
...BAB 51...
...Kedua Istri Yang Keluar Rumah...
"Bi, aku berangkat dulu ya..." Silvia berpamitan setelah mobilnya datang.
"Iye Non, hati-hati ya jangan ngebut-ngebut..." seru Bi Sari ikut tersenyum sumringah melihat kebahagiaan di wajah Silvia.
Bi Sari pikir, Silvia akan jadi murung karena Devan menikah lagi. Tetapi sangkaannya ternyata salah. Mungkin karena sekarang Silvia lebih fokus mengisi waktunya dengan pekerjaan di luar rumah, jadi dia sama sekali tak punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang membuatnya akan sedih.
Di dalam mobilnya, Silvia mengangguk tersenyum dan melambai tangannya pada Bibi Sari. Sudah satu minggu ini Silvia bekerja, dan selama ini Devan pun tak tahu soal kegiatannya di luar rumah. Itu karena suaminya itu terlalu di sibukkan dengan pekerjaannya di perusahaan, juga karena urusannya bersama istri keduanya saat itu.
Hari itu, adalah pertama kalinya dia mengendarai mobilnya ke tempat bekerja. Mobil yang ia beli sendiri dari hasil jual rumah mewah milik mendiang orangtuanya yang seharga lebih dari 5 M. Dari pada uangnya tak di pakai, lebih baik uang itu Silvia gunakan untuk membuka usahanya sendiri dan membeli kendaraan saja. Lagipula ia malas kalau harus pulang pergi naik taksi terus.
Awalnya Silvia masih kaku mengendarai mobilnya sendiri. Karena sudah lama ia juga tak menyetir mobil setelah Ayahnya meninggal dunia. Tapi pelan-pelan akhirnya dia kembali lancar mengendalikan kendaraan besi beroda empat itu.
Catherine pun turun ke bawah setelah melihat kepergian Silvia. Ia lalu menanyakan Silvia pada Bi Sari.
"Mau pergi kemana dia jam segini?" ketusnya sambil melipat tangannya dengan angkuh.
"Eh, Non Cathrine itu anu... Non Silvia pergi berangkat bekerja." gelagap Bi Sari.
"Bekerja?! Bekerja apa dia?" Cathrine tersohok mendengarnya.
Bukankah katanya Devan tak ingin istri-istrinya keluar untuk bekerja. Dan Devan menginginkan dirinya selalu ada di rumah seperti Silvia. Tapi bahkan Silvia pun kini bekerja. Cathrine mengepal kuat kedua tangannya tak terima. Dan dia mengira Devan hanya perhatian saja pada Silvia.
"Dasar pembohong, kau sudah berbuat tak adil padaku Mas!" Cathrine kesal, lalu pergi ke kamarnya dan menghubungi suaminya.
Devan yang sedang di sibukkan mengobrol dengan kliennya di ruangannya sontak saja jadi terganggu dengan suara dering ponselnya. Lantas Devan mematikan ponselnya lebih dulu. Ia tahu jika Cathrine pasti akan marah karena dia sudah menutup teleponnya. Tetapi Devan pun tak bisa mengabaikan kliennya saat ini, dan itu lebih penting daripada menerima panggilan dari sang istri.
"Kok malah di matikan sih?!" pekik Cathrine bertambah kesal.
Karena bosan di rumah terus akhirnya ia memutuskan keluar rumah untuk mengambil mobil lamanya yang masih terparkir di basement apartemennya dulu.
Cathrine pergi keluar menaiki taksi tanpa ijin dari suaminya. Setelah sampai apartemen ia pun masuk ke parkiran dan mengambil mobilnya, dia berniat pergi ke kantor Devan saja. Biarkan saja, bila semua orang kantornya tahu jika Devan masih berhubungan dengannya. Malah Cathrine akan senang jika orang-orang tahu mereka berdua sebenarnya sudah menikah.
Catherine sebenarnya masih tak terima dengan pernikahan sirinya, baginya ini tak adil dalam hidupnya. Dua tahun menjalin hubungan, tapi yang akhirnya hanya menjadi seorang istri sirinya Devan Alvandra.
Cathrine mendekati mobilnya, ketika ingin membuka pintu mobil. Tiba-tiba saja Andy datang menghampirinya dari belakang.
"Haii honey..." sapanya lembut. Cathrine menoleh terkejut dan hampir saja ia jantungan.
"Andy! Kau selalu saja mengagetkanku?" sungutnya yang refleks memukul pundak Andy dengan kencang. Andy hanya terkekeh nyaring melihat ekspresi wanita itu ketakutan.
"Sudah dua hari ini aku menunggumu di sini. Aku bosan, lalu aku pindah kontrakan saja di dekat apartemenmu. Apa karena sudah menikah, kau jadi melupakanku?" ujarnya seraya membelai pipi halus Cathrine. Jujur saja, Andy merindukan tubuh Cathrine untuk menyalurkan hasratnya yang sudah lama tertahan.
Andy mendekat hendak mencium Cathrine. Namun buru-buru Cathrine mendorong dada Andy. Kepalanya celingukan ke kanan kirinya, ia khawatir jika ada orang yang melihat mereka di tempat itu.
"Apa kau sudah gila?! Menemuiku terang-terangan di tempat umum. Nanti bila ada yang melihat kita bagaimana?!" makinya dengan suara pelan, marah bercampur rasa takut.
"Kalau begitu ayo kita mampir dulu ke apartemenmu..." Andy tersenyum smirk lantas ia merebut tas Cathrine. Lalu mengambil sesuatu di dalam sana.
__ADS_1
"Andy, hey kau mau ngapain?!" sentaknya.
"Aku masuk duluan, cepatlah aku sudah tak sabar lagi! Lama sekali aku tak dapat jatahku..." sahutnya sambil memegang ke atas akses card pintu apartemen milik Cathrine, dan mengelus singkat dagu lincip kekasihnya.
Cathrine mendengus kasar. Tadinya ia ingin pergi ke kantor suaminya, tapi pada akhirnya ia menurut juga dan mengikuti Andy masuk ke apartemen miliknya, yang sebenarnya apartemen itu akan Devan jual lagi.
Andy sudah masuk duluan dan duduk menyender di sofa apartemen Cathrine. Tak lama Cathrine pun menyusul, lalu cepat menutup lagi pintunya dengan rapat.
Andy tersenyum meledek. "Kupikir kau sedang pergi berbulan madu ke luar negeri. Tapi ternyata kau masih di Jakarta..."
"Suamiku sedang sibuk bekerja. Dia akan libur setelah akhir bulan ini. Kami memang sudah merencanakan bulan madu ke Tokyo...."
Cathrine menghela nafasnya kasar, lalu ikut duduk tak jauh dari Andy. Menyedekapkan tangannya dengan wajah yang sudah ia tekuk. "Ah, menyebalkan sekali. Dia sama sekali tak ada waktu untuk memperhatikanku..." renggutnya kesal.
Catherine duduk dengan kedua kaki saling bertumpu, hingga memperlihatkan paha dan lutut putih mulusnya dan itu berhasil menaikkan kembali hasrat Andy yang tadi sempat terjeda.
"Kasihan sekali pengantin baru, cantik-cantik tapi di anggurin... Bagaimana kalau aku saja yang melayanimu. Kita sama-sama saling memuaskan..." celotehnya.
Andy mendekatinya dengan tak sabar, memeluk pinggang Cathrine di sampingnya lalu mengendus leher putih Cathrine dengan liar. Pelan Andy mulai melucuti baju bagian atas Cathrine, dan kembali menggosokkan hidung mancungnya di bagian bahu dan leher jenjangnya.
Cathrine melenguh, merasakan geli bercampur nikmat jadi satu. Jujur saja, belum pernah ia rasakan hal ini dari Devan, suaminya.
"Andy, hentikan... Memangnya hari ini kau tidak ingin pergi ke kantormu, apa?" Cathrine mendorong Andy yang sudah tak kuat menahan sesuatu yang ingin dia lepaskan dari benda pusaka miliknya.
"Tidak, sudah dua hari ini aku libur. Apa kau lupa Ayah mertuamu pergi ke Malaysia. Jadi dalam dua minggu ke depan aku tak bekerja dulu. Aku hanya di butuhkan saat lelaki tua itu memintaku untuk di antar ke luar kota..." jawabnya dan kembali memeluk Cathrine dengan erat, melahap penuh naf su bibir merah menggoda itu.
Saat mereka berdua asyik bercumbu, ponsel Cathrine berdering nyaring hingga keduanya terkejut. Lantas Cathrine mendorong Andy agar menjauh untuk mengambil ponselnya dulu.
Cathrine membulatkan matanya, ternyata Devan lah yang meneleponnya.
["Hallo sayang, maaf tadi Mas terpaksa mematikannya dulu. Karena Mas sedang ada pertemuan..."] jawab Devan dengan lembut.
"Alasan saja kamu, Mas! Hari ini aku benar-benar kesal sama kamu! Kau jahat padaku!"
["Sayang maafin Mas ya, tolong mengertilah... Pertemuan Mas tadi itu sangat penting. Oh ya, tadi ada apa kamu telepon Mas?"] tanya Devan lekas mengalihkan kemarahan istri keduanya itu.
"Jadi Mas benar-benar lupa, atau memang sedang berpura-pura bodoh saja di depanku?!" tukasnya.
Devan di sana mengernyit bingung dengan pertanyaannya Cathrine. ["Maksudnya apa ya, sayang?"]
"Bukankah Mas tak mengijinkan aku untuk menyanyi lagi. Tapi Mas sendiri mengijinkan dia bekerja! Mas benar-benar tak adil padaku!" sungutnya yang kembali marah.
["Siapa maksudmu, Silvia?!"]
"Iya siapa lagi kalau bukan istri pertamamu yang kau cinta itu!"
Devan melohok, dan hal itu ia baru saja mengetahuinya. ["Silvia bekerja, kata siapa?"] tanyanya lagi tak percaya.
"Jangan berpura-pura lagi Mas, bahkan kamu diam-diam sudah membelikan dia mobil mewah di belakangku! Lalu kapan kau akan membelikan mobil juga untukku?!"
Devan lagi tercengang dengan apa yang di sampaikan Cathrine padanya. ["Be-beli mobil?"] gagapnya.
__ADS_1
Devan terpaku, sampai ia tak mendengar Cathrine yang terus berteriak menyahutinya di ponsel.
"Mas... Mas Devaaan!!" panggilnya.
Cathrine lagi-lagi geram karna Devan menutup sambungan telponnya tanpa menjawab pertanyaannya lebih dulu. Dadanya bergemuruh menahan lagi amarah yang sudah naik ke ubun-ubun.
"Ada apa honey... Kenapa wajahmu berubah mengerikan sekali?" Andy tertawa kecil meledeknya, sedari tadi ia terus memperhatikan wajah kekasihnya yang sudah berubah masam. Cathrine mendelik kesal menatap Andy.
"Apa benar kalau dua minggu ini kamu free?" tanyanya.
Andy mengerutkan kening. Menatap serius wajah kekasihnya. "Ya, memang kenapa?"
"Baguslah kalau begitu... Itu artinya kamu ada waktu banyak untuk membuat wanita itu jera..." sahutnya dengan bibir menyeringai licik.
"Kau ingin apa, agar dia menyingkir dari suamimu?" Andy mengerut tanya.
"Kalau bisa, aku ingin dia cepat-cepat mati! Agar aku hanya satu-satunya jadi istrinya Devan Alvandra..." Cathrine menatap serius mata Andy yang sudah terperangah mendengarnya.
*****
Setelah menghubungi Cathrine, Devan buru-buru menghubungi istri pertamanya, untuk menanyakan kebenaran bahwa istrinya itu memang bekerja. Tapi sayangnya Silvia tak mengangkat teleponnya.
Dengan terpaksa Devan keluar kantor siang itu, dan pulang dulu ke rumahnya untuk memastikannya sendiri.
Devan bergegas masuk ke rumah dan bertanya pada Bi Sari, karena selama ini yang paling dekat dengan Silvia hanyalah Bibi Sari saja.
Bi Sari tampak menunduk ragu untuk mengatakannya. Sebab itu adalah rahasia Silvia, katanya dia tak ingin keluarga suaminya tahu soal ia telah bekerja.
"Ayo Bi, jawab! Dimana sekarang Silvia bekerja?" desak Devan tak sabar. Karena Bi Sari tampak sedang menutupi semuanya.
"Maaf Den... Tapi Bibi kurang tahu tempatnya, hanya saja... Non Silvia bilang dia mau jualan tas ame sepatu deket pasar abang..."
Devan mendengus kasar. Devan benar-benar tak mengerti dengan polah istri pertamanya. Sampai hal ini pun bahkan Silvia tak mau membicarakannya lebih dulu dengannya.
Ia pun lekas ke atas seraya memanggil-manggil Cathrine. Tapi Bi Sari menyahutinya lebih dulu. Memberitahukan bahwa Cathrine juga sudah keluar dari dua jam lalu.
"Apa, Cathrine juga keluar rumah?!" pekiknya.
Bi Sari mengangguk lagi. Devan menghembus nafasnya kasar. Menahan amarahnya. Bagaimana tidak marah, kedua istrinya sama-sama keluar tanpa ijin dulu darinya.
Devan pun kembali ke mobilnya dan pergi untuk mencari Cathrine, yang Devan yakini mungkin istri keduanya saat ini sedang ada di apartemennya. Karena mobil milik Cathrine memang masih di apartemennya itu.
Devan bergegas masuk lift sambil kembali menghubungi Cathrine. Tetapi panggilannya tak juga di angkat. Devan pun keluar setelah liftnya terbuka.
Karena buru-buru ingin menemui istrinya Devan yang hendak menyimpan ponselnya ke dalam saku jasnya tak sengaja tubuhnya malah menubruk bahu seorang Pria yang juga ingin masuk ke dalam lift itu.
"Ah maaf!" ucap keduanya bersamaan.
Sontak mereka saling menatap, dan keduanya terbelalak sama-sama terkejut.
"Kau?!" Devan mengerutkan keningnya dalam dengan sorot mata yang tajam. Bagaimana bisa ia bertemu Andy di tempat apartemen istrinya?
__ADS_1
Bersambung....
...****...