Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
38. Di lamar


__ADS_3

Seminggu kemudian,,


Malam itu Laila tampak melamun di kamarnya, ia ingin tau keadaan Arga, tapi tak berani menemui Arga tanpa alasan yang jelas.


Seminggu terakhir ini Laila merasa lelah menahan perasaannya saat jauh dari Arga. Kini barulah ia sadari sakitnya merasa kehilangan hanya karena tidak bisa melihat Arga lagi.


Sesekali ia teringat momen-momen bersama Arga, ia juga teringat saat ia menyaksikan Arga yang baru pulang sholat Jum'at. Betapa tampannya aura Arga dengan peci dan kain sarungnya.


***


Tepat di sepertiga malam, Laila terbangun dan langsung berwudhu dilanjutkan dengan sholat tahajud.


Seminggu ini ia memang sangat konsisten tahajud nya, karena ia merasakan ketenangan dalam jiwanya saat melaksanakan sholat tahajud tersebut.


Ada banyak keutamaan tahajud diantaranya:


1) diangkatnya derajat orang yang melaksanakan.


2)mendapatkan bimbingan langsung dari Allah SWT untuk menjalani hidupnya sehingga hidupnya akan terasa lebih mudah.


3)Saat menghadapi masalah, Allah SWT akan menuntutnya untuk diberikan jalan keluar yang terbaik dan benar


4) Mendapatkan pertolongan langsung dari Allah SWT.


Laila juga menyempatkan untuk makan sahur, ia berniat untuk berpuasa esok hari, selain untuk ibadah ia berniat untuk menahan gejolak cinta di hatinya.


Rasa cinta pada Arga membuatnya khawatir dengan dirinya sendiri.


***


Pagi yang cerah,


Arga tampak kelihatan semangat pagi ini, tentu saja semangat karena hari ini ia akan melamar pujaan hatinya.


Tapi ada sedikit yang janggal, saat ia sudah bersiap untuk melamar Laila, ada saja yang membuatnya kesal.


"Sudahlah kamu pulang aja, biar aku yang menemani putraku, kamu sudah membuang kami sejak lama," tegas Bu Ranti menatap tajam pak Rendra.


"Bagaimana jika keluarga wanita menanyakan tentang Papa Arga, apa kalian akan mengatakan bahwa papanya sibuk atau sudah mati?" ujar pak Rendra yang kukuh untuk ikut.


Arga menghela nafas menahan rasa kesalnya. "Papa..mama...aku tau kita ini bukan keluarga yang harmonis seperti dulu, tapi aku mohon kali ini tolong bantu aku," pinta Arga menatap kedua orangtuanya.


Pak Rendra dan Bu Ranti saling membuang pandangannya.


"Ma..aku mengerti bagaimana sakitnya mama, karena aku pun merasakan itu, tapi Arga mohon, meskipun mama dan papa tidak akan bersatu lagi, tapi tetaplah saling memaafkan, karena kebencian akan merusak jiwa kita sendiri," tutur Arga dengan pelan.

__ADS_1


"Baiklah, kali ini saja, mama akan membiarkan si tua ini ikut," ucap bu Ranti.


"BTW kita seumuran loh, SMA nya aja duduk sebelahan," kata pak Rendra.


"Maaf ya aku nggak ingat," cetus Bu Ranti. keduanya bersikap seperti anak kecil.


...************...


Laila sedang menjemur kerupuk kulit di belakang,


"Kak..di dalam ada tamu, ayah sama bunda udah di ruang tamu, ayok buruan!" panggil Ridwan.


Laila pun bergegas ke ruang tamu.


Laila pun sampai di ruang tamu, ia dikejutkan dengan kehadiran Arga di sana.


Laila menundukkan pandangannya, ia tak ingin menatap laki-laki yang ia cintai itu terlebih di saat ia puasa.


"Duduklah nak!" ucap bunda.


Laila duduk di sebelah bunda.


Dua keluarga telah berkumpul di ruang tamu, tampak suasana semakin serius.


Jantung Laila berdebar kencang tidak karuan, sesekali ia mencubit tangannya, ia mengira ini mimpi.


"Ini tidak mimpi, ya Allah..inikah rencana indah yang kau berikan untukku," batin Laila sedang matanya berkaca-kaca karena terharu.


"Apa kamu serius nak? kami ini hanya keluarga biasa, aku tidak ingin jika kelak putriku ini mendapat perlakuan tidak baik hanya karena latar belakangnya," tegas Ayah menatap serius mata Arga.


"Insyaallah saya serius pak, Bu, saya sangat mencintai Laila, saya berjanji akan membimbingnya ke jalan Allah, dan mencintainya hingga ke Jannah nya Allah," tutur Arga.


"Saya tau kamu adalah laki-laki yang baik dan terpandang, tapi saya khawatir putri saya nantinya akan direndahkan di keluarga mu," ujar Bunda.


Pak Rendra pun bersuara, "Jangan khawatir Bu, keluarga kami tidak akan merendahkan seseorang dari latar belakangnya, akhlaknya yang baik justru akan membuat kami segan padanya," tutur pak Rendra.


"Tumben si tua ini pintar berbicara," batin Bu Ranti.


Setelah beberapa saat mengobrol, dua keluarga ini pun merasa ada kecocokan.


"Tapi bagaimanapun juga keputusan tetap berada di tangan Laila, jika dia menerima maka kami pun menerima," tutur Ayah.


"Bagaimana Laila apa kamu menerima lamaran Arga nak?" tanya bunda menatap putrinya.


Semua mata tertuju pada Laila, penasaran akan jawabannya.

__ADS_1


Laila sudah jelas menerima itu, tapi ia sedikit malu untuk menjawabnya.


Tak lama kemudian Laila pun menganggukkan kepalanya seolah mengiyakan.


"Alhamdulillah.." ucap Arga sekeluarga. Rasanya sangat lega ketika Arga mengetahui respon Laila.


"Sebelum kamu menikahi putri ku, kamu berhak melihat wajahnya lebih dulu nak, jika kamu tidak menyukai wajahnya, kamu berhak membatalkan," tutur Ayah pada Arga.


Arga pun tersenyum mendengar perkataan Ayah,


"Pak..Tidak usah, saya mencintai Laila terlepas dari bagaimana penampilan fisiknya, saya tidak perlu melihat wajahnya untuk mencintainya, bahkan jika saya buta saya pasti bisa merasakan cinta pada Laila," tegas Arga dengan bersungguh-sungguh.


Arga memang tak pernah mencintai wanita dari tampangnya. Dulu Linda pun tidak cantik, namun ia mencintainya.


Mendengar perkataan Arga seolah memperkuat cinta di hati Laila. Sebelum Laila bercadar ia selalu di pandang hanya karena ia memiliki paras cantik, setiap ada laki-laki yang mendekati pasti dikarenakan kecantikannya.


Tapi kini ia merasakan cinta yang sesungguhnya, dimana seorang laki-laki mencintainya tanpa melihat wajahnya.


Tak lama kemudian Arga sekeluarga pun pamit pulang.


"Arga!" panggil Laila pada Arga yang hampir naik ke mobil.


Arga tersenyum mendengar pujaan hati memanggilnya. "Ada apa? aku hanya pulang ke rumah, bukan ke luar angkasa, jadi jangan khawatir," canda Arga.


"Bukan itu, tapi..kenapa tiba-tiba kamu melamar ku, apa gadis yang kamu lamar menolak mu,makanya kamu menjadikan ku pilihan kedua?"


"Gadis yang mana? dari awal kamulah yang ingin aku lamar, inisial L," tutur Arga mengejutkannya Laila.


"Kamu.."


"Ya! aku sudah tau semuanya, tapi aku mencintai kamu terlepas dari itu semua, mau kamu inisial L atau tidak, aku tetap mencintaimu," tegas Arga.


Laila pun tercengang, ia bingung darimana Arga tau semua itu.


"Jangan kebanyakan bengong calon istri, aku pamit dulu, Assalamualaikum," ucap Arga kemudian naik ke mobil.


Mobil Arga tampaknya sudah jauh. Laila melompat lompat seperti anak anak. Kegirangannya kini tak terpendam lagi.


"Yes.. Alhamdulillah.. terimakasih ya Allah.."


Ridwan yang melihatnya tersenyum menatap kelucuan Laila.


"Ehem..." suara tenggorokan Ridwan mengejutkan Laila.


Laila yang malu langsung berlari ke arah kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2