
Pagi ini Arga sudah stay di kantor nya. Ada banyak hal yang harus ia urus di kantor setelah seminggu Rifki mengambil alih tugasnya di perusahaan.
"Gimana? Laila cantik kan?" tanya Rifki sembari duduk di sofa ruangan Arga.
Arga melototi Rifki, "Maksud kamu apa? kamu tau kalau Laila sangat cantik?"
"Ya iyalah, aku udah tau wajah Laila sejak pertama kali bertemu sama dia,"
Mendengar itu membuat Arga tidak terima karena ternyata Rifki pernah melihat wajah Laila.
"Wah..kurang ajar kamu Rif, cepat jelaskan bagaimana kamu bisa melihat Laila?" Arga berdiri dan berjalan ke arah Rifki.
Rifki tak menjawab, ia tersenyum sinis dengan sengaja supaya Arga terbawa emosi.
"Malah senyum sendiri lagi, cepat katakan!"
Tiba-tiba pintu terbuka,
"Assalamualaikum..eh ada Rifki juga," ucap Laila mengagetkan Arga.
"Waalaikumussalam, kamu kok ke sini sayang," Arga menyambut Laila.
"Kenapa? emangnya nggak boleh ya,"
"Ya boleh dong ayang Laila, tapi harusnya kamu bilang dulu, biar aku jemput," tutur Arga menatap manis istrinya.
Laila memperhatikan penampilan rambut Arga yang tampak acak acakan. Ia pun merapikan rambut suaminya itu, "Kamu pasti terlalu sibuk ya, makanya rambut kamu sampai acak acakan gini," kata Laila.
Arga pun mengambil kesempatan menatap mata indah Laila.
"Rasanya aku jatuh cinta berkali-kali saat melihat kamu,"
"Ehem..ehem.." suara tenggorokan Rifki memberi kode. Karena Arga dan Laila bermesraan seolah tak menyadari bahwa ia ada di ruangan itu juga.
Arga dan Laila tak menyadari suara Rifki itu,
"Maasyaa Allah, benarkah, semoga cinta mu itu tidak pudar hingga ke Jannah nya Allah ya,"
"Iya..aku serius Laila," tegas Arga sembari menggenggam tangan Laila.
Rifki semakin risih, "Astaga..suruh saja aku keluar dari sini!" kata Rifki, namun tetap saja tidak ada yang menyadari bahwa Rifki sedang berbicara.
"ah sudahlah, aku akan keluar tanpa perintah dari siapa pun, kalian ini benar-benar tidak menghargai perasaan orang lain," ucap Rifki dan keluar dari ruangan dengan rasa kesalnya.
__ADS_1
Sekilas seperti suara pintu yang baru tertutup di telinga Laila dan Arga, namun keduanya tak memperdulikan itu.
"Oh ya, ayok lanjutkan pekerjaan mu, biar aku duduk di sini menatap mu," ucap Laila kemudian duduk di sofa.
Arga pun melanjutkan pekerjaannya, kini ia semakin semangat karena ada Laila yang menemaninya.
Laila memperhatikan seisi ruangan Arga, tak sengaja ia menoleh ke arah meja kerja Arga. Biasanya di meja itu pasti selalu ada foto Linda. Tapi sekarang justru ada foto Laila.
"Dari mana kamu mendapat fotoku?"
"Ada deh, sekarang kan kamu jadi bagian dari hidup aku, jadi aku harus melihat foto ini setiap hari, agar aku semangat bekerja," ujar Arga.
...******...
Tampak Bu Ranti sedang bersantai di bawah pohon mangga di kampung halamannya. Ia tengah mengobrol dengan ibunya.
"Sayang sekali aku tidak melihat cucuku menikah," kata nenek yang merindukan cucunya.
"Mau gimana lagi Bu, kondisi ibu kan sudah tidak memungkinkan untuk perjalanan jauh, ibu jangan sedih ya, nanti aku suruh Arga dan istrinya ke sini," tutur Bu Ranti.
"Istri Arga bagaimana, dia baik kan?"
"Istrinya bernama Laila, gadis Sholehah yang bercadar Bu, dia sangat berbeda dari perempuan lain, dia punya paras cantik dan ilmu bela diri yang jauh di atas rata-rata," jelas Bu Ranti yang tampak membanggakan Laila.
"Baguslah kalau begitu, rasanya aku tak sabar ingin melihat perempuan itu," ucap nenek.
"Assalamualaikum.." sapa pak Rendra yang ternyata menyusul Bu Ranti ke kampung halaman.
Nenek melihat pak Rendra yang ada di hadapannya, "Aku tidak salah lihat kan Ranti, dia mantan suami mu kan?" tanya nenek untuk memastikan.
"Iya Bu,"
Nenek tampak naik darah melihat kehadiran pak Rendra, buru-buru ia mengambil sapu lidi yang ada di dekatnya.
"Pergi kamu..pergi..jangan ganggu putri dan cucuku lagi," nenek memukuli pak Rendra dengan sapu di tangannya.
"Ampun Bu..ampun..saya ke sini cuma mau bersilaturahmi,"
"Sudahlah Bu jangan membuang tenaga mu untuk si kutu gatal ini, ayok kita masuk, tidak usah ladeni dia," kata Bu Ranti yang juga kesal melihat pak Rendra.
"Tolonglah Ranti, beri aku kesempatan untuk berbicara, aku hanya ingin meminta maaf,"
Nenek yang sudah lelah memukuli pak Rendra sudah ngos-ngosan. "Astaghfirullah..urus saja laki-laki ini Ranti, ibu sudah tidak sanggup, ibu ke dalam dulu," kata Nenek dan berjalan dengan tongkat nya ke dalam rumah.
__ADS_1
Bu Ranti menatap tajam, "Kamu ngapain lagi sih gangguin hidup saya?"
"Duduk lah dulu, biar ku ceritakan dulu,"
Bu Ranti pun duduk dengan wajah masam.
"Begini Ranti, sebenarnya aku sudah lama menceraikan Diana,"
"Terus apa hubungan sama saya? saya nggak perduli ya," gerutu Bu Ranti memotong pembicaraan pak Rendra.
"Maksud ku nggak ada salahnya kita saling bermaafan dan memulai hidup baru," lanjut Pak Rendra.
"Basi!" ucap Bu Ranti dan berjalan memasuki rumah.
"Ranti ..aku mohon, kembalilah bersama ku, aku cinta mati sama kamu,"
Bu Ranti menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah pak Rendra dengan mata melotot.
Bruk..
Suara sendal jepit Bu Ranti tepat sasaran ke hidung Pak Rendra. Kini hidungnya berdarah. Jauh-jauh ia ke kampung halaman mantan istrinya, namun hanya pulang dengan kata kegagalan.
...********...
Suasana ruang kerja Arga seketika berubah saat Afni masuk.
"Selamat ya Laila, sekarang kamu dan Arga sudah resmi," ucap Afni menatap Laila.
"Makasih, aku doain semoga kamu cepat dapat jodoh juga," kata Laila.
Arga senang melihat teman dan istrinya tampak akur.
Sampai di sini Afni masih terlihat baik-baik saja.
"Oh ya aku mau minta maaf sama kamu, selama ini aku udah berpikiran tidak baik tentang kamu, sekarang aku mulai sadar kalau kamu ternyata perempuan yang baik," ucap Afni sembari tersenyum palsu.
"Iya nggak pa pa,"
"Laila, sebelumnya aku kan teman baik Arga, tapi sekarang Arga udah nikah, aku nggak mungkin dong berteman dekat dengan Arga seperti dulu, jadi aku mau jadi teman kamu, kamu mau kan?"
"Iya, aku senang bisa jadi teman kamu," kata Laila.
"Makasih ya La, aku sebenarnya selalu kesepian karena nggak ada teman curhat, jadi mulai sekarang aku bisa curhat sama kamu kalau aku ada masalah," ujar Afni yang tampak girang menatap Laila.
__ADS_1
Namun ini semua hanyalah bagian dari rencana Afni. Laila sama sekali tak mencurigai perubahan sikap Afni yang menjadi baik padanya.
Begitupun Arga yang justru senang melihat Afni dan Laila tampak Akrab.