Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
22. Menghadapi langsung


__ADS_3

Malam sudah larut, Arga duduk tersandar di lantai teras rumah. Sambil menangis ia sesekali meluapkan emosinya dengan menonjok pintu. Seharian ia mencari keberadaan mama namun tak ada hasil yang ditemukan. Arga benar benar lemah karena seharian tidak makan dan minum, yang ada dipikirannya hanyalah mencari keberadaan mama.


Laila menemui Arga sambil membawa makanan di tangannya untuk Arga. "Bos, makan dulu ya, kamu butuh tenaga untuk mencari ibu, jangan kayak gini, kita harus kumpulin tenaga, besok kita cari ibu lagi, yakinlah, ibu baik baik saja," tutur Laila menenangkan Arga.


Arga tetap tak membalas perkataan laila, ia melamun memikirkan apakah mamanya sudah makan atau belum.


Laila mendengus, ia tak tahu lagi bagaimana membujuk Arga untuk makan. Langsung saja ia menyendok nasi, dan menyuap Arga.


Nasi sudah berada di mulut, tak mungkin Arga membuangnya. Ia pun mengunyah meski pandangannya tak tentu arahnya karena masih melamun.


"Nih lanjutin makan sendiri!" tegas Laila sembari meletakkan piring nasi itu ke tangan Arga.


Arga pun mengambilnya, perlahan ia mulai makan. "Kita harus beraksi malam ini," tutur Arga sambil meletakkan piring di tangannya.


"Pak bos, kita nggak punya petunjuk, malam malam gini kita mau cari kemana," protes Laila yang kurang setuju.


"Terus gimana lagi, saya nggak bisa tenang kalau gini," ucap Arga semakin khawatir.


"Sudah saya bilang, satu-satunya cara untuk mengetahui keberadaan ibu, kamu harus pura-pura menyerahkan white horse, setelah kita ketemu sama mereka di tempat ibu di sekap, barulah kita beraksi, serahkan semuanya sama saya," jelas Laila dengan serius.


Arga berpikir sejenak, "Tapi..kamu yakin kamu akan baik-baik saja? saya takut kamu terluka," ucap Arga menatap Laila.


Laila terdiam menatap Arga, tak di sangka Arga masih memikirkan keselamatannya. "Insyaa allah, kita akan baik-baik saja," ucap Laila dengan percaya diri.


"Baiklah, kita akan bertemu mereka besok, saya akan menyuruh mereka untuk mengadakan pertemuan pertama, seolah saya menyerahkan White Horse," tutur Arga, meski ia tak begitu yakin bahwa laila akan berhadapan dengan orang-orang yang belum jelas statusnya.

__ADS_1


Tiba-tiba Rifki datang, ia langsung menemui Arga dan Laila di teras rumah. "Apa benar mama kamu di culik?" tanya Rifki menatap Arga yang bersandar di pintu, ia masih ngos-ngosan. Rifki langsung bergegas ke rumah Arga saat tau mama di culik.


"Iya Rif, tadi pagi ibu di culik pas lagi jalan sama Lastri," jelas Laila.


Rifki ikut panik mendengar itu, ia tak tahu saja bahwa penculikan ini dilakukan oleh ibunya sendiri. "Kita harus segera mencari Bu Ranti, sekarang ini kasus pembunuhan sedang ramai di berita," tutur Rifki. Mendengar itu semakin membuat Arga panik dan khawatir.


Laila menatap wajah Arga yang sangat khawatir, hingga membenturkan kepalanya ke dinding.


Arga buru-buru mengambil HP nya dan menelpon nomor yang sering menerornya.


"Katakan dimana kamu menyembunyikan mama saya, white horse akan saya serahkan sama kamu malam ini juga, beri saya alamat nya, saya akan temui kamu sekarang juga," ucap Arga dan langsung rematikan telpon itu.


Tak lama kemudian, SMS berupa alamat pun diterima Arga. "Ini kan tidak jauh dari kantor, aku tau tempat ini, ruko kosong di dekat penghujung kota," ucap Arga menatap alamat di hpnya.


Laila dan Rifki menatap Arga dengan bingung, mereka tak mengerti apa maksud Arga. "Maksud kamu apa Ga?" tanya Rifki penasaran.


***


Sementara itu, di Ruko kosong tampak Bu Diana tengah menunggu kedatangan Arga, ia mengenakan jaket hitam dan masker hitam agar Arga tidak mengenalinya. Penjagaan yang amat ketat membuat orang akan sulit untuk memasuki Ruko itu. Setiap sudut dan pintu Ruko di jaga oleh anak buah Bu Diana yang sudah terlatih kemampuannya.


"Dengarkan baik-baik! jaga ketat si Ranti itu, jangan sampai ia dibawa keluar oleh Arga, setelah mereka sampai ke sini, bukan hanya Ranti yang akan kita bunuh, tapi juga Arga, mereka berdua harus mati malam ini juga!" tegas bu Diana menatap tajam Anak buahnya.


"Siap Bu," jawab anak buahnya serentak.


"Ingat! kalian tidak perlu menggunakan pisau agar tidak mengeluarkan darah, cekik saja sampai mereka mati, bukankah teknik mencekik kalian sangat unggul, jadi jangan sampai gagal," tegas Diana lagi.

__ADS_1


Sementara Bu Ranti tampak menangis tak bersuara di tempat kurungannya. Suasana malam yang gelap membuat nya tak berdaya. Kondisinya lemah tak berdaya karena bagai berpuasa di dalam kurungan.


***


Arga tampak menyetir mobil dengan kecepatan tinggi. Itu membuat Laila sedikit takut hingga ia berpegang erat.


"Hati-hati Arga,jangan ke bawa emosi!" ucap Rifki dari bangku belakang.


"Kita sekarang mau langsung menghadapi mereka kan?" tanya Laila menatap Arga.


Sambil menyetir Arga menjelaskan pada Laila dan Rifki, "Iya, malam ini juga kita harus membawa mama, dengar baik baik, jangan sampai kalian terluka, aku tau ini berbahaya, tapi aku akan menghadapi segala resikonya," jelas Arga.


Laila hanya mengangguk, sambil berdoa dalam hati, ia berharap agar bisa mengalahkan seluruh penjahat dengan kemampuannya.


Sampailah di Ruko kosong itu.


Awalnya Arga melangkah sendiri ke Ruko tersebut, perlahan ia membuka pintu Ruko yang hampir rapuh itu. Ia menoleh kanan kiri, dengan hati-hati ia melangkah demi langkah. Tiba-tiba lampu menyala, hingga terlihatlah sekumpulan wanita berpakaian serba hitam mengelilinginya. Dan diikuti dengan seorang wanita yang tampak lebih tua dari yang lainnya, ia mengenakan masker dan topi yang tak lain adalah Bu Diana, namun Arga tak mengenalinya.


"Bagus, kamu datang tepat waktu, sesuai janji serahkan White horse," kata Bu Diana sembari melangkah mendekati Arga.


"Dimana mama?" tanya Arga dengan tegas.


Diana tersenyum sinis, "Mama kamu sepertinya sangat menyukai tempat ini," ucapnya namun ekspresi matanya seperti mengancam Arga.


Tiba-tiba Laila dengan pakaian syar'i nya masuk dan bersiap untuk menyerang. "Jika kamu hebat, hadapi saja aku, jangan mencari lawan yang lemah," ucap Laila.

__ADS_1


Semua mata para pesilat wanita menoleh ke belakang, begitupun Bu Diana. "Siapa kamu berani berani masuk ke sini," Bu Diana tampak geram karena Laila mengganggu rencananya.


Semua anak buahnya sudah tidak sabar untuk melawan Laila yang di anggap merusak suasana.


__ADS_2