
Laki-laki itu ternyata Hilman. Hampir saja tangan pak Parto patah di buat Hilman.
"Anda tidak seharusnya memperlakukan wanita secara paksa," tegur Hilman pada pak Parto.
"Itu bukan urusan kamu, ini urusan saya dengan calon istri saya," tegas pak Parto melototi Hilman.
Ainun tampak geram mendengar kata kata pak Parto. "Calon istri dari mana sih pak, saya nggak pernah setuju ketika ibu saya menyuruh saya menikah dengan bapak, jadi jangan harap saya mau nikah, saya bahkan bisa lari ke planet lain asalkan tidak menikah dengan pak Parto," tegas Ainun yang kesal.
Pak Parto pergi dengan wajah masam.
"Kamu nggak pa pa?" tanya Hilman menatap Ainun.
"Nggak pa pa pak, makasih pak," ucap Ainun sambil menunduk.
"Baguslah, ayok naik ke mobil, kita pergi barengan aja," usul Hilman.
"Nggak usah pak, saya nggak mau nyusahin bapak lagi," tutur Ainun menolak nya.
"Saya nggak merasa di repotkan, ayo naik," ajak Hilman.Ainun pun naik ke mobil itu meski merasa tidak enak.
Hilman dan Ainun berangkat bersama ke restoran.
"Oh ya, laki-laki itu..beneran calon suami kamu?" tanya Hilman sembari sesekali melirik Ainun di mobil.
"Mohon maaf pak, saya tidak bisa menceritakan masalah pribadi saya," tutur Ainun pelan.
"Oh iya tentu saja itu kan privasi kamu, saya maklum kok," ujar Hilman sambil menyetir.
"Makasih atas pengertiannya pak," ucap Ainun.
Suasana di mobil senyap. Hilman memikirkan topik untuk di bicarakan agar suasana tidak canggung.
"Ainun," panggil Hilman.
"Iya ada apa pak," sahut Ainun.
"Kalau kamu ada masalah saya siap mendengarkan cerita kamu," tutur Hilman menoleh ke arah Ainun.
__ADS_1
"Hah mana mungkin aku cerita sama pak Hilman, aku aja baru kenal pak Hilman, lagi pula dia itu bos, bukan teman aku," batin Ainun.
"Iya terimakasih pak," jawab Ainun singkat.
"Kamu tau nggak sih, saya dari dulu paling bisa menebak ekspresi seseorang, termasuk kamu, meski kamu tidak cerita, saya tau kamu lagi ada masalah," lanjut Hilman.
Ainun hanya menunduk.
"Insyaallah saya baik-baik aja pak," elak Ainun.
***
Maysa menemui ibu rumah.
"Assalamualaikum Bu," sapa Ainun pada ibu yang sedang menonton tv.
"Waalaikumussalam, eh anak ibu udah datang, gimana rasanya nikah sama Farhan," sapa ibu.
"Alhamdulillah dia baik kok Bu, aku selalu di ratukan, dia laki-laki yang Soleh," tutur Maysa yang duduk di samping ibunya.Ibu pun tersenyum lega mendengar jawaban putrinya. Bahagia terpancar di wajah ibu mengetahui putri nya hidup dengan damai.
"Hah nikah? kok Ainun nggak cerita ya, nikah sama siapa Bu?" tanya Maysa.
"Sama pak Parto pemilik toko di depan, Ainun memang sudah seharusnya menikah dengan orang kaya, Parto itu terjamin mapan hartanya banyak, pasti bisa membahagiakan Ainun," jelas ibu.
"Astaghfirullahalazim..Bu pernikahan itu bukan cuma soal harta, tapi juga soal hati, mana mungkin Ainun ibu jodohkan dengan laki-laki tua seperti pak Parto, lagi pula ibu tau sendiri kan kalau dia juga jadi rentenir sebagai kerja sampingan nya, iya dia memang kaya, tapi dia itu laki-laki yang terkenal kasar di wilayah ini Bu, apa ibu tega menikahkan Ainun dengan laki-laki itu, aku nggak rela Bu,aku nggak rela Ainun menderita," jelas Maysa panjang lebar.
"Maysa sayang, ibu harus melakukan ini, asal kamu tau ibu melakukan ini agar hutang hutang ibu sama pak Parto lunas, dulu saat kamu kuliah hingga S2 pak Parto lah yang memberi ibu pinjaman uang, karena pendapatan Ainun dari kerjanya tidak memadai untuk membiayai kuliah kamu," jelas ibu.
Mendengar itu Maysa pun kaget, ia baru tau kalau Ainun bekerja untuknya saat ia kuliah.
"Apa? Ainun kerja Bu? jadi selama aku kuliah Ainun yang bantu biayain aku, astaghfirullah..Bu kalau aku tau itu aku lebih baik nggak usah kuliah sampai S2, sekarang aku merasa menjadi kakak yang jahat buat Ainun," ucap Maysa yang spontan menangis haru karena ia merasa bersalah.
"Maysa jangan nangis sayang, ini semua demi kebahagiaan kamu, ibu rela melakukan apa pun," tutur ibu menatap putrinya.
"Aku nggak akan bahagia dia atas penderitaan adik aku Bu, Ainun satu-satunya adik aku," ucap Maysa berderai air mata.
Ibu mengelus kepala Maysa.
__ADS_1
"Jangan sedih sayang, ini memang kemauan Ainun, dia ingin menikah dengan pak Parto," tutur ibu padahal ibu berbohong.
"Nggak! aku nggak percaya kalau ini kemauan Ainun Bu, dan kalaupun ini kemauan Ainun, aku nggak akan biarin ini terjadi, aku akan berusaha untuk melunasi hutang ibu berapa pun itu, kalaupun ada yang harus di paksa menikah dengan laki-laki tua itu, akulah orangnya Bu, akulah yang seharusnya di paksa menikah, bukan Ainun, karena akulah penyebab ibu berhutang pada laki-laki tua itu," cetus Maysa yang tak henti menangis merasa bersalah.
"Nggak Maysa! kamu nggak perlu mikirin ini, ini urusan ibu dengan Ainun," tegas ibu.
"Bu, pokoknya aku akan selesaikan ini sampai tuntas, kalau nggak, aku akan merasa bersalah seumur hidup, maaf Bu tapi aku tidak akan membiarkan adik ku hancur," ucap Maysa pelan tapi tajam.
Maysa pun langsung pergi meninggalkan sang ibu dengan kondisinya yang amat sedih.
***
Ainun sedang fokus bekerja di restoran, ia sedang melayani pelanggan, tiba-tiba Maysa muncul dan memeluknya dari belakang.
Ainun kaget melihat Maysa yang menangis memeluknya.
"Kakak kenapa nangis?" tanya Ainun.
"Ainun, kenapa kamu mau menderita karena aku, kenapa kamu korbankan masa depan kamu hanya karena aku, aku benar-benar merasa menjadi orang paling berdosa, bodohnya aku yang berbahagia di atas penderitaan kamu," ucap Maysa berderai air mata.
"Kak menderita apanya sih, aku baik-baik aja kak," tegas Ainun.
"Jangan bohong! Ibu menjodohkan kamu dengan laki-laki tua itu kan? dan asal kamu tau ibu menjodohkan kamu dengan laki-laki tua itu karena ibu punya hutang yang banyak, dan hutang itu di sebabkan oleh keegoisan aku yang kuliah samapi S2, dan kenapa kamu bohong Ainun, kenapa kamu nggak cerita kalau kamu bekerja mati-matian demi membiayai aku kuliah," tanya Maysa beruntun.
Mendengar itu Ainun pun ikut menangis mengingat rasa sakitnya selama ini,
"Kak, aku bahagia kok, aku emang selalu bahagia, kenapa kakak jadi sedih gini," ucap Ainun menenangkan Maysa.
"Dasar pembohong! aku nggak percaya kamu bahagia, kamu cuma pura-pura bahagia di depan aku," tegas Maysa menatap Ainun.
Tangisan Ainun semakin tak terkendalinya.
"Mau gimana lagi kak, aku emang ditakdirkan seperti ini, menyembunyikan rasa sakit sudah menjadi hal biasa bagi aku," ucap Ainun berderai air mata.
"Ainun maafin aku, aku janji akan berusaha mengembalikan keadilan untuk kamu, aku janji akan menyelesaikan masalah ini, aku nggak akan bisa bahagia melihat kamu seperti ini," tegas Maysa memeluk adiknya.
Ternyata Hilman memperhatikan kakak beradik itu dari belakang. Hilman yang tak pernah menangis di depan umum tiba-tiba meneteskan air mata dengan spontan. Ia memang sudah tau kesedihan Ainun selama ini melalui buku diary ainun, namun setelah ia melihat itu barulah ia semakin paham bagaimana sakitnya menjadi Ainun.
__ADS_1