
Hilman mencari cari Ainun di dapur, namun tidak ada, padahal baru saja ia melihat Ainun dari CCTV sedang mencuci piring di dapur restoran.
Entah mengapa Hilman sangat tertarik pada Ainun, padahal ia bukanlah tipe laki-laki yang suka mengejar perempuan.
Hilman pun bertanya pada seorang chef di dapur restoran, "Kamu lihat nggak perempuan berjilbab biru tadi sedang mencuci piring di sana?" tanya Hilman pada salah seorang chef.
"Yang berjilbab biru itu banyak pak, dan dari tadi yang nyuci piring di sana itu berganti gantian, jadi saya kurang tau, maaf ya pak," ucap Laki-laki itu.
***
Malam itu Hilman kembali memimpikan sosok gadis cantik itu. Ia bermimpi berjalan di sepanjang jalan di tepi sungai bersama gadis cantik berjilbab biru. "Bawalah aku ke tempat-tempat indah yang kamu ketahui, sungguh akulah perempuan yang akan menemanimu penempuh perjalanan hidupmu," ucap gadis itu dengan senyumnya yang manis.
Gadis itu berjalan lebih cepat dari Hilman. "Tunggu! aku belum tau siapa nama mu, kenapa tiba-tiba kamu hadir dalam hidup ku?" tanya Hilman hingga menghentikan langkah gadis itu.
Gadis itu menoleh ke belakang, ia menatap Hilman. "Skenario Cinta di Lauhul Mahfudz tak ada yang tau, hanya rahasia sang maha cinta, maka jangan tanyakan aku kenapa kita ditakdirkan bersama," tutur gadis itu kemudian ia berlari.
Hilman mengejar gadis itu namun tak sengaja kakinya tersandung, Hingga ia terbangun dari mimpinya.
"Kenapa aku mimpiin gadis itu lagi ya, masalahnya aku tidak kenal sama sekali dengan dia, tapi kenapa tiba-tiba dia muncul di pikiran ku seolah dialah perempuan satu-satunya yang ada di hidupku selain mama, gadis itu benar-benar membuat ku penasaran," batin Hilman yang bertanya tanya tentang sosok gadis dalam mimpinya.
***
__ADS_1
Beberapa hari kemudian,,
Pesta pernikahan Maysa dengan Farhan pun dilaksanakan hari ini.
Hilman dengan semangat menghadiri pernikahan sahabatnya Farhan. Hilman dan seluruh undangan sudah menunggu acara yang di tunggu-tunggu yaitu ijab-kabul. Semuanya sudah siap, tinggal menunggu pengantin wanita. Hilman duduk di barisan paling depan para undangan dan tepatnya di belakang Farhan.
Tak lama kemudian pengantin wanita pun datang, semua mata tertuju pada pengantin wanita. Maysa berjalan menuju tempat ijab-kabul di dampingi oleh adiknya Ainun yang penampilannya tidak kalah cantiknya.
"Kini aku mengantarkan kakak ku untuk ijab-kabul dengan laki-laki yang aku cintai dari dulu, ya Allah kuatkan lah aku, aku yakin meski laki-laki yang aku cinta tidak ditakdirkan bersamaku bukan berarti dunia tak berpihak padaku, namun mungkin inilah jalan yang terbaik," batin Ainun yang berusaha tegar menggandeng kakaknya ke hadapan penghulu.
Ekspresi Hilman seketika berubah, "ini kan bidadari dalam mimpi aku, kok dia bisa ada di sini? apa dia keluarga dari calon istri Farhan? Maasyaa Allah cantiknya, asli, baru kali ini aku sekagum ini sama perempuan, banyak perempuan cantik di dunia ini, tapi ini beda, semua yang ada pada perempuan itu menarik perhatian ku," batin Hilman yang matanya tidak berkedip menatap kagum sosok Ainun.
Ainun pun mengantar kakaknya hingga di hadapan penghulu. Ainun tak berani mengangkat wajahnya, ia hanya duduk diam di samping ibunya.
"Sah!" Ucap hadirin serentak. Membuat hati Ainun perih dengan spontan.
Ainun yang tak bisa menahan kesedihannya meninggalkan tempat itu, ia pura-pura ke toilet padahal ia pergi dengan buru-buru ke sungai dekat rumahnya. Ia membawa seluruh catatan di buku diary nya tentang Farhan.
Namun ternyata Hilman yang sangat penasaran dengan gadis di mimpinya itu mengikuti dari belakang. Hilman memantau Ainun yang berdiri di tepi sungai sambil menangis.
Dari balik pohon Hilman tak henti menatap ke arah Ainun.
__ADS_1
Ainun tak henti meneteskan air mata, "Satu-satunya cinta yang abadi adalah cinta ilahi Rabbi, ini salahku yang telah menghadirkan cinta yang berlebihan pada seorang hamba, hingga aku terjatuh pada rasa sakit karena kekecewaan, mulai sekarang aku harus bisa melupakan, agar aku terbebas dari sakitnya pengharapan," batin Ainun sambil menghanyutkan catatan hariannya di sungai itu. Setelah Ainun puas menangis, ia pun pergi.
Hilman yang penasaran buru-buru berjalan ke tepi sungai. Ia melihat sebuah buku mengambang di sungai, tak berpikir lama, Hilman langsung melompat ke sungai, mengambil catatan itu sebelum hanyut.
Setelah Hilman menepi dari sungai, ia pun dengan penasaran membuka catatan itu. Meski sudah basah namun catatan itu masih bisa di baca.
Baru membaca satu halaman saja air mata Hilman sudah menetes, karena kasihan pada gadis malang yang selalu hadir di mimpinya.
"Catatan hati, Ketika cinta sudah di atur di Lauhul Mahfudz, aku hanya bisa menjalani hari-hari sesuai takdir yang di tentukan sang ilahi, meski yang aku cintai tidak berpihak padaku, aku akan selalu berusaha tersenyum pada dunia. Satu-satunya yang ku rindukan adalah ibu ku, andai ibu ku ada di sini untuk menjadi sandaran ku,Bu.. aku begitu lemah,lihatlah putri mu ini, sedang berusaha kuat melawan derasnya arus, kadang aku lelah, tapi aku harus menjalaninya, ibu..putrimu sungguh hanya pura-pura bahagia di hadapan semua orang, andai ibu tau, ibu Farah tak pernah menghargai apa pun yang aku lakukan,"
membaca buku diary Ainun itu membuat Hilman bertanya tanya tentang masalah apa yang sebenarnya menimpa gadis ini. Namun dari kata-kata tersebut Hilman paham bahwa gadis tersebut sedang menanggung beban yang cukup berat.
***
Ainun kembali ke pesta pernikahan kakaknya. Ibu Farah yang sedari tadi mencarinya menatapnya dengan tajam, "Ainun, kamu dari mana aja, ibu dari tadi cariin kamu loh, banyak yang harus di urus, kamu kan tau sendiri ibu nggak sempat ngurusin yang lain, ibu harus menyambut tamu kita, kamu harusnya lebih sigap menyikapi hal semacam ini, tuh lihat, kakak kamu Maysa kesusahan dengan gaunnya, harusnya kamu harus stay di belakang kakak kamu, bantu dia biar gaunnya nggak ke injak," gumam ibu pada Ainun.
"Iya Bu, Ainun salah, Ainun minta maaf ya Bu," ucap Ainun yang sangat menghormati ibu Farah.
"Iya..iya..lain kali jangan gitu lagi ya, sana buruan bantu kakak kamu," suruh Bu Farah.
Ainun pun menemui Maysa dan selalu berada di sisi Maysa untuk memastikan gaunnya tidak terinjak.
__ADS_1
"Ainun, kamu dari mana dek, padahal tadi kakak mau foto sama kamu loh," sapa Maysa yang menatap Ainun tiba-tiba ada di belakangnya. "Tadi dari belakang kak," jawab Ainun pelan.
Tiba-tiba Hilman kembali ke acara itu, Hilman menatap Ainun yang berdiri di belakang pengantin wanita. Matanya tak henti menatap Ainun. Ainun menyadari bahwa seorang laki-laki tengah memperhatikannya, Ainun pun hanya menunduk karena ia risih.