Laila Bodyguard Bercadar

Laila Bodyguard Bercadar
Skenario Cinta di Lauhul Mahfudz #14


__ADS_3

Mama Hilman sedang berbicara dengan suaminya pak Rahman.


"Pa, mama tadi di rampok," ucap mama yang mengadukan peristiwa hari ini.


"Terus..gimana? mama nggak pa pa kan?" tanya pak Rahman seraya mengkhawatirkan istrinya.


"Iya mama nggak pa pa, tapi kan pa, tadi ada perempuan baik banget mau nolongin mama, udah gitu perempuannya Solehah, kami tadi sholat bareng di mesjid, dia juga sopan, jujur, dan dia nggak mau di kasih imbalan," jelas mama.


"Baguslah kalau ada orang baik yang nolongin mama," ucap papa yang sedari tadi sibuk dengan hpnya.


"Ih papa ngapain sih dari tadi sibuk main hp aja," tegur mama.


"Nggak ma, ini papa cuma ngurusin bisnis," tutur papa.


"Harusnya di usia ini papa nggak usah terlalu mikirin bisnis lagi, kan udah ada Hilman pa," tutur Mama.


"Nggak bisa gitu dong ma, bagaimanapun juga papa harus nerusin bisnis ini," jelas papa.


Hilman tiba-tiba datang menghampiri kedua orangtuanya. "Udah udah kok malah ribut sih, papa sama Mama ini udah kayak anak-anak deh," tegur Hilman yang duduk di hadapan kedua orangtuanya.


"Papa kamu yang mulai," cetus mama.


"Ya udah mau siapa pun yang salah, tetap aja papa minta maaf ya," ucap papa menatap mama Sinta.


"Pa, ma, aku mau bicarain sesuatu yang sangat penting,aku berencana melamar seorang gadis" tutur Hilman.


Papa terkejut mendengar niat baik putranya.


"Wow kabar baik tuh, tapi kan kami belum mengenal perempuan mana yang akan kamu lamar," ucap papa menatap serius putranya.

__ADS_1


"Iya Hilman, mama juga belum tau perempuan seperti apa Yang akan kamu jadikan istri, andai perempuan yang akan kamu jadikan istri itu seperti gadis yang tadi nolongin mama," kata mama yang masih belum melupakan Ainun.


"Mama sama papa tenang aja, perempuan yang akan aku lamar sangat baik akhlaknya, baik agamanya, dia juga pekerja keras, tapi dia hanya orang biasa ma, pa, dia bukan dari kalangan orang kaya, apa aku boleh melamarnya," tutur Hilman.


"Kalau papa sih nggak masalah selagi dia itu baik, lagi pula papa nggak butuh harta dari calon istri mu," tutur papa


"Mama juga setuju-setuju aja, tapi beri mama satu kesempatan untuk mempertemukan kamu dengan perempuan pilihan mama, dan jika kamu tidak suka, maka terserah kamu mau melamar perempuan yang mana," pinta mama.


Hilman berpikir sejenak, bagaimana pun juga Hilman adalah anak yang penurut. "Baik, aku akan turuti kemauan mama," tutur Hilman.


***


Malam itu Ainun melamun di kamarnya, ia teringat bahwa ia akan segera menikah dengan laki-laki tua.


"Ya Allah apa yang harus aku lakukan, mana mungkin aku sanggup menikah dengan laki-laki tua itu, belum menikah saja aku sudah terbayang bagaimana menderitaan aku nanti," batin Ainun sambil meneteskan air mata.


"Ainun! Ibu mau bicara," ucap ibu sambil mengetuk pintu.


Ainun pun membuka pintu.


"Iya ada apa Bu?" tanya Ainun.


"Maysa sudah tau kalau kamu akan menikahi pak Parto, pokoknya nanti kamu harus bersedia menikah dengan pak Parto di hadapan Maysa, kamu harus meyakinkan Maysa bahwa kamu memang menginginkan pernikahan ini," jelas ibu.


"Kenapa Bu? kenapa harus aku lagi yang berkorban, apa masih kurang pengorbanan aku selama ini," tegas Ainun.


"Pengorbanan apa? apa yang kamu korbankan Ainun? di sini akulah yang paling banyak berkorban, apa perlu aku jelaskan bagaimana piciknya ibumu yang menghancurkan segala kebahagiaan ku, ibumu sengaja menikah dengan suamiku hanya untuk memperbaiki nasibnya, akulah yang paling sakit di sini, kamu harusnya bersyukur aku masih mau membesarkan kamu," bentak ibu yang spontan membahas masa lalu.


"Ibu kandung ku tak sepicik itu Bu, bahkan kak Maysa sendiri yang cerita sama aku, kalau ayah menikahi almarhumah ibuku karena wasiat dari kakek jauh sebelum ibu menikahi ayah, dan ibu juga setuju kan? tapi kenapa sampai sekarang ibu masih mengungkit itu," tegas Ainun berderai air mata.

__ADS_1


"Tidak usah membela diri seolah kamulah yang paling benar, jangan sok merasa sakit seolah kamulah yang paling menderita," bentak ibu yang air matanya mulai menetes.


Ainun pun tak bisa menahan tangisnya.


"Maafin aku Bu, aku nggak bermaksud melawan ibu, tapi aku benar-benar nggak sanggup menikah dengan Pak Parto Bu," tutur Ainun berderai air mata.


"Kalau kamu tidak mau menikah dengan dia, berarti kamu mau ibu di penjara, iya? itu mau kamu kan?" bentak ibu sambil menangis.


Ainun pun tak berkutik lagi. Ia hanya menangis mengungkapkan rasa sakitnya.Ainun kembali mengunci diri di kamarnya.


"Mungkin benar, ibu sudah terlalu banyak menderita, aku harus berkorban untuk ibu, mungkin aku memang ditakdirkan untuk menikah dengan pak Parto, baiklah, aku akan mencoba setuju, demi ibu," batin Ainun yang bersandar lemah di pintu. Lantai ikut basah karena air mata Ainun.


***


Malam itu Maysa menceritakan semuanya pada suaminya Farhan.


"Kamu tenang dulu ya sayang, kita akan cari jalan keluar nya sama-sama, kamu nggak usah khawatir, aku masih punya tabungan kok, kalau tabungan aku juga masih kurang, kita akan cari solusi lain," ucap Farhan menenangkan Maysa yang tak henti menangis.


"Bagaimana aku bisa tenang, aku merasa seperti orang jahat yang menghancurkan masa depan adiknya, dulu saat aku bertanya pada Ainun kenapa ia tidak kuliah, katanya dia lebih senang bekerja, ternyata ini alasannya, aku juga mendengar cerita dari orang-orang yang dekat dengan Ainun, terkadang ia sampai berhutang demi aku, sementara aku malah bahagia di atas penderitaan Ainun, dan sekarang dia menanggung masalah yang berganti-ganti, kini ia di paksa menikah dengan laki-laki tua itu," jelas Maysa berderai air mata.


Air mata tak henti membasahi pipi Maysa. Farhan memeluk istrinya, "udah sayang, sekarang yang harus kamu lakukan adalah mengumpulkan kekuatan hati kamu,agar kita bisa menyelesaikan ini dengan kekuatan hati kita," ucap Farhan menenangkan istrinya.


"Harusnya akulah yang menanggung semua ini, kalaupun ada yang harus terpaksa menikahi laki-laki tua bangka itu, akulah orangnya, bukan Ainun," tegas Maysa yang tak henti menangis.


"Istighfar sayang, jangan nangis lagi, pasti masalah ini bisa selesai kok, aku kan udah bilang, ini hanya perkara hutang, aku akan usaha melunasinya," tegas Farhan memeluk Maysa.


"Ini bukan hanya perkara hutang sayang, Ainun memang banyak menderita sejak ia masih kecil, kami memang hidup bersama, tapi dia selalu berkorban demi aku, padahal akulah kakaknya, aku yang harusnya berkorban untuk adik aku, aku pantas menerima hukuman, dari dulu apa yang dia punya selalu menjadi milik ku, dia memberikan semuanya, aku benar-benar jahat," ucap Maysa yang menyalahkan dirinya.


Maysa sangat merasa bersalah, ia teringat bagaimana sakitnya Ainun sejak ia masih kecil, dimana ibu selalu mengutamakan dirinya di banding Ainun.

__ADS_1


__ADS_2