Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Kehamilan Silvia


__ADS_3

...BAB 64...


...Kehamilan Silvia...


"Kamu senang?!" tanya Devan setelah mereka berdua turun dari menaiki kereta gantung di hokkaido.


Silvia tertawa gembira sambil melambai tangannya ke arah kereta gantung yang tadi mereka naiki sudah meluncur menjauh di atasnya.


"Iya Mas! Aku senang sekali... Lama juga aku tidak pernah main kesini lagi..."


"Berarti... Dulu kamu sering liburan kesini dong?!" tanya Devan yang ikut tersenyum melihat istrinya bahagia.


Silvia mengangguk pelan dengan senyuman tipisnya, seketika senyumnya jadi memudar saat ia teringat lagi kenangan di masalalunya.


"Iya, saat Ayahku masih hidup, beliau sering mengajakku bersama Cathrine kemari setelah liburan akhir semester..." jawabnya jujur, senyumnya yang tadi ceria pun kini berubah menjadi sendu.


Devan tersentak, mendengar nama Cathrine terucap di bibir istrinya lagi, hatinya seolah merasakan perih kembali.


"Maaf ya aku jadi mengingatkanmu lagi soal dia..." ucap Silvia tergugup, yang merasa bersalah pada dirinya, saat melihat suaminya yang tiba-tiba saja langsung terdiam, tak seharusnya dia menyinggung nama Cathrine lagi di depan suaminya. Tetapi Devan malah menyungging senyum padanya.


"Tidak apa-apa, justru aku merasa sedih melihatmu mengingat mendiang Ayahmu lagi. Aku tahu Ayahmu meninggal bukan karena keinginanmu. Biarlah nanti wanita itu yang akan mendapatkan balasan dari hasil perbuatannya sendiri..." ucapnya serius.


"Berarti, hubungan kalian berdua dulu begitu sangat dekat yaa...!" Devan mengelus kepala Silvia dan berjalan duluan sambil menggandeng tangan Silvia. Berusaha untuk meredam kekecewaan pada seorang wanita yang pernah ia cintai dulu.


Silvia mengangguk kecil sebagai jawaban, dengan masih menatap sendu pada jalanan kota Hokkaido.


"Sebenarnya, aku juga sempat kesal padamu, Silvia..." ujarnya jujur. Sontak Silvia menoleh kaget padanya.


"Kenapa kau tak pernah jujur padaku sejak awal kita menikah? Mungkin aku tidak akan pernah merasakan sakit seperti sekarang ini, di bohongi dan di khianati diam-diam olehnya..." lanjutnya lagi.

__ADS_1


Silvia menghentikan langkah, dan melepas pelan tangannya yang di genggam erat oleh suaminya.


"Aku tidak bisa katakan padamu, karena aku tahu saat itu kamu sangat tergila-gila padanya Mas... Aku takut nantinya aku di sebut tukang adu domba. Aku takut kalian jadi bertengkar gara-gara aku..." cerocos Silvia, sesaat ia menjeda perkataannya untuk menarik nafasnya dalam-dalam.


"Maafkan aku Mas, maaf yang sebenarnya aku juga bingung pada diriku sendiri. Dulu aku ingin sekali bilang padamu. Tapi aku takut kamu tak akan pernah percaya dengan ucapanku. Karena aku tahu posisiku siapa, aku hanya orang lain yang tiba-tiba saja masuk dalam hubungan kalian berdua dan dengan sengaja telah merusaknya. Seharusnya aku tidak ikut campur saja dulu..." ujarnya lagi dengan isakan kecil di bibirnya, tak terasa air matanya jatuh meleleh membasahi kedua pipinya.


Silvia tak tahu apa perbuatannya itu salah atau benar yang pasti dia benar-benar menyesal karena telah merusak hubungan Devan dan Cathrine. Dia hanya terus menangisi yang sudah terjadi.


"Aku tahu kamu masih mencintainya kan Mas?" lontarnya lagi, menerka bagaimana perasaan Devan yang sebenarnya. Masih adakah Catherine di hati suaminya?


Devan menggelengkan kepalanya dan tersenyum lirih, matanya ikut berkaca-kaca lantas memeluk erat tubuh istrinya. Mengusap punggungnya dengan lembut.


"Tidak, kamu tidak pernah salah apa-apa padaku Silvia... Dan aku sudah tidak lagi cinta padanya. Justru bila dulu kamu mengatakan yang sejujurnya padaku. Mungkin aku tak akan pernah terjebak dengan cinta palsunya. Akulah yang bodoh disini... Karena tidak bisa membedakan wanita yang baik-baik dan mana yang tidak baik..."


Devan melepas lagi pelukannya lalu mengusap kedua pipi Silvia yang telah basah dengan air mata. Mengecup pelan sepasang kelopak mata dan keningnya Silvia. Lantas menempelkan keningnya.


"Sebaiknya kita lupakan yang sudah terjadi, dan jangan di ingat-ingat lagi ya..." ucapnya lagi berbisik dengan senyuman, Silvia pun mengangguk cepat.


Mereka pun kembali ke hotel tempat mereka menginap. Lalu membersihkan diri karena telah seharian bersenang-senang di luaran.


Dua minggu sudah mereka menghabiskan honeymoon di Negri Sakura itu. Esoknya mereka kembali pulang ke tanah air dengan hati puas dan gembira.


****


Sementara itu di sebuah club malam, Cathrine tak berhenti berjoget dan bernyanyi riang setiap malamnya tanpa memperdulikan dirinya yang tengah hamil.


Begitu mudahnya ia merayu si pemilik bar untuk menerimanya sebagai penyanyi bintang di sana. Sebab dulu, Cathrine adalah mantan penyanyi. Tak hanya memiliki wajah yang sangat cantik tapi Cathrine juga memiliki suara yang bagus. Maka si pemilik bar itu pun jatuh cinta dengan suara Cathrine dan memintanya untuk menyanyi di clubnya setiap malam.


Tak sedikit lelaki yang memberikan uang tips untuk Cathrine tampil. Bahkan ada dari mereka yang ingin menyewa tubuh Catherine dalam semalam. Namun Cathrine menolaknya karena memang dia bekerja disana bukanlah untuk menjual dirinya.

__ADS_1


"Ayolah sayang, aku pasti akan bayar berkali-kali lipat untukmu..." bisik seorang lelaki yang terus berusaha membujuk Cathrine demi keinginan naf*sunya.


"Tidak, aku tetap bilang tidak! Jangan pernah sekalipun kau memaksaku lagi!" tegas Cathrine dengan wajah memerahnya, lantas ia bergegas keluar dari club dan menaiki taksi yang sudah ia pesan sejak tadi.


"Huh sombong sekali wanita itu. Dia merasa dirinya suci. Padahal dia sendiri bekerja di tempat yang haram... Lihat saja, aku pastikan dia akan bertekuk lutut di depanku..." geramnya, dengan tangan terkepal kuat. Lelaki itu tak terima karena baru kali itu ada wanita malam yang menolak keinginannya.


****


Tiga bulan kemudian.


"Bagaimana?" tanya Devan pagi itu yang tak sabar menunggu hasilnya.


Silvia mengulum senyum dengan menatap serius wajah suaminya, setelah keluar dari kamar mandi di kamar mereka.


"Aku positif hamil Mass!!" jerit Silvia sambil mengancungkan benda pipih putih itu didepan suaminya, dan memang menampilkan dua garis merah. Devan pun terbelalak senang melihatnya.


"Benarkah?! Alhamdulillah..."


Sangking senangnya Devan refleks memangku tubuh Silvia ke atas, lantas Devan berputar-putar di tempat.


"Mas... Sudah Mass... Kepalaku pusing!!" Silvia menjerit ketakutan.


Devan pun lekas menurunkan tubuh istrinya lagi dan mengecup seluruh wajahnya. Lalu mereka tertawa kembali.


"Kita harus cepat-cepat kabari ini pada Mama dan Papa! Ini adalah berita yang menggembirakan untuk mereka. Aku senang sekali, akhirnya kita akan punya anak, sayang..." ungkap Devan.


"Iya Mas..." angguk Silvia tersenyum bahagia lantas memeluk pinggang suaminya dengan erat. Devan pun membalas pelukan dengan mengusap rambut kepala sang istri.


Bersambung....

__ADS_1


...****...


Maaf seharian sibuk banget... Jangan lupa selalu tinggalkan jejaknya ya... 🥰🥰🥰


__ADS_2