Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Ingin Menyerah


__ADS_3

...BAB 22...


...Ingin Menyerah...


Silvia mengerjap-ngerjapkan matanya yang lengket, kala mendengar suara halus yang memanggil-manggil namanya. "Non, Non... Non Silvia... Bangun Non..." usik Bibi Sari seraya menggoyangkan pelan lengannya Silvia.


"Bibi..." Silvia terkesiap bangun, dan terkejut mendapati dirinya sudah berada di ruang tamu. "Dimana ini?" tanyanya terheran seraya mengusap-ngusap pelan wajahnya. Bibi Sari pun turut duduk di belakang punggungnya Silvia sembari mengusapinya.


"Loh Non nggak inget, semalaman Non Silvia tiduran di sofa? Bibi aja kaget barusan lihat Non malah tidur di sofa sampai pagi. Kirain Bibi, Non itu sudah pindah ke kamarnya. Udara di sini dingin Non, harusnya Non itu tidur di kamar, nanti malah sakit..." sahutnya cemas.


"Oh iya aku baru saja ingat!" pelan-pelan Silvia menurunkan kedua kakinya ke lantai, lalu menunduk dan memijat sisi kepalanya dengan dua tangannya. Dia baru saja teringat. Kalau semalaman tadi, Silvia terus menunggu kepulangan Devan hingga ia tertidur pulas di sofa ruang depan. "Apa Devan sudah pulang Bi?" tanyanya.


Bibi Sari menggeleng pelan. "Belum Non, dari pagi Bibi belum lihat mobilnya masuk ke pekarangan Villa..." jawabnya. Silvia menghela nafas pelan.


"Sekarang sudah pukul berapa?" tanya Silvia lagi.


"Ini sudah pukul setengah enam pagi Non..."


"Ya Tuhan... Aku kesiangan!" pekiknya, lantas Silvia mengambil kruknya dan berdiri pelan-pelan, bersiap untuk menunaikan kewajibannya mesti sudah melebihi batas waktu.


"Em, kalau gitu aku mau ke kamar dulu ya Bi! Mau mandi dulu. Nanti kalau Devan sudah pulang, Bibi buatkan saja jus buah dan sandwich seperti biasanya ya... Hari ini Silvia libur masak dulu." perintah Silvia.


"Oke, siap Non. Tapi Non sendiri mau di buatkan apa sama Bibi?" tanya Bibi. Silvia menoleh lagi pada Bibi Sari, dan berpikir sejenak.


"Emm, aku buatkan nasi uduk saja ya Bi..."


"Oke rebes Non! Bibi bakal buatkan nasi uduk yang lezat buat Non Silvia, pokoknya!" ujar Bibi Sari sambil mengancungkan dua jempolnya ke atas, dengan senyuman lebar di bibir keriputnya. Silvia pun mengangguk tersenyum geli melihatnya. Lalu kembali berjalan ke kamarnya.


Tiga puluh menit berlalu, setelah mandi dan berganti pakaian. Silvia lekas menyapu wajahnya dengan sedikit bedak dan lipstik tipis di bibir ranumnya. Lalu menyisir rambut hitam panjangnya yang sedikit bergelombang itu. Mengikatnya ke atas ekor kuda.


Jarang sekali dia berdandan seperti itu. Silvia memang menyadari bahwa kekurangannya itu begitu banyak. Pantas saja kalau Andy sampai mengkhianati dirinya, dan Devan pun terang-terangan mengatakan kalau dirinya bukanlah tipe wanita yang ia sukai.


Sesaat hati Silvia menjadi sakit dengan ucapan Devan kemarin, tadinya dia hanya menganggap biasa saja ucapannya itu. Tapi semakin di rasa ucapannya semakin menyakitkan hati. Rasa tak percaya diri pun perlahan mulai menguasai dirinya.

__ADS_1


"Apakah benar aku begitu buruk di pandangan lelaki ya? Pantas saja teman-teman kampusku dulu, tak satupun ada yang tertarik padaku, bahkan mereka selalu memintaku untuk di comblangkan dengan Cathrine. Mereka hanya menganggapku teman biasa saja, tak ada yang spesial dariku" renggutnya. "Aaah!" Silvia mendesah kasar dan melempar pelan sisirnya ke meja riasnya.


"Apa aku akhiri saja pernikahanku ini ya? Ini hanya akan menjadi bomerang buatku sendiri. Aku memang tak pandai menjadi perebut kekasih orang seperti Cathrine! Sebaiknya aku ikhlaskan saja kepergian Ayahku dan aku tidak perlu lagi membalas perbuatan Cathrine. Biarkan saja mereka berdua hidup bersama, dan aku tidak usah mengganggu mereka lagi." pikirnya, dengan tatapan kosongnya Silvia menatap dirinya di cermin. Lalu memeluki dan mengusapi lengannya sendiri, rasanya dia ingin menyerah saja untuk membuat Devan agar mencintainya.


Ini sangatlah sulit baginya, Silvia tak punya kelebihan apapun di bandingkan Catherine yang terlihat sempurna itu, wajahnya yang sedikit kebule-bulean sangat cantik menawan. Sementara Silvia, memiliki wajah yang biasa saja, wajah asli khas perempuan Indonesia namun memiliki kulit putih bersih seperti kulit cina.


Silvia pun melirik ponselnya yang menganggur dari semalaman, ingin sekali dia menelepon Devan. Tapi takut Pria itu akan memarahinya lagi karena sudah mengganggunya. Silvia pun mengurungkan niatnya dan beralih membuka galerry foto tujuh tahun lalu ketika dia masih bersahabat dekat dengan Cathrine.


Mereka tampak bahagia sekali di dalam foto tersebut, Silvia dan Cathrine saling merangkul dengan wajah sumringah setelah perayaan pesta ulangtahun Silvia yang ke 18 tahun. Di belakangnya ada Andy dan juga Ayahnya yang merangkul bahunya Silvia.


"Silviaaa happy birthday besti... I love you.." serunya mengecup pipi kanan kiri Silvia dan memelukinya dengan erat saat itu.


"Thanks ya Cath, udah mau dateng. Ku pikir kamu tak di ijinin pergi-pergian sama Mamamu?" tanya Silvia yang sudah hafal betul sifat Mama tiri Cathrine yang terlalu mengekang hidupnya.


"Tenang saja, aku bilang aku sedang ada tugas sama kamu..." ucapnya. Lalu Silvia menuntun Cathrine untuk menemui Ayahnya dan di perkenalkan pada calon suaminya, Andy.


Dan itu adalah pertama kalinya mereka bertemu. Ada tatapan berbeda dari mata Andy ketika melihat Cathrine, tak seperti saat melihat dirinya. Tatapan Andy begitu dalam, seperti di penuhi oleh kabut asmara. Namun Silvia yang tak terlalu mencurigai itupun, hanya menganggapnya biasa saja.


*****


"Pagi sayang, bagaimana sekarang badanmu? Sudah agak baikan?!" Devan tersenyum seraya membelai puncuk kepala Cathrine, Devan rasa demamnya Cathrine sudah agak turun. Cathrine mengangguk lesu lalu menyapu wajahnya sehabis bangun tidur.


"Ya lumayan, agak mendingan semenjak kamu ada disini Beb. Kamu sudah bangun sejak kapan?" tanyanya.


"Dari pukul lima tadi. Aku juga sudah belikan sarapan untuk kita berdua. Kita sarapan dulu yuk, mau aku suapi?" tawar Devan lembut, yang diangguki kecil oleh Cathrine.


Lalu Devan mengambil kantung plastik hitam berisikan dua wadah styrofoam. Setelah membukanya, aroma nasinya tercium sangat harum karena memakai rempah-rempahan alami dari daun salam dan juga serai. Ya, Devan tadi membeli nasi uduk yang berada di pinggir jalan tak jauh dari apartemen kekasihnya. Karena pagi hari itu hanya penjual-penjual kaki lima saja yang sudah buka, sedangkan Restoran di jam segitu masih belum ada yang buka. Nasi uduk dengan toping keringan tempe, ayam goreng juga sambal dan lalapan. Tampak menggugah seleranya.


Semenjak menikah dengan Silvia. Entah kenapa Devan sangat menyukai makanan-makanan rumahan itu. Sebab setelah lulus SMA dulu, Devan tinggal di Paris untuk meneruskan kuliahnya hingga tiga tahun lamanya dan setelah kembali ke Indonesia, dia bertemu lagi dengan Cathrine. Sejak pertemuan itulah ia tak pernah lagi menyantap makan-makanan khas Indonesia lagi. Cathrine sering mengajaknya untuk makan di Restoran bintang lima dan menyantap makanan luar negeri.


"Kamu kok beli itu Beb?" Cathrine mengerutkan keningnya, sesaat aroma nasinya juga bumbu rempah makanan itu menusuk tajam ke penciumannya. Catherine buru-buru menutupi hidung dan mulutnya. Cathrine merasa tidak ada yang beres dengan lambungnya, seolah di dalamnya di aduk-aduk dengan putaran cepat.


"Ooekk, oeekk...! Cathrine lekas menyingkap selimutnya dan berlari kecil menuju kamar mandi. Memuntahkan semua isi dalam perutnya. Cairan bening mengalir keluar dengan sisa-sisa bubur semalam.

__ADS_1


"Kamu kenapa sayang?" Devan terkejut panik, dan mengejar Cathrine ke kamar mandi. Menepuk-nepuk pelan punggung kekasihnya.


"Tolong jauhkan makanan itu Beb, aku tidak suka baunya!" titahnya kesal.


"Loh ini baunya enak kok sayang? Kalau kamu tak mau. Lalu kamu mau makan apa?"


"Makan apa aja terserah, tapi jangan itu. Lebih baik kau belikan aku roti saja..." perintahnya.


"Tapi roti tak cukup kenyang di makan sayang, kamu butuh asupan energi. Makan nasi di pagi hari justru bagus untuk lambung supaya tidak penyakit maag..." terang Devan.


"Tapi aku tidak suka baunya! Jangan paksa aku untuk memakan itu, Dev!" keluhnya. "Lagian ngapain juga sih kamu pake beli itu segala. Biasanya juga makan makanan restoran!" sungutnya lagi, wajahnya masam karena jengkel.


"Restoran belum ada yang buka sayang. Ini juga enak kok! Semenjak pacaran sama kamu, sudah lama sekali aku tidak makan makanan ini. Ayo cobalah, paksakan walau makan sedikit. Nanti kamu bisa lemas kalau tak makan..." bujuknya lagi. Cathrine menggeleng lagi.


"Tidak, aku tidak mau Dev! Sudahlah lebih baik aku istirahat saja!" Cathrine melengos pergi melewati Devan dan kembali berbaring di tempat tidurnya. Menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Devan menghela nafasnya dengan kencang. Lekas ia pun berjalan keluar kamar dengan membawa lagi nasi uduk yang ia beli. Di ruang depan Devan menghabiskan sendiri nasi uduk itu, bahkan jatah punya Cathrine pun ia makan juga daripada terbuang dan mubajir, lebih baik masuk ke dalam perutnya.


Sementara di Villa Silvia dan Bibi Sari juga tengah makan nasi uduk. Makanan favorit Silvia sejak dia masih SD. Ketika kedua orangtuanya masih hidup, setiap libur mereka akan berwisata ke taman safari dan berbekal nasi uduk.


"Enak Non?" tanya Bibi Sari yang melihat Silvia makan dengan lahap.


"Enak banget Bi, rasanya kayak masakan almarhumah Ibuku..." ucap Silvia tersenyum haru, sesekali tangannya mengusap pipinya yang sudah basah.


"Non Silvia nangis?" tanya Bibi Sari terenyuh.


Silvia menelan ludahnya dengan susah payah, menahan rasa sesak dan sedih di hatinya. "Tidak Bi, Silvia hanya lagi kangen saja sama orangtua Silvia. Sudah lama sekali Silvia tak menengok kuburan mereka di Bogor..." lirihnya.


Silvia pun kembali meneteskan air matanya dengan deras. Merasakan kerinduannya yang begitu dalam untuk kedua orangtuanya yang telah lama tiada.


Bersambung....


...****...

__ADS_1


__ADS_2