Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Tak Lagi Respek


__ADS_3

...BAB 18...


...Tak Lagi Respek...


Setelah semuanya selesai menyantap makan malam bersama. Mereka lalu berkumpul di ruang tamu. Bibi Tuti menyampaikan permohonan pada kedua orangtua Devan agar Cathrine mendapatkan restu dari mereka. Tetapi, Dini tetap dengan pendiriannya yang menolak pernikahan itu secara halus.


"Sekali lagi kami selaku orangtuanya Devan, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya pada anda Bu... Kami tidak bisa melanjutkan pernikahan putri Ibu dan juga putra kami. Dikarnakan putra kami, Devan yang sebenarnya sudah menikah lebih dulu dengan Silvia," ucap Dini seraya menoleh dan mengusap lembut bahunya Silvia yang duduk di samping kirinya.


"Dan, saya juga tidak menyetujui jika putra kami harus menikah lagi... Sementara, keadaan istrinya yang kakinya terluka parah akibat putra kami sendiri. Dia lebih sangat membutuhkan sosok suami di sampingnya. Jadi saya mohon kebesaran hati Ibu untuk memahami kondisi ini." lanjutnya lagi dengan penuh penyesalan Dini sampaikan yang tak bisa memenuhi keinginan Bibi Tuti barusan.


Devan dan Cathrine sama-sama tercengang dengan keputusan final Dini. Dini tetap tak mengijinkan jika putranya nanti memiliki dua istri.


"Tapi Ma!" Devan berdiri tegak. Padahal dia sudah capek-capek ke Bogor, menjemput dan membawa Ibunya Cathrine yang sakit ke Jakarta, untuk bisa meluluhkan hati Mamanya agar menerima Cathrine sebagai istrinya. Tapi Mama Devan tetap bersikeras menentang pernikahannya dengan Cathrine.


"Devan, tolong kau hargai keputusan Mamamu ini. Mama tetap tidak setuju kalau kau memperistri lebih dari satu istri, Nak!" tegas Dini lagi, menyela perkataan Devan yang masih saja protes, lalu ia menatap nanar pada Cathrine yang wajahnya sudah terlihat kacau dan juga frustasi.


"Dan Cathrine, sekali lagi Tante mohon padamu, Nak. Bukannya Tante tidak ingin kamu jadi menantu Tante, tapi Tante tidak menyetujui Devan menikahi dua wanita. Jika kamu merasa di rugikan oleh keputusan Tante ini. Kamu tak perlu khawatir, Tante akan memberikanmu uang kompensasi sebagai ganti rugi atas pembatalan pernikahan kalian esok lusa. Iya kan Pah?" Dini kini menoleh pada suaminya untuk meminta persetujuannya. Yang sedari tadi Indra memang hanya diam saja dan jadi pendengar. Indra tak banyak bicara, karena menurutnya, apa yang sudah di sampaikan istrinya itu sudah cukup benar.


Indra pun menyuruh assistennya yang memang tinggal di rumahnya, menyuruhnya untuk mengambil sebuah buku cek dan bolpoint di ruang kerjanya. Tak lama assistennya itu kembali dengan barang yang di minta sang majikannya.


"Ini Pak..." ujarnya.


Indra meraih buku cek di tangan assisten kepercayaannya tersebut. "Terimakasih, Nori..." ucapnya.


Lalu Indra mulai menuliskan sejumlah nominal uang yang lumayan banyak dan menyodorkannya di atas meja ke arah Catherine. "Ambillah itu Nak Catherine. Sebagai atas permintaan maaf kami padamu dan juga ibumu..." ucap Indra tersenyum prihatin.

__ADS_1


Cathrine menatap nanar sejumlah uang yang cukup besar di dalam cek tersebut, namun kepalanya menggeleng cepat. Karna uang itu bukanlah keinginannya. Matanya memanas hingga kaca-kaca terlihat jelas di bola matanya, yang lalu ia beranjak dari sofa.


"Tidak Tante Dini! Ini tidak adill!! Harusnya akulah yang jadi istrinya Devan! Bukan dia Tante, Om...." lirihnya seraya tangannya menunjuk pada Silvia. "Cathrine tahu, sebenarnya Tante Dini tak menyukai Cathrine untuk menjadi istrinya Devan 'kan?! Lalu Tante memakai alasan ini semua agar bisa membatalkan pernikahan kami. Betul kan Tante?! Tante jahat padaku...Jahaat!" teriaknya tak terima dengan nafas yang tersengal berat, ia tak bisa lagi menahan rasa kekesalan juga amarahnya di hati.


Lantas Catherine pergi berlari keluar rumah mewah milik orangtuanya Devan. Sambil terus menangis, tersedu-sedu.


Silvia melongo menatap kepergian Cathrine yang tengah frustasi. Namun jujur saja, Silvia puas sekali melihat hati Cathrine hancur di depan matanya sendiri, bagaimana ia dapat merasakan cintanya yang harus kandas di tengah jalan. Tapi apakah benar, hatinya terluka karna cintanya yang memang tak di restui? Ataukah hanya kecewa saja karna tak jadi menikahi Devan, sang cassanova? gumam Silvia dalam hatinya, sembari mengangkat dua bahunya tak yakin, akan cinta tulusnya Cathrine pada Devan.


"Cath! Cathii!" Devan tercengang lantas mengejar kekasihnya itu.


Dini dan Indra pun turut mencemaskannya. Lalu mereka ikut mengejar menyusul Cathrine dan Devan, dan di ruangan itu kini tinggal menyisakan Silvia dan juga Bi Tuti saja.


Silvia menggeleng kepala lalu menghela nafasnya panjang, melihat tingkah Cathrine yang terlalu mendramatisir keadaan. Lalu Silvia menoleh pada Bibi Tuti yang masih tertunduk gelisah sambil mere-mas re-mas ujung syalnya yang menggantung di dada. Inilah saatnya kesempatan Silvia untuk bertanya pada Bibi Tuti.


"Hallo, apa kabarmu Bi? Bibi masih ingat dengan saya 'kan?" tanya Silvia pelan.


"Baguslah jika Bibi masih ingat saya. Apa yang Cathrine berikan pada Bibi sehingga Bibi mau menyamar jadi Ibunya Cathrine. Lalu, apakah Ayah dan Ibu tirinya Cathrine tahu soal ini?" tanya Silvia to the point.


Bibi Tuti menggeleng cepat dengan perasaan was-was. "Em, tidak ada Non. Sa-saya memang ingin bantu Non Cathrine saja. Soalnya Mama tirinya dan Non Cathrine memang selalu tak pernah akur. Non Silvia juga sudah tahu sendiri kan tentang ini?! Maaf bila saya lancang terhadap Non, tapi sebaiknya Nona Silvia tak perlu lagi mengurusi hidup saya dan juga Non Catherine. Kasihan Non Catherine. Dia sudah lama menginginkan pernikahan ini dengan Pak Devan. Sebaiknya Non Silvia mundur saja untuk menjadi istrinya Pak Devan." sarannya yang langsung pada intinya.


Seburuk apapun masalalu Cathrine terhadap Silvia, Bibi Tuti tentu akan tetap membela majikannya tersebut.


Silvia menghela nafasnya dalam. Dia tak mungkin mengorek dan mencari informasi tentang Cathrine pada Bibi Tuti, tampaknya pengabdian Bibi Tuti pada Cathrine begitu sangat besar.


"Maaf Bi, tapi Silvia tak bisa mengabulkan permintaan Bibi. Bukankah Bibi tahu soal hubunganku dengan Cathrine? Masih ingatkah Bibi ketika Cathrine merebut calon suamiku dulu? Bibi tahu, bagaimana perasaanku saat itu? Sakit dan hancur semua yang ku rasakan. Calon suamiku pergi meninggalkanku dan lebih memilih Cathrine menjadi pendampingnya. Mungkin saja pertemuanku dengan Devan adalah balasan Cathrine terhadapku dulu, lebih baik Bibi nasehati saja anak majikan Bibi yang Bibi hormati itu.. Bahwa merebut orang yang sudah menjadi milik oranglain itu tidaklah dibenarkan." terang Silvia dengan menatap tajam Bibi Tuti.

__ADS_1


"Tapi apa yang di lakukan Non Cathrine dulu, bukankah sama saja dengan yang di lakukan oleh Non Silvia terhadap Non Cathrine sekarang?! Lalu apa bedanya jika Non Silvia juga melakukan ini terhadapnya?" timpal Bi Tuti dengan tatapan getirnya seolah ia pun tak terima anak majikannya di perlakukan jahat oleh oranglain. "Non Silvia tak tahu apa yang pernah dilalui Nona Cathrine dahulu. Dia lebih menderita di bandingkan hidup Non Silvia. Saya benar-benar memohon pada Non Silvia agar mau bermurah hati mengembalikan Pak Devan untuk Non Cathrine..." pintanya sambil mengiba pada Silvia dengan menangkup kedua tangan di depan dada.


Silvia tersenyum miris, mendengar perkataan Bibi Tuti, soal Cathrine yang lebih menderita dari hidupnya? Ya, Silvia memang sempat tahu bagaimana hubungan Cathrine dengan Ibu tirinya tersebut. Ayahnya sudah tak lagi peduli dengan hidup Cathrine semenjak meninggalnya Ibunya Cathrine. Maka dari itu, kenapa Ayah Silvia pun sangat menyayangi Cathrine dan menganggapnya seperti putrinya sendiri. Setelah Silvia menceritakan semua tentang hidup keluarganya Cathrine.


Tetapi hati Silvia sudah terlanjur mati, dia tak lagi respek pada Cathrine. Apalagi, jika dia teringat akan almarhum Ayahnya yang meninggal setelah Cathrine memperlihatkan video itu. Hati Silvia seakan bertambah sakit dan perih, jika mengenang lagi kejadian yang memilukan itu.


"Maafkan aku Bi...." lirih Silvia seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Silvia tidak bisa melakukannya. Silvia melakukan Ini supaya Cathrine dapat sadar kembali, dan menjadi Cathrine yang baik seperti dulu..." ucap Silvia.


Bibi Tuti pun tertegun, dia tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membantu anak majikannya tersebut. Dia akui dia memang tak bisa terus memaksa Silvia untuk menuruti permintaannya. Bi Tuti juga sudah mengenal lama Silvia. Satu-satunya teman yang pernah dekat dengan Cathrine. Yang selalu peduli di kala Cathrine menangis seorang diri.


"Baiklah Non, Bibi tak akan memaksa lagi Non Silvia... Tapi Bibi berharap suatu saat Non Silvia mau berteman lagi dengan Non Cathrine..." ungkap wanita setengah baya itu sesenggukan, seraya menyeka air matanya di pipi dengan syal miliknya.


Silvia tersenyum kecut mendengar harapan Bibi Tuti padanya. "Aku nggak yakin soal itu Bi. Ya, semoga saja apa yang Bibi inginkan tercapai. Bibi doakan saja yang terbaik untuk kami berdua..." ucap Silvia.


Lantas Silvia pun berdiri dan berjalan keluar rumah mertuanya, melihat lagi drama yang tengah di mainkan oleh Cathrine saat itu.


Benar saja, di tengah hujan yang deras Cathrine berlari ke tengah jalan dia hendak menabrakkan dirinya di sana. Namun Devan lekas menarik dan memeluk erat tubuh Cathrine dari belakang. Menghentikan aksi ekstrimnya. Silvia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sepasang insan yang tengah berpelukan, saling menumpahkan rasa kekecewaan yang mendalam.


Bersambung...


...*****...


Terimakasih yang sudah mampir dan sudah beri dukungan untuk karya ini. Othor senang banget alhamdulillah... 🤧🤧🤧


Yuk sambil nunggu cerita ini selanjutnya. Boleh mampir di novel temanku yang lain... 😍😍😍

__ADS_1



__ADS_2