Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
56. Keluarga mu : Keluarga kita


__ADS_3

Laila terkejut melihat Arga tiba-tiba datang merangkulnya di depan Haris.


"Kenalin saya Haris, teman lama Laila," ucap Haris menatap Arga.


"Iya saya udah tau, oh ya, kalian masih mau ngobrol nggak, kalau mau ngobrol biar saya tunggu di mobil aja," ujar Arga.


"Oh nggak..saya juga ada urusan, saya duluan ya, Assalamualaikum," ucap Haris kemudian melangkah pergi.


Laila menatap langkah Haris dengan rasa tak tega pada teman lamanya itu.


"Terus aja liatin, sekalian aja sana ikut sama dia," cetus Arga dengan memasang wajah manyun.


"Emang boleh?"


Arga melototi Laila, "Kalau kamu berani silahkan aja, palingan nanti aku bom aja rumah laki-laki tadi," ucap Arga tak serius.


"Ih ngeri ya, nggak jadi deh, aku pulang sama kamu aja,"


"Maksud kamu aku jadi pilihan kedua gitu?"


"Nggak gitu, ih kamu mah sensitif bangat, kayak iklan Sensodyne gigi sensitif," gumam Laila.


Arga tampak geram dengan Laila, ia menarik tangan Laila hingga ke mobil.


"Kita mau kemana?"


"Udah, diam aja, lihat aja nanti," ucap Arga kemudian menyalakan mobil.


...*******...


Adik Laila tampak bahagia hari ini, kini ia ke kampus mengendarai mobil pemberian Arga. Tak lupa sebelum menaiki mobil, ia foto Selfi dulu.


"Semoga aja nanti gebetan mau naik mobil ku ini, tapi dia pasti mau lah, sekarang kan aku jadi makin keren," batin Ridwan yang merasa dirinya makin keren.


Sampailah di kampus. Tepat sekali gebetan Ridwan bernama Anisa lewat di saat Ridwan turun dari mobil.


"Assalamualaikum..Nisa," sapa Ridwan dengan bangganya di depan mobil.


"Waalaikumussalam," jawab Nisa sembari tersenyum ramah. Namun setelah itu Anisa langsung pergi begitu saja.


"Lah kok langsung pergi, belum juga ngobrol,"


Anisa adalah mahasiswi sederhana dari keluarga yang sederhana pula. Namun Ridwan amat menyukai gadis itu karena sopan santun dan paras cantiknya.

__ADS_1


Laila melihat status WA adiknya yang bersandar di mobil mewah.


"Kamu kan yang beli Ridwan mobil?" tanya Laila menatap Arga yang fokus menyetir.


Arga hanya mengangguk seolah mengiyakan.


"Seharusnya kamu nggak perlu lakuin ini, aku nggak mau memanfaatkan kamu untuk keluarga aku," tutur Laila yang merasa tidak enak.


"Keluarga kamu Keluarga aku juga, kecuali kalau kamu tidak menganggap aku,"


"Nggak gitu maksudnya, maksud aku tuh kamu nggak perlu repot-repot, aku jadi merasa berhutang sama kamu," tutur Laila.


"Apa salahnya memberi mobil pada adik sendiri, sekarang ini adik mu juga adik ku kan! udah jangan dipikirkan lagi, atau kamu cemburu karena kamu juga pengen dibelikan mobil?"


"Ih jangan ngaco deh, aku aja nggak bisa nyetir," jawab Laila.


"Terus kamu maunya gimana sayang..masa aku nggak boleh ngasih hadiah sama adik kita," ujar Arga


"Ya udah deh terserah!"


...********...


Adel dan Haris tengah mengobrol di taman rumah sakit. Kebetulan Haris di rumah sakit tengah menjenguk kenalannya yang sakit dan tak sengaja bertemu Adel.


"Terkadang aku juga berpikir seperti itu, aku merasa bodoh karena tak menyadari perasaan Laila, ini semua karena aku terlalu memendam cinta pada Laila, hingga aku tak peka pada perasaannya pada ku, tapi ya sudahlah ini semua sudah ketentuan Allah," ujar Haris yang ujung-ujungnya menyadari kesalahannya.


"Udahlah Ris, kamu harus membuka lembaran baru dalam hidup mu, carilah perempuan lain yang lebih baik dari Laila," tutur Adel


"Kamu kan tau sendiri Del, aku sangat sulit untuk mengenal perempuan lain, dan bahkan rasanya aku tak ingin mengenal perempuan lain lagi, paling tidak aku mungkin hanya bisa memperistri orang yang sudah kenal lama dengan ku,"


"Terserah kamu sih, aku akan tetap dukung kamu, BTW siapa orang terdekat yang kamu maksud?"


"Kamu!" jawab Haris singkat membuat Adel ternganga.


"Kamu bercanda ya Ris, kita itu udah temanan sejak SMA," ucap Adel sembari tertawa di tengah keramaian rumah sakit.


"Apa pernah aku bercanda masalah beginian!"


Adel pun terdiam, ia masih terkaget-kaget dengan perkataan Haris. Namun di satu sisi ia berkecil hati karena Haris mendatanginya setelah di tolak oleh Laila sahabatnya sendiri.


Ternyata semua pembicaraan Adel dan Haris itu di dengar oleh Rifki yang sedari tadi berdiri di sana sembari menjinjing makanan untuk Adel.


Mata Adel tiba-tiba tertuju ke arah Rifki. Ia melihat wajah Rifki yang tampak tersenyum padanya, namun Adel paham itu bukanlah senyuman bahagia.

__ADS_1


"Ris..maaf ya, aku mendadak ada pasien, aku duluan ya, Assalamualaikum," ucap Adel dan buru-buru pergi meninggalkan Haris.


Rifki menemui Adel yang tampak istirahat. "Ini makan dulu, kamu belum makan kan,"


"Nggak usah repot-repot Rif,"


"Nggak repot kok, udah makan aja," ujar Rifki.


"Ya udah deh kalau kamu maksa, Makasih," kata Adel kemudian mengambil makanan itu dari tangan Rifki.


"Sepertinya laki-laki tadi melamar kamu ya, aku kenal dia kok, dia cukup dikenal di medsos, khususnya untuk nasehat nasehat yang ia berikan," ujar Rifki dengan senyum palsunya.


"Ya begitulah, tapi aku belum memberi jawaban apa-apa, aku merasa ini terlalu buru-buru,"


"Pikirkanlah baik-baik, Haris adalah laki-laki yang sangat baik," tutur Rifki.


"Baru aja kamu bilang suka, kenapa kamu malah jadi gini Rif, apa kamu nggak tau kalau aku semakin terjebak dengan kata-kata manis kamu kemarin, harusnya sekarang kamu larang aku untuk menerima lamaran orang lain," batin Adel menatap Rifki.


...*******...


Malam hari,


Arga menutup Mata Laila dengan tangannya sambil menuntun Laila berjalan menuju sebuah tempat yang indah.


"1,2,3.." Arga membuka mata Laila.


Laila membuka mata dan melihat suasana malam yang amat indah di pantai. Pantulan sinar bulan terlihat jelas di pantai.


Laila mendongakkan kepalanya ke atas, menatap indahnya bintang-bintang yang berkedip menghiasi langit malam.


"Maasyaa Allah, ini sangat indah!" ucap Laila yang amat menikmati pemandangan malam hari.


"Sudah ku duga kamu sangat suka keindahan malam, sama seperti nama mu," ucap Arga menatap bahagia sang istri.


Laila menatap ke arah ombak yang sesekali membasahi kakinya. Laila yang jahil memercikkan air ke arah Arga.


"Dingin sayang, jangan main air, " ucap Arga sembari mengelak dari percikan air.


Laila tak merasakan dingin karena rasa bahagianya, ia tak pernah melihat keindahan seperti ini sebelumnya. Paling ia hanya melihat meteor di hp nya saja. Hingga ia sangat menikmati pemandangan laut itu.


"Terimakasih, aku tak tau apakah ini kebetulan, tapi kamu telah mewujudkan impian ku dari aku kecil," ucap Laila.


Sejak kecil Laila ingin melihat bulan dan bintang di atas pantai, namun dulu tak pernah terwujud karena ia tak mungkin keluar rumah sendiri pada malam hari.

__ADS_1


__ADS_2