Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Kedengkian Cathrine Terhadap Hidup Silvia


__ADS_3

...BAB 34...


...Kedengkian Cathrine Terhadap Hidup Silvia...


Beberapa menit kemudian mobil mereka telah sampai, Andy lekas turun dan buru-buru membukakan pintu mobil untuk Silvia. Setelah barusan ia melihat kedatangan Devan ke kantor Ayahnya di sana. Karena akan melakukan meeting siang itu.


Devan yang sedang merapikan sedikit jasnya setelah keluar dari mobil miliknya, sontak saja matanya melihat ke arah mereka di parkiran gedung tersebut.


Wajahnya berubah merah padam kala melihat tangan Andy yang memegang tangan Silvia karna kesulitan ingin menuruni mobilnya dengan penuh perhatian.


"Lelaki itu, lagi-lagi dia memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan." geramnya dengan mata memincing tajam, tanpa Devan sadari kedua tangannya mengepal rapat-rapat di sisi tubuh tegapnya.


Entah mengapa Devan begitu tak menyukai tatapan dalam dari Andy terhadap Silvia, sejak supir baru itu bertingkah seperti sok pahlawan kesiangan pada hari anniversary perusahaan keluarganya malam kemarin.


"Lepas, aku bisa jalan sendiri!" Silvia menolak tangannya yang terus di pegang oleh Andy, tapi Andy seperti tak mau melepaskannya. Justru semakin mengeratkan pegangannya dengan kuat, dan mata gelap milik Andy tak lepas menatap wajah ayu Silvia.


"Bisakah kamu menghargai bantuanku? Aku benar-benar ingin membantumu dengan tulus, aku ingin memperbaiki semua kesalahan yang telah aku lakukan padamu..." bisiknya dengan tatapan lembut dan dalam.


Hati Andy di buat penasaran oleh wanita di masalalunya kini. Dia sangat yakin sekali bahwa Silvia masih mencintainya.


"Tapi aku tidak suka bantuanmu!" timpal Silvia pelan, karena khawatir kemarahannya disana akan mengundang perhatian banyak orang. Sebab mereka kini berada di tengah-tengah parkiran mobil di gedung kantor milik Ayah mertuanya. "Apa kau tidak mendengarku? Sekali lagi lepaskan tanganku Andy, aku takut oranglain akan salah paham melihat kita. Kau tahu aku ini adalah istri dari putra pemilik kantor disini! Jadi jaga sikapmu sebagai seorang bawahannya mertuaku!" tegasnya lagi dengan memasang wajah tak sukanya.


"Apa kau takut mereka akan mengetahui hubungan kita?" celetuk Andy yang kini menyungging senyumnya senang, dengan penuh percaya dirinya ia mengungkit lagi hubungan yang sudah lama itu.


Lagi-lagi Andy mencoba untuk menggoda Silvia, mantan kekasih yang tak jadi ia nikahi dulu karena tergoda oleh sosok Cathrine Angela si wanita blasteran Jerman-Indo yang telah berhasil meluluh lantakan hatinya hingga berpaling dari wanita yang lebih lama mengenalinya itu.


"Apa kau sedang bermimpi?" ledek Silvia menyadarkan lagi Andy. "Hubungan apa yang kau maksudkan itu? Hubungan kita sudah lama berakhir! Jadi, jangan pernah mengharapkan lagi cintaku yang sudah lama mati padamu!" tekannya lagi.


Silvia kembali menatap tajam Andy. Ada kilatan amarah yang terpancar di mata Silvia. Jika kembali ingat akan hal yang menjijikan di masalalunya, pengkhianatan antara mantan kekasih dan juga mantan sahabatnya itu. Rasanya hatinya kembali geram apalagi jika mengingat sosok Ayah yang ia cintai selama ini, kehilangannya hati Silvia semakin terluka berdarah-darah.


"Sil_!"


Silvia menarik lengannya dengan kasar hingga berhasil terlepas dari Andy. Lalu menghembus nafasnya dengan kencang.


"Sudah cukup, ini untuk terakhir kalinya aku melihat wajahmu. Bersikaplah seperti tidak mengenaliku. Atau aku tidak akan pernah memaafkanmu untuk selamanya. Aku sudah hidup bahagia dan aku tidak mau menyia-nyiakan hidupku ini dengan selalu mengingat-ngingat lagi masalalu burukku bersamamu dan juga Cathrine! Lebih baik kau cari saja wanita itu! Aku yakin sekali saat ini dia juga sangat membutuhkan seseorang di sampingnya..." sindirnya dengan memiringkan bibirnya.

__ADS_1


"Apa kau benar-benar yakin, jika kau mencintai lelaki yang menjadi suamimu itu? Aku merasa_ kau hanya sedang berpura-pura saja Silvia..." alih Andy yang tak menyerah untuk terus menyelidiki Silvia. Mengorek sesuatu yang mungkin pula Silvia telah rencanakan dengan matang-matang. Sehingga dia berhasil merebut kebahagiaannya Cathrine. Seperti Cathrine yang juga telah merebut kebahagiaannya dahulu.


"Cinta... Tentu saja aku mencintainya. Jika tidak, mana mungkin aku mau menikah dengannya bukan?!" timpalnya dengan nada yang santai.


"Benarkah itu?" deliknya yang masih meragukan perkataan mantan kekasihnya.


Silvia lekas memalingkan wajah kesalnya lagi dari Andy, rasanya malas sekali terus berhadapan dengan lelaki bermuka tebal itu. Baginya percuma saja menjelaskan panjang lebar padanya, yang bersikap sok kepedean itu.


Namun saat Silvia berpaling, bersamaan itu pula ia tak sengaja melihat Devan yang terus memperhatikan dirinya bersama Andy dari jauh. Silvia pun membulatkan matanya, lantas ia menyunggingkan senyumnya dengan lebar.


"Mas!" serunya sembari melambai tangannya ke arah Devan. Silvia yang tak ingin lama-lama terjerat dengan obrolan tak penting bersama mantan kekasihnya itu, lebih baik ia segera pergi darinya dan menghampiri suaminya tersebut.


"Minggir dariku!" titahnya dengan nada ketus dan tak sengaja ia menyenggol bahu Andy. Lalu melangkah tertatih-tatih mendekati Devan.


"Mas,..." panggilnya dengan riang dan manja. Silvia memeluk erat pinggang suaminya dengan senyuman yang terukir indah di bibirnya. Sengaja ia ingin memperlihatkannya di depan mata Andy, bahwa dirinya kini hidup bahagia bersama lelaki lain.


Andy menatap pemandangan itu dengan sinis. Lalu diam-diam memotret mereka dengan ponselnya dan lekas mengirimkannya pada Cathrine.


Sepertinya, memisahkan mereka membutuhkan waktu yang sangat lama... pesan Andy pada Cathrine, dengan memasang wajah keruhnya.


"Sil, Silvia kenapa kau ada disini?" Devan menelan kasar ludahnya terkejut dengan perubahan Silvia yang mendadak baik kepadanya tak seperti hari kemarin. Apakah istrinya itu sedang amnesia? pikir Devan mengernyit bingung.


"Mas, maaf aku belum bilang padamu. Aku kemari di suruh Mama untuk mengantarkan ini pada Papa..." ucapnya seraya menyodorkan dokumen dan sekantung cemilan untuk Indra yang sejak tadi dia pegang pada Devan.


Sebenarnya Silvia masih marah soal berandal malam kemarin pada Devan, tapi untuk menghindari mantan kekasihnya itu. Lebih baik dia berpura-pura saja berbaikan dengan suaminya tersebut.


"Ya sudah, ayo kita masuk ke dalam..." titah Devan, lalu Devan meminta Nori yang sejak tadi berdiri di samping mobilnya untuk membawakan dokumen dan kantung cemilan untuk Ayahnya yang tadi Silvia bawa, untuk di serahkannya pada Ayahnya di ruangan Direktur Utama.


Nori mengangguk dan berjalan duluan ke ruangan Indra. Lalu Devan merangkul lengan istrinya dan pergi menjauh dari parkiran memasuki gedung perusahaan yang tinggi menjulang itu.


*****


Cathrine melempar kasar ponsel miliknya ke lantai hingga benda pipih itu terpecah menjadi dua bagian. Setelah ia mendapatkan pesan singkat dan foto kiriman dari Andy barusan.


"Br*ngseeeekk kau Silviaaa! Kenapa hidupmu selalu saja beruntung dariku!" berangnya mengusap kasar wajahnya yang sudah kacau.

__ADS_1


Cathrine melepas amarahnya di dalam kamar apartemen miliknya sendiri, hadiah pemberian Devan satu tahun lalu. Wanita berusia 26 tahun itu mere-mas kencang rambutnya yang telah acak-acakan. Dadanya kian sesak, kesakitan hatinya terus melunjak.


Bila di bandingkan hidupnya dulu dengan Silvia. Sungguh Cathrine lebih menderita. Setelah Mamanya meninggal dunia karena kecelakaan, Papanya menikah lagi dan membuatnya stress berat. Setiap kali Mama tirinya tak pernah memberikan apapun yang ia mau. Papanya lebih mementingkan pekerjaannya dan memanjakan istri mudanya itu tanpa perduli dirinya.


Kala itu Cathrine sangat iri pada kehidupan Silvia yang di kelilingi oleh banyak orang yang menyayanginya. Bahkan Ayah Silvia lebih memilih menduda selamanya daripada harus menikah lagi, demi untuk kebahagiaan Silvia. Begitupun Andy yang notabene lelaki kaya raya di kota mereka juga memiliki wajah tampannya, sama-sama begitu sangat menyayangi Silvia.


Sehingga setan dengan mudah merasuki hatinya, untuk membuat Silvia terjatuh sejatuh-jatuhnya dalam hidupnya, merebut Andy darinya dan menjadikan Andy sebagai ATM berjalannya.


Cathrine tak berhenti mondar-mandir di sana seraya menggigit bibir bawahnya, frustasi. Lantas Cathrine melihat surat keterangan Dokter yang menyatakan dirinya hamil lima minggu.


"Mau tak mau Devan harus bisa menikahiku secepatnya. Jika tidak, akan ku ungkapkan kehamilanku pada orangtuanya..." seringainya tersenyum licik seraya mengusap perutnya yang masih rata.


*****


Sebelum rapat berlangsung, Devan mengajak Silvia ke ruang pribadinya di kantor milik Papanya. Devan menutup rapat pintunya lalu membalikkan badannya, menatap istrinya yang sudah duduk di sofa dengan lesu di ruangan luas itu.


Silvia yang duduk menyenderkan kepalanya di sofa dengan pandangan yang kosong ke depan jendela besar, seperti tengah memikirkan sesuatu. Berbeda sekali dengan sikap manisnya tadi saat di parkiran. Devan mengernyitkan keningnya heran.


Apakah mungkin sikap Silvia barusan hanya kepura-puraannya saja di depan mantan kekasihnya itu? Devan kembali bergumam dalam pikirannya seraya memiringkan bibirnya.


"Ada apa dengan sikapmu yang manis barusan?" deliknya dengan menyedekapkan tangan di dada, lalu ikut duduk di sebelah Silvia. "Apa kau sengaja ingin memperlihatkan kemesraan kita pada mantan kekasihmu tadi? Jadi ceritanya_ kau hanya ingin memanas-manasi pria masalalumu itu?!" ledeknya.


Silvia menoleh pada Devan di sampingnya duduk. "Bukankah waktu itu kamu pernah bilang, kamu tidak perduli dengan urusanku? Kenapa sekarang seolah kamu ingin tahu masalahku?" ucapnya datar dan kembali menatap sayu ke depan.


"Apa kau masih mencintai lelaki itu?" tanya Devan yang kini wajahnya berubah serius


"Aku, mencintainya?!" Silvia menunjuki dirinya sendiri, seraya mengulang perkataan Devan dengan sinis. Lantas Silvia menggeleng kepalanya dan tertawa miris.


"Yang ada aku sangat membencinya. Kau tahu, dia adalah orang yang menyebabkan Ayahku meninggal dunia. Dia dan sahabat baikku yang pernah aku sayangi. Mereka berdua tega sekali mengkhianatiku, dan menghancurkan nama baikku. Karena ulah mereka Ayahku mati dalam keadaan membenciku..." lirihnya dengan suara yang bergetar.


Bahunya bergoncang kencang menahan rasa sesak di dada. Sungguh Silvia tak kuat jika terus-menerus memendam kesedihan itu walau memang sudah lama terjadi. Tapi rasa pahit itu masih terasa dalam hidupnya. Tangisannya pecah seketika, membuat Devan seolah ikut merasakan getirnya hidup yang pernah Silvia alami dulu.


Bersambung....


...***...

__ADS_1


Sambil menunggu lanjutan ceritanya mampir kemari yuk



__ADS_2