Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
46. Misteri rumah Afni


__ADS_3

Laila berusaha berwudhu meski hanya sedikit cahaya yang ada di ruangan tersebut. Dengan kaki di rantai, ia berusaha berjalan ke kamar mandi, untungnya rantai itu cukup panjang. Hingga Laila bisa berjalan meski dengan langkah pendek.


Ia melaksanakan sholat subuh meski dengan keadaan di rantai. Berjatuhan air matanya dalam sholat. Saat ini ia hanya pasrah pada sang pencipta.


Bi Surti memasuki kamar Afni untuk mengganti sprei di kamar Afni. Seketika ia merinding karena tiba-tiba terdengar suara Isak tangis perempuan. Bi Surti semakin merasa rumah Afni itu cukup horor.


Di siang bolong, bi Surti tampak mengobrol dengan satpam di depan. Mereka sama-sama merasakan suasana yang tidak nyaman di rumah Afni.


"Gila Sur, ini rumah benar-benar ngeri, kalau bukan karena gaji yang tinggi, sekarang juga aku undur diri jadi satpam," ujar Pak Tejo.


"Iya Jo, aku selalu dengar suara suara aneh, aku pernah mendengar suara perempuan nyanyi dari kamar nyonya, terus tadi aku mendengar suara tangisan, aku juga udah nggak tahan kerja di sini, tapi aku masih terjerat hutang sama nyonya, nggak mungkin aku keluar gitu aja," jelas bi Surti panjang lebar.


"Rajin rajin sholat Sur, kamu kan yang paling lama di dalam rumah, kalau aku sih cuma jaga di luar aja, makannya kamu jangan lupa baca ayat kursi, sama surah Al-fatihah, Al-Ikhlas, Al-falaq, sama An-Nas," tutur pak Tejo.


"Nggak sekalian kamu suruh aku yasinan sepanjang hari di rumah ini,"


"Hehe..itu juga bisa kamu praktekkan, pasti setan pada kabur tuh," ucap pak Tejo.


Tiba-tiba mobil majikan tiba di depan. Tejo buru-buru membuka pagar.


"Siang Bu!" sapa Tejo dan Surti dengan wajah ramah. Keduanya tampak menghentikan pembicaraan mereka.


"Siang apa nya sih, ini masih pagi," tegur Surti.


"Ini bukan pagi lagi tapi siang bolong kali Sur," balas Tejo.


Afni mendekat ke arah Tejo dan surti yang sedang bisik-bisikan. "Tejo, mulai sekarang kamu harus berjaga ketat ya, tadi di berita lagi musim pencuri, jangan biarkan orang lain masuk rumah ini tanpa sepengetahuan saya," perintah Afni.


"Iya siap nyonya!"


Afni menatap tajam bi Surti, "Dan kamu, kalau beresin kamar saya jangan kelamaan di dalam, saya takut barang-barang saya akan ada yang hilang,"


"Siap nyonya, tapi insyaallah saya tidak akan berani macam-macam apalagi sampai mencuri," tutur Surti sembari kepalanya menunjukkan.


"Apa pun itu saya tidak perduli, saya hanya mengingatkan," ucap Afni kemudian masuk ke dalam rumah.


Afni muncul mengagetkan Laila yang tampak lesu, kini ia tak berdaya lagi, badannya lemas tersandar di dinding.


"Hai sahabat ku.." sapa Afni dengan ekspresi bahagia. Afni membuka penutup mulut Laila.

__ADS_1


"Sebenarnya aku ada dimana?" tanya Laila, ia bingung tempat apa yang ia lihat saat ini.


"Kamu berada di dunia ku," jawab Afni singkat.


"Dimana Arga?" tanya Laila sedang air matanya bercucuran.


"Jangan banyak tanya! ayo cepat makan, aku sudah membawakan mu roti, aku tidak tau harus memberi makan apa pada peliharaan ku, jadi ku belikan saja roti ini," Afni meletakkan roti di depan Laila.


"Aku tidak butuh makan, aku butuh Arga, aku ingin bertemu Arga!"


"Diam!" bentak Afni dengan kerut di wajahnya karena emosi.


"Sudah ku bilang, jangan banyak tanya! hiduplah dengan baik, sekarang aku yang akan memelihara mu layaknya hewan peliharaan, aku sudah memelihara mu dengan baik, maka kamu juga harus berbuat baik pada ku," lanjut Afni dengan tatapan tajam.


Tiba-tiba HP Afni berdering, ia mengangkat telpon yang ternyata dari mama nya.


"Ada apa?" tanya Afni di telpon


"Kamu harus datang ke Singapura sekarang juga, aku ada masalah, istri baru papa mu menuduh ku dan ayah barumu berbuat jahat sama dia, kamu hampir di penjara," ujar Mama di telpon.


Kedua orang tua Afni memang sudah lama bercerai, dan keduanya sudah menikah dengan pilihannya masing-masing.


Afni melempar hpnya ke dinding, hingga mengagetkan Laila.


Afni menangis bersandar di dinding itu, ia menguatkan suara tangisnya. Dari dulu ia selalu stres dengan konflik keluarganya yang tak kunjung ada habisnya.


"Kamu kenapa?" tanya Laila menoleh ke arah Afni.


"Diam!" bentak Afni, kemudian melanjutkan tangisannya.


Laila pun tak tau harus berbuat apa, Laila semakin bingung tentang situasi yang ia hadapi saat ini.


...*****...


"Arga, makan dulu nak, setelah itu baru kita cari Laila lagi, kan polisi juga sudah bergerak untuk mencari Laila," ucap Bu Ranti menghentikan langkah Arga yang hendak pergi untuk mencari Laila kembali.


"Aku harus mencari Laila ma, dia butuh aku saat ini," tegas Arga sedang kondisi nya amat lemah, tatapan matanya tampak sayu karena terlalu lama menangis semalaman.


"Lihatlah tubuhmu, kamu sangat lemah Arga, bahkan kamu tak kuat untuk berjalan terlalu lama, makan dulu nak," ucap bu Ranti membujuk Arga makan.

__ADS_1


Arga tetap saja ingin pergi, baru melangkah sekitar lima langkah ia sudah terjatuh pingsan di lantai.


"Arga!" Bu Ranti semakin khawatir dengan kondisi putranya.


Untungnya tiba-tiba Rifki datang, ia memapah Arga ke kamarnya. Rifki menelpon Adel untuk datang memeriksa kondisi Arga.


Tak lama kemudian, Adel datang memasang muka sedikit masam di depan Rifki. "Di dunia ini banyak dokter, kenapa harus aku, aku lagi sibuk mencari Laila," bisik Adel ke telinga Rifki.


"Astaghfirullah..Allah tidak suka pada hambanya yang tidak perduli dengan sesama manusia," ucap Rifki yang sengaja membuat Adel tak bisa menolak.


"Diam kamu! sekarang aja baru kamu bicara ketuhanan, kemaren-kemaren kamu kemana aja?"


"Udahlah jangan galak galak mulu, nanti cantiknya hilang," ucap Rifki menggoda Adel.


Adel tak membalas lagi, langsung saja ia menginjak kaki Rifki.


"Aduh..sakit.."


"Kamu kenapa Rif?" tanya Bu Ranti yang tiba-tiba datang menemui Adel dan Rifki yang berbicara di teras rumah.


"Nggak..ini cuma lagi menyambut dokternya Bu," kata Rifki.


"Silahkan masuk Bu dokter," tutur Bu Ranti mempersilahkan Adel masuk.


Adel pun memeriksa kondisi Arga, ia mengesampingkan masalah pribadi di dalam kerjaannya.


Beberapa menit kemudian,,


"Gimana dok?" tanya Bu Ranti yang tampak khawatir.


"Arga hanya kelelahan Bu, tekanan daranya agak rendah, pasti dia banyak pikiran dan tidak mau makan, stres memang berdampak buruk bagi kesehatan," jelas Adel


"Dari mana dokter tau kalau.."


"Saya teman dekat Laila," ucap Adel memotong pembicaraan Bu Ranti.


Bu Ranti tampak terkejut, namun ia juga merasa tidak enak pada Adel, karena bagaimanapun juga ini terjadi karena Laila berada di kehidupan Arga.


"Terimakasih kalau begitu, saya kira kamu akan ikut ikutan menyalahkan kami," ucap Bu Ranti pelan.

__ADS_1


"Awalnya saya juga ingin marah Bu, tapi melihat Arga seperti ini, rasanya saya tidak tega menyalahkan Arga, ini memang musibah, pasti ada hikmah di balik peristiwa ini," ucap Adel, akhirnya ia mulai berubah pikiran.


__ADS_2