
Laila tampak putus asa karena tak ada tanda-tanda kehidupan di ruangan itu. Kepalanya sakit karena terlalu lama menangis tanpa bersuara.
Tiba-tiba cahaya muncul. Lampu ruangan tiba-tiba menyala. Meski lampu itu tidak terlalu terang seperti biasanya.Namun setidaknya Laila dapat melihat kondisi ruangan itu.
Mata Laila melotot melihat Afni berdiri di hadapannya.
Afni tertawa lepas, "Akhirnya kamu dapat juga Laila, tinggallah kamu di sini selamanya, katamu kamu kasihan padaku yang hidup sendiri, maka temani lah aku di rumah ini, jangan khawatir, aku tidak akan membunuhmu," ujar Afni.
Laila benar-benar tak menyangka bahwa orang yang mengurungnya adalah Afni yang sudah ia anggap sebagai teman sendiri. Laila menatap Afni dengan matanya yang penuh air mata tanpa bersuara.
"Aku sangat baik Laila, makanya aku tidak mau membuat mu terluka, tapi mungkin cepat atau lambat wajah indah mu harus hancur,"
Laila menatap Afni yang tampak menyeramkan, seolah itu bukanlah diri Afni.
"Oh ya, aku mau minta maaf ya Laila sayang, sahabatmu Linda itu akulah yang membunuhnya," ucap Afni sembari tertawa-tawa.
Air mata Laila semakin deras, rasa sakit bertubi-tubi ketika ia mengingat sahabatnya yang di bunuh. Laila semakin takut bahwa ia akan bernasib sama dengan Linda.
Rek..
Afni melepas lem yang menempel di mulut Laila. Kini ia tak lagi memakai cadarnya, karena Afni telah melepasnya.
"Afni, kenapa kamu lakuin ini? apa salah aku, apa salah Linda," tanya Laila beruntun.
"Salahnya adalah, kalian hadir diantara aku dan Arga, kalian sendiri yang cari mati"
"Aku tau kamu tidak sejahat itu, jadi tolong lepaskan aku Afni," tutur Laila berlinang air mata.
"Jangan nangis! aku benci suara nangis kamu!" bentak Afni, ini membuat Laila semakin takut.
"Kamu akan aman jika kamu tak bersuara!" lanjut Afni.
Afni memberikan sebungkus roti beserta air minum. "Makanlah teman baik ku, aku masih butuh kehadiran mu di sini, apa kamu tidak tau bagaimana sepinya hidupku," ujar Afni sembari mengingat kisah pilu hidupnya.
"Afni ku rasa aku bisa membantumu, lepaskanlah aku, aku akan membawa mu ke psikiater,"
__ADS_1
"Diam!" bentak Afni.
Laila pun terdiam tak berkutik.
"Dengar dulu aku ingin bercerita! kamu harusnya mengerti aku merasakan dikurung sejak aku masih kecil, Arga memberiku sedikit cahaya untuk merasakan indahnya kehidupan luar, dia adalah cinta pertama ku, dan kamu tega merebutnya?"
"Afni, aku mohon sadarlah, tolong lepaskan aku!" pinta Laila membujuk Afni.
"Jangan banyak bicara, makan cepat, sebelum ku tutup mulutmu kembali, mulutmu hanya di buka saat akan makan," tegas Afni.
"Bagaimana jika aku ingin sholat, kakiku di rantai, aku tak bisa kemana mana," keluh Laila.
"Itu derita mu, tapi tenang saja, jika kamu ingin ke toilet, pintu di belakang mu adalah pintu toilet maka kamu bisa ke sana kapanpun tanpa melepas rantai ini," jelas Afni.
Afni tampak memperhatikan keperluan Laila, sampai saat ini ia tak menyakiti Laila. Ini semua ia lakukan dikarenakan kerusakan mental Afni yang mendapat perlakuan tidak baik oleh kedua orang tuanya saat ia masih kecil.
...*****...
Keesokan hari,
"Arga, kamu kenapa?" Bu Ranti membangunkan Arga.
Arga membuka matanya, ia langsung memeluk mamanya. Meluapkan kesedihannya, "Ma.. Laila di culik, aku mencarinya semalaman, aku harus gimana ma," ucap Arga berderai air mata.
"Apa? astaghfirullah..kamu yang tenang dulu ya, sekarang juga kita ke kantor polisi," ujar Mama. Mama dan Arga pun bergegas ke kantor polisi.
Sesampainya di sana, polisi pun berkata akan menyelidiki kasus ini. Namun sepertinya akan sulit karena tidak ada keterangan yang jelas dengan hilangnya Laila.
...******...
"Apa? Laila di culik?" Rifki tampak kaget mendengar kata-kata Arga.
"Ini semua salah aku, aku lalai menjaga dia, sekarang aku nggak tau harus cari kemana," ujar Arga dengan kondisi fisiknya yang semakin lemah. Karena semalaman ia mencari Laila di tengah derasnya hujan.
"Sudahlah Arga, jangan menyalahkan diri sendiri, aku akan mencari Laila, jadi jangan terlalu bersedih, aku akan selalu ada membantu mu," tutur Rifki menenangkan Arga.
__ADS_1
Arga tampak terpuruk, ia tak memperhatikan kesehatannya lagi, "Rifki, Aku serahkan White horse untuk kamu, aku benar-benar benci itu, aku benci white horse sekarang, gara-gara perusahaan itu dua wanita yang aku cinta satu persatu telah jadi korbannya," tegas Arga.
"Jangan berburuk sangka dulu Arga, kita belum tau pasti siapa yang menculik Laila, bisa jadi ini tidak ada hubungannya dengan perusahaan, lagian ibu ku sudah di penjara,"
"Kamu pikir hanya ibumu yang membenci white horse? ada banyak saingan perusahaan itu Rifki, sehingga aku selalu di teror dengan ancaman demi ancaman," jelas Arga.
Kini Arga sadar bahwa ia telah membawa bahaya untu keselamatan Laila, tinggallah rasa bersalah di hatinya, dan bercampur aduk dengan rasa sakit menahan rindu pada Laila.
...*****...
Bu Ranti dengan berat hati harus memberi tahu kabar ini pada keluarga Laila.
"Kenapa putriku bisa hilang?" bentak Ayah yang tampak shock dengan kabar itu.
Ridwan juga terkejut, tapi ia berusaha menenangkan ayah, "Ayah tenang dulu, jangan bersikap kasar sama Bu Ranti," tegur Ridwan.
Bunda tampak lemah mendengar kabar ini, ia tak bisa berkata-kata lagi, air mata tak henti membasahi pipinya. Ia teringat mimpinya pada Laila.
"Maafkan kami yang tak bisa menjaga Laila dengan baik, ini musibah, kami berjanji akan berusaha mencari Laila," ucap Bu Ranti yang sedari tadi menangis mengemis maaf dari keluarga Laila.
"Sudahlah..tidak ada gunanya juga kami menyalahkan Arga, tapi saya mohon, tolong temukan putri saya," pinta bunda yang berusaha tetap tegar.
...****...
"Harus ku habisi si Arga itu, dimana dia?" Adel tampak emosi ketika Rifki memberitahunya kabar hilangnya Laila.
Adel tak kuasa menahan air matanya. "Tenang dulu, jangan langsung menyalahkan Arga, ini musibah, jangan saling menyalahkan, sekarang ini kita harus mencari Laila sama-sama," tutur Rifki.
"Apa katamu? kalian memang pantas di salahkan, kalian membawa dampak buruk bagi Laila," bentak Adel yang tak bisa menahan emosinya.
"Istighfar, biasanya kamu nggak gini del, pergilah sholat duha, siapa tau hatimu sedikit tenang," ujar Rifki.
Adel malah meluapkan kesedihannya, ia menangis histeris memanggil manggil nama Laila.
"Astaga..diam lah dulu, nanti orang mengira kalau aku berbuat jahat sama kamu," ucap Rifki melihat orang sekitar memperhatikan mereka berdua.
__ADS_1
"Kamu yang diam! kamu sama saudara mu sama sama ngeselin," cetus Adel, ia tak habis pikir karena Laila menghilang, ia khawatir Laila bernasib sama dengan Linda.