
Pagi itu Rifki menjumpai sang ibu di kantor polisi, tampak keduanya sedang berbicara berhadapan.
"Aku benar-benar nggak nyangka, ibu yang ku anggap baik ternyata melakukan hal sekejam ini," ucap Rifki menatap ibu.
Bu Diana tampak menangis di hadapan Rifki, "Ini semua ibu lakukan demi masa depan kamu nak,"
"Masa depan apa Bu? tidak ada masa depan yang diraih dengan kecurangan!" tegas Rifki yang tampak menahan amarahnya.
"Tolong bujuk papa mu untuk membebaskan ibu, dia pasti punya cara untuk membebaskan ku," pinta Bu Diana.
"Nggak Bu! papa nggak akan mau, malah sekarang dia sedang mengurus perceraian kalian secara resmi," jelas Rifki.
"Kalau gitu kamu saja yang berusaha membebaskan ibu, kamu pasti punya cara kan?"
"Bu, tinggallah ibu di penjara ini untuk menebus kesalahan ibu, aku akan tetap menghormati ibu layaknya seorang anak, tapi maaf aku tidak bisa melakukan hal hal yang curang untuk membebaskan ibu, aku selalu menyayangi ibu," ucap Rifki.
Waktu berjumpa pun usai, Bu Diana kembali ke dalam tahanan.
***
Laila dan Arga sedang di perjalanan menuju White horse. Tampak di mobil itu Arga sesekali melirik Laila yang duduk di depan.
"Laila.."
"Iya ada apa pak," sahut Laila
"kamu kenapa belum nikah," tanya Arga
"Jodohnya belum ada," jawab Laila tidak serius.
"Kalau jodohnya udah ada, kamu bakalan nikah?"
"Ya ..mungkin, Kalau kamu gimana? apa kamu akan tetap dengan kesedihan yang berlarut larut itu?" tanya Laila.
"Siapa yang berlarut larut dalam kesedihan sih, saya sekarang sudah menemukan orang yang tepat, doakan saya agar mendapatkan gadis yang ada di hati saya,"
"Hah secepat itu kamu melupakan almarhumah Linda?" Laila tampak kaget.
"Mudah bagi Allah untuk membolak-balikkan hati hambanya," jawab Arga singkat. Laila pun terdiam dengan jawaban Arga.
***
Sampailah di kantor Arga.
__ADS_1
Arga di ruangannya tampak sibuk dengan pekerjaannya. Laila pun membaca buku sembari menunggu Arga. Ia kembali melanjutkan membaca buku kisah cinta Qais dan Laila.
Tiba-tiba mata Arga tak sengaja menoleh ke arah Laila. Entah mengapa hatinya semakin betah menatap gadis yang membaca buku di sofa itu.
Arga tersenyum melihat Laila yang tampak fokus membaca buku.
"Kurasa aku benar-benar menyukai gadis ini, aku sungguh tak ingin dia pergi dari pandangan ku," batin Arga sembari menatap Laila.
Laila meletakkan bukunya karena ia akan ke toilet, ia kaget melihat Arga yang tak henti menatapnya.
"Pak Arga! kenapa liatin saya gitu?" tanya Laila.
"Siapa yang liatin kamu, saya lagi liatin lemari di belakang kamu, saya pikir tadi lemarinya rusak," elak Arga.
"Oh gitu, oh ya saya izin ke belakang ya," ucap Laila dan buru-buru berjalan ke toilet.
Begitu Laila keluar dari ruangan Arga, mata Arga serasa kehilangan objek terindahnya.
"Tuh kan baru di tinggal sebentar aja aku udah merasa aneh karena sudah terbiasa melihatnya, kenapa rasanya aku tak ingin dia menghilang dari pandangan ku," batin Arga.
Arga melihat sebuah buku di sofa, buku itu adalah yang selalu di baca Laila. Arga pun mengambilnya, ia melihat isi buku itu dan tertarik untuk membacanya.
Tak lama kemudian Laila kembali ke ruangan, ia mendapati Arga yang duduk di sofa sembari membaca bukunya.
"Buku kisah Laila dan Qais itu sangat menginspirasi buat saya," ucap Laila.
"Apa karena nama kamu sama dengan nama wanita di kisah ini?" tanya Arga.
"Bukan, tapi karena kekuatan cinta yang kuat di dalam kisah Laila majnun itu, terkadang saya berpikir ini mirip seperti cinta kamu pada almarhumah Linda," ujar Laila sedang pikirannya teringat Sahabatnya Linda.
Arga tiba-tiba menatap mata Laila, seolah mengucapkan sesuatu dalam hatinya.
"Laila..aku justru ingin mencintaimu seperti Qais mencintai Laila, dan aku harap kamu mau menjadi Laila ku di dunia nyata, dan agar kamu mencintai ku seperti Laila mencintai Qais," batin Arga yang penuh harap.
***
Azan Dzuhur berkumandang, Laila dan Arga menunaikan sholat Dzuhur di mesjid di dekat kantor Arga.
Usai Laila sholat, ia pun berjalan keluar musholla, namun ia tak melihat sepatunya. "Astaghfirullah..kok bisa hilang ya," ucap Laila sedang matanya mencari-cari sepatunya.
Arga melihat Laila yang tampak mondar mandir mencari sesuatu. Ia menghampiri Laila, "Kamu cari apa?" tanya Arga.
"Sepatu ku hilang," kata Laila yang masih fokus mencari sepatu.
__ADS_1
"Tunggu sebentar ya," ucap Arga kemudian berlari entah kemana.
Lelah Laila mencari sepatu itu namun tak ketemu juga, ia pun pasrah dan duduk di teras mesjid.
Tiba-tiba ia menatap Arga yang berjalan ke arahnya, Arga tampak membawa sepatu putih.
"Apa tadi dia berlari kencang entah kemana hanya untuk mencarikan ku sepatu, kalau iya, kenapa dia harus capek-capek melakukan itu," batin Laila sedang matanya tampak terharu menatap langkah Arga yang semakin mendekat.
Arga tiba di hadapan Laila, ia meletakkan sepatu itu di depan kaki Laila. "Sepertinya ukurannya pas di kaki kamu," ucap Arga sambil tersenyum meski ia tampak ngos-ngosan.
Mata Laila seketika menatap haru wajah Arga, "Panas panas begini kenapa kamu harus lari-lari cuma buat nyari sepatu untuk saya?" tanya Laila.
"Apa kamu tidak ingin mengucap terimakasih,"
"Terimakasih tapi.."
"Udahlah jangan dibahas lagi, ayok buruan pakai sepatumu," ucap Arga memotong pembicaraan Laila.
***
Laila melamun di depan ruangan Arga, ia merasa akhir-akhir ini Arga selalu membuat jantung nya berdebar tidak karuan. Arga yang tiba-tiba selalu bersikap baik membuatnya tersentuh.
"Tidak..tidak mungkin dia menyukai ku, mungkin dia hanya ingin berterimakasih karena Bu Ranti telah berhasil selamat," batin Laila.
Laila selalu berusaha menjaga hatinya agar tidak sampai jatuh cinta pada bos nya itu, karena khawatir jika ia mencintai Arga, cintanya hanya akan berakhir sepihak saja, seperti cintanya pada Haris.
"Laila," sapa Rifki yang tiba-tiba menghampiri Laila.
"Eh Rifki, kamu kok udah berkeliaran aja, emangnya luka mu sudah sembuh?" tanya Laila.
"Sudah lumayan, Arga lagi di dalam ya?"
"Iya, kayaknya sih sebentar lagi dia mau meeting sama klien," jawab Laila.
Rifki tampak serius berbicara dengan Laila,
"Laila...aku sudah pikirkan matang-matang, aku ingin melamar kamu menjadi istriku, apa kamu bersedia menjadi pendamping hidup ku?" tanya Rifki membuat Laila terkejut bagai petir di siang bolong.
"Kenapa tiba-tiba gini, kamu bercanda ya,"
"Apa kamu melihat tampang bercanda di wajahku? aku serius Laila, aku mencintai kamu sejak pertama bertemu kamu," ucap Rifki bersungguh-sungguh.
Ternyata Arga menyaksikan percakapan tersebut, ia penasaran jawaban Laila, dan berharap Laila akan menolaknya.
__ADS_1