaket yang ia pakai.
"Heh, apa kau tuli?! Siapa kau dan apa tujuanmu mengikutiku terus hah?!" sentaknya lagi, kasar.
Andy sangat geram karena lelaki itu tetap saja bungkam, tak mau bicara, yang akhirnya Andy emosi lalu memukul wajah lelaki itu berkali-kali.
Bugh
Bugh
Bugh
Tubuh lelaki itu tergeletak lemah di tanah setelah mendapat serangan dari Andy tanpa ada perlawanan, dan bersamaan itu pun suara benda terbentur keras terdengar di balik jaketnya. Andy mengernyit. Lalu kembali mendekati. Menarik jaket dan membukanya. Mata Andy terbelalak kaget, dia melihat ada handycam di balik jaket lelaki itu.
"Apa ini?"
Lelaki itu menggeleng lemah dengan wajah yang sudah di penuhi luka berdarah. Andy semakin penasaran. Lantas ia membukanya dan melihat semua isi video yang di rekam oleh lelaki itu. Andy semakin mengerutkan keningnya, bertambah geram saat tahu semua di video itu adalah gambar dirinya sendiri. Lalu terakhir kali, ia melihat rekaman video dirinya bersama Cathrine di sebuah cafe.
Andy semakin curiga dan terus memaksanya untuk membuka mulut. "Heh, siapa yang telah menyuruhmu untuk membuntutiku hah?" bentaknya lagi. "Jawaab kataku!" Andy menendang perutnya keras. Namun lelaki itu tetap bungkam, hingga kesabaran Andy tak bisa lagi di atasi.
Braaak
Andy menghancurkan handycam milik lelaki itu hingga hancur berkeping-keping. Lalu ia menyeret tubuh lelaki yang sudah tak berdaya itu dan di tendangnya hingga jatuh berguling ke bawah jurang yang tak jauh disana.
Andy menyeringai puas. "Heh, mau main-main denganku rupanya!"
Tak ingin jejaknya di ketahui orang. Lantas ia pun mendorong motor lelaki tadi dan menjatuhkannya ikut ke jurang. Hingga beberapa menit kemudian motor itu meledak dan mengeluarkan api yang lumayan besar.
Bersambung....
...****...
Sambil menunggu lanjutan ceritanya boleh mampir di cerita temanku ini yukk siapa tahu suka 🥰🥰🥰
__ADS_1