Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Mau Tak Mau, Harus Siap Berbagi Suami


__ADS_3

...BAB 48...


...Mau Tak Mau, Harus Siap Berbagi Suami...


"Apa?!"


Devan tercengang setelah tahu kabar bahwa motor milik orang suruhannya untuk membuntuti Andy di temukan hangus terbakar di sebuah jurang pagi itu. Namun keberadaan jasadnya sama sekali tak di temukan disana.


"Teruskan pencarian dimana Dani berada!" perintahnya pada polisi yang bertugas.


"Ya Tuhan kemana dia? Semoga saja Dani masih hidup dan baik-baik saja..." harapnya, bibirnya bergetar melantunkan doa.


Pantas saja selama seharian itu Devan tak dapat lagi kabar darinya, setelah terakhir Dani memperlihatkan video Andy yang sedang minum-minuman di sebuah bar malam kemarin.


Hingga lima hari berlalu, pencarian itu terus saja di lakukan namun polisi masih belum menemukan jasad Dani.


Sedangkan acara pernikahan Devan dan Cathrine pun terpaksa di adakan di rumahnya Bi Tuti di kota Bogor, dan pernikahan itu di gelar sesederhana mungkin. Bi Tuti yang sudah Cathrine anggap menjadi Ibunya sendiri selain itu menjadikannya dia sebagai Ibu kandung pura-puranya di depan Devan dan kedua orangtuanya. Sebab Ayah Cathrine sudah tak lagi ingat akan dirinya sejak rumah mereka di sita oleh pihak Bank bertahun-tahun lalu, dan menurut kabarnya, Ayah dan Ibu tiri Cathrine kini hidup miskin di sebuah kota terpencil nan jauh dari kota kelahirannya.


Selama akad berlangsung, tak ada keceriaan sedikitpun di wajah Cathrine. Devan mengerti perasaannya, bukan pernikahan seperti inilah yang di harapkan Cathrine. Tetapi mau bagaimana lagi, Devan pun tak punya pilihan lain.


Kedua orangtuanya tetap tak mau jika sampai pernikahan Devan dan Cathrine di ketahui oleh publik. Dan Devan pun tak mau terus menunda-nunda untuk menikahi Cathrine sedang di perutnya terus tumbuh janin yang tak berdosa.


Setelah acara itu selesai. Pukul empat sore Devan pun kembali pulang ke Jakarta serta membawa Cathrine, istri keduanya.


Namun setelahnya Cathrine sudah tak di ijinkan lagi Devan untuk menyanyi dan menerima undangan acara apapun di statsiun televisi. Devan memintanya agar fokus menjadi seorang istri sepenuhnya seperti yang Silvia lakukan.


"Untuk sementara ini kamu tinggal di rumah orangtuaku dulu ya... Apartemenmu kita jual saja. Aku khawatir banyak fansmu yang akan mencarimu kesana dan menanyakan dirimu..." ucap Devan.


"Terserah padamu!" ketusnya, seraya memalingkan wajahnya ke jendela. "Bukannya bahagia menjadi istrimu, tapi malah kayak jadi buronan saja yang tiap hari harus sembunyi dari orang. Sampai kapan aku harus menutupi diriku sendiri seperti ini?!" sungutnya kesal.


Devan menghela nafas pelan. Lalu mengusap lembut bahunya Cathrine sambil tersenyum. "Jangan gitu dong... Bersabarlah. Ada saatnya kamu bahagia nanti, walau statusmu hanya istri keduaku dan walau hanya istri siriku, tapi..." Devan mencubit gemas pipi istrinya yang masih saja cemberut. Tapi walau begitu Cathrine tetap cantik dan seksi.


"Cintaku padamu tidak akan pernah padam, dan aku akan berusaha untuk mengabulkan setiap permintaanmu... Apapun yang kamu mau..." bujuknya lagi agar Cathrine kembali ceria dan berhenti merajuk.


"Benarkah?" Mata Cathrine pun berubah cerah.


Devan mengangguk tersenyum. "Iya..."


"Baiklah aku tunggu janjimu untuk membahagiakanku..." Cathrine pun akhirnya luluh, lalu ia menyenderkan kepalanya di bahu Devan seraya mengapit tangannya di lengan Devan dengan manja.


Devan tersenyum lega, lalu mengecup lembut keningnya Cathrine. Satu masalah untuk mengenyahkan kemarahan Cathrine telah ia selesaikan. Dan sekarang Devan ingin cepat-cepat pulang ke rumah, juga untuk menemui Silvia, berusaha untuk membuat hati istri pertamanya senang.


Sejak dirinya memutuskan untuk menikahi Cathrine. Silvia seolah menjaga jarak dengan dirinya, tak ada sedikit pun perhatian yang biasa ia lakukan untuknya. Silvia berubah acuh dan lebih memilih sibuk dengan pekerjaannya sendiri.


Devan tahu, Silvia sebenarnya ingin bercerai darinya. Tapi Devan tetap tak ingin melepaskan wanita yang sudah berani mencuri hatinya itu. Tak hanya itu saja kedua orangtuanya juga tak menginginkan Silvia pergi meninggalkan mereka. Mereka sudah teramat sayang Silvia.


Selang beberapa jam kemudian. Mobil Devan pun telah sampai di kediaman keluarga Alvandra tepat pukul enam sore. Salah satu pelayan pun bergegas keluar teras menghampiri mereka dan membantu membawakan koper milik Cathrine.


"Tolong bawakan koper ini masuk ke kamar lantai dua di samping kamarku, yang sudah di bersihkan kemarin ya mbak..." titah Devan pada pelayan wanita berusia tiga puluh lima tahun itu.


"Baik Tuan..." sahutnya. Pelayan itu pun masuk sambil menyeret koper besar milik Cathrine dan membawanya ke lantai dua.

__ADS_1


Bi Sari dan Silvia yang berada di ruang tengah pun saling menatap setelah tahu kedatangan Devan dan istri barunya.


"Bi, aku ke kamar dulu ya..." ucap Silvia. Bibi Sari mengangguk, mengerti perasaannya Silvia yang mungkin masih enggan untuk menyapa mereka.


"Iye Non..."


Silvia lekas berdiri dari sofa dan mematikan televisi. Lalu pergi ke kamarnya, rasanya malas sekali untuk menemui mereka berdua. Setelah pembicaraan seminggu lalu sebelum Devan menikahi Cathrine. Silvia tak ingin lagi peduli dengan aktivitas suaminya. Ia lebih memilih mengerjakan pekerjaan yang ia geluti sendiri untuk menghilangkan rasa kejenuhannya.


Tak ada yang tahu kesibukan Silvia saat ini. Silvia diam-diam sedang membuka bisnis kecil-kecilannya. Dengan modal dari tabungannya yang masih lumayan banyak di rekeningnya sendiri, hasil dari jual rumah kedua orangtuanya di Bogor dulu. Silvia sudah membeli sebuah ruko di dekat pasar abang tiga hari lalu. Dia menjual jenis tas, seperti tas sekolah dan tas untuk orang dewasa. Tak hanya itu saja yang ia jual, tetapi berbagai jenis sepatu, dari usia bayi hingga usia dewasa wanita dan juga pria.


Sejak menikah dengan Devan, Silvia memang tak pernah sedikitpun meminta uang darinya karena janjinya dulu tak akan memintanya asalkan Devan mau menikahinya. Kedua orangtua Devan pun tak tahu soal itu. Karena tujuan awalnya, Silvia memang ingin menggagalkan pernikahan mantan sahabatnya sendiri.


Tapi sebesar apapun usahanya ingin membuat Cathrine sakit hati seperti yang pernah di alaminya dulu. Pada akhirnya Cathrine masih bisa menikah dengan Devan. Ya, itu artinya pembalasan dendamnya yang selama ini ia rencanakan sendiri, berakhir sia-sia.


Silvia yang sebenarnya pun ingin mengakhiri pernikahan itu, namun ia sudah terlanjur terjebak dalam pernikahan yang ia buat sendiri. Devan yang sudah mulai mencintainya dan tak ingin pisah darinya, begitupun sama dengan kedua orangtuanya.


Bimbang yang ia rasakan, melepaskan diri tak bisa, bersatu pun enggan. Entah bagaimana nasib hidupnya nanti ke depan? Mau tak mau dia pun harus siap berbagi suaminya dengan mantan sahabatnya sendiri.


Devan dan Cathrine pun masuk ke dalam rumah di sambut oleh Bi Sari disana.


"Den..." Bi Sari menghampiri.


"Bi apa Mama dan Papa sudah pulang?" tanya Devan pada Bi Sari.


Sudah dua hari ini kedua orangtuanya Devan memang pergi mengunjungi Tante Isna di Malaysia, karena sedang ada acara pernikahan Danu putra keduanya Tante Isna. Berarti Danu adalah sepupunya Devan.


"Belum Den, kata Nyonya di telepon. Nyonya masih ingin nginep di sana satu bulan lagi..." jawab Bi Sari.


"Sebulan lagi?!" pekiknya. Bi Sari mengangguk sambil mengerutkan dahi.


Devan tersohok mendengar jawaban Bi Sari, lantas menghela nafas berat dan panjang. Begitu nelangsa tentunya. Ia tahu jika Mamanya masih belum bisa menerima pernikahannya bersama Cathrine. Buktinya beliau lebih memilih menghadiri acara pernikahan keponakan Papanya yang berada jauh di negeri jiran, di bandingkan harus menghadiri pernikahan putranya sendiri.


"Kamu mau langsung mandi atau makan dulu?" tanya Devan. Setelah keduanya ada di dalam kamar.


Devan memilih kamar Cathrine di dekat kamar Silvia. Itu agar memudahkannya untuk mengambil pakaian yang memang di simpan dalam lemari kamarnya bersama Silvia.


"Aku mau istirahat dulu aja. Badanku rasanya capek sekali..." keluh Cathrine yang lekas menghempas tubuh langsingnya di atas pembaringan kasur yang empuk dan lembut.


"Oh, ya sudah terserah padamu... Tidurlah dulu. Mas mau mandi..." Devan pun hendak kembali keluar namun Cathrine cepat-cepat memanggilnya lagi.


"Mandi dimana? Di kamar sini juga kan ada kamar mandinya!" sahutnya sewot.


"Em, aku mandi di kamar sebelah. Karena bajuku ada di sana..." jawab Devan kikuk seraya mengusap tengkuk lehernya yang mulai berkeringat, gelisah. Firasatnya mengatakan ini akan menimbulkan masalah baru lagi.


Cathrine berdiri dan menengok kamar yang di tunjuk Devan. Cathrine pun mengernyit ketat dan tahu jika kamar itu sekarang memang di tempati oleh Devan bersama Silvia.


"Kamar wanita itu?!" ketusnya mendelik tak suka.


"Cath, Silvia juga istriku. Karena sebelumnya kan aku menikahinya lebih dulu. Itu artinya dia kakak madumu sekarang... Jadi, ku harap kalian berdua bisa akur nantinya..." tutur Devan dengan sehalus mungkin dia berbicara, agar Cathrine tak sakit hati dan dapat mengerti kondisinya saat ini.


"Iya, tapi menikahinya karena paksaan dia sendiri kan?! Huh! Pokoknya aku tak mau tahu. Kamu harus pindahkan barang-barangmu ke kamar ini sekarang juga!" titahnya, bukannya memahami tapi malah marah yang semakin menjadi.

__ADS_1


"Iya, baiklah tapi tidak sekarang, karena aku masih capek sayang... Tolong bersabar ya..."


"Baiklah tapi besok pokoknya barang-barangmu harus ada di kamar ini semua! Titik!" perintahnya lagi.


Devan menghembus nafasnya dengan kencang, lalu mengangguk cepat kepalanya. Dari pada di marahi lagi lebih baik dia menurut saja. Baru saja beberapa jam berpoligami dia sudah pusing duluan.


Ternyata ini lebih sulit yang ia bayangkan. Menyatukan dua wanita yang ia cintai di satu atap yang sama membuat kepalanya jadi sakit, yang rasanya seperti ingin pecah.


Devan lekas masuk ke kamar satunya bersama Silvia. Matanya mengedar ke seluruh ruangan kamar setelah menutup rapat pintunya. Tak ia temukan Silvia. Tapi terdengar suara guyuran shower di dalam kamar mandi. Membuatnya yakin jika Silvia tengah mandi sore.


Devan mengulas senyum tipis di bibirnya lalu ia mengambil piyama tidurnya di lemari juga sehelai handuk baru yang selalu rapi dan harum karena Silvia memang tak pernah lupa untuk mencucinya tiga hari sekali dan menggantinya yang baru.


Silvia pun keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk saja. Rambutnya di biarkan tergerai karena masih basah. Sontak ia kaget karena Devan sudah ada di dalam kamarnya.


"Mas!" pekiknya refleks ia menutupi bagian depan dadanya dengan menyilangkan dua tangan.


Devan tersenyum lembut lalu perlahan mendekatinya. Silvia pun jadi tergugup dan langsung memundurkan langkahnya ke belakang.


"Kenapa Mas disini sih, sekarang kan Mas sudah punya kamar yang lain?!" gerutunya.


"Ini kan juga kamarku. Jadi aku bebaskan kemari sesuka hatiku. Lagipula pakaianku semua ada di sini, bagaimana aku mandi dan tak ada pakaianku?" timpalnya enteng.


Silvia memalingkan wajahnya yang sudah memerah lantas mengambil cepat pakaian tidurnya sendiri di atas kasur yang sudah di persiapkannya dari tadi.


"Ya sudah sana, cepetan mandi! Kenapa masih berdiri saja di situ?!" ketusnya lagi masih menundukkan wajah malunya.


Devan meneguk ludahnya beberapa kali, matanya tak berkedip menatap istri pertamanya yang memang cantik. Entah kenapa dia selalu tergoda hanya melihat tubuh Silvia yang putih bersih itu. Jika Silvia memakai pakaian tertutup dan berhijab, hatinya selalu merasakan sejuk dan nyaman. Silvia memang telah berhasil menaklukan hatinya.


"Kenapa lihat aku seperti itu terus? Awas sana aku mau pakai bajuku!" usir Silvia menyuruh Devan agar cepat-cepat masuk ke kamar mandi.


"Pakailah di depanku. Kenapa masih saja malu-malu begitu?! Bukankah aku sudah pernah melihat semuanya..." dengan entengnya Devan bicara sambil terus tersenyum menggoda.


"Dasar otak mesum!" cebiknya. Devan terkekeh lucu.


Silvia pun cepat-cepat berjalan melewati Devan untuk bersembunyi di samping lemari pakaiannya. Tapi sayangnya, Devan malah meraih cepat lengannya. Hingga kepala Silvia terbentur di depan dadanya. Handuk yang ia pakai pun alhasil nyaris saja melorot ke bawah. Tapi lekas ia pegangin dengan kuat handuk itu.


"Apaan sih Mas?! Lepaskan aku, aku mau pakai baju!!" pekiknya kesal.


"Pakai saja di depanku... Aku suka melihatnya." Devan memeluk erat pinggang Silvia yang terus memberontak melepaskan diri.


"Aku suka lihat kamu marah dan kesal seperti ini... Daripada aku di acuhkan terus. Rasanya hidupku jadi tidak bergai-rah..." bisiknya di belakang telinga sang istri. Sontak bulu kuduk Silvia meremang. Pipi-pipinya terasa panas.


"Lepas Mas..." rintih Silvia yang mulai sesak karena terus di peluk erat oleh Devan.


Silvia terus berontak ketika suaminya terus mencuri-curi kecupan di pipinya juga bibirnya dengan gemas.


Tanpa mereka sadari seseorang sudah membuka pintu kamar mereka.


"Beebbb!!" teriaknya. Wajahnya seketika memerah menahan amarah. Melihat adegan panas di depan matanya sendiri.


Bagaimana tidak dia tak marah? Ini adalah hari pernikahannya yang harus jadi malam pertama baginya. Tetapi dengan mudahnya suaminya malah bermain dengan istri pertamanya.

__ADS_1


Bersambung....


...*****...


__ADS_2