Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Kegelisahan Hati Devan


__ADS_3

...BAB 26...


...Kegelisahan Hati Devan...


"Pagi Pa..." Devan berlari kecil dan menghampiri Indra hendak mencium punggung tangannya, namun Indra lekas menarik lagi tangannya tanpa menjawab sapaan putranya.


"Kemana saja sebenarnya semalaman ini, kamu Dev?" tanya Indra pelan seraya memegang kencang bahu putranya, tampak jelas ada gurat kemarahan di wajahnya. Menahan emosi yang sejak tadi dia pendam. Walaupun tadi pagi Indra sudah bertanya lewat telepon, tapi ia tak sepenuhnya percaya dengan perkataan putranya tersebut, yang katanya semalam itu putranya lembur dan terpaksa harus menginap di kantor.


Devan tergugup gelisah, saat di tanyai lagi oleh Papanya untuk kedua kalinya. Pandangannya menatap ke sembarang arah seraya mengusap pelan tengkuk lehernya yang mulai mengeluarkan keringat dingin.


"Bukankah Devan sudah bilang di telepon tadi, Pa. Kalau Devan_ banyak pekerjaan di kantor. Makanya itu Devan terpaksa tak pulang karna perjalanan kantor menuju Villa itu memakan waktu yang cukup lama. Sedang Devan harus segera menyelesaikannya tepat waktu." sangkalnya yang kini kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya, agar tidak terlihat gugup di depan Papanya sendiri, khawatir kalau kebohongannya itu akan segera di ketahui Papanya.


Devan terpaksa berbohong, karena tak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya, kalau dua malam itu dia telah menginap di apartemennya Cathrine. Karena kekasihnya itu sedang sakit dan meminta padanya untuk menemaninya. Berniat hanya ingin tidur satu malam saja, tapi di hari kedua saat Devan ingin pulang ke Villa. Sorenya, sepulang dari perusahaan dia hendak berpamitan dulu pada kekasihnya itu. Tapi tiba-tiba saja kepalanya mendadak sakit dan pusing akhirnya Devan pun tertidur hingga pagi.


...~Flashback on~...


Dan paginya ia terbangun dan terkejut melihat dirinya sudah berte-lanjang dada di atas tempat tidur Cathrine. Devan semakin terkejut, saat itu juga Cathrine tertidur di sampingnya yang juga sama-sama tak memakai apapun. Hanya selimut putih tebal-lah yang menutupi tubuh mereka berdua. Devan masih bersyukur ia masih memakai ****** ********, hanya saja dia tak mengingat sama sekali kejadian semalam itu.


Devan lekas membangunkan Cathrine. Setelah memakai celana dan kemeja kerjanya yang ada di lantai dekat tempat tidurnya Cathrine.


"Cath, Cathi! Ayo bangun! Katakan padaku apa yang terjadi dengan kita berdua?! Kenapa aku bisa tidur di ranjangmu?" tanyanya dengan raut panik, sungguh saat itu Devan tak percaya, mendapati dirinya yang sudah tertidur satu ranjang bersama kekasih yang selalu ia jaga-jaga selama ini. Malam kemarin dia hanya tidur di sofa ruang tamu untuk menjaga kekasihnya yang sakit. Tapi tiba-tiba saja malam kedua dia berani tidur di ranjang kekasihnya. Sungguh itu bukanlah keinginannya.


Cathrine ikut terbangun dan memasang wajah pura-pura shocknya, lalu ia menangis terisak-isak sambil menutupi mulutnya. Cathrine menggeleng kepalanya lalu menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. "Apa yang sudah kau lakukan padaku semalam Dev? Apa kau tidak ingat sama sekali? Sebelum pulang kau tiba-tiba merasakan pusing lalu mengajakku tidur bersamamu. Kau memaksaku Dev..." isaknya tersedu-sedu.

__ADS_1


Devan terperangah lagi lantas menelan kasar ludahnya dengan kesusahan. Dia menggeleng-geleng cepat kepalanya. Rasanya itu mustahil ia lakukan terhadap Cathrine. Bahkan Devan selalu menolak Cathrine yang ingin mencium bibirnya. Selama ini dia selalu menjaga norma-norma agama, hanya sebatas memeluk, mencium kening dan pipi tidak lebih dari itu. Walaupun cintanya besar terhadap Cathrine tapi dia tidak pernah sekalipun berniat untuk merusak harga diri wanitanya.


"Ti-tidak, itu tidak mungkin. Aku sama sekali tidak mengingat kejadian apapun! Sungguh Cath! Ini ini aaahh!!" Devan mengusap kasar wajahnya lantas ia berdiri dan mendongakkan kepalanya ke atas plavon sambil berkacak pinggang.


Apakah benar yang di katakan Cathrine kalau aku sudah! pikirnya. "Aaahh" Devan lagi-lagi berteriak gusar dengan menjambak kasar rambut kepalanya. Lalu berjalan mondar mandir di depan tempat tidur kekasihnya, dengan hati gelisah.


"Tapi buktinya iya, Dev! Kau memaksaku untuk membuka pakaianku semalam. Lalu kita, kita sama-sama melakukannya dengan senang hati Dev... Kita berdua sudah~" Cathrine menutupi lagi wajahnya seraya menangis tersedu-sedu seolah dia yang kini menjadi korbannya.


Devan dan Cathrine kini saling menatap dengan pandangan yang nanar. "Kalau itu memang benar, aku meminta maaf padamu. Secepatnya kita berdua harus menikah..." ucap Devan dengan raut sendu. "Maaf sudah berbuat tidak senonoh padamu..." ucapnya lagi merasa bersalah


Setelah mengucap itu mereka berdua pun saling berpelukan. Wajah Cathrine semakin berbinar melihat kesungguhan Devan untuk segera menikahinya.


Devan pun pamit pulang pagi itu pada Cathrine. Lalu ia menelepon sekretarisnya, bahwa hari itu ia tak bisa masuk dulu. Meminta sekretarisnya untuk menghandle sebagian pekerjaannya sementara.


Di tengah pikirannya yang kalut, tiba-tiba saja ponselnya berdering nyaring di dashboard mobil. Devan lekas mengangkat teleponnya yang ia ketahui telepon itu dari Indra, Papanya. Lantas ia tercengang sesaat Indra mengabarkan kalau semalam tadi Silvia nyaris saja dalam bahaya.


Lantas Devan mengubah haluan mobilnya ke arah rumah orangtuanya. Karena Indra memberitahukan saat ini Silvia dan ARTnya sudah berada disana.


...~Flashback of~...


Indra menghela nafasnya berat. Matanya masih menatap tajam ke arah putranya tersebut, seakan ia ingin mengulitinya hidup-hidup. Indra seorang Pria yang jeli. Dia akan cepat tahu jika putranya tengah membohonginya.


"Apa kau pikir Papamu ini akan mudah percaya dengan kata-katamu itu, Dev?"

__ADS_1


Devan mendongak gelagapan. "Ma-maksud Papa?" wajahnya kini berubah tegang dan pucat.


"Barusan ini Papa menyuruh Nori untuk pergi ke kantormu dan kata Nori, pegawaimu mengatakan kalau kau tidak lembur malam tadi!" telaknya yang berhasil membuat Devan semakin terpaku di tempatnya berdiri.


Wajahnya semakin pucat pasi. Dia benar-benar lupa. Bahwa Ayahnya yang berkuasa memegang perusahaan yang kini ia kelola. Dia memiliki kaki kanan yang selalu setia menuruti semua perintah Papanya.


"Pa_" Devan ingin berkelit tapi segera di sela Indra lagi.


"Rupanya sekarang kau mulai bertingkah menjadi anak pembohong dan pembangkang, Dev! Sekarang cepat kau pergi temui istrimu dan meminta maaf padanya!" tunjuk Indra kembali memperingatkan. "Setelah itu kau temui Papa di ruang kerja. Katakan dengan jujur kemana selama dua malam ini kau tak pulang ke Villa?" tegasnya lagi. Setelah memperingatkan Devan, Indra pun masuk duluan ke dalam rumah untuk menghampiri Dini dan Silvia di sana.


Indra ternyata lebih tahu dan peka kemana sebenarnya putranya pergi. Walaupun dia tak cukup bukti bahwa Devan pergi dengan kekasihnya, tapi firasat seorang Ayah mengatakan begitu. Dan dia tak ingin jika hal itu sampai diketahui oleh istrinya sendiri. Dini akan semakin shock jika putra mereka masih berhubungan dengan kekasih haramnya itu. Dari dulu Dini memang tak menyukai Cathrine, sekali tak suka dan selamanya tidak akan pernah suka.


Devan menghela berat nafasnya. Lalu melangkah ragu ke dalam rumah orangtuanya. Seketika disana ia melihat Silvia dan Mamanya sudah terduduk menunggu kedatangan dirinya dari tadi. Silvia menoleh pada suaminya, memperhatikan penampilannya yang sedikit berantakan itu. Dasi tak rapi dan kemeja yang terlihat kusut sekali.


Apakah benar semalam itu, mereka sudah melakukan hal terlarang? Ya Tuhan, aku tidak bisa membayangkannya. Padahal aku adalah istri sahnya. Tapi dia lebih menyukai berhubungan dengan kekasih haramnya itu... gumam Silvia dalam hati.


Bersambung....


...****...


Sambil nunggu ayuk mampir ke novel temanku dulu... (≧▽≦)


__ADS_1


__ADS_2