
...BAB 11...
...Mendapat Restu Mama Mertua...
"Kamu?!" Dini membulatkan matanya lebar tak sangka jika ia dapat bertemu lagi dengan gadis yang sudah menyelamatkannya lima bulan lalu. Mulutnya menganga lebar, yang lantas Dini segera menutupinya dengan kedua tangan.
"Tan, Tante kan!" seru Silvia juga ikut terkejut. Lantas kedua matanya berbinar, haru.
Dini mengangguk tersenyum, lalu berjalan mendekati Silvia dan memelukinya dengan erat. "Tak nyangka Tante bisa ketemu kamu lagi. Sudah lama sekali Tante mencari keberadaanmu setelah kejadian itu, Tante belum sempat ucapkan terimakasih banyak padamu Nak." ujarnya senang campur haru, perlahan Dini pun melepas pelukannya lalu menangkup kedua belah pipinya Silvia dan menatapnya dengan lekat.
Silvia menggeleng kepala dan tersenyum tersipu. "Tidak perlu berterima kasih Tante, sudah sepatutnya kita manusia memang harus saling tolong-menolong. Saat itu Tante memang sedang membutuhkan bantuan seseorang, kan?" ujar Silvia.
Dini mengangguk cepat. "Iya tapi jika saja dulu tidak ada kamu Nak, nyawa Tante tak kan mungkin tertolong..." ujarnya miris.
Cathrine yang sedari tadi duduk, lantas beranjak dari sofa seraya memperhatikan mereka terkesima, dengan keakraban yang terjalin di antara mereka berdua. Wajahnya mendadak muram. Kenapa mereka bisa akrab sekali? Apa sebelumnya mereka sudah saling mengenal? tanyanya dalam hati.
"Tante..." panggil Cathrine yang lekas menghampiri calon mertuanya tersebut, dan Dini pun menoleh pada Cathrine. "Tante mengenalnya?" tanyanya mengerutkan keningnya jelas ia tak suka. Apalagi Dini yang memperlakukan Silvia dengan baik sekali.
"Ehm, ehm..." Dini berdeham sedikit kencang. "Iya Cathrine, dia ini adalah... Em, siapa namamu Nak? Tante sampai gak sempat tanya nama kamu." Dini menepuk pelan pundak Silvia seraya menanyakan namanya..
"Namaku Silvia, Tante..."
"Oh Silvia?! Nama yang sangat bagus sekali..." puji Dini. Silvia pun mengulum senyumnya tersanjung. Lalu Dini kembali menatap pada Cathrine. "Em, Silvia ini yang sudah menyelamatkan Tante sewaktu pulang dari kantornya Devan lima bulan lalu. Saat itu Tante bertemu copet di jalan, dan banyak surat-surat penting di dalam tas Tante itu untuk Tante serahkan pada Papanya Devan. Eh, tiba-tiba saja Silvia datang dan mengejar pencopet itu. Nyaris saja pencopet itu menusuk Tante dengan pisau. Kalau saja Silvia tidak memukulnya dari belakang. Bukan begitu Silvia?" jelas Dini kembali menatap lekat perempuan di sampingnya. Silva hanya mengangguk mengiyakan.
"Iya Tante..." angguk Silvia.
__ADS_1
Cathrine semakin tercengang yang ia dengar dari Dini barusan. Tenggorokannya tercekat, dan wajahnya bertambah muram. Jika begini, semua rencananya untuk mengusir Silvia jadi gagal total. Tangannya terkepal sangat kencang di sisi tubuhnya. Entah jimat keberuntungan apa yang di gunakan Silvia selama ini? Sehingga dia selalu saja lebih unggul dari Cathrine.
Cathrine menatap geram Silvia, yang di balas senyuman menyeringai dari bibir Silvia.
Awas saja kau Silvia, aku takkan pernah menyerah! Dalam waktu dekat, ku pastikan Devan akan menceraikanmu! geramnya dari hati.
****
Sementara sore itu di kantor, Devan tampak gelisah di ruang kerjanya sendirian, setelah dia menyelesaikan pekerjaannya. Beberapa kali dia mengusap wajahnya dengan kasar dan menghembus nafasnya frustasi. Menangkup tangannya menutupi pangkal hidung hingga mulutnya. Dia mengingat akan sikap Silvia padanya semalam tadi.
"Sebenarnya apa tujuan wanita itu padaku? Kenapa dia begitu serius sekali memperlakukanku sebagai suaminya?" gumamnya sendiri.
Devan menyenderkan kepala di sandaran kursi kebesarannya, mendongakkan kepalanya menatap kosong pada langit-langit ruang kerjanya. Lalu sepintas ia memikirkan lagi permintaan Cathrine padanya untuk menceraikan Silvia, karna wanitanya itu belum bisa menerima sepenuhnya kehadiran Silvia.
Malam setelah Devan mengantarkan Catherine pulang Catherine lagi-lagi memintanya agar menceraikan Silvia, walau Devan pun berulangkali meminta maaf atas permintaan yang tak bisa ia kabulkan. Namun Catherine tetap kekeh dengan permintaannya. Jika tidak dia akan membatalkan pernikahan mereka. Tentunya itu tidak benar-benar serius di katakan Catherine, dan Cathrine hanya ingin menggertak saja supaya tahu seberapa besar cinta Devan kepadanya dan sampai mana Devan akan mempertahankannya. Jelas walau itu gertakan, Devan sangat takut kalau memang mereka berdua tak jadi menikah.
"Baiklah, aku terima jadi istri keduamu nanti. Tapi dengan syarat, setelah kakinya kembali sembuh kau harus ceraikan dia, Dev! Aku nggak mau tahu, pokoknya kau harus menuruti perkataanku. Pernikahan kalian itu adalah paksaan, dan berhenti merasa bersalah juga hilangkan rasa kasihanmu terhadapnya. Aku yakin dia hanya berpura-pura saja! Aku tak suka dia!" ungkap Catherine kala itu, menggebu-gebu.
Setelah berlarut-larut lama dalam pikiran yang tak ada habisnya, Devan pun beranjak dari kursinya dan mengambil tas kerjanya bersiap pulang. Dia harus segera menemui Silvia untuk mendiskusikan perihal masalah ini. Devan berharap Silvia akan memahaminya, dan mau di ajak kerja sama.
Selang waktu setengah jam, mobil Devan telah sampai halaman Villa. Lalu dengan pelan ia memarkirkan mobilnya di garasi. Devan masuk dan mengucap salam. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat Mamanya ada di Villanya, yang sudah duduk bercengkrama dengan Silvia sambil menikmati acara televisi sembari makan cemilan kue dan jus di ruang keluarga.
"Ma, Mama?" ucapnya terbata-bata. Dini pun menoleh pada Devan yang sudah berdiri tak jauh dari hadapannya.
"Dev! Kamu sudah pulang rupanya?" Dini beranjak dari sofa.
__ADS_1
Dini sengaja belum ingin pulang dari Villa milik putranya tersebut. Dia memang ingin menunggu kepulangan putranya dahulu untuk membicarakan masalah ini. Sementara Cathrine memang sudah pulang semenjak tadi pagi. Dia tak nyaman dengan posisinya saat itu, sebab terlihat Dini lebih memperdulikan Silvia di bandingkan dirinya. Catherine pulang dengan tangan kosong yang tak menghasilkan apapun, juga wajah penuh dengan kekesalan terhadap Dini yang tidak pernah konsisten dengan perkataannya, dia pikir Dini akan membelanya di depan Silvia tapi justru malah Silvia yang di pujinya.
Devan melongo dengan kehadiran Mamanya. "Ma, Mama sejak kapan Mama kesini?" tanyanya gelagapan. Tentu saat ini jantung Devan berdebar sangat kencang, pasalnya dia memang tak pernah menceritakan perihal pernikahannya dengan Silvia. Terkecuali Cathrine yang memberitahukannya pada kedua orangtuanya.
"Itu bukan urusanmu. Sekarang jelaskan pada Mama, kenapa kau berani bohongi Mama dan juga Papamu soal pernikahan rahasiamu ini! Lalu kenapa juga kau menyuruh Bibi Sari untuk berbohong akan pulang kampung. Tahu-tahunya dia bekerja di sini, hah?!" kesal Dini seraya menyedekapkan kedua tangannya di dada. Matanya melotot tajam pada putra semata wayangnya itu seakan ingin menelan bulat-bulat Devan.
Devan yang di tegur pun lekas menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, sangat kikuk juga bingung untuk menjelaskan. Sedangkan Silvia yang melihat pemandangan Devan di marahi Dini pun, hanya bisa menahan tawanya, sangat puas di hatinya. Devan mendelikkan matanya terheran melihat Silvia yang malah tertawa meledeknya di sana.
"Ma, maaf sebelumnya tak memberitahukan dulu pada Mama dan Papa. Tapi Devan sudah mencelakai Silvia jadi_"
"Ya, Mama sudah tahu semuanya dari Silvia." potongnya cepat seraya memukul pundak Devan dengan kencang. Devan pun tersohok lantas menatap Mamanya dengan tatapan bingung, karena tiba-tiba saja Dini tertawa senang yang tadinya wajahnya cemberut dan kesal.
"Yang Mama kesalkan itu, kenapa kau tidak pernah mengatakan ini sejujurnya. Mama justru senang mendengar kenyataan kalau kau sudah menikah, dan jujur Mama sangat suka dengan Silvia." tegasnya mantap. Devan semakin tersohok dengan penuturan Dini yang blak-blakkan itu.
"Jadi Mama..."
"Ya, Mama restui pernikahan kalian, dan mendingan kau putuskan saja hubunganmu dengan Cathrine." perintah Dini kembali tegas.
"Ma... Tidak bisa gitu dong!" rajuk Devan menghembus nafasnya kesal. "Aku dan Catherine sudah merencanakan pernikahan ini jauh-jauh hari. Dan tiga hari lagi kami akan melangsungkan pernikahan di gedung. Mana mungkin Devan membatalkan tiba-tiba semua yang sudah Devan bayar. Devan juga tidak mau mengecewakan Cathrine!" jawabnya penuh keputusasaan.
Devan sontak menoleh pada Silvia, mata elangnya menajam dengan alis mengerut heran karna Silvia malah tersenyum padanya sambil melambaikan pelan tangannya ke arah Devan. Seolah ia memberi kode, bahwa perkataannya semalam adalah benar. Ya Silvia mengatakan, kalau belum tentu jika Devan dan Cathrine akan menikah.
Berani sekali dia merancuni pikiran Mamaku agar aku tak jadi menikahi Catherine! Ternyata benar apa yang di katakan Catherine kalau wanita ini sedang berpura-pura saja! gerutu Devan dalam hatinya, yang sedang menahan emosinya.
Bersambung....
__ADS_1
...****...