Ku Rebut Calon Suamimu

Ku Rebut Calon Suamimu
Pov Silvia


__ADS_3

...BAB 7...


...Pov Silvia...


...~Flashback on~...


Lima tahun lalu. Setelah meninggalnya Ayahku, aku pergi mencari Andy di apartemennya, akan ku jelaskan semua bahwa di dalam video vulgar itu bukanlah diriku. Setelah aku menerima bukti kebenarannya dari Tim IT yang lebih tahu dan teliti memeriksanya, jika video itu memang hasil rekaan orang. Aku sangat lega sekaligus sakit hati mendera mendengarnya, sebab Ayahku sudah tidak ada lagi dan beliau belum tahu kebenarannya lebih dulu. Aku benar-benar sedih karna Ayahku meninggal dalam keadaan membenciku. Ya Tuhan, semoga Engkau mau mengampuniNya, maafkan Ayahku karna dia tidak tahu apa-apa. Berikanlah aku petunjuk, Tuhan. Tunjukkanlah siapa orang yang tega melakukan ini semua padaku? Aku berjanji jika aku temukan orangnya. Aku tidak akan pernah memaafkannya, dia harus mendapat hukuman setimpal karna mencemar nama baikku, karenanya juga Ayahku jadi meninggal dan membenciku. Lirih doaku kala itu dengan deraian air mata.


Tak lama kemudian aku sampai di apartemen Andy, sontak aku tercengang melihat Andy memeluk mesra Cathrine di depan pintu kamarnya. Dadaku berdenyut nyeri bagai di tusuk ribuan pedang, mataku memanas perih. Jujur saja hatiku sakit melihat adegan itu. Tak hanya saling berpelukan, mereka pun kerap kali berciuman di depan mataku sendiri, hal yang tak pernah ku duga sebelumnya sama sekali. Mereka akan mengkhianatiku.


"Kalian! Sejak kapan kalian berdua melakukan ini di belakangku?!" teriakku lumayan kencang. Nafasku tersengal-sengal, sungguh aku tak percaya dengan yang kulihat di depan mataku sendiri, air mataku mulai meleleh membasahi pipi.


Andy dan Cathrine terkejut melihat kedatanganku, mereka saling melepaskan diri dan sedikit salah tingkah. Aku menyorot tajam pada mereka berdua dan meminta penjelasan soal hubungan mereka yang sejak kapan aku tidak mengetahuinya?


"Silvia, ada apa kau kemari? Bukankah hubungan kita sudah berakhir?!" tanya Andy padaku, yang sekarang mimik wajahnya berubah santai dan merasa tak bersalah sama sekali padaku. Dia berjalan pelan menghampiriku dan menatap meremehkanku. Sebelumnya aku tak pernah melihat sikapnya seperti itu padaku. Dalam pandanganku Andy adalah lelaki yang baik dan selalu memberikanku perhatian. Tapi, ku lihat Andy jelas berbeda kala itu.


"Aku kemari ingin membersihkan nama baikku, Dy. Bahwa di dalam video itu bukanlah aku, semua hanya rekaan dan ini adalah buktinya yang asli!" Aku memberikan bukti kebenarannya di depan mereka. Bahwa video aslinya bukanlah wajahku tapi artis wanita thailand. Mereka sedikit tercengang tapi kemudian kembali acuh tak memperdulikannya, yang membuatku semakin mencurigai gelagat mereka. Bahwa video itu ada sangkut pautnya dengan mereka berdua.


"Soal itu aku sudah melupakannya, aku sudah tidak menyalahkanmu lagi..." acuh Andy dan kini dia menoleh pada Cahtrine di belakangnya, lalu mengulurkan tangannya yang cepat di raih oleh tangan Cathrine. Mataku terbelalak melihat kedua tangan mereka saling terpaut erat. Dadaku semakin sesak terasa.


"Maksudmu?" tanyaku tak mengerti.

__ADS_1


"Ya, seperti yang sudah kau lihat barusan, apa yang sudah kami lakukan? Sebenarnya aku dan Cathrine saling mencintai. Jadi lebih baik kau lupakan pernah menjalin hubungan denganku dan aku tetap akan membatalkan pernikahan kita." ungkap Andy kala itu. Mataku kembali tercengang atas kejujuran Andy, ku tatap Cathrine dia tersenyum sinis memandangku.


"Bukankah kau tahu dia itu sahabatku? hah!" sentakku pada Andy sambil menunjuki Cathrine. Lalu aku beralih kembali menatap tajam Cathrine. "Dan kau Cath! Kenapa kau tega melakukan ini terhadapku! Sejak kapan kau mengkhianatiku? Apa salahku padamu?" Bibirku bergetar hebat. "Selama ini Ayahku selalu memperlakukanmu sama denganku. Apa jangan-jangan kaulah yang merekayasa video itu, lalu menghancurkan hubunganku dengan Andy, ayo jawab Cath! Katakan dengan jujur padaku!" bentakku yang kali itu aku tidak kuasa menahan amarah dalam hati, seolah aku manusia idiot yang gampang mereka permainkan.


"Diam kau Silvia! Jangan menuduh sembarangan Cathrine. Dia gadis baik-baik! Dia tidak seperti dirimu yang seringku lihat berbicara akrab dengan beberapa lelaki lain. Justru Cathrine-lah yang telah mengingatkanku, agar aku tak salah memilih calon istri. Aku salah menilaimu, kau memang gadis murahan! Gadis baik-baik tak akan mungkin mau bercanda gurau dengan lelaki yang bukan kekasihnya!" maki Andy lagi dengan terang-terangan dia membela Cathrine sekaligus mencemoohku dengan ujaran kebencian.


Plaaakk


Ini adalah kedua kalinya aku menampar Andy, aku tak kuat lagi dengan tuduhan yang menyakitkan darinya. J*lang-lah, murahan-lah. Sungguh aku tak mengerti kenapa Andy bisa berkata sekasar itu padaku. "Dengar, aku tidak seperti yang kau pikirkan! Mereka adalah teman-teman kampusku! Dan aku sama sekali tidak menjalin hubungan lebih dengan mereka!" jujurku. Tapi mereka berdua justru tak peduli dengan ucapanku.


Andy mendengus kencang seraya mengusap pipinya yang panas akibat tamparanku. Wajahnya memerah padam. "Lihatlah dirimu, bahkan kau berani menampar wajahku. Sikap Cathrine tentu lebih lembut jauh darimu. Aku sangat menyesal sekali kenapa aku tidak dari dulu mengenal Cathrine." beciknya.


"Mana ada yang percaya jika kau tidak menjalin hubungan dengan lelaki lain, Silvia! Lebih baik kau lupakan soal pernikahan kita. Ayo Cathrine kita pergi dari sini..." ajaknya pada Cathrine, lalu mereka berdua berjalan melewatiku dan pergi meninggalkanku yang masih terpaku. Aku menoleh kebelakang. Aku masih tak terima dengan perlakuan Andy, lalu aku mengejar mereka berdua yang bersiap masuk ke mobil.


"Berhenti!! Andy...!" Aku mencekal tangan Andy dengan erat namun Andy segera menepis tanganku dengan kasar hingga aku terhuyung jauh ke sampingnya. Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan nanar.


"Kau tahu ayahku meninggal gara-gara video yang kalian kirimkan padaku! Kalian berdua harus bertanggung jawab karna sudah memfitnahku juga mencemar nama baikku!" teriakku dengan air mata yang terus saja keluar dari mataku. Andy sedikit tertegun mendengar Ayahku meninggal karena serangan jantung setelah melihat video itu. Tapi dia kembali tersadar dan tak lagi memperdulikanku.


"Oh aku ikut belasungkawa atas meninggalnya Om Herman, tapi maaf jika soal itu, itu adalah tanggunganmu sendiri!" ucapnya setelah cukup lama terdiam. Lalu Andy meneruskan niatnya memasuki mobilnya dan pergi bersama Cathrine.


Aku menangis sejadi-jadinya, tak sangka jika Andy akan mencampakkanku hanya karna aku sering berbaur dengan teman-teman kuliahku. Tapi aku sama sekali tak pernah main hati dengan lelaki manapun. Bahkan dia tak peduli dengan rekaman video asli yang aku perlihatkan. Hatiku perih, apalagi melihat seringai wajah Cathrine yang tampak senang sekali melihat penderitaanku. Entah kenapa aku begitu yakin ini semua adalah rencana Cathrine, tapi aku tak cukup untuk membuktikannya.

__ADS_1


Suatu hari aku pun berniat ingin menemuinya lagi, untuk meminta penjelasannya yang belum terkuak. Tapi sejak itulah aku tidak lagi berjumpa dengan Cathrine bahkan Andy juga. Mereka bagai di telan bumi. Keberadaannya justru tak di ketahui. Rumah Cathrine tiba-tiba saja kosong tak ada yang menempati. Malah rumah sederhananya telah di sita oleh pihak Bank. Dan Andy juta tak kulihat lagi di Apartemennya. Orangtua Andy pun seolah tak peduli dengan kepergian putra mereka.


"Kemana sebenarnya mereka pergi?" gumamku penasaran.


Lima tahun berlalu setelah meninggalnya Ayahku aku merasa jenuh hidup seorang diri, sebab aku tak punya lagi sanak saudara dari kedua orangtuaku. Ayahku hanya anak tunggal dari keluarganya, sehingga tak memiliki keluarga lain lagi seperti diriku. sedang Ibuku sendiri adalah anak yatim piatu. Sehingga aku pun memutuskan untuk menjual rumah mewah peninggalan orangtuaku dan pergi merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.


Aku tinggal di sebuah kostan yang tak terlalu kecil juga tak terlalu besar. Sangat pas untuk aku tinggali sendiri, awalnya aku melamar bekerja di sebuah perusahaan kosmetik tapi tak bertahan lama, beberapa bulan aku sudah mengundurkan diri, karena aku tidak betah bekerja di sana yang setiap hari mau tak mau aku harus memoles wajahku dengan make-up tebal serta merta harus memakai pakaian minim, membuatku sangat risih yang akhirnya aku sering di lirik oleh para lelaki hidung belang.


Hingga aku menemukan pekerjaan yang cocok yang di tawari oleh seorang perempuan yang tak terlalu jauh dibawah umurku. Saat itu aku tak sengaja menemui Nana, motor maticnya mogok. Aku yang dulu punya seorang teman lelaki tukang montir, memanfaatkan ilmu yang pernah dia berikan. Aku memperbaiki motor Nana, hingga dapat berjalan lagi. Nana berterimakasih padaku lalu ia pun mengajakku bekerja di toko sepatu di sebuah Mall terbesar yang ada di Jakarta yang katanya butuh satu orang pekerja lagi. Nana bagaikan dewi fortuna untukku. Kehadirannya seperti sebuah petunjuk bagiku.


Hingga beberapa lama aku bekerja di toko sepatu, aku bertemu dengan seorang Pria tampan bernama Devan Alvandra yang sekarang Pria itu sudah menjadi suamiku, hampir sering dia membeli sepatu di toko kami. Mungkin ada dua hingga tiga kali dia membeli sepatu kerja dengan model terbaru. Aku mengaguminya dalam diam, ya tak hanya ramah pria itu memiliki selera yang sama denganku. Sama-sama menyukai warna hitam dan merah. Saat itu ia ingin membeli sepatu yang katanya untuk hadiah ulangtahun calon istrinya, aku menawarkan sepatu berwarna merah menyala dengan desain yang sangat cantik, dan Devan langsung menyukainya.


Di setiap kepergian Devan, aku selalu diam-diam memperhatikannya dari jauh dan Nana selalu menyadari hal itu lalu mengingatkanku bahwa lelaki itu sudah ada yang memiliki. Aku pun mengangguk lesu. Ya, aku juga sudah tahu karna Devan berkata ia ingin memberikan hadiah untuk calon istrinya, yang lalu aku di kejutkan oleh cerita Nana, dia memperlihatkan video artis penyanyi baru yang kariernya baru saja menanjak. Namanya Cathrine Angela, kata Nana wanita itu adalah calon istrinya Devan Alvandra. Jujur saja, aku yang sama sekali tak tertarik mendengar berita infotainment, sesaat itu juga terperangah mendengar berita itu, yang lantas aku merebut ponsel di tangan Nana.


"Cathrine? Dia!" pekikku pelan.


...~Flashback of~...


Bersambung....


...****...

__ADS_1


__ADS_2