Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Tak Akan Ada Pernikahan Diantara Kita


__ADS_3

...BAB 41...


...Tak Akan Ada Pernikahan Diantara Kita...


"Udeh Non, udeh... Biar itu semua Bibi yang kerjain. Nanti Non kecapean ini udah malem..." titah Bi Sari menghentikan gerakan tangan Silvia yang masih saja asyik mencuci beberapa gelas dan piring kotor di wastafel. Setelah ia selesai mengelapi meja makan tadi.


Bi Sari tak mau melihat Silvia yang terus saja membantunya di dapur seperti biasa yang sering ia lakukan sewaktu tinggal di Villa dulu. Bi Sari tak enak nanti bisa kena teguran Dini. Apalagi Dini begitu sangat menyayangi Silvia. Rasa perhatiannya begitu besar terhadap menantu satu-satunya tersebut. Karena Dini bilang, wajah dan sifat Silvia hampir mirip dengan mendiang putri kecilnya yang telah tiada, energik, cerdas dan juga lembut hatinya. Selain itu Dini juga berhutang nyawa padanya, mengingat dia yang nyaris kehilangan nyawanya oleh perampok beberapa waktu silam.


Setiap usai sarapan atau makan malam bersama, Silvia memang selalu sergap membantu Bi Sari walau ada satu pelayan muda di sana yang bertugas juga untuk bersih-bersih.


Tapi Silvia tak peduli apa yang mereka bilang, malam itu dia memang sengaja ingin berlama-lama di dapur demi tak ingin menemui Devan, yang mungkin saat ini suaminya itu sedang menunggunya di dalam kamar.


"Nggak papa Bi, lagian ini tinggal dikit lagi kok, tanggung." jawab Silvia santai, seraya melanjutkan pekerjaannya lagi.


Setelah selesai membersihkan piring dan gelas, lantas Silvia meraih wajan kotor di atas kompor, yang barusan sudah di pakai Bi Sari untuk menghangatkan makanan sisa yang nanti akan di bawa pulang oleh pelayan yang bertugas membersihkan rumah dan halaman karena memang mereka tak tinggal di rumah majikannya. Kecuali Bi Sari saja yang memang ikut tinggal bersama keluarga Devan, sebab rumahnya yang jauh dari kota.


"Eeeh udeh Non, itu biar Bibi saja!" cegah Bi Sari lagi mengambil cepat wajan yang ingin di ambil Silvia tadi. Jujur saja wanita paruh baya itu sangat kesal bila ada orang yang selalu membantah omongannya.


Kalau begini terus apa yang harus di kerjakannya, bila semua apa-apa Silvia yang lakukan? Bi Sari nggak mau kalau nanti dirinya di juluki si pemakan gaji buta. Enak-enakan tak kerja tapi masih dapat bayaran tiap bulannya.


"Udeh mendingan sekarang Non istirahat aje. Nanti ketahuan Nyonya bisa berabe! Bibi juga deh yang dimarahin!" gerutunya menekukan wajahnya ngambek.


"Iye Bi iyee..." terpaksa Silvia pun menghentikan aktivitasnya sambil tersenyum menggoda asisten lucu itu.


Silvia tak ingin Bi Sari semakin kesal padanya dan jadi darah tinggi gara-gara tak menuruti apa kata-katanya.


"Cerewet banget nih emak satu inii..." gurau Silvia sambil mencubit gemas pipi gembil yang mulai keriputan itu.


"Eh, di bilangin nih, ngeyeel!" Bibi Sari menepuk pelan punggung tangan Silvia. Mereka memang serasa seperti teman yang akrab.


"Iya Bibiku sayang.. Udeh yee ngomelnya nanti wajah cakepnya jadi keriputan lho!" canda Silvia yang semakin gemas dengan tingkah ARTnya itu.


"Yee... emang Bibi udah tue, ya pasti udah banyak keriputnya!" timpalnya lagi bercanda, Silvia yang mendengarnya lantas terkekeh-kekeh geli.


Tiada hari tanpa bercanda bersama Bi Sari. Silvia semakin betah saja tinggal bersama keluarga Devan, dan semakin takut pula akan kehilangan kasih sayang dari mereka. Apalagi kebaikan kedua mertuanya terhadapnya selama ini. Silvia seolah mendapat pengganti kedua orangtuanya yang telah lama tiada. Tak ia pungkiri, Silvia benar-benar bahagia hidup bersama mereka.


Apalagi jika ia teringat akan masalalunya yang menyedihkan itu. Keinginannya untuk bercerai dari Devan pun, seolah menghilang entah pergi kemana, di terbangkan jauh oleh angin.


Mungkinkah Silvia harus menerima Devan dan memaafkan kekhilafannya. Lalu memperjuangkan lagi suaminya penuh semangat. Ya, walau Silvia tahu cinta Devan lebih besar terhadap Cathrine. Tapi serakahkah dirinya, bila menginginkan Devan satu-satunya menjadi miliknya?


Dengan langkah malas, Silvia menaiki anak tangga lalu meraih handle pintu kamarnya dan juga Devan. Sebelum membuka pintu dan masuk ke kamar. Samar ia mendengar suara Devan sedang berbicara di telepon.


Suara yang penuh perhatian dan lembut, betapa yakin bahwa yang di teleponnya saat ini adalah kekasihnya. Silvia urung membuka pintu itu, ia lebih memilih menunggu pembicaraan suaminya sampai selesai sambil menyenderkan punggungnya di dinding samping pintu luar kamar mereka.


Silvia termenung, memenjam rapat kelopak matanya, mengingat lagi ungkapan cinta yang Devan sampaikan padanya tadi siang. Apakah itu sungguh-sungguh dari lubuk hatinya yang terdalam? Ataukah hanya sebuah pelampiasan semata?

__ADS_1


Tak lama ia termangu di tempatnya berdiri, hingga tak menyadari Devan telah keluar dari kamar mereka dengan sudah berpakaian rapi dan wangi. Sontak ia terkejut melihat Silvia yang sudah berdiri di samping pintu kamar.


"Sil, Silvia?!" Devan tergugup, wajahnya sedikit pucat dan jadi salah tingkah. Silvia memalingkan wajahnya yang datar. Rasanya enggan dan malas menatap wajah suaminya yang tak memiliki prinsip hidup itu.


"Kamu mau keluar?!" tanyanya tanpa melihat ke arah Devan.


"Em, i-iya..." Devan mengangguk kikuk.


"Emhh... Ya sudah hati-hati di jalan..." ucap Silvia singkat, masih dengan sikap yang dinginnya, Silvia pun masuk ke dalam kamar dengan acuh tanpa bertanya lagi.


Devan terheran, karena tumbenan Silvia tak ingin bertanya kemana ia akan pergi. "Apa kau tidak ingin bertanya kemana aku akan pergi?" lontar Devan tiba-tiba.


Setelah pergulatan siang itu. Silvia sama sekali tak menampakkan wajah bahagianya. Padahal Devan sudah mengatakan perasaan tulusnya kepadanya. Apakah cintanya masih kurang untuknya? batin Devan yang terus mencari apa penyebab sikap dinginnya Silvia. Ataukah dia masih marah karna tak di ijinkan untuk bercerai darinya?


Silvia menoleh kini menatap lekat pada suaminya. "Apa itu penting bagiku untuk tahu kemana suamiku pergi? Kemana lagi kau pergi, kalau bukan untuk menemui kekasihmu lagi. Aku benar kan?" sindirnya halus, memincingkan matanya dengan sinis.


Devan meneguk ludahnya dengan susah payah. "Aku, aku hanya sebentar saja menemui dia, maaf jangan salah paham dulu kami hanya ingin membicarakan hal yang penting..." Devan mendekati Silvia hendak mengecup keningnya tapi Silvia lekas memalingkan wajahnya. Menghindari sentuhan bibirnya.


"Jangan marah, aku pasti akan berbuat adil pada kalian berdua. Mesti memang Cathrine belum menjadi istriku..." Devan menarik lembut pipi Silvia agar menatapnya lagi. "Aku berjanji padamu tak akan pulang larut malam." ucapnya tersenyum tipis.


Setelah mengucap itu Devan perlahan berbalik, namun baru satu langkah ia berjalan Silvia mengingatkannya lagi.


"Sampai kapan kau akan terus menyembunyikan hubunganmu bersama Cathrine dari orangtuamu, Mas? Apa kau tidak takut mereka akan mengetahuinya sendiri? Kenapa kau tak ingin mengakhiri hubungan yang tanpa kepastian itu?" mata Silvia kini berkaca-kaca. "Bisakah kau hanya mencintaiku saja?" lirihnya, kepalanya tertunduk dalam.


Jujur, Silvia tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya lagi. Cemburu dan sakit hati menjadi satu. Semoga Devan mau mempertimbangkan lagi semua sarannya untuk meninggalkan Cathrine dan memilih hidup bahagia bersamanya.


"Maafkan aku Silvia, berat bagiku untuk memilih salah satu diantara kalian berdua. Kalian sama-sama berarti di hidupku. Tolong bertahanlah untukku dan demi kedua orangtuaku yang sudah terlanjur menyayangimu, jangan mengecewakan mereka... Ku harap kamu mengerti dan bersabar dengan keputusanku ini..." Devan menghela nafasnya dalam lalu mengangguk tersenyum.


"Baiklah, aku pergi dulu dia sudah menungguku dari tadi. Kamu istirahatlah dan jangan terlalu banyak pikiran." pesannya lagi, yang lalu Devan melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga, dan nekad untuk menemui kekasihnya lagi setelah berapa kali di larang oleh orangtuanya.


Silvia tergugu di ambang pintu. Lekas ia menutup rapat pintu kamarnya. Terdengar suara deru mobil Devan yang keluar dari pelataran rumah. Silvia berjalan cepat-cepat keluar balkon untuk melihatnya.


Tatapannya nanar memandangi mobil suaminya yang sudah menjauh pergi, di rogohnya ponsel yang ada di saku piyama tidurnya lalu membuka galerry foto lama, dirinya bersama Cathrine tujuh tahun yang lalu.


"Apa aku bocorkan saja padanya, siapa Cathrine yang sebenarnya?" gumamnya sendiri, yang masih tersimpan keraguan besar di hatinya.


*****


Di dalam mobil Devan tak berhenti gelisah, mengingat lagi kesedihan di wajah Silvia. Tapi dia pun tak ingin menggantung hubungannya terus bersama Cathrine. Tiba-tiba saja muncul ide dalam benaknya akan menikahi Cathrine dengan siri. Semoga Cathrine akan menerima keputusan ini. Tetapi, jika dia tidak mau menerimanya, maka tidak akan ada pernikahan diantara mereka berdua. Sesekali Devan pun harus bersikap tegas pada kekasihnya itu, jika memang dia ingin hidup bersamanya.


Setelah sampai apartemen kekasihnya. Devan di sambut hangat seperti biasa dari Cathrine.


"Akhirnya kamu datang juga, aku bosan nunggu kamu lama dari tadi, beb..." Cathrine memeluk manja pinggang Devan, seraya menghirup dalam aroma wangi minyak maskulin di kemeja Devan yang selalu ia sukai. "Ayo masuk, aku sudah siapin makanan ala Spanyol untuk makan malam kita berdua..." ajaknya senang seraya menarik tangan Devan untuk masuk ke dalam apartemennya.


Devan menahan tangan Cathrine, lalu menggeleng cepat.

__ADS_1


"Tidak terimakasih Cathi, aku sudah makan barusan di rumah. Dan perutku masih kenyang." tolak Devan halus.


"Apa? Kau sudah makan?" Cathrine menekuk wajahnya cemberut, lantas melipat tangannya, kesal. Karena usahanya untuk membuat Devan senang, hanya sia-sia belaka. Devan mengangguk tersenyum tipis.


"Aku kemari hanya ingin meluruskan obrolan kita siang tadi di Restoran." ucap Devan, Cathrine pun mendelik, wajahnya berubah serius.


"Cathrine kemarilah..." Devan meraih tangan kekasihnya dan membawanya duduk di sofa tamu.


"Bagaimana, apa kau sudah memutuskan akan menceraikan Silvia, Beb?" tanya Cathrine mendadak wajahnya terlihat senang. Tak sabar mendengar keputusan Devan yang akan di sampaikannya.


Devan meneguk salivanya kasar. Tak tega sebenarnya harus mengatakan ini. Tapi Devan lebih tak tega jika selalu menggantung hubungan mereka dan membuatnya terus berharap.


"Cath, maafkan aku..." ucap Devan tergugup


Lantas Devan menarik pelan nafasnya agar memudahkan untuk bicara. Cathrine mengernyit, menatap bingung pada wajah Devan yang nampak sendu.


"Maafkan aku yang tak bisa menceraikan Silvia." lanjutnya lagi dengan nada lirih. Cathrine terperangah dan wajahnya berubah suram.


"Apa maksudmu?!"


"Ya, aku tidak bisa penuhi janjimu untuk menceraikan Silvia. Tapi aku berjanji akan menikahimu. Asalkan kamu mau menikah denganku secara siri... Bagaimana? Kau mau kan menikah siri denganku?" tawar Devan lagi mantap.


Cathrine kembali terbelalak. Lalu ia menggeleng-geleng tak setuju. "Tidak-tidak! Aku tidak mau kau nikahi secara siri Dev! Aku maunya nikah secara resmi, titik!" tolak Cathrine.


Lantas Cathrine beranjak dari sofa, lalu berjalan mondar-mandir di depan Devan. Dengan hati kesal penuh amarah dalam hatinya. Bukan ini yang ia mau. Ini tidak seperti impiannya selama ini.


"Sayang, tapi ini adalah caranya agar kita berdua bisa menikah. Aku mohon padamu, kamu mau mengerti bagaimana keadaanku." bujuk Devan lagi, dengan wajah memelasnya.


Dia menyerah tak tahu harus bagaimana lagi caranya, agar janjinya terhadap Cathrine dapat terpenuhi. Tanpa harus menceraikan Silvia.


"Percuma saja kau nikahi aku dengan sirri. Semua orang tidak akan pernah tahu jika aku adalah istrimu juga, ini sungguh tidak adil bagiku, Dev!" teriaknya berang, matanya sudah berkaca-kaca, rasa perih karena kecewa. Cathrine tentu tak terima bila impiannya selama ini harus tergadaikan lagi.


"Apa jangan-jangan kau mencintai wanita itu? Itu sebabnya kau tak tega menceraikannya, begitukan?" tudingnya, kini dia menatap penuh curiga pada Devan.


Devan menggeleng pelan. "Aku tidak bisa menjawabnya, yang pasti kedua orangtuaku sangat menyayangi Silvia seperti putrinya sendiri dan aku tak tega memisahkan mereka, jika tiba-tiba aku menceraikan Silvia tanpa alasan." jelasnya.


Cathrine mendengus kasar dengan nafasnya yang naik turun. "Terserah apa katamu. Tetapi aku tetap tak mau menikah dengan siri, titik! Pokoknya aku tidak mau!" sentaknya lagi.


Devan menelan ludahnya kasar. Lalu menarik nafasnya berat dan dalam. Lantas Devan mengangguk dan berdiri di depan Cathrine.


"Baiklah, kalau itu maumu aku juga tidak bisa memaksamu lagi. Kalau kau tak mau kunikahi dengan siri, maka ku putuskan! Tidak akan ada pernikahan diantara kita berdua." ucapnya lagi tegas.


Bersambung....


...****...

__ADS_1


Yuk mampir ke novel ini dulu readers, untuk menunggu lanjutan kisahnya Devan dan Silvia... 🥰🥰🥰



__ADS_2