Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Rafa Merasa Bersalah


__ADS_3

...BAB 57...


...Rafa Merasa Bersalah...


"Mbak, ini kembaliannya barusan kelebihan 25 ribu!" sahut seorang pembeli yang baru saja keluar dari toko Silvia, dan bergegas kembali lagi masuk ke toko menghampiri Silvia. Untuk mengembalikan uang kelebihan dari kembaliannya beli sepatunya tadi. Silvia terbelalak terkejut.


"Ya Allah! Terimakasih banyak ya mbak..." ucap Silvia menutup mulutnya. Sontak wajahnya jadi memerah malu.


"Iya sama-sama mbak, lain kali mbaknya lebih teliti lagi dong itung-itungannya. Jangan banyakin ngelamun!" sindirnya menahan senyum, Silvia pun mengangguk mengerti.


"Iya maaf ya mbak... Terimakasih udah ngingetin lagi..." ucap Silvia membalas senyuman anak kuliahan itu.


Perempuan muda itu pun mengangguk, dan kembali pamit pergi keluar dari toko, lalu menaiki motor maticnya.


Rafa yang tak sengaja memperhatikan itu lantas menghampiri Silvia.


"Sisil, udah berapa hari ini aku lihat kamu tuh nggak fokus. Dua hari lalu ada yang minta sepatu ukuran 38 eh kamu kasih 36 terus kemarin ada yang minta tas warna merah kamu kasih yang warna pink. Nah barusan uang kembaliannya malah jadi kelebihan. Nggak biasanya kan kamu kayak gini?" cerocos Rafa, lantas lelaki sebaya Silvia itu menatap dengan tatapan yang menyelidik. Firasatnya mengatakan bahwa Silvia sedang tidak baik-baik saja saat ini.


"Kalau ada masalah jangan di pendem terus. Ayo ceritakan padaku, ada apa yang terjadi denganmu akhir-akhir ini?" tanyanya dengan lembut.


Rafa mengernyit mencemaskan temannya. Lalu ia menarik kursi plastik dan duduk di samping Silvia dekat meja kasir. Mata coklatnya menatap lekat-lekat pada wajah Silvia yang terlihat agak murung itu. Bersiap mendengarkan semua cerita teman baiknya.


Silvia tersenyum manis pada Rafa. Lalu menggeleng dengan cepat.


"Tidak ada apa-apa Fa... Aku baik-baik saja kok! Mungkin... Ini efek karena terlalu lelah kerja kali ya, jadi pikiranku nggak fokus sama sekali, bener tuh.." sangkal Silvia seraya tertawa hambar.


Untuk mengalihkan kecurigaan Rafa darinya. Silvia pun pura-pura merapikan meja kasirnya. Seolah terlihat sibuk, agar Rafa tak bertanya lagi padanya.


"Wah nggak terasa dah jam lima sore. Aku pulang dulu ya Fa..." sahutnya setelah melihat jam di ponselnya.


Silvia yang hendak mengambil kunci toko dan tas cangklongnya yang berada di gantungan. Tiba-tiba saja tangannya di tahan oleh Rafa.


"Sil, jangan bohong padaku. Aku tahu kamu sedang ada masalah. Ayo katakan padaku ada apa?!" selidik Rafa mendesak Silvia untuk berbicara jujur padanya.


Silvia bukan ingin menutupinya, hanya saja ia tak ingin jika masalahnya jadi beban oranglain. Apalagi ini masalah rumah tangganya yang tak seharusnya di ceritakan ke oranglain.


"Apa kamu masih bertengkar dengan suamimu itu? Katanya, kamu sudah jelaskan padanya bahwa kita hanya teman lama. Dan dia sudah mengerti bukan?!"


Silvia menghela nafasnya dalam. Lalu menggeleng pelan dan kembali menundukkan wajah murungnya.


"Kenapa, ayo katakan saja padaku! Kamu itu sudah aku anggap adikku sendiri. Jadi jangan tutup-tutupi kesedihanmu lagi padaku!" desak Rafa lagi seraya menahan dua bahu Silvia, dan kembali menatapnya dengan serius.


Rafa tak bisa diam saja jika melihat teman baiknya tampak sedih di depan matanya. Sebisa mungkin dia ingin membantu walau mungkin bantuannya tidaklah berarti.

__ADS_1


Silvia membalas tatapan Rafa dengan mata sudah berkaca-kaca. "Aku dan suamiku, sudah bercerai Fa..." lirih Silvia. Sontak Rafa terbelalak. Matanya membulat sempurna.


"Apa, kamu sudah bercerai?!" Rafa terkejut. Silvia mengangguk lemah dan tersenyum pahit.


"Apa ini, karna gara-gara aku yang mengajakmu makan siang waktu itu? Dia masih marah dan tak percaya kalau kita ini hanya berteman! Ya Tuhan, Sil... Kenapa kau tak menceritakan ini sejak dulu. Aku bisa langsung jelaskan padanya kalau dia tak percaya padamu!" Rafa merasa bersalah sekali mendengar sahabatnya telah bercerai.


"Sekarang dimana tempat kerja suamimu? Biar aku kesana dan menjelaskan semuanya padanya." tegasnya, Rafa melangkah cepat keluar dari toko hendak pergi untuk menemui Devan.


"Jangan Fa..!" Silvia berlari cepat, menahan tangan Rafa mencegahnya, seraya menggeleng cepat kepalanya.


"Ini tidak bisa dibiarkan Sil, dia harus tahu bahwa kita hanya berteman baik tidak lebih dari itu. Aku tidak mau merusak rumah tangga oranglain. Apalagi sahabatku sendiri!" tekannya lagi. Silvia menggeleng lagi.


"Sudah tidak apa-apa Fa, lagipula perceraian kami bukan karenamu. Kami berdua bercerai karena memang kami sudah tak cocok lagi!" sangkal Silvia yang terpaksa harus berbohong.


Silvia hanya tak ingin Rafa jadi tahu bahwa dia bercerai dengan Devan yang menyangka bahwa dirinya memang berselingkuh dengan Rafa. Jika Rafa tahu, mungkin itu akan membuat Rafa pun membenci dirinya. Tapi jika tidak begitu, Devan pun tak akan menceraikannya. Silvia punya alasan sendiri kenapa dia ingin bercerai dari Devan. Sebaiknya Silvia tak usah memberitahukan semuanya pada Rafa.


"Benarkah yang kau katakan?! Kau dan suamimu bercerai bukan karena gara-garaku kan?!" tanyanya lagi yang masih belum percaya. Silvia menggeleng lagi dan tersenyum.


"Bukan Fa... Bukan! Sudah... Kamu tak perlu lagi mikirin masalahku. Aku baik-baik saja kok! Udah yuk keluar, tokonya mau aku tutup nih!" titah Silvia mengalihkan pembicaraan agar Rafa tak lagi membicarakan masalahnya. Rafa pun mengangguk lemah dan menghembus nafasnya lega.


"Syukurlah kalau memang bukan karenaku..." ujarnya lagi.


Silvia tersenyum lagi lalu ia pamit pulang duluan pada Rafa setelah menutup tokonya, sementara Rafa kembali menyebrang jalan masuk ke Cafenya lagi setelah melihat kepergian Silvia dengan mobilnya. Karena Cafenya Rafa masih buka hingga pukul sembilan malam.


Ya, tadi pagi-pagi sekali Silvia di telepon Mama Dini bahwa beliau akan pulang hari minggu besok. Silvia bingung harus bagaimana menjelaskan soal perceraian mereka pada mertuanya itu, yang ternyata Devan juga belum sempat memberi kabar tentang perceraian mereka pada orangtuanya. Maka itu, Silvia benar-benar tak fokus saat bekerja tadi di tokonya.


Selain itu, Dini pernah berjanji padanya akan membicarakan tentang resepsi pernikahan mereka yang sempat tertunda itu.


Silvia mendesah kencang. Menggigit kuku jarinya sangat resah. Pikirannya benar-benar kacau dan bingung saat ini. Haruskah dia kembali rujuk bersama suaminya itu? Demi sang Mama Mertuanya.


*****


Sore pun berganti malam. Pukul delapan Rafa buru-buru harus pulang, karena barusan Ibunya meneleponnya dan menyuruhnya untuk pergi ke butik mengambil pesanan kebaya Ibu dan kakak perempuannya itu, untuk acara aqiqah keponakannya yang baru saja berusia satu minggu.


"Iya Bu, iya... Ini Rafa lagi di perjalanan menuju butik..." jawab Rafa terkekeh.


Rafa tersenyum lepas mendengar gerutuan Ibunya di sebrang telepon. Ibu Rafa hanya khawatir kalau Rafa sampai kelupaan lagi. Sebab dari kemarin Rafa melupakan perintahnya itu. Karena acara aqiqahnya akan di adakan besok pagi.


Rafa pun menutup sambungan teleponnya lagi dan kembali melajukan motornya.


Setelah sampai di butik lumayan terkenal. Rafa memarkirkan motornya dan masuk ke dalam.


Rafa ingin bertanya pada pemilik butik namun ternyata pemilik butiknya tengah sibuk mengukur tubuh seorang wanita di kamar khusus. Sedangkan di sana juga ada beberapa orang yang juga sedang mengantri.

__ADS_1


Tak sangka, butik itu ternyata di minati banyak orang. Rafa pun terpaksa harus menunggu dulu dan duduk di kursi panjang bersama yang lainnya sambil memainkan ponselnya.


Hingga seorang Pria keluar dari toilet dan ikut duduk di kursi tunggal tak jauh beberapa meter dari samping Rafa, tanpa saling melihat. Hingga tak berapa lama, wanita itu keluar dari kamar khusus.


"Bebb... Ayo sekarang giliran badanmu yang di ukur..." sahutnya memanggil sambil tersenyum sumringah.


Rafa yang dari tadi serius menunduk menatap layar pipihnya, spontan saja mendongak melihat ke arah sumber suara yang seperti mengenalnya. Rafa tercengang, matanya membulat lebar.


Cathrine?! pekiknya dalam hati. Rafa pun kini menoleh pada seorang pria yang di panggil oleh Cathrine.


Rafa semakin tercengang. Dia? Bukankah dia suaminya Silvia?


Rafa sontak berdiri dan melihat keduanya masuk ke dalam kamar khusus sambil bergandengan tangan.


Oh, jadi inikah alasanmu bercerai dari suamimu, Sil? Ya Tuhan, aku baru saja ingat. Pantas saja wajah pria itu seperti familiar. Ternyata dia adalah kekasihnya Cathrine dulu. Ya aku tahu karena beberapa kali pernah menonton berita infotainment di televisi


Rafa bergumam sendiri dalam hatinya. Tangannya terkepal sangat kuat, melihat penghianatan kedua kalinya yang Cathrine lakukan pada Silvia.


Kasihan sekali kamu Sil... Lelaki itu harus tahu jika Cathrine bukanlah wanita yang baik untuknya


*****


Devan dan Cathrine pulang setelah dari butik untuk memesan pakaian pengantin. Mereka berencana untuk menggelar resepsi pernikahan mereka sendiri. Tanpa menunggu persetujuan dulu dari orangtuanya, Devan nekad membuat keputusan itu. Dia hanya ingin membahagiakan Cathrine, dengan mengabulkan keinginannya yang sempat tertunda dulu.


Soal orangtuanya yang belum tahu perceraiannya dengan Silvia itu bisa di bicarakan setelah mereka kembali pulang ke tanah air.


Devan akan berusaha melupakan Silvia. Walau itu memang berat. Mungkin ini yang terbaik untuk mereka. Sekarang dia hanya ingin fokus untuk kebahagiaan Cathrine dan juga calon bayinya.


"Beb... perutku laper sekali, kayaknya anak kita lagi kepengen makan nih...uumm..." rengek Cathrine manja.


Devan tersenyum geli mendengar rengekan manja istrinya, lalu mencubit pipi istrinya dengan gemas dan turun untuk mengecup perutnya yang terlihat sedikit membuncit.


Sekarang Devan sudah tak ingin menutupi lagi hubungan pernikahannya bersama istri keduanya. Karena sebentar lagi mereka juga akan mengumumkannya dengan mengadakan acara resepsi pernikahan mereka.


"Baiklah, ayo kita mampir dulu ke Restoran biasa tempat kita makan..." ucap Devan.


Cathrine tersenyum girang lalu mengecup pipi suaminya. "Thank's you my honey... I Love you..."


Mereka berdua pun masuk ke mobil. Sedang Rafa yang tak jauh dari mereka masih memperhatikan keduanya yang terlihat bahagia.


"Dasar pria bodoh mudah sekali kau terjerat dengan rubah betina itu?" umpat Rafa pada Devan seraya mengeratkan gigi-giginya geram. Ia tak terima jika teman baiknya harus tersakiti lagi oleh lelaki.


Bersambung....

__ADS_1


...******...


__ADS_2