
...BAB 56...
...Perpisahan...
"Non, Non nggak becande kan?! Nanti Bibi harus bilang ape ma Nyonya Dini kalau Non tiba-tiba pergi dari rumahnya?" isak Bi Sari sambil menyusut air matanya yang terus berhamburan keluar dengan ujung baju depannya.
Setelah Bi Sari membantu Silvia mengemasi pakaiannya ke dalam kopernya. Silvia memeluk erat Bi Sari seraya mengusap lembut pundak gemuk dan lebar itu.
"Bibi bilang saja apa adanya, kalau aku dan Mas Devan sudah tidak bisa melanjutkan pernikahan kami lagi. Sebelumnya, Silvia minta maaf ya Bi, jika pernah ada salah sama Bibi..." lirih Silvia bergetar.
Silvia melepas pelukannya, lantas mengusap pipi keriput Bi Sari yang sudah basah dengan air mata seraya menatap lekat dan sendu pada wanita paruh baya yang telah menemaninya selama pernikahannya bersama Devan.
"Sekali lagi maafin Silvia... Selama tinggal disini Silvia sering ngerepotin Bibi terus..." ucapnya lagi dengan isakan kecil di bibirnya.
Bibi Sari menggeleng cepat, dan kembali memeluk tubuh Silvia untuk terakhir kalinya, wanita muda yang juga telah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri.
"Bibik sama sekali nggak pernah di repotin same si Non, Bibi justru seneng bisa kenal dan deket ame Non Silvia... Bibi sebenarnya nggak rela Non Silvia pergi dari sini, jangan pergi ya Non..." isaknya lagi bertambah kencang. Meminta Silvia agar tetap di sini menemaninya.
Akhirnya tangis mereka kembali pecah, meluapkan semua kesedihan yang sudah tak terbendung. Perpisahan membuat hati keduanya rapuh, sebab nanti mungkin tak ada lagi yang bisa saling menguatkan.
Silvia memandang lagi dengan sendu kamarnya bersama Devan. Kamar yang pernah menjadi saksi bisu di antara mereka berdua, bahwa keduanya pernah saling cinta di tempat ini.
Sungguh, pertemuan yang singkat ini begitu berarti dalam hidup Silvia. Silvia berjanji tak akan pernah melupakan orang-orang baik seperti mereka. Bi Sari, Mama Dini juga Papa Indra. Orangtua dari seorang Pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.
Silvia tak menyangka, jika dirinya akan bercerai dari Devan. Pria yang selalu ia kagumi dalam diam. Ah, seandainya saja Silvia bisa lebih dulu berjumpa dengan Devan. Kisah cinta mereka mungkin tak akan serumit ini.
Silvia kembali mengusap air matanya lalu keluar dari kamar, dan melangkah menuruni anak tangga setelah menutup rapat pintu kamarnya. Dengan hati-hati Silvia mengangkat kopernya di bantu oleh Bi Sari dari samping belakangnya.
Pagi pukul delapan, hari Sabtu itu. Dia memutuskan untuk tak tinggal lagi di rumah mertuanya yang sebentar lagi juga menjadi mantan mertuanya. Karena semalam Devan sudah mengabulkan permintaannya untuk bercerai darinya.
Langkah Silvia terhenti ketika ingin melewati ruang makan. Ternyata Devan dan Cathrine sudah bangun sejak pagi. Keduanya tengah menyantap sarapan bersama tanpa mengajaknya, tidak seperti hari biasanya Devan lakukan jika Silvia selesai bersih-bersih kamar mereka.
Pertengkaran semalam yang berakhir dengan perpisahan, ternyata membuat Devan jadi melupakan kebiasaannya. Ataukah, memang dia sudah enggan untuk menyapa dirinya?
Cathrine yang terlihat penuh perhatian, mengusapi sudut bibir suaminya dengan tissue, sontak saja terkejut dan melihat Silvia yang menggeret koper besarnya yang melewati pintu ruang makan. Semalam ia memang tak tahu kalau Devan dan Silvia tengah bertengkar hebat.
Silvia menghela nafasnya dalam, menatap nanar pada Devan yang sama sekali tak ingin memandanginya, padahal Silvia tahu jika barusan Devan tengah meliriknya sekilas.
Sebelum pergi, Silvia melangkah mendekati mereka berdua di meja makan.
"Mas, aku pamit... Jaga dirimu baik-baik ya... Aku titip salam untuk Mama dan juga Papa kalau mereka sudah pulang. Se-sebelumnya aku ingin minta ma_"
"Pergilah, aku tidak ingin lagi mendengar suaramu. Pergilah yang jauh, dan jangan lagi memperlihatkan dirimu di depanku!" Devan memotong cepat ucapan Silvia dengan sikap dinginnya. Lagi yang tanpa melihat ke arah Silvia.
Dingin sekali seperti berada di dalam ruangan pendingin. Hingga tubuh Silvia terasa menggigil dan ikut membeku disana.
Silvia meneguk kasar ludahnya. Lalu mengangguk dengan cepat. "Iya, baiklah aku pergi sekarang..." Silvia menunduk dan kembali berbalik menarik kopernya. Lalu melangkah pergi keluar pintu rumah di ikuti oleh Bi Sari dari belakangnya.
Cathrine masih terkejut heran dengan perlakuan Devan pada Silvia.
__ADS_1
"Ada apa? Mau kemana dia membawa kopernya?" tanyanya pada suaminya yang terlihat wajahnya memerah kesal.
Devan tak menghiraukan pertanyaan istri keduanya. Dia cepat-cepat menuntaskan sarapan sandwich dan juga jus buahnya. Menu sarapan yang biasa dia makan sebelum hadirnya Silvia dalam hidupnya.
Semenjak dia hidup bersama Silvia, menu sarapan selalu tampak spesial di matanya. Nasi goreng, nasi uduk, bubur ayam, lontong sayur. Pasti esok dan selamanya Devan akan sangat merindukan masakan tangan istri pertamanya itu.
Sekarang semua sudah tak berarti lagi, hatinya sudah terlanjur sakit dan hancur. Setelah mendengar pengakuan sang istri kalau dia benar berselingkuh di belakangnya.
Devan tak bisa menahan perih di hatinya, ia masih belum percaya jika istrinya berani menghianatinya.
"Aku sudah selesai makan, sekarang aku berangkat dulu. Kamu baik-baiklah di rumah..." ucap Devan setelah mengecup singkat kening Cathrine tanpa menjawab pertanyaannya barusan.
Devan pun bergegas pergi keluar rumah dan mengambil kunci mobilnya di atas meja makan. Kebetulan hari itu adalah hari sabtu jadi Devan berangkat tak terlalu pagi.
Cathrine mengernyit tak mengerti ada apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berdua. Dia bertanya-tanya sendiri. Sedang Devan tampak acuh atas kepergian Silvia di rumah itu.
"Apa mereka berdua sedang bertengkar? Ataukah mereka berdua sudah?!" gumamnya sendiri.
Sontak Cathrine membulatkan matanya semakin penasaran. Bibirnya menganga lebar, secepatnya dia harus segera mencari tahu apa yang sudah terjadi dengan hubungan mereka berdua?
****
Seketika asissten rumah tangga itu ingat jika Silvia belum sarapan, karena sejak pagi dia sibuk mengemasi barang-barang miliknya.
Silvia tersenyum menggeleng. "Tidak usah Bi, terimakasih banyak. Nanti saja di jalan, Silvia bisa cari makan sendiri. Silvia pamit pergi ya Bi... Assalamu'alaikum..." pamitnya lagi.
Mobil Silvia pun keluar dari gerbang, dan melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan. Beberapa menit kemudian, mobil Devan pun ikut menyusul keluar dari gerbang. Tanpa menyapa Bi Sari.
Bi Sari pun menggeleng pelan lalu menutup pintu gerbang itu rapat-rapat setelah melihat kedua majikannya yang pergi dengan kendaraannya masing-masing.
Bibi Sari melangkah masuk ke dalam rumah setelah mengantar Silvia sampai pintu gerbang. Dia terkejut mendapati Catherine yang sudah berdiri di ambang pintu rumah.
"Katakan padaku, ada apa dengan mereka Bi? Kau pasti tahu segala-galanya tentang mereka kan?!" tanyanya seraya menyedekapkan kedua tangan di dada. Matanya menatap antusias pada asissten rumah tangga keluarga suaminya itu.
"Maksudnya Non Cathrine? Non Silvia dan Den Devan?!" gelagapnya.
"Ya iyalah, siapa lagi kalau bukan mereka?" kesalnya tak sabar sambil berkacak pinggang.
Bi Sari tertunduk lesu, dan kembali ia mengusap pipinya dari sisa-sisa air mata perpisahan. "Non Silvia_ dan Den Devan, mereka berdua akan bercerai Non ..." lirihnya.
Cathrine terbelalak. Sontak membekap mulutnya tak percaya. "Apa, benarkah itu?!"
Bi Sari mengangguk lagi. Tampak wajah Cathrine berubah sumringah. Ini adalah berita baik untuknya. Tak sangka begitu mudahnya dia menyingkirkan Silvia tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga.
Dengan hati yang bahagia Cathrine pun bergegas menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya yang ada di lantai atas. Ia lekas menelepon kekasih gelapnya untuk mengabari kabar yang menggembirakan ini.
****
"Na, nanti malam aku nginep sementara di kontrakanmu dulu ya... Nanti aku akan jelaskan, sekarang aku harus ke tokoku dulu... Oke makasih ya Na..."
__ADS_1
Setelah menghubungi Nana. Silvia kembali fokus mengendarai mobilnya menuju tokonya.
Untuk malam ini dia berencana menginap dulu di kontrakan Nana. Karna masih bingung untuk mencari penginapan dimana. Karena sebelumnya ia belum ada persiapan dulu untuk pergi dari rumah besar milik mertuanya.
Silvia kembali menghela nafas panjang, menatap sendu pada jalanan di ibu kota. Jujur, pikirannya masih teringat akan sikap dingin Devan padanya tadi. Rasanya sakit sekali di acuhkan seperti itu. Tapi ini juga sudah menjadi keputusannya sendiri dan tak perlu lagi Silvia sesali. Walau begitu Silvia tetap mendoakan kebaikan suami dan juga mantan sahabatnya itu. Agar mereka selalu hidup bahagia.
Silvia berhenti dan memarkirkan mobilnya di depan toko tepat pukul sembilan lewat. Tanpa ia sadari. Jika sebenarnya Devan pun terus mengikutinya dari tadi.
Rafa yang melihat mobil Silvia datang langsung berlari menghampiri. "Ku pikir kamu tak membuka tokomu hari ini?" tanyanya yang lekas membantu Silvia. Meminta kunci gembok toko itu padanya.
"Buka dong... Tadi aku ada urusan sebentar..." jawab Silvia tersenyum biasa, seperti tak pernah ada masalah. Silvia pun memberikan kunci tokonya dan mempercayakan temannya untuk membuka gembok tokonya.
"Oalah kupikir kamu mabok di jalanan!" celotehnya yang berhasil membuat Silvia tertawa, melupakan sejenak masalahnya.
"Enak aja, emang kamu yang suka mabok kalau kelamaan naik bus wisata?!" timpalnya membalas ledekan Rafa. Keduanya pun terkekeh bersama.
Setelah Rafa membuka tokonya Silvia. Mereka berdua pun sama-sama masuk ke dalam toko, lalu merapikan isi tokonya bersama-sama. Agar terlihat indah dan bersih di mata para pembeli.
Disana Rafa memang sukarela membantu Silvia, karena ia pun tak punya pekerjaan lain selain mengawasi para karyawan cafenya saja. Daripada banyak bengong mending membantu temannya sambil mengobrol, dan bercerita masa-masa remaja mereka.
Devan menghembus nafasnya dengan kasar. Kedua tangannya mencengkram kencang pada stir mobilnya. Hatinya masih bergejolak marah, tak rela melihat kedekatan istrinya bersama pria lain.
"Akan ku lihat, seberapa dekatkah hubunganmu bersama lelaki itu Silvia?" geramnya. Gegas Devan pun kembali memutar haluannya dan pergi ke perusahaannya untuk bekerja.
Sebenarnya diam-diam semalam itu Devan telah menaruh GPS di dalam mobil Silvia. Agar bisa memudahkannya untuk mencari Silvia pergi kemana pun.
****
Hingga sore pun berlalu dan Devan sudah tahu jika mobil Silvia kini ada di tempat kontrakan Nana, temannya.
Di kamarnya, Devan tak henti memandang nanar pada cincin mas kawin milik Silvia darinya yang sengaja di tinggalkan di dalam laci lemari pakaian Silvia yang sudah kosong.
Walau marah, tapi hati kecilnya tetap tak rela dengan perceraian itu. Devan kembali resah, apa yang akan ia jelaskan nanti pada kedua orangtuanya? Mereka pasti akan marah dan shock mendengar kabar perceraiannya dengan Silvia.
Cathrine tiba-tiba saja masuk ke kamar milik Devan dan Silvia, mengagetkannya dan lekas-lekas ia menyembunyikan cincin itu di dalam saku celananya.
"Sayang, ternyata kamu ada disini. Aku dari tadi mencarimu..." Cathrine memeluk pinggang Devan di belakangnya, seraya menghirup wangi aroma tubuh suaminya di balik piyama tidurnya.
Catherine pun lantas membalik tubuh suaminya yang masih memperlihatkan wajah masam. Cathrine tahu jika Devan masih memikirkan Silvia.
"Kenapa, kau masih saja memikirkan wanita itu? Keputusanmu untuk menceraikannya itu tepat sayang. Sebelumnya kau juga biasa saja tak ada wanita itu kan? Ayo lebih baik kita bersenang-senang saja dan merayakan hubungan kita ini. Aku sudah tak sabar ingin sekali menjadi istri sahmu di mata negara." ujar Cathrine dan kembali memeluk erat Devan, namun Devan tak membalas pelukan itu.
Devan masih termangu, menatap kosong pada pemandangan malam di depan jendela kamar. Baru saja ia di tinggal beberapa jam oleh Silvia hatinya merasakan kehampaan yang teramat dalam.
"Aku hanya bingung saja Cathi, apa yang harus aku katakan pada Mama dan Papa jika aku dan Silvia bercerai...?" ucapnya lirih. Tak terasa matanya mulai mengembun.
Bersambung....
...****...
__ADS_1