
...BAB 36...
...Memutuskan Pilihan...
"Lalu apa syarat yang kedua?" tanyanya lagi.
"Lalu yang kedua_ Emm..." Silvia menjeda ucapannya seraya berpikir, kemudian melangkah perlahan mendekati suaminya, yang kini posisi mereka berada di samping mobil pajero milik Devan.
"Yang kedua adalah... Kamu tidak akan pernah menceraikanku..."
Devan membelalakkan matanya terkejut, dengan permintaan syarat kedua dari Silvia. Dan justru itu adalah tujuan utamanya bersama Cathrine yang sempat saja ia lupakan.
Devan tergagap dan kesulitan menelan air ludahnya sendiri, dia benar-benar sudah lupa dengan janji-janjinya terhadap Cathrine untuk segera menikahinya setelah menceraikan Silvia.
Tatapannya yang bingung memandang ke sembarang arah, tak tahu harus menjawab apa pada wanita yang mulai ia sukai itu. Walau memang, rasa sukanya tak sebesar seperti rasa cintanya terhadap Cathrine. Tetapi ia mulai merasakan ada getaran aneh yang menyelusupi hatinya ketika berada di dekat Silvia. Rasa nyaman, tentram dan kehangatan di dalamnya.
Lalu, manakah yang harus Devan putuskan saat ini? Jelas sekali keinginan Silvia sangat berbanding terbalik dengan keinginan kekasihnya itu, yang menginginkannya untuk segera menceraikan Silvia. Apalagi melihat kondisi kaki Silvia sekarang, yang sudah mulai membaik. Devan semakin di kejar rasa bersalah karena pernah berjanji pada kekasihnya. Namun, entah mengapa menceraikan Silvia mendadak seperti berat ia lakukan. Ingin sekali Devan berkata 'iya' bahwa dia tak akan pernah menceraikan Silvia. Namun janjinya terhadap Cathrine sejak itu harus tetap ia penuhi. Devan tidak ingin menambah dosa lagi, setelah apa yang pernah ia lakukan terhadap Cathrine tanpa sengaja, menidurinya tanpa ia sadari.
Akh, Devan sungguh frustasi dan dibuat bingung dengan persoalan ini, siapakah sekarang yang harus ia turuti keinginannya? Silvia ataukah Cathrine kekasihnya?
"Apakah... Syarat keduamu itu bisa di ganti dengan yang lain?!" gagapnya. Devan menatap gamang pada Silvia. Bukan ia merasa ragu untuk tidak menceraikan Silvia. Tetapi ada hati wanita lain yang harus ia jaga dan tak bisa ia ingkari janjinya saat ini.
Silvia menggelengkan kepalanya pelan. Melihat ekspresi Devan yang agak keberatan, jujur saja hati Silvia sangat kecewa. Ternyata, Devan masih tetap memilih mempertahankan hubungannya bersama Cathrine di bandingkan harus mempertahankan rumahtangganya bersama Silvia. Hati Silvia kembali mengerdil, kapankah sang suami bisa menerima dirinya sebagai istrinya?
Walau memang, pada awalnya Silvia lah yang memaksa Devan untuk menikahinya, tetapi Silvia tak bisa bohong soal perasaannya sendiri terhadap Devan. Silvia mengagumi dan benar-benar mencintai lelaki yang sekarang menjadi suaminya itu.
"Tidak ada." jawab Silvia menunduk dalam.
"Tapi... Kalau kamu memang tidak bisa memenuhi permintaanku yang kedua itu. Ya sudah, aku juga tidak mau memaksamu lagi. Tetapi, aku juga tidak bisa memaafkan perbuatanmu padaku waktu itu. Itu adalah sebuah pelecehan bagiku dan aku sangat tak terima di perlakukan seperti itu oleh mereka..." ujarnya kesal, yang lalu Silvia berpaling membelakangi Devan. Lantas ia membuka pintu mobil pajero milik suaminya itu dan masuk duluan ke dalamnya.
Devan menelan lagi ludahnya dengan kasar, lalu menghirup udara dengan tarikan nafas yang dalam. Ia pun lekas memasukkan dua kantung besar belanjaan mereka ke dalam bagasi mobil. Lalu berlari kecil memutar mobil dan masuk ke dalam menyusul Silvia.
Sebelum menyalakan mesin mobil dan melajukannya. Keduanya masih bergeming di tempat dan saling menatap nanar pada kaca depan mobil. Mendadak perasaan mereka kembali canggung. Hanyut terbawa perasaannya masing-masing.
Devan kembali menghela berat nafasnya dan panjang, lalu memenjam sejenak kelopak matanya. Semoga saja ia tepat dalam memutuskan pilihan kali itu.
"Baiklah... Aku berjanji padamu Silvia. Aku tidak akan menceraikanmu..." ucapnya pelan untuk beberapa saat lamanya mereka terdiam. Keduanya kini saling menoleh dan melempar pandangan. Mata Silvia berkaca-kaca, rasa haru pun seolah membasuhi hatinya saat ini.
"Asalkan kamu mau memaafkan kesalahanku..." ucapnya lagi, menatap binar wajah istrinya yang kini pipinya sudah merona merah. "Maaf, maafkan aku sekali lagi. Tak akan kuulangi semua kebodohanku padamu..." janjinya.
__ADS_1
Silvia tersenyum tersipu. Lalu mengangguk-anggukan kepalanya. "Ya, aku sudah maafin kamu Mas... Terimakasih banyak kamu sudah menerimaku sebagai istrimu..." ucap Silvia terharu.
Devan ikut tersipu malu lalu memalingkan wajahnya ke sisi jendela tak ingin terlihat bahwa wajahnya kini juga sama merahnya seperti Silvia.
Ada apa ini? Kenapa debaran aneh ini muncul lagi? Melihat senyum malu-malu Silvia semakin membuatku gemas rasanya. batin Devan.
Setelah lama saling terdiam karena merasa malu dan canggung, tiba-tiba saja terdengar suara perut keroncongan dari Silvia.
"Ups, maaf..." lirih Silvia sontak pipinya bertambah merah saja. Menutupi mulutnya sendiri.
"Kamu lapar?" Devan mengangkat alisnya terkekeh kecil.
Silvia mengangguk pelan. "He'em..."
"Ayo, kita makan siang dulu. Kita cari Restoran terdekat." ajak Devan yang lekas di angguki lagi oleh Silvia.
Devan menyungging senyumnya lagi, lalu lekas menyalakan mesin dan mulai melajukan mobilnya keluar parkiran.
Selang kemudian, mereka telah sampai di sebuah Restoran cukup mewah di Jakarta. Devan keluar dari mobil duluan lalu membukakan pintu untuk Silvia. Memegang tangan Silvia untuk membantunya turun.
Lalu keduanya memasuki Restoran tersebut yang langsung di sambut ramah oleh dua pramusaji di sana. Devan mencari tempat duduk yang paling nyaman untuknya dan juga Silvia, dan dia memilih satu tempat di dekat air mancur kolam ikan hias. Itu adalah tempat yang tepat untuk mereka menikmati makan siang bersama. Devan pun mengulum senyumnya lagi, tersipu. Ini adalah pertama kalinya ia mengajak Silvia makan bersama di luar.
"Kamu mau makan apa? Pesanlah. Biar aku yang bayar semuanya. Selama ini kamu selalu menggunakan uangmu sendiri untuk beli apapun..." tawar Devan setelah mereka berdua duduk di kursi saling berhadapan.
"Beneran nih, kamu mau bayarin makanan yang ku pesan?" Silvia memincingkan matanya ke arah Devan, ragu.
Devan mengangguk lagi dan tersenyum. "Iya dong, aku ini 'kan suamimu. Jadi aku wajib memberikan nafkah lahirmu, Silvia..." tegasnya.
"Tapi 'kan... Aku sudah berjanji tidak akan mengusik hartamu. Karena ak_"
"Lupakan janji konyolmu itu. Sekarang kita sudah terlanjur sah menjadi suami istri. Jadi kita akan lanjutkan hubungan pernikahan ini seperti pernikahan biasanya." sela Devan yang langsung memotong perkataan Silvia, dan itu berhasil membuat Silvia tersohok menahan nafasnya sendiri. Jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang seketika Devan mengatakan bahwa mereka berdua telah sah menjadi suami-istri.
"Ka, kamu yakin dengan ucapanmu itu Mas?!" gelagapnya.
Silvia mengedip-ngedipkan matanya tak percaya dengan apa yang dikatakan Devan barusan. Rasanya seperti ada air mata haru yang ingin tumpah dari sana.
"Kalau tak yakin, aku sudah menceraikanmu sejak dulu, tapi tak kulakukan itu 'kan? Itu karena aku kasihan melihat hidupmu yang menyedihkan... Sudah jadi anak yatim piatu. Terus kakinya jadi pincang karena tak sengaja aku tabrak. Jadi ya... Mungkin Tuhan memang menginginkanku untuk menjagamu." celetuk Devan tanpa berperasaan, hingga membuat bibir Silvia mengerucut, jengkel. Sebab Devan yang telah terang-terangan mengatakan ia hanya kasihan saja padanya.
Silvia mendengus kasar. "Uuh, menyebalkan sekali sih! Ya lah... Aku memang wanita yang sangat menyedihkan! Puas kamu?!" ketusnya, menggerutu kesal.
__ADS_1
Devan hanya menahan tawanya geli, mendengar kemarahan Silvia yang lucu menurutnya.
"Ya udah cepat pesan makananmu, karena aku harus kembali ke kantor. Sebentar lagi waktu istirahatku selesai.." titah Devan setelah puas membuat Silvia marah.
"Bukankah kau itu seorang pimpinan di perusahaan cabang milik Papamu ya. Kenapa juga harus khawatir kalau terlambat kerja?"
"Ya, nggak begitu juga dong. Walaupun aku putra pemilik perusahaan. Aku tetap harus bersikap profesional dan menjaga attitude ku dalam bekerja. Agar mereka semua tahu jika seorang pimpinan harus sama rata dengan para bawahannya dalam bekerja untuk tidak seenaknya saja bersantai di saat jam kerja!" sergah Devan tak membenarkan perkataan Silvia.
Silvia mengangguk mengerti lantas ia pun segera memesan makanannya. Pun dengan Devan yang memilih makanan favoritnya selama ini. Yang selalu dia tahan-tahan di kala sangat menginginkannya, karena Cathrine yang selalu melarangnya demi menjaga tubuh Devan agar tetap atletis.
Tak berapa lama makanan yang mereka pesan pun akhirnya datang.
"Silakan dinikmati Tuan, Nyonya..."
"Terimakasih..." ucap Devan.
"Waaww... Nyummy..." Silvia mencium dalam harumnya asap ayam bakar dan sambal terasi khas indonesia itu.
"Kau suka sekali dengan ayam bakar? Kenapa?" ujar Devan.
"He'em..." angguknya sambil mulut penuh. "Karena... Ayam bakar jadi ngingetin aku sama Ayah. Beliau suka sekali meminta Ibuku untuk di buatkan ayam bakar..." jawab Silvia yang kembali menundukkan wajah mendungnya.
Melihat kesedihan lagi di raut wajah Silvia, Devan lekas mengambil selembar tissue di meja dan mengusap sudut bibirnya Silvia yang sedikit belepotan karena bumbu kecap.
"Sudah jangan menangis lagi. Aku ikut perih setiap kali kamu menceritakan orangtuamu yang telah tiada..." tutur Devan, menatap lembut dan perhatian pada Silvia.
Jantung Silvia kembali berdebar lagi. Kali itu dia tak bisa menahan gejolak asmara dalam dadanya. Kesedihan Silvia yang selama ini selalu menyelimutinya, perlahan berganti dengan rasa bahagia dan berbunga-bunga.
Ketika keduanya tanpa sadar saling menatap dengan lembut dan dalam, di meja Restoran.
Tiba-tiba Catherine menghampiri mereka dengan langkah tergesa-gesa. Lalu menarik cepat tangan Devan, yang ibu jarinya masih betah mengusap lembut bibir Silvia di depan matanya.
Sontak keduanya pun terkejut. Devan terbelalak kaget, seakan jantungnya berhenti berdetak melihat kekasihnya sudah berdiri tepat di samping meja makan mereka. Wajah cantiknya memerah padam, memperlihatkan bahwa dirinya tengah marah di bakar api cemburu.
"Cath, Cathrine?!"
Bersambung....
...*****...
__ADS_1
Sambil menunggu cerita lanjutannya, yuk mampir di cerita ini...