
...BAB 13...
...Ancaman Andy Untuk Cathrine...
"Kau, mau apa kau kemari? Sudah ku katakan padamu, kau tak perlu lagi mencariku!" pekiknya dengan nafas terengah-engah.
Cathrine lekas beranjak dari sofa, lalu menatap nyalang Andy, seseorang yang tak pernah di harapkannya lagi. Tak sangka setelah berbulan-bulan lamanya Cathrine bisa lolos dari jeratan Andy, lelaki itu ternyata dapat menemukan keberadaannya lagi.
Ya, semenjak lima tahun lalu. Cathrine memang berhasil memisahkan Silvia dari Andy. Lalu Cathrine menjalin hubungan yang cukup serius dengan Andy hingga tiga tahun lamanya. Namun ketika Andy berniat ingin melamar Cathrine untuk menjadikannya sebagai istri, Cathrine malah berubah pikiran karna pertemuannya yang tak di sengaja dengan Devan kala itu. Saat itu, Cathrine sangat tertarik dengan penawaran Devan padanya dulu, untuk menjadikan dia sebagai seorang penyanyi terkenal. Selain itu Cathrine juga jatuh cinta dengan keadaan Devan yang sekarang, tidak seperti dulu sewaktu mereka masih di bangku SMA, Devan Alvandra memiliki tubuh yang gendut juga kerap kali di juluki si anak Mami oleh teman-teman sebayanya. Tapi kini Devan berubah drastis dari segi penampilan dan juga sikapnya. Dia tampan, berwibawa dan penuh kharismatik.
Setelah pertemuannya dengan Devan, Cathrine pun memutuskan untuk kabur saja ke luar kota setelah rumah orangtuanya di sita oleh pihak Bank, serta merta membawa sebagian besar harta cuma-cuma yang telah di berikan Andy padanya dulu, harta yang sebenarnya untuk Andy kelola sebagai usaha bisnis keluarganya. Namun demi cintanya pada Cathrine, Andy rela memberikan semuanya untuk mahar pernikahannya bersama Cathrine kelak, walau saat itu Andy harus di tentang keras oleh kedua orangtuanya.
Setelah tahu Cathrine pergi meninggalkannya tanpa pesan. Saat itu juga Andy sangat marah. Ternyata selama ini Cathrine telah menipunya. Andy kalang kabut dengan perasaannya karena telah di permainkan oleh Cathrine, tapi ia tak menyerah untuk terus mencari Cathrine. Hingga delapan bulan lamanya akhirnya dia dapat menemukan lagi sosok Cathrine di layar televisi, lalu Andy menyusul pergi ke ibu kota, untuk menemuinya dan meminta penjelasan padanya, kenapa dia pergi darinya tanpa memberitahukannya lebih dulu?
Setiap kali Andy ingin menemui Cathrine maka dia akan di usir dan di pukuli oleh kaki tangannya Cathrine, dan Cathrine memintanya untuk tidak lagi menemuinya. Sebab saat itu Cathrine tengah menjalin hubungan dengan Devan dan akan segera menikah. Sebab itulah ia tak mau jika ada pengganggu di dalam hidupnya. Sakit hati yang di rasakan Andy kala itu, dan sontak ia menjadi merasa bersalah pada Silvia karna telah tega meninggalkannya dulu demi Cathrine. Tak sangka justru wanita yang di perjuangkannya saat itu malah mengkhianatinya secara terang-terangan.
Cathrine hendak mengambil ponsel di dalam tasnya untuk menghubungi seseorang kepercayaannya, namun dia kalah cepat karena Andy sudah merebut tasnya Cathrine dan melemparnya jauh ke pojokan dinding ruangan.
Lekas Andy menghempas tubuhnya di sofa dan menyenderkan punggungnya disana, serta merentangkan kedua tangannya di atas kepala sofa. Menatap Cathrine dengan tatapan meremehkan.
"Sekarang di ruangan ini hanya ada kita berdua. Jadi kau tidak bisa melakukan apapun padaku!" ujarnya santai.
__ADS_1
"Apa yang kau mau dariku, Andy! Hubungan kita sudah selesai! Jadi lebih baik kau pergi dari sini dan jangan pernah ganggu aku lagi!" teriak Cathrine seraya menunjuki pintu supaya Andy keluar dari apartemennya.
Andy berdecih sinis, lantas ia berdiri di hadapannya. Dengan cepat tangannya mencengkram kasar dagu Cathrine ke arahnya. Mendekatkan wajah mereka.
"Enak sekali kau memutuskan hubungan kita tanpa persetujuan dariku, setelah apa yang ku berikan padamu dulu, dan setelah aku tak punya apa-apa lagi lalu dengan entengnya kau meninggalkanku dan mencampakkanku begitu saja, Cath?! Kau memang wanita matre juga licik! Aku menyesal sekali telah melepaskan Silvia demi dirimu!" geram Andy seraya menatap tajam Cathrine yang mulai ketakutan dengan raut kejam Andy padanya.
Cathrine mendorong kasar dada Andy, hingga Andy terjatuh lagi di atas sofa, dia tak peduli sebesar apa kemarahan Andy padanya. Dia akan tetap dengan ambisinya untuk menikah dengan Devan, dan itu adalah satu-satunya puncak kebahagiaan yang sebenarnya bagi seorang Cathrine Angela.
"Sudah ku katakan dulu padamu, kalau saat itu aku belum siap menikah denganmu! Kau saja yang tak mau dengar perkataanku. Ingat, jika kita tak di satukan berarti kita ini memang tidak berjodoh, ya kan?! Maka lupakan aku, dan pergilah mencari penggantiku yang lain." berangnya, yang tak terima ia di sebut wanita matre.
Andy pun kembali berdiri tegap, dan mendekati Cathrine dengan tatapan tajam seolah ingin melahapnya hidup-hidup, sedang Cathrine tergugup memundurkan langkahnya.
"Mudah sekali kau berkata begitu, hah! Tentu aku tidak akan pernah melepaskanmu begitu saja!" decihnya. "Sebelum kau mengembalikan semua hartaku yang pernah kau bawa pergi!"
"Ya ya... Hartaku memang tak seberapa dengan tubuh yang pernah kau berikan padaku, Cath! Makanya kenapa aku begitu berat untuk melepaskanmu, jujur saja tubuhmu itu membuatku sangat candu..." ungkap Andy seraya tangannya mengusap pipi Cathrine dengan senyuman yang menakutkan.
"Sebaiknya kau pergi dari sini Andy, jangan pernah ganggu aku lagi! Atau aku akan melaporkanmu!" gertak Cathrine yang sudah tak lagi nyaman dengan keberadaan Andy di dekatnya. Cathrine menepis kasar tangan Andy yang menyentuh wajahnya.
"Oke-oke, aku akan pergi dari sini. Tetapi aku tidak akan berhenti mengganggumu. Sebelum semua yang kuinginkan terpenuhi.."
"Apa yang kau mau?" bentaknya.
__ADS_1
"Kembalikan uangku 250 juta yang telah kau ambil dahulu. Atau tidak aku akan beberkan semua hubungan kita pada calon suamimu itu!" ancam Andy seraya merogoh ponsel miliknya di saku celananya. Lalu memperlihatkan video singkat milik mereka berdua di masalalu ketika mereka masih menjalin hubungan. Keduanya tengah asyik bergulat di atas kasur hotel dengan bermandikan keringat. Lalu keduanya berbaring tanpa memakai busana dan hanya sehelai selimut lebar lah yang menutupi tubuh keduanya.
Mata Cathrine terbelalak melihat keintiman mereka di video yang berdurasi 15 menit itu. Cathrine hendak merebut ponsel Andy. Tetapi Andy segera menjauhkan tangannya dan tertawa puas. "Kau, ke-kenapa video itu masih saja kau simpan hah?!" gelagapnya sangat panik dan bertambah gelisah.
"Kenapa kau begitu sangat takut sayang? bukankah dulu Silvia pernah berada di posisi ini?" sindirnya.
"Andy jangan macam-macam denganku! Kau tidak akan berani melakukan ini padaku 'kan?!"
"Tenang saja sayang, aku tak akan membocorkan ini pada calon suamimu itu. Asalkan kau akan menuruti semua kemauanku!" pintanya lagi mengancam, dan berhasil membuat wajah Cathrine kembali memucat. Rasa cemas pun kian menjalar cepat ke pusat pikirannya.
****
Devan tak berhenti membuat Silvia jera. Tak hanya bibir saja bahkan kulit leher jenjang dan putih seputih susu milik Silvia, ia gigit hingga meninggalkan jejak-jejak merah. Silvia meronta, dan refleks kaki kanannya malah menendang kepemilikkan Devan. Salah satu kaki yang tidak mengalami luka saat kecelakaan. Sehingga Devan melonjak kaget lalu mengerang kesakitan di atas kasur.
"Kau-kau berani menendang milikku! Aaahh!!" teriaknya seraya kedua tangan menutupi bagian tengah pahanya. Bibirnya meringis-ringis menahan rasa sakit.
"Salahmu sendiri yang main kasar! Dasar otak mesum!" sungut Silvia. "Kalau kau ingin berniat mengerjaiku, kau salah orang aku ini bukan lawanmu!" lantangnya lagi.
"Awas saja ya, aku tidak akan tinggal diam. Aku pastikan sandiwaramu itu cepat terbongkar, Silvia!" ancam Devan. Lalu Devan mengambil kemeja yang tadi dia lempar, dan berjalan keluar kamar dengan langkah tertatih-tatih menahan rasa sakit dan ngilu di benda pusakanya.
Silvia yang melihatnya hanya tertawa puas. Lantas ia menarik selimutnya hingga sebatas dada. Lalu memenjamkan matanya rapat ingin segera tidur dan menemui hari esok. Tak sabar rasanya, ingin sekali ia mendengar berita tentang pembatalan pernikahan mereka. Bagaimana reaksi Cathrine selanjutnya.
__ADS_1
Bersambung....
...****...