
Rifki menemui Arga yang masih terpuruk di kamarnya.
"Ga, keluar yok, di luar ada tamu!" ucap Rifki seraya menarik tangan Arga dari tempat tidur.
"Aku hanya akan keluar jika ada Laila," tegas Arga.
"Banyak protes! ayok buruan," Rifki menarik paksa, hingga Arga pun tak bisa menghindarinya.
Rifki membawa Arga ke ruang tamu, mata Arga berkaca-kaca menatap gadis bercadar yang tak lain adalah Laila di hadapannya.
"Laila!" dengan kondisi yang lemah Arga bergerak cepat memeluk sang istri.
Air mata tak henti membasahi pipinya, Arga tak menyangka bahwa Laila akan kembali ke pelukannya.
"Maafkan aku yang gagal menjagamu, tiga bulan kamu menghilang, aku takut tidak bisa memelukmu lagi,"
Laila meluapkan rasa sakit yang terpendam selama ini, "Aku takut tidak bisa bersama mu lagi," ucap Laila memeluk erat tubuh Arga.
Adel dan Rifki menatap haru pasangan suami-istri itu. "Keluar yok! mereka juga butuh waktu berdua!" kata Adel mengajak Rifki keluar.
Adel dan Rifki pun meninggalkan Arga dan Laila di ruang tamu.
"Yang terpenting sekarang kita bisa bersama lagi, tapi aku ingin tau kemana kamu selama tiga bulan ini?"
Laila menangis histeris tak kuasa menjelaskan semua yang terjadi karena rasa trauma yang ia alami.
"Ya sudah, ceritakan saat kamu sudah tenang saja," ucap Arga.
Arga yang merindukan Laila mencoba membuka cadar Laila, namun tangan Laila dengan cepat menghentikannya.
"Saat kamu melihat wajah ku, mungkin itu adalah detik terakhirnya kamu mencintaiku, sebab kamu akan terkejut," ujar Laila dengan tatapan lemahnya.
"Kenapa?" Arga penasaran.
Laila pun tak ingin menyembunyikan lagi, biarlah Arga tau bagaimana dirinya saat ini. Laila perlahan membuka cadarnya.
"Lihatlah, aku kini hanya wanita buruk rupa!" tutur Laila sedang matanya berkaca-kaca.
Arga kembali memeluk sang istri, "Aku tidak menyesali wajahmu yang seperti ini, tapi aku sedih dan hancur melihatnya, aku tidak bisa bayangkan betapa sakitnya yang kamu alami sehingga wajahmu sampai di penuhi luka bakar ini,"
"Kamu akan malu memiliki istri seperti ku," ucap Laila yang merasa tak pantas lagi untuk Arga.
__ADS_1
"Dengarlah, bukankah dari awal aku tak melihat wajah mu tapi aku tetap mencintaimu, lalu apa bedanya dengan saat ini? hatiku tak pernah berubah untuk mu, malah cinta ku semakin dalam melihat perjuangan mu untuk tetap kembali padaku," jelas Arga.
"Terimakasih tapi justru aku yang merasa tidak pantas lagi untuk mu,"
"Itu bukan alasan Laila, kini teknologi sudah maju, kita bisa menyembuhkan luka luka itu dengan mudah, dunia kedokteran sudah canggih," tegas Arga meyakinkan Laila.
...******...
"Sampai di sini saja kerja sama kita, jangan ganggu aku lagi, mulai saat ini aku harus fokus kerja," tegas Adel menatap Rifki.
Selama tiga bulan ini Rifki telah banyak menghabiskan waktunya dengan Adel dalam hal mencari Laila. Hingga Rifki mulai nyaman bersama Adel.
"Aku tidak harus menuruti perintah mu! mulai hari ini bersiaplah, aku akan mengganggumu setiap hari!" tegas Rifki membuat Adel kesal.
"Coba aja kalau bisa, sekali kamu gangguin aku, tamatlah riwayat mu!" ancam Adel yang galaknya tak berkurang.
"Nggak ada yang takut sama ancaman kamu," ucap Rifki kemudian pergi meninggalkan Adel.
"Dasar laki-laki kurang kerjaan," jerit Adel yang semakin kesal.
...******...
Keluarga Laila sangat bahagia dan lega dengan kembalinya Laila. Namun bunda merasa sakit melihat wajah Laila yang penuh luka bakar.
"Bunda tidak tau lagi harus berkata apa, tapi dengan adanya kamu disini membuat kami semua merasa suasana hidup kembali," tutur bunda memeluk Laila.
Ridwan pun akhirnya merasa lega karena sang kakak telah kembali meski dengan kondisi luka luka.
"Tapi siapa yang menculik mu kak?" tanya Ridwan dengan dendam yang berkobar di hatinya.
Arga, bunda dan Ayah tampak penasaran mendengar penjelasan Laila.Kini Laila menarik nafas dan mencoba menceritakan semuanya.
"Berawal saat Afni memberiku segelas teh, setelah itu aku tertidur, dan saat aku terbangun, aku telah di rantai besi di ruang bawah tanah rumah Afni," jelas Laila.
"Kurang ajar! aku akan membunuhnya sekarang juga!" Arga tak bisa menahan emosi lagi.
Laila meraih tangan Arga,"Sudahlah, dia sudah ditangani polisi, lagi pula yang aku lihat dia bermasalah dengan mentalnya, sepertinya dia psikopat,"
"Mau dia beneran gila atau psikopat dia harus tetap merasakan hukuman yang setimpal!" tegas Arga
"Jangan tunjukkan wajah emosi mu dulu, aku masih trauma dengan suara yang terlalu keras, aku masih teringat bagaimana mengerikannya di kurung di dalam gelap," tutur Laila yang tiba-tiba menangis.
__ADS_1
"Maaf..maaf sayang, aku tidak bermaksud membuatmu takut, tenang lah, aku akan selalu bersama mu," ucap Arga sembari memeluk Laila.
"Lalu wajah mu kenapa bisa gitu kak?" tanya Ridwan lagi.
"Dia menyiram ku dengan air keras, sangat sakit, hingga aku tak bisa berkata-kata lagi, menangis pun aku tak bisa bersuara, sebab jika aku bersuara dia akan mengancam ku," lanjut Laila dengan Isak tangis yang semakin menjadi-jadi.
Arga tampak emosi namun ia berusaha menenangkan diri karena takut Laila akan semakin trauma.
"Sudah sayang, tenangkan dirimu, sekarang ini kamu sudah bersama kami, jangan pikirkan itu lagi," ujar Arga memeluk erat istrinya.
...********...
Malam itu mendengar kabar bahwa Laila telah kembali, Bu Ranti langsung datang malam itu juga. Sebelumnya Bu Ranti berada di kampung halaman untuk melihat kondisi sang ibu.
Di saat yang sama Pak Rendra buru-buru ke rumah Arga untuk melihat kondisi Laila.
Saat itu Laila dan Arga sedang makan bersama di ruang makan. "Assalamualaikum.. Laila kamu sudah kembali nak, mama khawatir kamu kenapa Napa, kamu nggak pa pa kan?" mama memeluk erat tubuh Laila.
"Waalaikumussalam," jawab Laila yang tampak terkejut dengan kedatangan mama mertuanya.
Tak lama kemudian di susul dengan kedatangan pak Rendra yang langsung menerobos masuk.
"Alhamdulillah kamu sudah kembali nak," ucap papa Arga yang tampak lega.
Mendengar suara pak Rendra membuat Bu Ranti melepas pelukannya dari Laila dan menatap tajam ke arah Pak Rendra.
"Ngapain lagi sih kamu ke sini, kami sedang berbahagia menyambut Laila, tolong jangan ganggu kami," gerutu Bu Ranti yang merasa terganggu.
"Dia ini menantuku,"
"Kamu bukan siapa-siapa,"
"Jaga bicara mu! aku ini papa kandung Arga,"
"Aku yang melahirkan dan merawatnya,"
"Astaga..wanita ini tidak ada tobatnya!"
"Kamu yang harus taubat, dosa mu sangat melimpah,"
Suasana semakin heboh ketika Bu Ranti dan pak Rendra datang.
__ADS_1
Arga pun menggaruk kepala melihat kedua orangtuanya bertengkar lagi, begitu pun Laila yang ternganga melihat pertengkaran itu.
Diam-diam Arga menarik tangan Laila keluar dari rumah. sedang Bu Ranti dan pak Rendra masih sibuk bertikai.