Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Kebodohan Devan Selama ini


__ADS_3

...BAB 60...


...Kebodohan Devan Selama ini...


Sesuai permintaan Mamanya, sore itu Devan pergi untuk mencari Silvia ke rumah kontrakan Nana. Berniat mengajaknya pulang. Tapi ternyata di kontrakan Nana kosong, dan tak ada siapapun.


Devan pun melacak keberadaan mobil Silvia dengan ponselnya yang ternyata saat ini mobil Silvia berada di sebuah taman hiburan. Devan bergegas memutar mobilnya lalu melintas cepat membelah jalan menyusul Silvia.


Selang empat puluh menit kemudian Devan telah sampai taman hiburan, lalu mengambil ponsel dan menghubungi nomer mantan istrinya tersebut.


"Hallo?!" Devan mengernyit karna yang menjawab bukanlah Silvia melainkan suara perempuan lain. Yang ia ketahui itu adalah suaranya Nana.


"Nana, ini Nana kan?"


["Pak Devan... Tolong Silvia Pak..."] teriak Nana.


"Kenapa Nana, ada apa dengan Silvia?" tanyanya tiba-tiba saja raut wajahnya berubah tegang dan jadi panik.


["Silvia, dia-dia di culik Pakk... hiks hiks"] isak Nana kencang.


Devan terbelalak. Matanya membulat lebar. "A-apa katamu?! Dimana sekarang posisimu berada?" teriak Devan.


Jantung Devan seolah berhenti berdetak, mendengar kabar buruk itu. Seketika ia jadi teringat dengan perkataan Dani yang sempat saja terlupakan itu. Bahwa hidup Silvia dalam bahaya.


Andy, apakah ini perbuatannya! pekiknya dalam hati. Lantas Devan memukul kencang setir mobilnya, membodohi dirinya sendiri. Bre ngsek! geramnya, seraya mengeratkan gigi-giginya.


["Aku berada di parkiran Taman Hiburan Pak Devan..."]


Devan menutup cepat sambungan teleponnya lalu keluar mobil, dan bergegas lari ke arah parkiran. Benar saja di sana terlihat ada Nana yang sedang menangis histeris dan di tenangkan oleh beberapa pengunjung lainnya. Juga ada beberapa petugas yang hendak melapor ke polisi.


"Nanaa!" panggil Devan.


"Pak Devaann!"


"Bagaimana ceritanya Silvia bisa di culik?!" tanyanya pada Nana.


Wajah Devan semakin tegang dan memerah, menahan amarah yang terpendam dalam hatinya terhadap Andy, juga perasaan takut akan terjadi sesuatu yang buruk, yang akan menimpa mantan istrinya itu.


Nana menggeleng cepat sambil terus menangis tersedu. "Tadi saat Silvia ingin berjalan masuk ke parkiran menghampiriku tiba-tiba saja ada mobil lain berwarna putih menghalanginya jalan. Setelah itu aku baru tersadar kalau Silvia di bawa pergi oleh mereka Pak..." ungkap Nana dan kembali terisak-isak dengan kencang.


Lantas Nana menyerahkan tas juga ponsel milik Silvia yang ia pegang tadi ke Devan.


"Ya Tuhaan... Silviaa..." resahnya tiba-tiba hatinya merasakan sakit dan pilu menggenggam erat tas milik Silvia dan menempelkannya ke dada. Devan menyesal sekali karena telah lalai menjaganya.


Gegas Devan berlari cepat ke jalanan memutar tubuhnya mengitari sepanjang jalan di area taman hiburan itu.


"Silviaaaa.... Silviaaaa ....!!!" teriaknya dengan getir.

__ADS_1


Tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya, mengguyur kota. Hujan turun tak di duga seolah langit tahu dan ikut merasakan kesedihan Devan saat ini. Mata Devan terpejam rapat lalu mendongak ke atas langit, seraya menyugar ke belakang rambutnya yang telah basah kuyup oleh air yang turun dari langit.


"Silviaaa...." lirihnya dengan suara bergetar Devan pun merosot duduk menundukkan kepalanya di tengah jalanan.


*****


Langit semakin gelap dan hujan pun mulai mereda. Setelah lama pencarian dengan para polisi di sana, tapi belum ada saksi mata yang melihat mobil penculik itu pergi.


Devan pun terpaksa pulang dulu untuk mengganti pakaiannya yang sudah basah kuyup, selain itu hari pun sudah larut malam. Devan khawatir jika orang rumah akan menanyakan dirinya.


Devan masuk ke dalam mobilnya setelah meminta seseorang untuk mengambil mobil Silvia dan membawanya pulang ke rumah. Sebelumnya Devan juga sudah mengantar Nana pulang ke kontrakannya lagi. Perempuan itu tak henti-hentinya menangis dan terus menyalahi dirinya.


"Aku tak akan memaafkanmu Andy! Awas saja jika aku sampai melihatmu melukai Silvia, aku tak akan segan-segan membunuhmu!" geramnya, seraya mengepal erat setir kemudinya. Giginya bergemelutuk, tak tahan ingin sekali cepat menghajar lelaki biadab itu.


Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi pulang menuju rumahnya. Dia akan meminta bantuan Papanya untuk mengatasi masalah ini. Namun di tengah-tengah perjalanannya. Suara ponsel Silvia tiba-tiba saja berdering nyaring.


Devan pun menepi sebentar dan mengambil ponsel itu setelah tahu yang meneleponnya adalah Rafa. Devan mengangkat malas telepon itu. Ternyata Rafa pun belum tahu kabar tentang Silvia. Hingga dia terkejut setelah mengetahui penculikan yang di alami teman baiknya itu.


Devan memutus sambungan telepon Rafa setelah mengabarinya. Sontak Devan menatap nanar pada ponsel milik mantan istrinya tersebut. Tiba-tiba saja, hatinya penasaran ingin melihat isi di dalam ponsel mantan istrinya itu.


Perlahan Devan membuka layar utama yang memang tak pernah Silvia kunci sejak dulu. Terpampang foto Silvia dan Dini yang di jadikan sebuah wallpaper olehnya. Devan pun tersenyum sendu menatap dua wanita cantik yang begitu berarti dalam hidupnya, lalu ibu jarinya bergeser menyentuh ke aplikasi hijau.


Devan melihat urutan pesan dari Nana, Rafa dan juga Mamanya. Hati Devan tiba-tiba tersentil, yang ia akui memang sangat jarang sekali memberi pesan pada istrinya tersebut. Bahkan tak pernah sama sekali.


Entah mengapa tiba-tiba saja Devan ingin sekali membaca isi pesan Silvia dan Rafa. Lantas ia membukanya tanpa ijin si pemilik. Lalu mensekroll pesan itu dari atas dan membacanya dengan seksama.


"Ini ti-tidak mungkin?!" gelagapnya.


Mata Devan semakin membulat lebar. Menelan kasar salivanya. Dia tak sangka apa yang ia baca dan ia lihat sendiri dari isi chat tersebut.


"Ja-jadi mereka berdua_"


Rahang Devan mengeras, wajahnya memerah padam, nafasnya pun memburu dengan cepat. Tangannya mengepal kuat-kuat ponsel Silvia. Devan tak sangka selama ini ia telah di bodohi oleh kedua istrinya tersebut. Mereka pintar sekali memainkan peran dan bersandiwara dengan baik di depannya.


****


Sementara di dalam kamar, Cathrine tertawa puas mendengar Andy yang telah berhasil membawa Silvia pergi menjauh dari kota Jakarta.


"Bagus aku suka dengan caramu yang tak pernah gagal itu. Aku semakin mencintaimu sayang... Aku janji, akan selalu memberikan service terbaikku untukmu. Asalkan kau menghabisi nyawanya sekarang juga. Dan impian kita berdua juga akan semakin cepat terwujud.. Hahahaha!"


Cathrine kembali tertawa nyaring dan tanpa sepengetahuannya, Devan ternyata sudah ada berdiri di balik pintu kamar mereka. Dan tak sengaja mendengar semua percakapan Cathrine bersama seseorang di telepon genggamnya.


Kreeeetttt


Pintu pun Devan buka dengan lebar, dan sontak itu mengejutkan Cathrine yang lekas berbalik ke belakang. Catherine tergugup, dan buru-buru menutup sambungan teleponnya bersama Andy.


Devan masih berdiri tegak tanpa ada pergerakan. Wajahnya sangat muram menatap getir pada wanita yang selalu ia puja selama ini.

__ADS_1


"Eh, Mas kamu su-sudah pulang?" gelagap Cathrine tersenyum kikuk lekas ia meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian menghampiri suaminya. "Ya ampun badanmu basah kuyup sekali. Cepat kau buka bajumu lalu mandi dengan air hangat." ujarnya mengalihkan perhatian.


Cathrine pun mengambil handuk baru di dalam lemari, dan hendak membantu suaminya untuk membuka pakaiannya. Namun saat jemari Cathrine membuka kancing baju depan Devan, tangannya tiba-tiba saja di cengkram kuat oleh Devan.


Catherine tersentak kaget, lantas menatap suaminya yang terlihat sangat aneh itu. "Mas?! Sakit..." lirihnya mengernyit kesakitan.


"Oh sakit, maaf?!" ucapnya dingin, Devan pun melepas cengkeramannya lagi. Cathrine meringis, merasakan sakit di pergelangan tangannya.


"Gimana sih Mas, ada apa denganmu?" gerutunya kesal seraya mengusapi pergelangan tangannya yang sudah memerah, jejak kepalan kuat tangan dari suaminya. "Bagaimana Silvia apa dia berhasil kau ajak pulang?" alihnya bertanya yang kini sok pura-pura peduli.


Devan tersenyum miring seraya berdecak pelan. "Ku rasa... Kamu tahu jawabannya sendiri. Langsung saja Cathi, dimana kau sembunyikan Silvia?!" tanya Devan yang kini wajahnya berubah serius.


Devan menatap lamat-lamat wajah istrinya. Mencari kebohongan yang tersimpan dari wajah yang pura-pura tak berdosa itu.


Cathrine terpana, wajahnya berubah tegang. "Em, ma-maksud Mas apa?" gelagapnya lagi tak mengerti.


Devan melangkah mendekat, sedang Cathrine terus menatap bingung suaminya. "Kau pandai sekali bersandiwara Cath.. Sekarang katakan padaku. Dimana kau dan kekasihmu itu menyembunyikan Silvia?!" tanyanya lagi dengan jelas. Cathrine pun bungkam dan semakin tercengang.


"Jawab pertanyaanku Cathrine?! Dimana kau bawa Silvia pergi?!" bentak Devan, yang sudah tak tahan lagi dengan kebohongan yang Cathrine buat. Cathrine pun tersentak kaget mendengar suara tinggi dan kasar dari suaminya itu.


"A-a aku tidak mengerti maksudmu apa? Sembunyikan apa? Siapa maksudmu aku dan kekasihku?!" sangkalnya.


"Kau masih menyangkal dan pura-pura bodoh di depanku. Kau pandai sekali berakting Cath!" timpalnya jengah.


Lantas Devan merogoh ponsel Silvia di celananya, membuka foto lama yang tersimpan di gallery Silvia lalu memperlihatkan foto mereka berdua pada Catherine. Bukan hanya foto itu saja, bahkan ada foto di saat Silvia sedang merayakan hari ulangtahunnya. Bersama Ayahnya, Cathrine dan juga Andy.


Cathrine tercengang, lantas membekap mulutnya.


"Apa kau masih ingin menyangkal? Kau dan lelaki itu masih ada hubungan bukan? Kau dan lelaki itu telah bekerjasama untuk menculik Silvia?! Tebakanku benar kan Cath?" hunusnya dan berhasil membuat Cathrine tak berkutik sama sekali.


Cathrine semakin ketakutan dan memundurkan langkahnya. "Mas, aku, aku itu..." cicitnya.


Dengan cepat Devan mencengkram leher Catherine sangat kencang. Hingga Cathrine merasakan sulit bernafas.


"Mas_!" pekiknya tercekik.


Lalu Devan menarik wajah Cathrine, dan mendekati wajahnya. "Tak ku sangka Cath, aku bisa mencintai wanita iblis sepertimu... Aku ternyata begitu bodoh sehingga kau bisa menipuku dengan serapi mungkin..." tukas Devan dengan dada yang bergemuruh dan suara bergetar. Penuh dengan penyesalan dan kesakitan mengenal wanita yang selama ini dia cintai.


Lantas Devan menghempas kasar tubuh Cathrine hingga tersungkur jatuh ke tempat tidur.


"Aku menyesal sekali telah mengenalmu Cathrine!!" bentaknya. "Sungguh aku menyesal pernah mencintaimu!!"


Bersambung....


...****...


Monggo kalau mau ngehujat sesuka hati... 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2