Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Ceraikan Aku Dan Nikahi Dia


__ADS_3

Mohon maaf bila menemukan ada typo di bagian-bagian kata atau dalam kalimatnya. Tolong bantu di koreksi kritik dan saran tulisannya ya agar author segera memperbaiki lagi kesalahannya 🙏🙏🙏 dan bab sebelumnya author juga sudah perbaiki lagi.


Jalur 21++


...BAB 39...


...Ceraikan Aku Dan Nikahi Dia...


"Silvia kau percaya pada kata-kataku 'kan...?" tanyanya lagi, berharap Silvia akan percaya dengan apa yang ia ceritakan bahwa itu memang kenyataannya.


Silvia menggeleng cepat kepalanya seraya memenjam rapat matanya.


"Nikahi dia Mas!" titahnya pelan sontak membuat Devan terperangah.


"Aku akan mendukungmu untuk kau menikahi kekasihmu itu. Aku sadar, disini akulah yang salah karena telah memaksamu untuk menikahiku dulu. Jadi sekarang, akulah yang akan mundur dengan pernikahan kita ini. Maafkan aku yang sudah banyak merepotkanmu..."


Silvia menunduk dalam wajahnya tanpa ingin melihat Devan. Air matanya luruh seketika membasahi wajah hingga berjatuhan ke atas gamis yang ia pakai.


"Maafkan aku... yang selalu menyusahkan hidupmu..." lirihnya lagi dengan bibir bergetar.


"Tidak-tidak, aku tidak bisa menceraikanmu Silvia! Bukankah kita sudah saling sepakat. Aku siap penuhi syaratmu yang kedua itu, jadi jangan ada perceraian di antara kita!" tegas Devan dengan nafas yang memburu cepat.


Entah kenapa tiba-tiba dadanya begitu sesak ketika Silvia memintanya untuk bercerai. Padahal dulu lisannya begitu ringan saat janjinya pada Catherine untuk menceraikannya. Apa karena cinta itu mulai tumbuh dalam hatinya, tanpa ia sadari? Apalagi melihat sosok Silvia dengan penampilan barunya. Devan seakan berat untuk melepaskan wanita bak bidadari surga itu.


Silvia menyeka cepat air matanya. Lalu menggeleng lagi.


"Lupakan syarat ku yang tadi. Kau harus segera menikahi Cathrine secepatnya. Gara-gara aku, kalian berdua jadi terjerumus dalam kubangan dosa! Aku khawatir akan hubungan kalian yang semakin menjadi-jadi!" sergahnya, lalu Silvia berdiri dan berjalan untuk mengambil sesuatu di dalam lemarinya.


"Silvia, kamu mau apa?" Devan menoleh cemas melihat pergerakan tangan Silvia yang sedang mencari-cari sesuatu di bawah tumpukan pakaiannya, pakaian yang sudah tersusun dengan rapi di sana.


Silvia menghirup dalam-dalam nafasnya seraya memenjam rapat matanya lalu menghembuskannya perlahan. Setelah ia temukan yang ia cari barusan.


Silvia berbalik pelan menghadap Devan, lalu tangannya mengulur memberikan sepasang buku nikah berjilid warna merah dan hijau tua itu.


"Ini ambillah, sekarang juga kita ke kantor agama. Ayo kita selesaikan semuanya, lebih cepat lebih baik." Silvia menyerahkan buku nikah mereka berdua kepada Devan. Dan meminta gugatan cerai pada hari itu juga. Devan meraih buku yang jadi bukti sah pernikahan mereka berdua di tangan Silvia dengan tubuh yang bergetar.


"Kamu tidak serius kan?" Devan menggeleng lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca menatap nanar wajah istrinya. "Tolong percayalah padaku Silvia, sekali saja. Aku benar-benar melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Aku sama sekali tak mengingat sedikit pun kejadian itu." jelas Devan lagi tetap kekeuh membantahnya, agar Silvia percaya yang dia ucapkan tidaklah bohong. Namun Silvia tetap menggeleng ragu.

__ADS_1


"Tak ada yang tahu kau melakukannya sadar atau tanpa sadar, Mas! Hanya Tuhan dan Mas saja yang tahu akan perbuatan Mas sendiri. Selama dua malam kau menginap di apartemennya Cathrine! Apa aku akan percaya begitu saja, jika kalian berdua tidak melakukan apa-pun?" sanggah Silvia, bola matanya bergerak-gerak memadai wajah Devan dengan tatapan getir. "Kalian berdua adalah sama-sama orang dewasa dan kalian juga saling mencintai, jadi besar kemungkinan kalau kau akan melakukannya dengan senang hati." tegasnya lagi.


Silvia mengangguk paham. Memang tak ada yang bisa memisahkan dua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu, sehingga mereka nekad melakukan hal yang keji. Tapi yang ia sayangkan, kenapa Devan tak bisa menahan dirinya. Dan lebih memilih yang haram daripada yang jelas-jelas sudah halal di depan matanya sendiri. Silvia semakin rendah diri, sangat jelas kalau Devan begitu tak menginginkan dirinya. Toh, buat apa juga 'kan dia harus mepertahankan pernikahan bodoh ini?!


"Silvia, aku tahu kau pasti tak akan pernah percaya yang aku ucapkan. Tapi sungguh itulah kenyataannya..." Devan meraup bahu Silvia, agar wanita yang masih berstatus istrinya itu kembali menatap kedalaman matanya bahwa tak ada kebohongan di dalamnya.


"Aku akan membantumu bicara pada kedua orangtuamu, Mas. Terutama pada Mamamu. Semoga nanti Mama mau menerima Cathrine." ucapnya dengan mimik yang tenang.


"Sil, tapi_" Devan menggenggam tangan Silvia, seraya menggeleng kepalanya lagi. Memohon padanya untuk mempertimbangkan lagi masalah ini.


Silvia tersenyum kecut. "Jangan khawatir Mas, aku tak akan bilang-bilang pada kedua orangtuamu soal apa yang sudah kau lakukan dengan pacarmu itu. Aku tahu batasan dan masih punya hati nurani, aku tak akan mungkin membuat kedua orangtuamu jadi shock mendengarnya." ucapnya.


Tiiitt tiiiitttt tiiiitt


Suara klakson mobil pribadi Dini terdengar kencang di bawah halaman sana. Mereka berdua terkejut lantas menengok ke bawah dari jendela kamar.


"Itu Mamamu sudah pulang, aku akan temui beliau untuk membicarakan perceraian kita..." Silvia melepas tangannya yang masih di pegang Devan. Namun saat Silvia ingin melangkah membuka pintu. Cepat-cepat Devan menarik tangannya lagi lalu memeluknya dengan erat, dan membiarkan buku nikah mereka terjatuh, berserakan di lantai.


"Jangan Silvia, aku mohon padamu!" pintanya dengan wajah memelas.


"Tapi Mas, sampai kapan kita akan menunda-nunda perceraian ini? Apa kamu tega membiarkan perasaan Cathrine terlunta-lunta? Menggantung hubungan kalian yang tanpa ikatan pasti? Setelah apa yang kau lakukan padanya. Kehilangan keperawanannya sebelum ia menikah. Kasihan dia, kamu harus tanggung jawab. Jangan coba-coba jadi lelaki pengecut. Mama mu tidak akan pernah mengizinkanmu memiliki dua istri. Maka itu, biarlah aku saja yang mundur. Lalu kau segera menikahi Cathrine..."


"Kubilang tidak akan ada perceraian diantara kita, Silvia! Apa kau tidak mendengar perkataanku!" bentaknya keras dengan wajah yang sudah memerah padam. Dadanya kembang kempis menahan emosi yang bergejolak di dalam dada.


Lantas Devan menangkup kedua belah pipi Silvia. Tatapan matanya berubah sendu, memadai setiap inci wajah cantiknya yang tanpa makeup itu. Benar-benar sangat alami. Putih dan bersih. Sangat berbanding jauh dengan kulit Cathrine yang selalu memakai tampilan makeup. Cathrine memang cantik hanya saja, entah mengapa Devan lebih menyukai kulit wajah natural seperti Silvia.


"Bila kukatakan padamu_ kalau aku mencintaimu saat ini. Apa kau akan percaya padaku?" ucapnya dengan lirih. Devan menelan ludahnya pelan. Lalu kembali memandang wajah cantik istrinya dari jarak yang sangat dekat.


"Aku jatuh cinta padamu..." ucapnya.


Deg deg deg


Silvia tersohok, matanya membulat sempurna. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya, setelah ia mendengar ucapan cinta dari mulut Devan sendiri. Seperti mimpi, ya... Ini benar-benar seperti mimpi. Akhirnya sekian purnama ia menunggu, cintanya terhadap Devan, dapat terbalaskan juga.


Devan tak menunggu jawaban dari Silvia. Karena tahu Silvia memang sudah memiliki rasa itu padanya sejak lama. Lantas tangannya menarik wajah Silvia ke arahnya, yang kepalanya masih terbalut oleh jilbab berwarna navi. Menatap lembut dengan pandangan yang berkabut. Lalu mengecup singkat bibir Silvia, memberi jeda sebelum ia kembali menyatukan bibirnya lebih dalam.


"Bolehkah, hari ini aku meminta hakku padamu...?" bisiknya.

__ADS_1


Permintaannya sukses membuat Silvia terpaku, tubuhnya seolah menegang seperti ada aliran listrik yang menyengatnya. Saat ia rasakan lagi sentuhan lembut dan dalam dari benda kenyal milik Devan. Nafasnya yang harum menderu hangat di wajahnya.


Walau itu adalah ciuman ketiga yang Silvia rasakan dari suaminya. Tapi kali ini rasanya sangat lain, lebih nikmat hingga ke lubuk hatinya.


Devan menarik pinggang ramping Silvia dan merapatkan tubuh mereka dan tangan satunya lagi membuka balutan jilbab di kepalanya. Hingga helaian kain lebar panjang itu terjatuh ke lantai. Tanpa melepaskan bibirnya yang terus berkelana menjelajahi wajah Silvia.


Silvia tersadar, lantas ia mendorong kasar tubuh Devan dari hadapannya. Nyaris saja Ia terhanyut dengan rayuan bibir Devan yang menggairahkan.


"Apa yang kau lakukan? Ini tidak benar Mas!"


"Apanya yang tidak benar, kau itu istriku. Dan aku berhak memintanya sekarang."


Silvia menggeleng cepat seraya menutup dua telinganya yang tak ingin mendengar perkataan Devan. "Mas, jangan membuatku jadi ragu dengan keputusanku ini. Semuanya sudah berakhir dan kita berdua tetap akan bercerai!" teriaknya lagi dengan menatap nyalang wajah Devan.


Silvia membungkuk mengambil jilbabnya yang barusan di jatuhkan Devan. Namun dengan gerakan cepat, Devan kembali meraih tangan Silvia lalu memangku tubuh mungilnya yang terasa padat itu.


"Aku bilang tidak akan Silvia. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Selama-lamanya kau tetap menjadi istriku. Dan masalah Cathrine biar itu menjadi urusanku sendiri!" tegasnya lagi, dengan menatap tajam dan dalam pada Silvia yang masih tercengang kaget, yang kini tubuhnya sudah berada di gendongan Devan.


Devan pun berjalan membawa tubuh istrinya, menghempaskannya pelan ke atas kasur.


"A-apa yang ingin kau lakukan padaku?" ucapnya terbata-bata, gugup, memundurkan tubuhnya menjauh.


"Meminta hakku padamu." ucapnya lagi singkat, seraya membuka perlahan pakaian atas yang melekat di tubuh kekarnya.


Silvia menggeleng cepat dengan jantung masih berdebar-debar kencang, ada rasa takut di hatinya, tapi Devan tak peduli. Ia terus melanjutkan aksinya. Menginginkan tubuh Silvia pada hari itu.


Sekuat tenaga Silvia ingin mempertahankan dirinya agar tak di jamah lebih oleh lelaki yang masih sah sebagai suaminya. Namun tetap saja Devan lebih unggul darinya. Silvia kalah dan akhirnya pasrah dengan apa yang Devan lakukan terhadapnya.


Dan siang itu adalah pertama kalinya mereka melakukan ritual suami istri setelah empat bulan lamanya menikah.


Bersambung....


...****...


Silakan boleh mampir kesini, sambil nunggu lanjutan ceritanya... 😍😍😍 Oke makasih atas dukungannya....


__ADS_1


__ADS_2