Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Catherine Yang Nyaris Terusir


__ADS_3

...BAB 66...


...Catherine Yang Nyaris Terusir...


Cathrine khawatir akan terus di pertanyakan oleh warga di kampung itu karena sedang hamil tak bersuami.


Cathrine membuka perlahan pintu depan dengan raut cemas dan gugup. Di depan rumah kontrakannya sudah ada lima orang Ibu-ibu berdiri sambil mendelik tajam tak suka ke arahnya.


"Ada apa ya kalian semua datang kemari?!" tanya Cathrine, wajahnya sedikit pucat karena tatapan-tatapan tajam dari mereka semua.


Salah satu Ibu yang gendut dengan rambut oval di atas bahu, lantas menarik tangan Cathrine dan membawanya keluar dari rumah kontrakan kecil itu.


"Heh, akhir-akhir ini saya sering lihat kamu pakai jaket besar itu! Cepat buka, kami ingin tahu apa yang sebenarnya sedang kau sembunyikan selama ini?!" bentaknya mendesak Cathrine untuk membuka jaketnya.


"Apa maksud anda, saya memakai jaket ini karena saya sedang sakit Bu..." sangkal Cathrine wajahnya kian bertambah pucat.


"Alaaah bohong!! Masa sakit sampai hampir berbulan-bulan. Sakit apaan tuh?! Kami semua tahu, setiap malam kau sering keluyuran dan pergi keluar masuk bar si Juki itu. Emang kami nggak tahu kelakuan wanita tiap malam disana maenannya apa aje?!" timpal ibu yang memakai daster hijau dan agak kurus itu dengan tatapan nyalang pada Cathrine.


Cathrine semakin tergugup, wajahnya berubah menucat. Dia bertambah bingung harus bagaimana sekarang? Jika warga tahu kalau dirinya sedang hamil. Bisa-bisa Cathrine di usir dari sana.


"Ayo cepat buka saja itu jaketnya! aku penasaran apa sebenarnye yang sedang wanita la-cur ini tutup-tutupi!"


"Iya betul cepat buka saja!!" teriak lainnya menyetujui.


Mereka semua pun bersekongkol memaksa Cathrine untuk membuka jaketnya. Menarik jaket dan yang lainnya menahan kencang-kencang tangan Cathrine.


"Jangaaan... Tidaaak! Lepaskan aku! Kalian semua mau melakukan apa padaku?! Kalian semua bisa aku laporkan pada polisi atas kasus penganiayaan ini padaku!" teriak Cathrine memberontak tak terima, mencoba membela diri dari para ibu-ibu bar-bar itu.


"Alaaah lapor saja, kami nggak takut!" timpal mereka.


Tak lama akhirnya mereka berhasil membuka jaket Cathrine, sontak mata-mata mereka terbelalak bersamaan melihat perut Cathrine yang besar membuncit.


"Tuh kan apa aku bilang! Nih cewek kagak bener ibu-ibu! Lihat aja tuh, dia tahu-tahu bunting kan?! Anak siapa itu kalau bukan anak dari hasil zina dengan para lelaki hidung belang disana!" todongnya penuh keyakinan.


"Bener tuh! Ayo mending kita lapor saja ke Pak RT, biar di usir nih hama satu di kampung ini! Empat puluh rumah bakal kena imbasnya kalau masih ada wanita pezina ini di kampung sini!"


"Iya-iya betul tuh betulll!!!" semua ibu-ibu setuju, dan salah satunya bergegas pergi keluar untuk mencari Pak RT.

__ADS_1


"Jangan Bu.. Saya mohon jangan usir saya..." Cathrine memeluk salah satu kaki seorang Ibu agar berbelas kasihan padanya. "Kalau saya di usir dari sini. Saya akan tinggal dimana?" ujar Cathrine memohon dengan raut memelasnya, dengan kedua mata sudah menganak sungai.


"Terserah kamu mau tinggal dimana. Asal jangan di kampung kami! Cuiih jijik aku lihat ada wanita kotor kayak kamu. Rupa aja yang cantik kayak Britney sprite eh kelakukan kayak kuda ronggeng! Amit-amit iihh!" celetuk kasar yang memakai daster merah bergidik jijik.


Cathrine pun sangat putus asa dengan keadaannya, namun tetiba ada seorang bapak tua yang di kenal sebagai Rukun Tetangga di kampung itu, muncul di balik pagar dengan salah satu ibu-ibu yang tadi. Bapak itu menghentikan mereka yang bersorak sorai menghujat Cathrine.


"Ada apa ini Ibu-Ibu, siang-siang bolong kok udah pada bikin ribut sekampung?!"


"Pak RT, sekarang waktunya Bapak harus bertindak tegas nih selaku RT! Nih cewek satu kagak bener. Dia hamil tanpa punya suami! Mending usir aje dia secepat mungkin dari kampung ni Pak!" cerocosnya.


"Iya Pak, iya usir saja. Malu-maluin kampung ini saja!"


Pak RT pun kini menoleh pada Cathrine yang sudah duduk bersimpuh di lantai kontrakannya sendiri, sambil menutupi perutnya dengan jaket tadi. Wajahnya tertunduk dalam, dengan bersimbah air mata.


"Benar begitu Non Cathrine nu geulis?!" tanya Pak RT dengan tutur halus dan lembut.


"Eh gimana sih nih Pak RT malah muji-muji wanita la-cur kayak dia!"


"Eh, sabar-sabar atuh Ibu-Ibu... Kalian jangan main hakim sendiri. Di tanya dulu kebenarannya sebelum menuduh orang sembarangan..." ucap Pak RT lagi dengan tutur yang bijak.


Pak RT lalu kembali menatap Catrhine dan bertanya lagi dengan penuh rasa iba. Namun tiba-tiba saja Cathrine teringat dengan foto pernikahan sirinya bersama Devan di Bogor.


Cathrine pun bergegas masuk ke dalam rumah kontrakannya lagi untuk mengambil ponselnya.


"Ini Pak silakan di periksa foto-foto saya dulu bersama mantan suami saya..." Cathrine pun kembali dan memperlihatkan foto di ponselnya.


Pak RT mengerutkan keningnya seraya mengamati foto itu dengan seksama, dia melihat Cathrine dan Devan dengan pakaian pengantin di depan penghulu. Ibu-ibu yang tadi memarahi Cathrine pun ikut melihat karena rasa penasaran pada diri mereka.


Mata-mata mereka melotot lalu saling menoleh dan ada jadi malu pada diri sendiri.


Pak RT mengangguk mulai percaya. "Nah Ibu-ibu sudah lihat sendiri kan?! Jadi jangan main hakim sendiri main tuduh-tuduh orang sembarangan!" tegas Pak RT lagi pada mereka.


Ibu-ibu itu pun mengangguk sambil menundukan kepala, lalu mereka mengucapkan permintaan maaf mereka pada Cathrine.


Cathrine menghela nafas lega. Huh dasar ibu-ibu si-alan bikin rusuh saja! gerutunya di hati.


"Maaf ya Non Cathrine berarti, Non ini udah janda ya kalau gitu?!"

__ADS_1


"Iya Pak, begitulah... Makanya itu kenapa saya malam-malam pergi ke bar. Saya disana hanya menyanyi saja dan tidak melakukan apa-apa pun selain itu. Saya butuh pekerjaan untuk menghidupi saya dan juga calon anak saya. Semoga Pak RT dan Ibu-ibu disini bisa memahami kondisi saya saat ini..." jelas Cathrine dan lekas di angguki oleh Pak RT dan juga Ibu-Ibu yang lain disana.


Ibu-ibu itu pun kini mengerti dan turut prihatin dengan nasib Cathrine. Tanpa sosok suami di sampingnya dalam keadaan yang sedang hamil tua.


****


Siang itu mobil perusahaan Alvandra membelah jalanan kota yang terkenal dengan nama kota kembang. Tiga jam lebih mereka telah sampai di kota tersebut.


Seketika Devan tak sengaja melihat ada pasar disana yang menyediakan berbagai cemilan khas kota itu untuk di bawa oleh-oleh.


"Bisa berhenti disini dulu?!" perintah Devan pada supir.


"Iya baik Pak!" Supir pun menuruti lalu segera menepikan mobilnya.


Devan bergegas keluar dari mobil dan menyebrangi jalan. Nori yang melihatnya terheran di dalam mobil.


Devan ingin sekali membeli cemilan keripik tempe yang enak dan gurih itu. Entah mengapa dia mendadak ingin nyemil-nyemil. Apakah karena kehamilan istrinya Devan pun kini jadi ikut-ikutan seperti orang yang sedang ngidam.


Setelah Devan mengambil beberapa bungkus keripik tempe untuk dia makan di hotel. Devan pun bermaksud untuk membayarnya pada mbak-mbak si pemilik toko oleh-oleh itu.


Namun dia tak sengaja bertabrakan dengan dua orang ibu-ibu di sana. Sontak mereka menatapnya dengan penuh selidik dan membuat Devan menjadi risih di buatnya.


"Eh eh, lelaki ini bukankah yang ada di fotonya si janda bule itu kan?!" bisik salah satu ibu pada temannya.


"Eh, iya bener-bener... mirip banget! Apa jangan-jangan die?!"


Devan menatap heran pada kedua ibu itu yang sedang menghibahnya.


"Maaf ada apa ya Bu?!" tanya Devan pada mereka dengan tutur yang sopan.


"Heh, lelaki jangan karena kau ganteng terus gak mau tanggung jawab sama sekali! Habis manis sepah di buang. Kau nggak kasihan apa ama istrimu di kampung kami! Dia sengsara nyari duit sendiri dalam keadaan hamil anakmu!" cerca salah satu ibu itu pada Devan.


"Iya tuh bener! Huuh rupa aja ganteng tapi tak punya akhlak sama sekali!" cibir mereka lagi. Devan yang masih berdiri saja, hanya menatap mereka dengan raut yang bingung.


Bersambung....


...****...

__ADS_1


Hari ini bonus double up ya... 🤧🤧🤧


__ADS_2