Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
23. Kamu akan kalah


__ADS_3

"Biar kami yang urus orang ini guru!" ujar seorang anak buah Bu Diana.


Suasana malam itu membuat Laila semakin bertenaga untuk melawan para penjahat. Satu orang maju untuk melawan Laila. Tangan Laila terasa gatal untuk meninju perempuan penjahat tersebut.


KAPOWW !!


Suara tinju Laila tepat sasaran mengenai wajah anak buah Diana hingga terjatuh dan hidungnya berdarah.


Dua orang lainnya maju menyerang Laila, namun hasilnya sama saja, kecepatan tangan dan kaki Laila saat menyerang tak terkalahkan. Begitupun tenaganya di atas rata-rata wanita biasa. Bergiliran para wanita itu maju menyerang Laila, hingga satu per satu dari mereka tergeletak. Bahkan ada yang terlempar ke meja, dan terbentur ke dinding.


"Dasar siluman!" ucap seorang anak buah dan mencoba memukul Laila dari belakang. Dengan sigap kaki Laila menendangnya hingga terbentur ke susunan kardus. Bu Diana tercengang melihat Laila, "Kurang ajar! apa anak ini bukan manusia," gerutu Bu Diana.


Arga tersenyum sinis,"Bagaimana? kamu masih mau berperang?" Arga menatap tajam mata Diana.


"Cepat serahkan White horse," tegas Diana dengan sigap menangkap tangan Arga dan mengikatnya ke belakang. Tenaga Diana cukup kuat untuk dikalahkan Arga. Namun tak lama kemudian Laila berlari ke arah Diana. Dengan kekuatan kakinya, Laila menendang Diana hingga terlempar ke susuan kardus di ruko itu.


BRUK !!


Suara Diana yang terlempar ke kardus-kardus. "Kamu nggak pa pa?" tanya Laila menatap Arga.


"Iya aku baik baik aja, kamu ?" Arga menatap Laila seolah mengkhawatirkannya.


Laila tersenyum, "Jangan khawatir, saya masih kuat," tegas Laila.


Sementara itu Rifki tengah berusaha membuka pintu ruangan tempat Bu Ranti di kurung.


"Bu Ranti ada di dalam kan? ini aku Rifki Bu," tanya Rifki.


"Iya saya di sini,tolong keluarkan saya dari sini!" suara Bu Ranti dari dalam. Rifki berusaha mendobrak pintu, ia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk merusak pintu. Untungnya segala isi ruko itu sudah hampir rapuh, tidak sulit untuk merusaknya.


Pintu pun terbuka. Rifki melihat Bu Ranti yang berdiri lemah di sana. Ia lalu memapahnya keluar dari kurungan. Bu Ranti menatap haru wajah Rifki, "Terimakasih ya nak," ucapnya. "Iya Bu, saya sudah menganggap ibu sebagai ibu saya sejak dulu," ucap Rifki dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Andai kamu tau nak, ibu kamulah yang menculik ibu, tapi kamu jauh berbeda dari ibumu," batin Bu Ranti.


Setelah semua anak buah babak belur, Arga dan Laila menyusul Rifki.


Melihat mamanya yang berjalan lemah, membuat mata Arga berkaca-kaca, ia terharu karena mama masih bisa selamat.


"Alhamdulillah, mama selamat!" ucap Arga dengan lega sambil memeluk sang ibu.


Laila dan Rifki pun tersenyum lega melihat Arga dan mamanya bertemu kembali.


Tiba-tiba Rifki melihat pemimpin penjahat itu membawa besi dan diam-diam ingin memukul Arga dan ibunya dari belakang, tak butuh waktu lama untuk berpikir.


"Awas!" Rifki melindungi Arga dengan tubuhnya, hingga dialah yang terkena pukulan besi itu. Rifki tergeletak di lantai. Ia tak akan menyangka jika yang memukulinya adalah ibunya sendiri.


"Rifki!" ucap Bu Diana berlinang air mata,


"Kenapa kamu ada di sini nak? kenapa kamu tiba-tiba muncul, maafin ibu!" ucap Bu Diana sembari memeluk putranya.


Laila tampak khawatir melihat Rifki yang tergeletak, "Astaghfirullah..kita harus bawa Rifki ke rumah sakit," ucap Laila menatap Arga, wajahnya amat panik.


Tak lama kemudian, segerombolan polisi bersama Papa Arga datang, ternyata kabar ini telah sampai ke telinga papa karena sebelumnya Rifki telah mengabarinya.


Diana bergegas untuk kabur, meski putranya tergeletak lemah. Namun percuma, Laila dan Arga menahannya. Seluruh anak buah dan bosnya terseret ke kantor polisi. Peristiwa ini menjadi buah bibir di kota ini, karena langsung menjadi berita terheboh.


***


Rifki membuka matanya, ia menatap sekitarnya, melihat tubuhnya terbaring di ruang rawat. Ia melihat Arga yang menangisinya, "Kamu udah sadar Rif?" sapa Arga menatap Rifki.


Rifki tersenyum, "Syukurlah kalian tidak apa apa," ucap Rifki. Laila ikut senang melihat Rifki sudah tersadar. Begitupun Bu Ranti yang duduk di sana menyaksikan Rifki yang sudah baikan.


Semuanya tak berani buka mulut tentang ibu Rifki yang sudah masuk penjara akibat ulahnya.

__ADS_1


"Oh ya, aku tadi masak Rif, kamu makan ya," ucap Laila. dan pada akhirnya Rifki tak sia-sia terbaring di rumah sakit. Peristiwa ini membuat Laila lebih perhatian padanya.


Arga membantu Rifki duduk agar ia bisa makan.


"Kamu yang suapin ya," suruh Rifki menatap Laila. Arga buru-buru merebut mangkok bubur di tangan Laila. "Aku aja!" ucap Arga dan langsung menyuapi Rifki. "Astaga, anak ini ganggu aja, kamu bisa keluar aja nggak sih, biar Laila yang jagain aku," cetus Rifki merebut mangkok bubur dari tangan Arga.


Arga kembali merebutnya, "Udahlah jangan banyak tingkah, ayok makan," tegas Arga menyuapi Rifki lagi.


Laila tercengang melihat kedua bersaudara itu bertingkah aneh tak seperti biasanya. "Apaan sih, itu aja kok dipermasalahkan, ya udah deh aku keluar dulu ya, oh ya, pak Arga..saya izin ya mau pulang sebentar, saya perlu ketemu adik saya," ucap Laila menatap Arga.


"Oke, tapi kamu balik ke sini ya," suruh Arga.


"Siap bos! Assalamualaikum" ucap Laila. Ia tak lupa berpamitan pada Bu Ranti untuk pulang.


Laila pun bergegas keluar dari ruangan itu.


Saat Laila sudah keluar dari ruangan dan melangkah untuk pulang, tiba-tiba langkahnya terhentikan. "Laila!" panggil Arga dari belakang. Laila menoleh ke arah Arga.


"Ada apa lagi sih," tanya Laila yang sudah buru-buru.


Arga berjalan mendekat ke arah Laila, "Makasih, kamu udah capek-capek menyelamatkan keluarga ku, aku nggak tau lagi harus bilang apa, semoga Allah membalas kebaikan kamu," ucap Arga menatap mata Laila.


Laila pun tersenyum, "Sama-sama, saya senang bisa bantu kamu," kata Laila.


"Kamu perempuan terunik yang pernah aku temui," ucap Arga dengan spontan.


"Unik apanya sih, oh ya jangan senang dulu, pembunuh Linda belum ditemukan, jadi pak bos harus tetap hati-hati," jelas Laila memperingatkan Arga.


"Iya, aku tau, kamu pasti capek kan, istirahatlah di rumahmu, aku kasih kamu waktu libur sampai kamu merasa lebih baik," ucap Arga.


Mendengar itu membuat Laila merasa bahagia, akhirnya ia bisa bebas untuk sesaat, "Alhamdulillah, terimakasih pak bos," kata Laila dan buru-buru melangkah pergi.

__ADS_1


Arga menatap langkah Laila, "Laila...kenapa saya langsung merasa kehilangan, padahal kamu hanya pergi untuk istirahat sebentar, sepertinya saya sudah terbiasa dengan kamu yang selalu ada di samping saya," batin Arga.


__ADS_2