Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Siapakah Wanita Itu?


__ADS_3

...BAB 50...


...Siapakah Wanita Itu?...


Devan telah sampai Rumah Sakit, setelah mendapat kabar dari polisi bahwa Dani sudah di temukan oleh warga yang tinggal tak jauh dari tempat kejadian, tadi sore. Devan tak berhenti bersyukur, dia pikir dia akan kehilangan orang yang selalu menemani dan membantunya dalam pekerjaannya selama ini. Walau pekerjaannya terlihat sepele tapi Devan tak bisa bila tanpa Dani.


"Ya Tuhan... Dan, kenapa kau bisa begini...?" lirih Devan sesegukan, seketika ia panik melihat tubuh Dani sudah terbaring lemah di atas ranjang kamar Rumah Sakit dengan sebagian wajah dan tubuhnya yang tertutupi oleh perban.


Kata Dokter yang merawat Dani. Dani mengalami luka parah seperti bekas pukulan orang di bagian wajah dan sebagiannya lagi terluka bakar akibat terkena ledakan motornya sendiri. Devan pun tercengang mendengarnya, ia pikir Dani murni kecelakaan motor tapi ternyata dia telah di celakai orang.


Dani menyungging senyum tipis di bibirnya yang masih pucat kebiru-biruan, melihat Bosnya yang terlihat khawatir kepadanya.


Lalu Devan menarik kursi dan duduk di samping lelaki muda yang baru saja berusia dua puluh lima tahun itu.


Tubuhnya bergetar menatap prihatin pada Dani, Devan semakin merasa bersalah pada dirinya sendiri. Tak seharusnya dia menugaskan Dani dengan pekerjaan yang sangat berat. Mungkin kejadian ini tidak akan pernah menimpanya.


Dani bekerja sebagai kaki kanan Devan sudah hampir lima tahun lamanya, karena saat itu Dani sangat membutuhkan sekali pekerjaan. Dani sudah tak punya lagi orangtua semenjak usianya menginjak tujuh belas tahun. Sementara dia juga masih memiliki kedua adiknya yang perlu dia nafkahi juga di sekolahkan. Kedua adik perempuan Dani yang sekarang masih duduk di kelas delapan SMP dan satunya lagi di kelas lima SD.


Tak ada pekerjaan lain yang bisa Devan berikan untuknya selain menjadi bawahannya sendiri, karena Devan tahu Dani sama sekali tak punya ijazah, boro-boro ijazah S1 bahkan SMA pun dia tak punya. Karena terpaksa ia harus berhenti sekolah, untuk mencari biaya hidupnya dan juga kedua adik perempuannya tersebut.


"Tu-Tuan Devan..." ucapnya terbata-bata.


Tangannya terangkat menggapai tangan Bosnya di sisinya tidur. Devan pun lekas meraih tangan Dani dan menggenggamnya erat namun lembut.


"Iya Dan... Katakan padaku siapa yang telah melakukan ini padamu?" angguk Devan sigap mendengarkan yang Dani sampaikan, perasaannya masih di hinggapi rasa bersalah karena telah membuat Dani dalam bahaya seorang diri.


"Lelaki itu Tuan... Dia telah mengetahui bahwa aku sudah memata-matainya.." ungkapnya, dengan nafasnya yang tersengal-sengal berat. Dani ingin sekali cepat-cepat menyampaikan sesuatu yang penting pada Bosnya itu.


"Ja-jadi dia yang telah melakukan ini padamu? Lelaki keparat itu?!" pekik Devan, seketika rahangnya mengeras, giginya pun saling beradu menahan amarah dan dendam di hatinya untuk Andy.


Dani mengedipkan pelan matanya sebagai jawaban, sebab kepalanya masih terasa sakit dan pusing sekali untuk ia gerakan.


"Kurang ajar, lelaki itu memang harus aku laporkan ke polisi!" geramnya yang hendak berdiri karena emosi, tangan-tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Namun Dani segera menahan tangan Devan untuk tak gegabah mengambil keputusan.


"Tuan! Tunggu dulu... Jangan dulu anda laporkan kasus ini. Jika Tuan laporkan begitu saja, otomatis lelaki itu akan tahu jika selama ini saya adalah suruhannya anda Tuan..." ucap Dani dengan nafasnya yang naik turun ia mencegah Devan agar berpikir dulu sebelum bertindak.


Devan mengernyitkan dahinya berpikir. Sepertinya apa yang di katakan Dani padanya ada benarnya jika dia melaporkannya ke polisi dulu otomatis Andy tahu bahwa dialah yang telah membuntutinya selama ini. Sementara Devan pun belum punya bukti banyak mengenai tentang Andy, apa motifnya selama ini mendekati Silvia? Tetapi Devan pun sudah tak tahan ingin menghukum lelaki itu secepatnya.


"Sebelumnya saya ingin minta maaf padamu Tuan, saya tidak bisa menyelamatkan bukti rekaman itu. Handycam beserta micro-Sd card semua juga ikut hancur terbakar bersama motor saya Tuan..." terangnya.


Sebelum Dani pingsan dan tak sadarkan diri, Dani merangkak sekuat tenaganya untuk menjauhi motor yang terguling di atasnya, samar ia melihat Andy juga melempar kepingan handycamnya ke jurang dan ikut meledak bersama motor miliknya.


Devan menggeleng cepat. "Sudah! Lupakan soal rekaman itu, kau tahu nyawamu itu lebih penting dari apapun. Apa yang harus aku katakan pada kedua adikmu jika nyawamu tak selamat, Dan?!" sahutnya tegas, yang justru Devan sangat mencemaskan nyawa Dani.


Dani menitikkan air matanya, mendengar penuturan Devan. Seketika ia teringat akan kedua adiknya yang masih membutuhkan dirinya. Yang entah bagaimana nasib mereka jika saja malam itu dirinya sudah mati terbakar.


"Terimakasih banyak Tuan, tetapi rekaman itu juga lebih penting untukmu..." kilahnya lagi.


Devan menoleh menatap Dani yang kini juga menatapnya dengan serius.


"Wa-lau bukti rekamannya sudah hangus terbakar, tetapi saya masih ingat dengan perkataan lelaki itu. Anda harus berhati-hati padanya Tuan. Karena... Saat ini dia dan teman wanitanya tengah berniat buruk pada istri anda..." ungkapnya lagi.

__ADS_1


Deg


Jantung Devan seolah berhenti berdegup. Menatap Dani tak percaya.


"Istriku?!" gelagapnya terkejut. "Silvia?!"


Dani mengedipkan lagi matanya perlahan. "Ya Tuan... Nyonya Silvia, sepertinya mereka berdua sudah sangat mengenal istri anda..."


"Apa kau masih ingat wajah wanita yang bersama lelaki itu? Siapa dia?" tanya Devan, mengernyitkan dahinya penasaran.


Dani menggeleng kepalanya dengan pelan, lalu ia menoleh ke atas, matanya menatap lamat langit-langit kamar dimana ia berbaring saat ini.


Dani mengingat lagi kejadian saat malam sebelum ia di hajar habis-habisan oleh Andy. Saat itu, Dani melihat Andy bertemu dengan seorang wanita di sebuah Cafe. Tapi sayangnya Dani tak mengenali wanita yang di temui Andy. Karena wanita itu memakai penutup kepala, kacamata hitam juga maskernya.


Namun Dani masih ingat dengan perbincangan mereka yang sedang menyusun rencana jahat untuk Silvia.


"Sekarang saya sarankan, lebih baik Anda memikirkan keselamatan istri Anda. Karena yang ku dengar jelas, mereka tengah merencanakan sesuatu yang buruk pada istri anda. itu artinya, Nyonya Silvia dalam bahaya.. Jaga istri Anda baik-baik Tuan..." pesan Dani.


Selama di perjalanan pulang dari Rumah Sakit. Devan tak berhenti gelisah memikirkan apa perkataan Dani.


"Siapa kira-kira wanita yang ditemui lelaki itu? Apakah dia mantan sahabatnya Silvia?" gumamnya yang semakin diliputi oleh rasa penasaran. Asal menebak saja, karna ia hanya mengingat akan cerita masalalu Silvia soal mantan kekasih dan sahabatnya telah mengkhianatinya.


****


Silvia terbangun pagi itu, sontak ia terkejut melihat tangan kekar suaminya yang sudah berada di atas perutnya. Ternyata malam itu Silvia tak menyadari kepulangan Devan.


Silvia mengernyit, tanya. Kenapa suaminya itu bisa tidur di kamarnya? Bukankah seharusnya dia tidur bersama istri keduanya. Secara, mereka berdua baru saja menikah kemarin.


"Mas... Mas, ayo bangun... Ini sudah pagi. Apa kamu tidak ingin berangkat ke kantor?"


Devan menggeliatkan tangannya. "Jam berapa ini?" tanyanya dengan suara serak sehabis bangun tidur.


"Ini baru setengah lima kurang. Ayo kita sholat subuh dulu..." sahut Silvia mengingatkan.


Devan membuka matanya perlahan lalu bangkit dari tidur. Lalu ia menatap lembut pada istrinya seraya mengusapi pipinya dan melemparkan senyuman manisnya. Silvia mengerutkan dahinya bertanya-tanya.


"Kenapa tersenyum-senyum begitu padaku? Apa kamu tidak lihat Mas, sekarang kamu itu sedang tidur dimana?" sindirnya, matanya mendelik heran.


Devan melongok, dia bahkan lupa kalau dirinya sudah menikahi Cathrine. Lantas ia mengusap wajahnya dengan kasar. Barulah ia tersadar, setelah pulang menengok Dani, ia tak berhenti terus memikirkan Silvia dan entah mengapa ia jadi ingin terus berada di sampingnya. Hingga tak sadar bahwa semalam itu Cathrine terus menunggu kepulangannya.


Benar saja tak lama terdengar suara ketukan keras di pintu.


"Mas, Massss.... Buka pintunya!" teriak Cathrine kencang di balik pintu kamar mereka.


Silvia mendengus kasar. "Tuh, kan pasti dia salah paham lagi..." cebik Silvia.


Devan menghela nafasnya kencang, lantas ia turun dari tempat tidur dengan malas. Membuka pintu kamarnya memang sengaja ia kunci dari semalaman.


Cathrine kembali berang, setelah tahu suaminya malah tidur di kamar kakak madunya. Padahal dia dengan setia menunggu kepulangannya semalaman tadi, hingga tubuhnya menggigil karena tak ingin melepas pakaian dinas malamnya.


"Kenapa malah tidur di sini sih?! Tega ya, kamu ninggalin aku tidur sendirian!" sungutnya kesal.

__ADS_1


"Maafkan aku Cath, malam tadi Mas kecapean sekali dan tak sengaja tidur di kamar Silvia..." ucap Devan seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Bohong! Kamu memang sudah lupain aku! Ingat ya Mas, sekarang ini aku lagi hamil anakmu. Harusnya kamu lebih memperhatikanku daripada dia!" timpalnya lagi dengan bersungut-sungut kesal. Menunjuki Silvia yang masih duduk di tepi kasur sambil menahan tawanya.


"Iya-iya aku mengaku salah. Maafkan Mas ya, Mas benar-benar lupa. Sudah jangan teriak-teriak lagi, ini masih pagi nggak enak terdengar sama pembantu..." bisik Devan menenangkan Cathrine.


Devan mengerti kondisi wanita hamil dari membaca artikel kehamilan, mudah tersinggung dan sensitif jadi Devan sebisa mungkin akan lebih sabar menghadapi istri keduanya itu. Cepat-cepat Devan membawa Cathrine kembali ke kamarnya.


Silvia menghembus nafasnya setelah kepergian mereka. Lalu ia bersiap mandi dan menjalankan dua rakaatnya. Namun ketika ia ingin masuk ke kamar mandi. Cathrine kembali ke kamarnya.


"Mana pakaian kantor suamiku? Cepat keluarkan dan berikan padaku. Untuk saat ini dan seterusnya biar dia mandi di kamarku saja!" perintahnya, yang tanpa sadar jika posisinya adalah istri kedua. Seharusnya dia lebih menghormati Silvia.


"Hei mana adab sopan santunmu, Cath? Nggak sangka lima tahun lamanya kita tak bertemu, kau sudah banyak berubah ya... Bahkan kau seperti orang yang tidak sekolah saja." sindir Silvia seraya menggelengkan kepala.


Cathrine berdecak sinis dan tak acuh.


"Sudah jangan banyak bicara, dan sok menasehatiku! Cepat berikan pakaian suamiku!" titahnya lagi seraya menyedekapkan tangannya.


Silvia lantas membuka lemari pakaian suami mereka. "Ambillah sendiri, sekarang kaulah yang pilih pakaian suami kita." titahnya.


Cathrine mengerutkan keningnya, sontak ia jadi ragu untuk memilih pakaian kantor Devan, karena itu baru pertama kalinya dalam seumur hidupnya.


"Aku tidak tahu yang mana akan dia pakai hari ini! Jadi berhentilah menguji kesabaranku Silvia! Cepat ambilkan dan jangan mengulur-ngulur waktuku!" perintahnya lagi dengan geram.


Silvia tersenyum santai. Lalu mengambil stelan kantor suaminya dengan sigap dan cekatan. "Ini, ingat-ingat ya ini pakaian kantor Mas Devan untuk di pakai di hari Rabu..."


Cathrine pun melengos pergi setelah ia dapatkan apa yang ia mau, tanpa mengucap terimakasih pada Silvia.


Silvia hanya menggeleng kepalanya yang tak habis pikir melihat perubahan Cathrine. Tak sangka orang yang pernah ia sayangi dulu sekarang bak anjing betina liar yang siap menggigitnya kapanpun.


Pukul tujuh pagi, Devan pun bersiap berangkat ia pamitan pada kedua istrinya yang terlihat seperti akur di depannya. Namun yang sebenarnya, di hati mereka masih menyimpan rasa dongkol, akibat konflik masalalu yang ternyata belum juga usai hingga sekarang.


Beberapa menit kemudian setelah kepergian Devan. Silvia pun bersiap diri untuk pergi ke tokonya. Kebetulan mobil yang telah ia beli kemarin pun telah di antarkan dealler.


"Non, Non itu mobilnya udah dateng wahh... Keren Non..." Bi Sari berseru dari luar, tergopoh-gopoh menghampiri Silvia.


Sontak Cathrine yang berada di lantai atas pun mengerut keningnya, tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


"Benarkah Bi?!" Silvia dan Bi Sari pun lekas keluar rumah dan melihatnya.


Cathrine juga ikut melihatnya di atas balkon kamar. Matanya seketika melotot melihat mobil terbaru yang harganya lumayan mahal sudah ada di halaman rumah suaminya.


"Ini tidak adil, aku juga mau mobil itu!" pekiknya dengan wajah muram.


Bersambung...


...****...


Yukk sambil menunggu kelanjutan Silvia, ?mampir disini author bawa cerita keren temen author nih


__ADS_1


__ADS_2