
Arga tampak khawatir dengan kondisi Laila saat ini, ia khawatir menjadi bodyguard akan membuat Laila dalam bahaya.
Rifki tiba di ruang rawat Arga.
"Aku sudah dengar semuanya dari Bu Ranti," ucap Rifki sembari duduk di samping Arga.
"Ya begitulah..entah dari mana saja datangnya bahaya itu, untungnya luka ku tidak parah,"
"Tapi.. kenapa kamu melakukan ini, kenapa kamu rela mengorbankan nyawa untuknya?" tanya Rifki yang merasa cemburu ketika mengetahui Arga mengorbankan nyawa demi Laila.
"Sepertinya kamu tau jawabannya tanpa harus ku jelaskan panjang lebar, hanya satu kemungkinan alasan seorang pria menaruhkan nyawa untuk seorang wanita," jelas Arga.
Rifki langsung paham maksud dari perkataan Arga. "Tapi kamu tau kan kalau aku dari awal menyukai Laila, kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau kamu pun menyukainya," tegas Rifki menatap Arga.
"Aku memang mencintainya, tapi aku tidak bilang kalau aku memilikinya, jadi jangan salahkan perasaan ku, aku bebas ingin mencintai siapa pun," Ujar Arga membalas perkataan Rifki.
Tiba-tiba Rifki teringat momen pahit ketika Laila menolaknya. "Laila sudah menolak ku mentah-mentah, jika memang kamu ingin berjuang, majulah, tapi jika kamu menyakiti dia, aku yang akan menghukum mu,"
Arga tersenyum sinis, "Astaga.. emangnya kamu siapa," ucapnya seolah meledek Arga.
"Aku serius Ga, jangan sakiti Laila, sebenarnya aku ingin marah, tapi karena kamu yang mencintai Laila, aku akan mencoba percaya bahwa kamu bisa membahagiakan dia," tegas Rifki.
"Iya..iya..tapi aku juga tidak tau harus memulai dari mana untuk mendapatkan Laila, aku berencana untuk melamarnya langsung,"
"Itu rencana yang bagus," ucap Rifki.
...----------------...
Rifki keluar dari ruangan Arga, ia berpapasan dengan Laila yang hendak memasuki ruangan.
Laila merasa tidak enak pada Rifki setelah menolaknya.
"Laila.." panggil Rifki.
"Nggak usah dipikirin soal kemarin, jangan canggung menghadapi ku, bersikaplah seperti biasa, kita tetap berteman kan,"
Laila pun tersenyum, "Iya," ucapnya. Kini Laila merasa lebih baik untuk menghadapi Rifki tanpa rasa bersalah.
Laila memasuki ruang rawat Arga.
__ADS_1
Laila tampak menundukkan pandangannya, seolah masih dihantui rasa bersalah.
"Berhentilah menjadi bodyguard ku, kamu harus hidup dengan tenang," ucap Arga menatap Laila yang duduk di sofa.
Laila mengangkat kepalanya, menatap Arga dengan mata berkaca-kaca, ia seolah merasakan sakit di hatinya mendengar perkataan Arga itu.
"Apa karena saya melakukan kesalahan?"
"Bukan..tapi saya khawatir kamu akan dalam bahaya jika bekerja dengan saya," jelas Arga.
"Tapi saya ingin tetap berada di sisi kamu, saya ingin menjaga kamu, saya ingin menebus pengorbanan kamu," ucap Laila sedang matanya berkaca-kaca.
"Ini terlalu berbahaya!" tegas Arga.
Laila pun merasakan sakit yang amat dalam, entah mengapa ia merasa bahwa Arga sudah tidak membutuhkannya, sementara dalam hatinya ia semakin terbawa perasaan pada Arga.
Arga sebenarnya tak tega melihat Laila yang tampak sedih dengan perkataannya. Tapi ini adalah keputusan terbaik menurut Arga. Karena setelah Laila berhenti bekerja, ia akan menjadikan Laila istrinya, hingga Laila selalu ada di sisi Arga.
Laila menghapus air matanya, dan menegaskan bahwa ia akan berhenti.
"Baik, jika ini permintaan anda, saya akan berhenti menjadi bodyguard anda, saya minta maaf atas segala kesalahan saya selama ini, Assalamualaikum," ucap Laila, kemudian ia berdiri dan bergegas meninggalkan ruangan. Laila berjalan dengan air mata yang tak henti membasahi cadarnya.
"Kurasa ini memang yang terbaik, dia akan menikah, tidak mungkin aku masih ada di sisinya, lebih baik aku berhenti dari pada nanti aku di cap sebagai lintah yang menempel pada suami orang," batin Laila di sepanjang langkahnya.
"Aku memecatnya ma!"
"Kenapa? apa karena kejadian ini? Laila tidak salah Arga, dia sudah banyak berkorban untuk kita," tegas Bu Ranti.
"Bukan gitu ma, tapi..aku memecatnya karena setelah ini aku akan menjadikannya istriku, apa mama setuju?
Mama ternganga mendengar perkataan Arga, "Kamu serius?"
"Apa aku tampak bercanda ma"
Tentu Bu Ranti tidak akan menghalangi niat putranya, karena menurut Bu Ranti, Laila adalah wanita yang pas untuk putranya.
"Sebenarnya dari awal itulah yang mama inginkan, tapi mama menunggu sampai kamu benar-benar mencintai gadis itu, dan benar saja, sekarang kamu telah mencintainya," jelas Bu Ranti.
"Alhamdulillah, kapan kita ke rumah Laila ma?"
__ADS_1
"Astaga anak ini..pikirkan dulu luka di perut mu, baru mikirin lamaran," cetus mama mencubit telinga Arga.
Tiba-tiba Papa Rendra masuk ke ruangan, "Putraku...siapa lagi yang berani melukai kamu, cepat katakan, biar papa yang langsung turun tangan," ucap pak Rendra yang menerobos masuk.
"Aduh..si laki-laki tua ini datang di saat yang tidak tepat, seketika mood ku kacau," gerutu Bu Ranti dalam hati.
"Aku juga nggak tau pa, kalau aku tau pasti aku sudah menangkap orangnya," ujar Arga.
"Apa kata dokter nak? luka mu tidak parah kan?" tanya Pak Rendra.
"Iya lukanya sudah di jahit, dan ini tidak parah kok,"
"Syukurlah kalau begitu,"
Pak Rendra menatap Bu Ranti yang duduk di sofa sambil membuang pandangannya dari Pak Rendra.
"Ranti..jangan sedih ya, kita akan sama-sama menjaga putra kita," ujar Pak Rendra.
Bu Ranti tak menjawab perkataan Rendra.
"Arga, suruh papa mu pergi, mama ingin istirahat," suruh mama menatap Arga.
Arga pun hanya terdiam, karena papa sudah mendengar tanpa harus ia tegaskan lagi.
"Apa yang harus kulakukan agar kamu memaafkan ku Ranti?"
"Menghilang lah kamu dari bumi," ucap Bu Ranti singkat.
"Baiklah, aku akan pergi dari ruangan ini, aku akan mencari tiket ke planet lain," ucap pak Rendra yang tampak lesu. Ia pun meninggalkan ruangan.
...----------------...
Malam yang kelabu, awan hitam menutupi rembulan, gerimis membasahi kaca jendela kamar Laila.
Ia berdiri bersandar ke kaca jendela, menatap suasana luar yang tampak sunyi.
Kini hatinya sesak. Laila pun bingung mengapa hatinya sesakit ini. Bahkan ini lebih sakit daripada ketika Haris menikah dengan perempuan lain.
Berhenti bekerja bagai putus kontak dengan Arga, karena ia tak mungkin lagi bertemu Arga tanpa alasan untuk bekerja.
__ADS_1
Air mata tak henti menetes membasahi pipinya, "Kenapa sesakit ini ya, aku ini hanya bodyguard nya, bukan siapa-siapa, harusnya aku bahagia jika dia menikah, ini kan hal yang kuinginkan dari awal," batin Laila.
"Harusnya dari awal aku memberi tau bahwa akulah inisial L, tapi aku tak bisa menyalahkan diriku yang dulu, ini salah cinta yang datang terlambat, jika aku memberi tau Arga, mungkin sekarang aku telah menjadi istrinya," ucap Laila sembari menatap surat peninggalan Linda.